Geliat Tradisi Cina Di Pulau Bunga

Terkadang hal yang biasa menurut kita menyimpan makna mendalam yang tidak kita ketahui, perasaan exciting yang berlebihan mengaburkan keingintahuan.

Geliat Tradisi Cina Di Pulau Bunga
Keceriaan anak-anak menerima angpau

Apakah anda pernah mendengar kalimat, 'Angpau na lai?' atau malah anda pernah mengucapkannya, entah dengan maksud atau sekedar bercanda?

Tahun Baru Cina dirayakan pada hari pertama bulan pertama dalam penanggalan Cina, sebagai ucapan syukur atas keberhasilan mengalahkan  mahkluk mitologi Nian (yang dalam Bahasa Cina artinya tahun) yang berwujud binatang buas setengah banteng dan berkepala singa pemangsa hewan ternak, anak-anak dan penduduk , Nian dikalahkan dengan api (kembang api, obor), kebisingan (gong, simbal, petasan) dan warna merah; serta sebagai perwujudan syukur atas datangnya musim semi sehingga penduduk bisa mulai bercocok tanam.  

Pulau Flores adalah salah satu pulau yang secara administratif terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis, 'Cabo de Flores‘ yang berarti 'Tanjung Bunga' nama ini diberikan oleh S.M Cabot, karena melihat banyaknya bunga Flamboyan dan Bougenville atau dikenal dengan nama kembang kertas, di daratan serta taman laut yang terbentuk dari aneka koral yang indah di wilayah perairannya. Pada awalnya nama Pulau Flores adalah, ' Nusa Nipa' yang artinya 'Pulau Ular' mungkin karena disana terdapat banyak ular dan bentuk pulaunya seperti ular. Nama Flores digunakan secara resmi mulai tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwner hingga sekarang. Pulau Flores didiami berbagai etnis diantara nya, Melayu, Melanesia dan Portugis dan berbagai suku seperti Lio, Riung, Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Sikka, Larantuka, dan Lembata.

Etnis Cina dan keturunannya masuk ke Flores melalui jalur perdagangan. Para pedagang ini menetap dan membaur dengan masyarakat Flores melalui proses perkawinan. Tahun Baru Cina di Pulau Flores dikenal dengan nama Imlek, biasanya dirayakan setiap tahun oleh seluruh etnis Cina dan keturunannya dimanapun mereka berada, walaupun mereka telah menganut agama dan kepercayaan yang berbeda, perayaan Tahun Baru Cina ini tetap dilaksanakan dengan meriah dan penuh suka cita bersama keluarga besar beserta sanak saudara. 

Pada awalnya, Imlek biasanya dirayakan secara sembunyi-sembunyi dan tertutup dalam lingkungan keluarga karena pada pemerintahan Orde Baru melarang dilakukannya secara terbuka segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan dan adat istiadat  Cina di Indonesia berdasarkan Inpres No.14 Tahun 1967. Percetakan koran, sekolah, radio yang berbahasa Cina ditutup oleh pemerintah. Pada masa ini etnis Cina tidak diakui sebagai suku bangsa dan dimasukkan ke dalam katagori nonpribumi, mereka harus berasimilasi dengan suku mayoritas di tempat mereka bermukim.

Pada masa pemerintahan B.J. Habibie, beliau menerbitkan Inpres No.26 Tahun 1998 yang membatalkan aturan-aturan diskriminatif kerhadap Komunitas Tionghoa atau Cina dan menghapus penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi.  Presiden Abdurrahman Wahid bahkan menganulir Inpres No.14 Tahun 1967 dengan menerbitkan Inpres No.6 Tahun 2000 yang memberi kebebasan bagi turunan Tionghoa (Cina) menjalankan kepercayaan dan budayanya.

Hal ini memberi angin segar bagi tumbuhnya tradisi lama etnis Cina yang ada di Flores, mereka meneruskan tradisi perayaan Imlek dengan merayakannya. Hal ini bisa dilihat dari kemeriahan hiasan dan ascesories pada pintu dan di dalam rumah seperti lampion merah, pohon ampao, hiasan naga dan monyet, lampu-lampu dan lain lain. Penggunaan pakaian atau ascesories berwarna merah juga mewarnai hari yang baik ini. Tapi kenapa warna merah? berdasarkan cerita rakyat, Nian dikalahkan dengan warna merah, selain itu warna merah dipercaya sebagai warna energi (yang), simbol pembawa keberuntungan dan kemakmuran. Masyarakat Flores yang mempunyai toleransi tinggi beramai-ramai memeriahkan Imlek, karena Imlek adalah perayaan tradisi dan bukan keagamaan. Seiring perkembangan zaman, pakaian yang dikenakan tidak selalu merah, biasanya disesuaikan dengan baju yang ada, yang perlu diperhatikan adalah pakaian yang dikenakan harus sopan, bersih dan tidak bau, yang terpenting adalah energi (semangat) dan aura kegembiraan yang terpancar.

