Feminis

Pada hari Senin itu, Meli-lah yang menjadi pemimpin upacara. Anak manis seorang buruh yang sekaligus menjadi rekor baru bagi SD tersebut, sebab Meli yang masih kelas 4 SD dipilih menjadi pemimpin upacara yang biasanya di isi oleh kelas lima dan enam.

Feminis

Ketika masyarakat yang khusus sudah kakek-nenek tuek yang sudah ngompol di celana tertidur pulas di ranjang tidur sederhana, gerak sedikit ranjang berbunyi, dengan atap sudah mengalami kropos, jika hujan sudah pasti air menerobos ke dalam. Sedangkan, masyarakat yang fungsinya melayani masyarakat (birokrasi pemerintah) tak terkecuali si kakek-nenek tuek justru malah menikmati tengah malam yang dihiasi kelap kelip bintang dan bulan yang menyinari gedung megah diatas rakyat yang masih mencari sesuap nasi di setiap bak sampah depan warung makan maupun mengamen disetiap lampu merah sudut kota. Gedung megah penuh dengah kekayaan baik dekorasi maupun orang yang didalamnya.

            Tak terkecuali para buruh yang sudah tidur nyenyak bersama anak dan istrinya sejak jam 10 malam untuk menyiapkan tenaga dan pikiran untuk mengaiz rizeki dengan bekerja dari pagi jam 7 hingga jam 5 bahkan hingga Isya.

           

            Pagi-Subuh yang tampak cerah, sejuk, damai di harmonisasikan oleh suara merdukicauan burung yang mencari makanan untuk keluarganya di sarang yang menggelantung di setiap batang pohon.Sementara Meli anak seorang buruh yang bernama Anto bersiap-siap berangkat menuju sekolah. Dengan sudah mengenakan seragam merah putih, bertopi, tas sudah di gendong, sepatu sudah di pakai, hanya saja menunggu bapaknya, Anto yang masih sedang mengenakan baju. Sementara, Surti istri Anto sudah menunggu didapur bersama hidangan masakan terbaik dan ter-enak dibuatkan untuk sang suami bersama putri tercinta.

            “Sarapan dulu Mel”

            “Nggih Ma”

            Meli bergegas menuju dapur yang sederhana.

            “Pak sarapan dulu”

            Anto menuju dapur makan.

            Mereka menikmati hidangan.

 

            Selepas menikmati hidangan sang istri. Antopun berangkat menuju sekolah Meli dengan menggunakan sepeda motor butut astreanya, lalu menuju ke tempat kerja.

            Saking semangatnya sekolah, Meli setelah turun dari motor langsung berlari menuju mulut gerbang sekolah. 

            “Salim dulu dong”

            “Sekolah dulu ya papa”.Cium kening papa.

            “Assalamualaikum…”

            “Waallaikumsalam…”

            Meli masuk ke dalam sekolah.Teman-temannya sudah menunggu kedatangannya di dalam lingkungan sekolah untuk menunggu suara lonceng yang bertanda untuk segera mengatur barisan untuk melaksanakan upacara bendera.

            Pada hari Senin itu, Meli-lah yang menjadi pemimpin upacara. Anak manis seorang buruh yang sekaligus menjadi rekor baru bagi SD tersebut, sebab Meli yang masih kelas 4 SD dipilih menjadi pemimpin upacara yang biasanya di isi oleh kelas lima dan enam.

            “Sudah siap kamu Meli?. Tanya Elis. Temannya di sekolah maupun di rumah”

            “Sudah siap dong”

            “Sudah siap mengatur upacara bersama kakak kelas?”. Saut Ami.

            “Siap dong”.

           

            Meli memang dikenal sebagai siswi yang cerdas di sekolah, pandai berbicara, pandai menjawab soal dari setiap pertanyaan yang di ajukan oleh bapak/ibu guru.Oleh karenanya, Meli dari kelas 1 sampai kelas 4-nya itu selalu mendapatkan ranking 1.Disamping itu, Meli sering menjadi pewakilan untuk lomba menulis cerita pendek bagi sekolahnya.hingga mendapatkan juara 2 pada perlombaan itu.

            Cerita yang di bawakan mengandung unsur filsafat.Siswi SD kelas 4 sudah mampu menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, tulisan berkonteks filsafat pula. Hal ini tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai anak buruh pabrik rokok dan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga saja, yang setiap hari-harinya bertani di depan teras rumah (halaman rumah) dan dibelakang rumah, disana tertanam berjejer tomat, cabe, sayur sawi, lembin (sayur benih) serta bunga-bunga lainnya. Terkadang hasil panen dijual ke pasar serta bunga-bunga yang menurutnya bagus dijual, yang sekiranya banyak di cari oleh masyarakat menengah ke atas di jualnya.

