FOTO SELFIE TANTE VIVIE

FOTO SELFIE TANTE VIVIE
Sumber foto : freepik.com

Tante Vivie adalah istri koh Rudi, pemilik toko kelontong di Pasar Delapan, kota Tangerang Selatan. Toko koh Rudi termasuk besar dan ramai pelanggan. 

Selain karena harga murah dan barangnya komplit, para pembeli juga senang melihat foto-foto tante Vivie yang dipajang di dinding toko.

Foto-foto tante Vivie selalu diupdate oleh Koh Rudi. Dicetak dan dipajang di tokonya. Tante Vivie memang photo genit, eh genic, cantik menawan dan sepertinya memang hobi berselfie ria. 

Dia selalu menemukan spot-spot foto yang bagus. Para pelanggan koh Rudi sangat terpesona dengan foto-foto tante Vivie.

Contohnya mpok Enting, seorang janda muda, yang gosipnya masih aktif jadi simpenan salah seorang anggota DPRD setempat. 

Mpok Enting ngefans berat sama tante Vivie. Hampir setiap hari dia mampir ke toko koh Rudi untuk melihat apakah ada koleksi foto selfie Tante Vivie yang terbaru.

Tapi, anehnya, tidak ada seorang pun yang pernah bertemu langsung dengan tante Vivie. Setiap kali ditanya dan diminta untuk menghadirkan sosok asli istrinya, koh Rudi selalu berkelit istrinya sedang berburu spot-spot ciamik untuk berselfie. 

Mungkin karena pada bosan bertanya, atau sudah cukup puas dengan menikmati pajangan foto-foto tante Vivie, para pelanggan koh Rudi mulai jarang menanyakan hal tersebut.

Hingga, suatu hari. Saat itu langit sedang mendung, gelap melanda, guntur bersahut-sahutan. Tapi hujan tak kunjung turun…

“Tidaaaaaaaak! Owe gak bisa begini terus, owe sangat mendelita sayang… owe sangat melindukanmu huaaaaaaaaaaaa…..!”

Seluruh pelanggan toko koh Rudi kaget, mendengar lengkingan dari dalam toko. Sepertinya suara koh Rudi, menangis meraung-raung dengan nada sangat memilukan dan menyayat hati.

Dullah, karyawan senior koh Rudi, berlari kencang menghampiri bosnya di dalam gudang yang sekaligus menjadi kantor operasional toko. Sejumlah pelanggan yang penasaran juga turut menyerbu ke dalam.

Mereka semua terkejut melihat koh Rudi terduduk di pojok ruangan, bersandar di tumpukan karung gula pasir, sambil meratap seperti anak kecil. Di hadapannya berterbaran foto-foto tante Vivie.

“Bos kenapa…?” 
“Ada apa Koh…?” 
“Om baik-baik aja…?” 
“Engkoh gak disambar petir kan…?”

Semua orang di ruangan tersebut seolah berebutan bertanya ke koh Rudi. Bukannya menjawab, koh Rudi malah memperkeras volume tangisan dan teriakan pilunya.

“Huaaaaaaaaa, huiiiiiiiiii, huoooooo, hueeeeeeee….Vivieeeeeeee…..Vivieeeeeeeee ….owe kangen sayang….”

Dullah segera mendekati bosnya dan mengusap-usap punggung bosnya itu. Ada juga yang memijat-mijat kaki , tangan dan kepala koh Rudi (Lah kok yo kayak kalau pesan paket creambath dan refleksi di salon yak, ehehehe)

Akhirnya koh Rudi berhasil dijinakkan. Setelah dijejali dengan lima buah pisang goreng madu dan sebotol Tango Velluto (Jangan-jangan dia kelaperan, terus pas aplikasi Go Food atau Grab Foodnya juga error kali ya?)

“Koh, ada apa sih, kok histeris begitu, cerita ke kita Koh, kita sedih lihat Engkoh merana begini,” sebiah suara lembut empuk terdengar dari seorang perempuan di dekat koh Rudi. Ternyata itu suaranya mpok Enting.

“Hhhhhh...owe minta maaf ke kalian semua. Owe bertelima kasih atas pelhatian lu olang semua ke owe. Owe udah gak tahan lagi untuk menyembunyikan celita sebenalnya. Lu olang dulu kan seling nanya-nanya ke owe, Vivie istli owe kok ndak pelnah dibawa ke toko, yang dipajang hanya foto-fotonya saja.”

“Hiks,hiks,hiks…” Koh Rudi mulai menangis lagi. Spontan semua orang disitu kembali mengambil posisi memijat seperti tadi (sesuai paket).

