FORE PLAY : KOMUNIKASI BERSEKSUAL NYAMAN DENGAN PASANGAN

FORE PLAY : KOMUNIKASI BERSEKSUAL NYAMAN DENGAN PASANGAN
FORE PLAY : KOMUNIKASI BERSEKSUAL NYAMAN DENGAN PASANGAN

 

“Mas, aku boleh tanya?”tanya Rania pada suaminya.

“Iya, ada apa?”jawab Bagas, suami Rania.

“Rumah tangga kita sudah berjalan sekian lama. Dulu kamu mesra sekali, tapi sekarang sudah hampir setahun rasanya basi banget. Kamu jarang sekali menyentuhku. Apa ada yang salah denganku,” tanya Rania mulai terlihat sedih.

“Aaaahh....mungkin hanya perasaanmu saja, sayang. Kamu ngga punya salah apa-apa ko sama aku,”Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan dengan istrinya.

“Karena aku merasa kamu tak seperti dulu. Apa kamu ingat sudah berapa lama tak lagi memberi nafkah bathin padaku?”Rania sedikit berhati-hati mengeluarkan apa yang ia rasakan.

“Hmmmm......Jangan terlalu dibesar-besarkan. Aku hanya......aku hanyaaa.....”Bagas makin serba salah.

“Hanya apa mas? Kamu tidak mencintaiku lagi? Bosan denganku?”Rania menangis.

“Bukan... Aku masih mencintaimu. Hanya saja aku sudah merasa nyaman denganmu tanpa harus melakukan hubungan suami istri. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya sudah lebih baik menjalani rumah tangga denganmu dengan seperti ini. Maafkan aku....”Bagas menutup mukanya.

Ddddduaaaaarrrr.....!!!! 

Pernah ngga kalian mendengar banyak permasalahan yang terjadi didalam rumah tangga hanya karena kurang tercukupinya nafkah bathin, seperti contoh percakapan antara Rania dan Bagas diatas???

Bukan hal aneh lagi jika setiap pasangan suami istri yang sudah menjalani pasang surut rumah tangga cukup lama akan mengalami kejenuhan, kebosanan, dan hambar saat melakukan hubungan seksual. Jika kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut, bisa jadi bahan pertengkaran yang tidak berujung dan fatal.

Banyak penyebabnya, antara lain kurang komunikasi dengan bentuk bahasa cinta, salah satu diantara keduanya sudah merasa nyaman menganggap pasangan seperti teman atau saudara, dan kurang adanya rasa peduli atau saling memiliki.

Pasangan suami istri adalah seorang manusia baik laki-laki atau perempuan yang datang dari latar belakang berbeda dan memiliki perasaan “saling” kepada lawan pasangannya. Biasanya dalam menjalani hubungan, pihak perempuanlah yang lebih mengedepankan perasaan lebih daripada pihak laki-laki. Sudah jadi rahasia umum, jika perempuan suka diperhatikan, dibelai, disayang dan dimanja. Bahkan, untuk kenyamanan seksual pun mereka lebih ingin dinomorsatukan, baik dari segi perasaan maupun perlakuan lembut dari sang suami. 

Tapi bukan berarti hanya pihak perempuan saja yang ingin diperlakukan istimewa oleh suaminya. Sudah menjadi kodratnya, apabila pihak suami sebagai laki-laki pasti lebih mengutamakan logika daripada perasaannya. Namun kembali lagi pada posisi sebagai manusia biasa ia juga ingin diberi perhatian lebih dan didahulukan kepentingannya dalam urusan seksual.

Bagaimana komunikasi yang nyaman saat berseksual dengan pasangan?

Fore play adalah salah satu bentuk komunikasi simple yang wajib dilakukan ketika berseksual dengan pasangan. Seperti yang dijelaskan dalam laman Wikipedia, definisi fore play adalah sebuah tindakan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh dua individu dengan tujuan untuk membangkitkan energi cinta diantara dua orang, khususnya bagi pasangan suami istri.

Memang yang sering terjadi, fore play lebih serimg dilakukan pada pasangan baru saja menikah  atau menjalani rumah tangga kurang dari lima tahun. Istilah gaulnya “masih anget-angetnya”. 

Lalu, bagaimana dengan pasangan suami istri yang sudah menjalani pernikahan bertahun-tahun. Penulis sering bertemu dengan beberapa orang yang berpendapat “Iya masih anget, ntar juga hambar” dan “Waduh sudah ada anak. Masih mending kalo bisa berhubungan, ngga mikir fore play deh”.

Benar adanya jika hubungan rumah tangga bukan melulu tentang berhubungan seksual, karena sejatinya lebih penting memenuhi tanggung jawab moral antara masing-masing individu untuk keluarga dan pemenuhan kewajiban ibadah pada Tuhan YME  Apalagi jika kondisi finansial rumah tangga tidak dalam keadaan balance, rasanya hubungan seksual hanya menjadi sebuah kewajiban tanpa gairah.

Menurut psikolog klinis RSUD Blambangan Kabupaten Banyuwangi, Betty Kumala Febriawati, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa ada banyak cara yang bisa ditempuh oleh pasangan suami istri untuk mengembalikan keintiman seperti saat jadi pengantin baru, antara lain berbulan madu, mengenang masa-masa pacaran, mengikuti kegiatan parenting tentang edukasi seksual, berkonsultasi dengan psikolog dan dokter spesialis reproduksi seksual.

Berikut ini ada beberapa tips yang bisa dijalankan pasangan suami istri, antara lain :

- Membiasakan diri untuk mengucapkan kata “i love you”, “aku sayang kamu”, atau “aku membutuhkanmu”.

- Tidak membawa permasalahan ringan atau berat apapun diatas ranjang.

- Membiasakan diri untuk selalu terbuka dan percaya terhadap pasangan.

- Tidak melakukan body shaming terhadap pasangan.

- Membiasakan menyentuh pasangan dan diselingi kalimat “kamu capek ya?”, “maaf ya aku tidak pernah membantumu” dan lain-lain.

Nah, memulai hubungan seksual yang diawali dengan fore play inilah akan menjadi jalan komunikasi yang indah untuk menyelesaikan masalah dan memperbaiki hubungan “dingin” diantara pasangan.

Lebih lanjut, owner Yayasan An Moerty  Banyuwangi ini menambahkan terapan tehnik fore play yang benar dan terarah juga dipercaya bisa meningkatkan rasa kasih sayang, kepercayaan dan keintiman pada pasangan suami istri. Juga setiap individu baik suami maupun istri merasa “ada”, misalnya dengan memberi pelukan, bercanda, morning kiss, dan sentuhan fisik lembut saat akan tidur malam.

 

Referensi : dari berbagai sumber dan wawancara dengan psikolog klinis.