Rangkaian perayaan Imlek dimulai sehari sebelumnya, dengan mengadakan persembahyangan jamuan makan pada pagi hari bersama keluarga besar dan sanak saudara dengan mempersembahkan air (arak, teh), hio atau dupa, lilin atau lampu, makanan (nasi, sayur, daging, kue) dan buah-buahan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada arwah leluhur; serta persembahan bakaran berupa kertas emas atau uang arwah sebagai bekal untuk mencukupi kebutuhan leluhur di dunia lain. Persembahan makanan disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan bersifat simbolis, terutama untuk jenis makanan berupa kue dan buah-buahan, disesuaikan dengan hasil bumi yang ada. Khusus untuk persembahyangan lengkap biasanya hanya  dilakukan oleh masyarakat yang beragama Buddha, untuk yang telah memeluk agama lain melaksanakan persembahyangan sesuai agamanya dan tidak memberi persembahan kepada arwah leluhur, hanya menyiapkan makan untuk makan bersama.
 
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama keluarga yang dikenal dengan nama balik meja atau tutup meja dan ditutup dengan persembahyangan tengah malam untuk menyambut pergantian tahun yang dimeriahkan dengan penyalaan kembang api, biasanya masyarakat setempat turut memeriahkan dengan ikut serta bermain kembang api atau meriam bambu. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian angpau atau keesokan harinya. Angpau dalam Imlek dimaksudkan sebagai bentuk harapan dan doa yang baik untuk mengusir arwah yang jahat. Angpau dikenal dengan berbagai istilah dalam kehidupan sehari-hari, ada yang menyebut Angpao, Ampao, atau Ampau yang identik dengan sejumlah uang yang dibungkus dengan kertas merah yaitu kertas minyak atau dikenal dengan istilah kertas roti (jaman dahulu belum ada amplop merah siap pakai). Di Flores dikenal dengan istilah angpao atau ampao.

Angpau dalam KBBI adalah amplop kecil untuk tempat uang sumbangan yang diberikan kepada orang yang punya hajat (perkawinan dan sebagainya) dalam adat Cina; hadiah atau pemberian uang (pada Hari Tahun Baru Cina dan sebagainya). Pembagian angpau adalah hal yang paling dinanti oleh anak-anak. Untuk mendapatkan angpau, anak-anak memberi hormat dengan mengepalkan tangan kanan yang digenggam tangan kiri dan meletakannya di dada sambil membungkuk dan mengucapkan, '" Xin nien kuai le, Gong xi fa cai, Hong bao na lai?" yang kurang lebih artinya, "Selamat tahun baru, semoga kemakmuran dan kekayaan menyertai, beri saya bungkus merah".  Angpau diterima dengan kedua tangan, senyum mengembang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih serta tidak dibolehkan membuka angpau didepan pemberinya. Di Flores anak-anak boleh hanya mengucapkan, dalam Bahasa Indonesia seperti, "Selamat Tahun Baru" saja tanpa perlu memberi hormat, atau bisa dilakukan dengan berjabat tangan.

Tidak ada peraturan baku dalam pemberian angpau, tapi biasanya diberikan berupa uang lembaran yang dibungkus kertas atau dimasukkan ke dalam amplop merah, uang yang diberikan adalah lembaran baru yang melambangkan kepribadian dan selera yang baik, jumlahnya genap atau tidak ganjil, tidak memberikan uang berjumlah 4 atau ada unsur 4, karena dalam Bahasa Cina 4 adalah, 'si' yang mirip dengan kematian atau kemalangan (itulah sebabnya kita tidak menemukan lantai 4 pada bangunan bertingkat, angka 4 dalam lift atau rumah dan rumah toko nomor 4), dan tidak memasukan koin ke dalam amplop karena koin melambangkan angka atau nilai yang kecil.

Penerima angpau umumnya adalah anak-anak, orang yang belum menikah dan orang tua. Pemberian angpau dari orang tua kepada anak-anak kecil adalah sebagai bukti cinta orang tua kepada anak-anaknya, pemberian angpau kepada anak yang belum menikah dan atau bekerja adalah untuk berbagi berkat dan rejeki agar bisa segera mandiri. Pemberian angpau dari anak yang sudah menikah kepada orang tua melambangkan rasa terima kasih dan tanda bakti. Selain keluarga inti, angpau juga diberikan kepada keponakan, cucu dan kerabat lainnya. Pada zaman sekarang pemberian angpau meluas, di Flores walaupun tidak ada hubungan keluarga, angpau boleh diberikan kepada tamu orang yang datang mengucapkan selamat terutama anak-anak, karyawan atau kenalan. Angpau juga diberikan dalam acara-acara lain selain Imlek, seperti perkawinan, ulang tahun atau reuni dan tidak terbatas pada keluarga saja. 

 Pintu rumah yang terbuka melambangkan keterbukaan dan penerimaan, semoga kebersamaan dan toleransi selalu menjadi ciri khas persatuan masyarakat Flores. Perayaan Tahun Baru Cina di Flores melambangkan pembauran etnis dan suku yang harmonis yang saling mendukung, semua masyarakat menyambut gembira dan turut berbahagia walaupun tidak merayakan secara langsung, karena pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh, yang berarti hari ke lima belas bulan pertama, biasanya diisi dengan persembahyangan dilanjutkan dengan pertunjukkan barongsai dan kesenian tradisional Cina lainnya.

Tahun baru Cina 2752 jatuh pada hari Jumat, tanggal 12 Februari 2921, adalah Tahun Kerbau Logam berdasarkan Astrologi Cina dan akan berakhir 22 Januari 2022.

"Xin nien kuai le, Gong xi fa cai, Hong bao na lai?"