Forensic Hypnosis, Efektifkah?

Forensic Hypnosis, Efektifkah?

Saya ingin sedikit mengulas tentang forensic hypnosis, sebuah metode investigasi bawah sadar yang bisa membantu mengungkap data-data terkait kasus pidana. Namun, forensic hypnosis sendiri masih ada di wilayah perdebatan dan eksperimental.

Beberapa pakar hipnosis bilang, forensic hypnosis tidak bisa diaplikasikan buat pelaku kejahatan. Mereka berpendapat, bahwa dalam hypnosis state (keadaan hypnosis), pelaku bisa berpotensi untuk berbohong, karena hypnosis state adalah wilayah imajinatif yang memungkinkan pelaku menciptakan alibi sehingga dirinya sendiri menganggap alibi itu kebenaran (terjadi fals memory).

Menurut para ahli, forensic hypnosis hanya bisa diaplikasikan buat saksi atau saksi korban. Misalnya buat korban perkosaan. Bisa saja korban perkosaan lupa akan wajah pelaku karena trauma. Bawah sadar korban merepresi memori tentang wajah pelaku, untuk melindungi dirinya dari efek tekanan yang lebih buruk lagi. Sayangnya, kejadian seperti ini membuat penyidikan terhambat. Maka dengan forensic hypnosis ingatan korban bisa dimunculkan secara detil, tentu dengan mengeliminir efek traumatiknya.

Bagaimana dengan pelaku? Menurut paham forensic hypnosis yang ada, mulut pelaku bisa bohong dan diintervensi oleh critical factornya, karena pelaku merasa terancam. Critical factor adalah aspek kritis manusia untuk melindungi bawah sadarnya dari data yang dianggap merugikan dirinya. Di dalam konteks pelaku kejahatan, critical factor pelaku akan segera aktif ketika dirinya merasa terancam (kejahatannya akan terbongkar). Dan dalam situasi seperti ini, para ahli malah kuatir, pelaku justru bisa memunculkan alibi-alibi imajinatif untuk menutupi kejahatannya. Itulah sebabnya, forensic hypnosis tidak berlaku untuk pelaku.

Benarkah?

Menurut pandangan saya, pelaku masih bisa diinterogasi dengan sistem lain, yaitu lewat automatic writing. Lewat automatics writing, interogasi bawah sadar pelaku hanya dijawab oleh coretan tangan, bukan mulut. Dan menurut saya ini bisa valid. Teknik dasarnya adalah IDR (ideamotor respons). Perintah pikiran bawah sadar otomatis direspons oleh tangan tanpa intervensi apapun, termasuk mulut dan  critical factor-nya.

Tangan punya validitas kuat karena memiliki akses langsung ke otak. Apa ini ada hubungannya dengan indikasi yang pernah dibilang Tuhan?

Tuhan bilang, kelak, di saat hari pengadilan, mulut manusia akan dikunci. Tanganlah yang akan bicara atas apa yang telah dilakukannya. Sementara kaki adalah saksi.

Lihat, kan, bahkan Tuhan memberi keistimewaan pada kejujuran tangan dalam proses "interogasi"-Nya. Wallahu alam.

Untuk menghindari intervensi critical factor pelaku, otak sadar pelaku harus disibukkan dengan menyuruhnya membaca buku keras-keras. Sementra tangan kanan, menulis jawaban atas setiap pertanyaan terhadap pikiran bawah sadarnya. Dan data bawah sadar pun akan terungkap.

Itulah metode forensic hypnosis yang saya coba. Ini telah saya uji pada subjek nonkriminal, tapi berusaha mati-matian merahasiakan sesuatu.

Metode forensic hypnosis ini juga bisa diaplikasikan pada anak; misalnya untuk mengetahui minat dasar anak, atau sesuatu yang anak sulit untuk mengungkapkannya. Tentu untuk tujuan baik.