 “Owe bukannya ndak mau bawa Vivie ke toko, owe mau banget, owe mau pamel istli owe yang cantik jelita ke lu olang semua, owe bangga sama istli owe.”

“Tapi…”

“Huaaaaaaaaa……huwaaaaaaaaaaaa…..” tangis koh Rudi kembali pecah. Dan semua orang kembali… (udah ya, gak usah ditulis lagi, pada tahu kan apa yang terjadi selanjutnya)

Setelah seporsi besar martabak Ovomaltine, martabak telor bebek 4 telur, dan beberapa botol Teh Gelas dingin habis (kali ini si koh Rudi gak makan sendiri, semua yang ada di gudang ikut makan, rupanya mpok Enting tadi sudah memesan makanan tersebut lewat aplikasi Go Jek), Koh Rudi bisa bercerita dengan tenang.

“Jadi begini ceritanya….”(mmm mirip-mirip intro program apa ya di televisi dulu)

“Lima tahun lalu, owe dan Vivie jalan-jalan ke sebuah tempat bagus. Bagus banget, telletak di sebuah bukit di daelah Pasuluan. Tempatnya sejuk dan banyak tanaman bunga. Vivie sangat suka belfoto selfie, owe ndak suka belfoto, jadi kami tidak pelnah foto baleng. Waktu itu Vivie menemukan tempat foto yang sangat ciamik, hanya agak tinggi dan dekat pinggil julang. Tapi pemandangannya bagus banget. Owe bilang ke Vivie, ayo Vie, lu ndak usah lah belfoto di sana, belbahaya, lu nanti bisa jatuh. Lagian ini udah mendung, bental lagi hujan delas, mobil kita jauh dali sini. Namun si Vivie tetap ngotot untuk belfoto di tempat itu.”

Koh Rudi berhenti sejenak, membuka mulutnya, karena Dullah menyorongkan sepotong besar martabak (duh, masih laper aja si engkoh).

“Langit makin gelap, angin makin kencang, dan bunyi petilnya menyelamkan sekali. Owe teliak belkali-kali agal Vivie segela tulun dan tidak usah belfoto. Tapi Vivie bandel, dia tetap kekeuh menaiki tempat itu dan nekat belfoto.” Suara koh Rudi memelan, seperti berusaha menahan agar tidak menangis lagi.

“Tiba-tiba langit yang gelap tadi mendadak menjadi telang bendelang, dan tidak lama teldengal suala sangat kelas. Owe tiba-tiba tidak ingat apa-apa lagi. Owe pingsan. Sadal-sadal owe ada di lumah sakit.” Suara koh Rudi semakin lirih, hingga semua orang di sana mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar lebih jelas. Mpok Enting saking semangatnya hampir saja mencium pipi koh Rudi.

“Owe bingung, dan yang owe lakukan saat itu adalah memanggil-manggil Vivie. Salah seolang pelawat di sana mendekati owe dan menepuk-nepuk pundak owe.”

“Pak, yang sabal ya, semua sudah diatul oleh yang Kuasa. Bapak dan Ibu balu saja telkena musibah, telsambal petil di bukit tadi. Bapak selamat, tapi Ibu sepeltinya tidak, kemungkinan besar dia teljatuh dali bukit ke dalam julang setelah telsambal petir. Lokasi tempat ibu beldili hangus telbakal hebat. Tim SAL dan kepolisian tidak menemukan tubuh ibu, meleka hanya menemukan handphonenya.”

“Olang itu ngasih sebuah HP ke owe, dan owe langsung tahu itu HP Vivie.”

Senyap sesaat melanda semua orang di ruangan tersebut.

“Jadi?” semua hampir bersamaan berkata.

“Iya bapak ibu, istli owe Vivie sudah meninggal lima tahun lalu kalena musibah kesambel petil. Yang telsisa hanya HP nya, dan alhamdullilah tidak lusak. Jadi semua foto-foto Vivie di dalamnya selamat. Itulah yang owe cetak satu pel satu untuk mengobati lasa lindu owe ke Vivie. Fotonya banyak, ada libuan". 

"Jadi pesan owe ke lu olang semua, hati-hati ya kalau mau belfoto selfie, jangan sampai membahayakan dili sendili, kasihan olang-olang yang mencintai lu olang."

Semua orang di ruang tersebut terharu mendengar cerita Koh Rudi. Lalu beramai-ramai memeluknya. 

Tapi anehnya yang memeluk Koh Rudi langsung cuma mpok Enting, yang lain berlomba memeluk mpok Enting (dasar kadal rawa!).