FADLI ZON DAN FAHRI HAMZAH. SEBUAH PERSONAL BRANDING

FADLI ZON DAN FAHRI HAMZAH. SEBUAH PERSONAL BRANDING

Sejak tahun 90-an, saya sudah mempelajari apa yang disebut dengan personal branding. Ilmu ini sangat diperlukan untuk membantu seseorang yang ingin ikutan bursa jadi bupati, gubernur atau presiden. Guru saya dalam personal branding banyak banget, ada orang lokal dan ada pula orang luar. Banyak sekali ilmu yang diajarkan oleh guru-guru saya tersebut. Walaupun demikian secara umum yang diajarkan sih sama aja.

Secara sederhana, personal branding bisa dianalogikan seperti sutradara yang menciptakan jagoan dalam film. Jadi tugas kita, anggaplah pilkada dan pemilu itu seperti skenario film dan tokoh yang kita bantu harus kita jadikan sebagai jagoannya. Jagoan itu kan tokoh protagonis, mereka umumnya orangnya cool, baik, rendah hati, tidak pernah menyerang orang lain, ramah, jago dalam banyak hal, good looking dan yang terpenting loveable. Kenapa loveable? Karena bagian ini yang paling penting dalam mengangkat faktor elektabilitas.

Berpuluh-puluh tahun saya meyakini pemahaman tersebut sampai akhirnya tiba-tiba muncullah teknologi digital. Seperti kita ketahui digital telah membuat disruption yang sangat hebat di dunia marketing. Gara-gara media interaktif ini, semua teori-teori lama langsung terpatahkan. Pemahaman saya bahwa untuk membangun brand buat seseorang itu adalah bagaimana membuat orang tersebut tampak cool, baik, ramah, jago dalam banyak hal, good looking, ramah udah gak laku lagi.

Fadli Zon dan Fahri Hamzah adalah contoh yang paling tepat. Kedua orang ini tidak peduli pada teori-teori di atas. Coba lihat statement-statement mereka di twitter. Tanpa sungkan mereka langsung menyerang lawan politiknya dengan kata-kata tajam. Coba baca bagaimana reaksi netizen di twitter, jauh lebih banyak yang membully mereka daripada yang kagum. Coba perhatikan cara mereka berbicara di TV, jarang sekali saya mendengar mereka berbicara ramah, rendah hati…apalagi loveable. Saya merasa keduanya tidak begitu ambil pusing apakah masyarakat akan membenci mereka atau mencintainya. Kenapa bisa demikian?

Analisa saya begini: Di setiap tahun politik, acara talkshow politik di televisi formatnya selalu sederhana. Mereka tinggal mengundang dua pihak yang berseberangan lalu host tinggal mengadu domba mereka untuk berdebat. Itu sebabnya kita sering melihat kedua pihak saling bentak, berteriak-teriak dan ngomong berbarengan ketika sedang berdiskusi.

Fadli Zon dan Fahri Hamzah keliatannya sangat memahami iklim di talkshow-talkshow politik. Mereka dengan sengaja memposisikan diri mereka sebagai tokoh antagonis. Mereka berani ngambil risiko dibully dan dibenci oleh masyarakat luas. Alasannya sederhana; tokoh protagonis itu udah bejibun. Semua orang ingin menjadi orang baik sementara yang ingin menjadi tokoh antagonis itu gak banyak. Itu sebabnya mereka selalu menyerang Jokowi terus menerus sehingga terciptalah kesan bahwa musuhnya Jokowi adalah keduanya. Itu sebabnya mereka selalu mendapat corong dari media. Di Indonesia Lawyer Club mereka udah jadi langganan tetap karena Karni Ilyas memahami bahwa kalo ada duo FZ dan FH acaranya selalu seru. Semakin banyak berantemnya, semakin meningkat pula rating acara yang diasuhnya. Perlu dikatahui banyak stasiun televisi yang menTuhankan rating

Jadi gak usah heran jika semua wartawan juga sudah terbrainwashed kepalanya. Pokoknya peristiwa apapun yang terjadi, langsung minta pendapat Fadli Dan Fahri, pasti beritanya jadi seru. Mereka mengharapkan pendapat yang kontroversial dari keduanya. Maka terjadilah yang namanya simbiosis mutualism; media mendapatkan apa yang diinginkan, sementara kedua politisi gemuk ini mendapatkan liputan yang terus menerus dari berbagai media. Cara ini terbukti efektif sehingga sekarang ini banyak sekali politisi yang mengikuti jejak mereka.

Akhirul kata, saya mengambil kesimpulan bahwa teori-teori personal branding terpatahkan karena buat politisi, liputan media itu jauh lebih penting dari penilaian masyarakat. Mereka gak peduli lagi dengan istilah protagonis atau antagonis, yang penting setiap hari muncul di media mainstream. Dengan liputan media yang sangat heavy, mereka merasa tidak ubahnya seperti public figure, tokoh nasional, selebriti… Bagaimana kalo dibully netizen? Masa bodo amat!

Suka gak suka, begitulah yang terjadi. Bahkan seorang Najwa Shihab yang sangat selektif dalam memilih nara sumbernya pun merasa perlu untuk mengundang kedua politisi ini. Pertanyaan berikutnya; apakah kalian ingin terkenal, mendapat liputan media setiap hari tapi harus menempatkan diri menjadi tokoh antagonis dengan risiko sering dibully seperti Fadli Zon atau Fahri Hamzah? Silakan dijawab sendiri-sendiri ya? Hehehehehehe….