            Ringkasan isi dalam cerpen yang ditulis oleh Meli mengandung unsur kemanusiaan yang secara sadar menurut Bung Karno pada masa perumusan Pancasila ialah Internasionalisasi (Humanisme).Disamping itu, Meli mencoba mengangkat kebiasaan “Kulture” lingkungan sekitar rumahnya.  Hal ini sangat berkaitan dengan maksud dari pemikiran Soekarno yang melihat masyarakat Indonesia dengan kebiasaannya yang ber-Gotong-Royong, saling membantu dan membahu satu sama lain serta masyarakat yang ramah tamah, tidak ada mayoritas-minoritas. Semua harus satu padu saling membantu dan menolong. Sebab, jika ada mayoritas-minoritas pasti disitu ada unsur ingin menguasai atau menghegemoni satu sama lain. 

            Disisi lain dalam cerpennya, Meli melihat anak-anak yang baru belajar berbicara yang pada dasarnya anak-anak itu akan meniru, khususnya meniru orang tua mereka atas apa yang ia ajarkan. Itu memang hal naluri manusia sebagai yang dikenal dengan mimesis (menurut Plato) yang pada dasarnya manusia itu ialah meniru. “Meniru Untuk Menemukan Jati Diri”. Hal ini diperkuat juga oleh setiap orang pasti mempunyai inspirasi maupun guru.  Oleh karena itu,

BerGuru-lah agar tidak tersesat, beGuru-lah agar perjalanan yang satu jam tidak menjadi satu tahun”.

           

            Lonceng terkahir berbunyi bertanda siswa-siswi diperbolehkan pulang.

            Siswa-siswi dari kelas 3 sampai kelas 6 berbondong-bondong beranjak meninggalkan sekolah, kelas 1 dan 2 pembelajaran hanya sampai jam 10.Dimulut sekolah satpam sekolah sudah siap untuk menyeberang siswa-siswi, sementara pedagang es sabun, pedagang mainan, pedagang bakso goreng, pedagang, cilok, sudah menunggu-nunggu kepulangan siswa-siswi di sekolah tersebut. Pemandangan yang indah terlihat disetiap sudut desa, siswa-siswi yang membeli es nutrisari dengan memakai plastik, siswa-siswi yang tidak memakai sepatu beranjak menuju rumah, sepatunya ada yang digandengnya, ada juga yang di ikat di belakang tasnya, sampai ada yang ditaruh diatas kepala, siswa yang menangis sepanjang jalan setelah di buli oleh temannya, hingga siswa yang menuju jebes masjid untuk mandi sampai siswa yang berbelok arah menuju kali untuk menyeburkan badan untuk mandi. Sementara, Meli tanpa harus mampir kemana-mana, ia langsung menuju rumah bersama Elis yang rumahnya dekat dengan rumah Meli.

            “Entar kita main selodoran ya sama anak-anak kampung. Ajak Meli”

            “Iya Mel. Aku ganti baju dulu ya sama makan siang”

            “Iya Lis”

            “Aku masuk dulu ya”

            “Oke Lis”.

            Mereka berpisah diantara rumahnya.

           

            Elis yang merupakan seorang anak pekerja kantoran (PNS) serta ibunya bekerja di salah satu puskesmas yang diluar kecamtan desanya itu sudah menjadi sahabat Meli sejak masih baru belajar berbicara.Tak jarang pula, keluarga Meli diajak liburan oleh keluarga Elis, terkadang menuju pantai yang tidak jauh dari desa tersebut, terkadang juga ikut rombongan bersama masyarakat di RW desa.Rombongan liburan dengan memakai truk.

            Di Rw desa tempat Meli tinggal, masyarakatnya begitu ramah-tamah, jika ada salah satu keluarga yang membuat suatu acara, pasti warga yang lainnya turun berbondong-bondong bergotong-royong untuk saling membantu satu sama lain. Hal yang seperti inilah yang dilihat dan dirasa oleh Meli melihat lingkungannya sehingga di masukan ke dalam cerpennya yang tak disadari, itu sebetulnya berkaitan dengan pemikiran Bapak Proklamator kita.Hal ini jangan sampai hanya di desa saja, semangat ini haruslah terjadi juga di perkotaan maupun di daerah-daerah kecil-besar hingga di dalam ranah pemerintahan. Tapi kenyataannya di pemerintahan tidak sama sekali sama dengan di desa Meli secara pemaknaan, di pemerintahan pergejolakan saling membantah, saling menjatuhkan sudah terbiasa terjadi, saling menguasai satu sama lain, rasa ingin memiliki antar individu maupun kelompok begitu besar, sehingga menyebabkan terpecah belah didalam sistem pemerintahan itu sendiri. seakan-akan di pemerintahan sudah tak ada lagi rasa persatuan-kesatuan-kekeluargaan yang sebenarnya itu harus di junjung tinggi, tapi karena kepentingan serta dorongan dari atasan kelompok itulah yang menyebabkan sistem pemerintahan kita selalu monoton bahkan menurun… Ini Politik!