Gelandangan Insomnia

Gelandangan Insomnia
Sumber gambar: https://pixabay.com/photos/walls-urban-reflection-dirty-3197310/

Seorang gelandangan duduk sendiri di emperan toko yang tutup, tengah malam. Sudah beberapa malam ia tak bisa tidur. Berbagai cara telah dilakukannya agar bisa tidur barang sebentar saja. Tapi, tak kunjung berhasil. Insomnia begitu akut menyerangnya.

Tepat pukul tiga dini hari, maut mendatanginya.
"Aku Maut," katanya memperkenalkan diri.

Tanpa meminta ijin, Maut duduk di hadapan si Gelandangan. Jarak mereka sangat dekat, hanya sebungkus nasi basi yang memisahkan mereka.

"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Maut.
"Tidak bisa."

Gelandangan itu menatap si Maut lekat-lekat. Matanya hitam. Tak ada ruang putih sedikit pun. Persis mata para perempuan dalam lukisan-lukisan Jeihan.

"Kenapa kau menghampiriku?" Tanyanya kemudian.
"Aku kesepian," jawab Maut.
"Aku tak percaya."
"Kenapa?"
"Kesepian hanya akan membawamu kepada orang-orang dekatmu."
"Kau adalah orang dekatku," kilah Maut, "Setidaknya, itu yang aku rasakan."
"Lalu, kenapa baru sekarang kau mengunjungiku?"
"Apakah kau selalu menungguku?"
"Aku bahkan sudah putus asa untuk itu."
"Itu artinya kau tak menungguku. Kau masih mencintai hidup."
"Bagiku, hidup adalah masalah terbesar di dunia ini," kata si Gelandangan seraya membuka sebungkus nasi basi di depannya.

Sambil menikmati nasi basi itu bersama, perbincangan yang semula terasa kaku menjadi cair. Keduanya, bahkan, tak jarang bersendau gurau dan tertawa lepas, sesuatu yang telah lama dilupakan oleh si Gelandangan. Entah kapan terakhir kali ia tertawa. Ia bahkan tak ingin mengingatnya.

***

Pukul 6 pagi, pemilik toko menemukan Gelandangan itu mati dengan mata yang terbuka.

Di seberang jalan, tiga ekor tikus mengintip dari balik jeruji got. Salah satu dari mereka menggumam, "Bahkan dalam kematian pun, ia tak kunjung bisa tidur."

*

Bintaro, Oktober 2015