Eksistensi Komunikasi di Segala Situasi

Karena komunikasi bukan sekadar merangkai pesan dan merancang media, tetapi juga cerita mengenai makna.

Eksistensi Komunikasi di Segala Situasi

Komunikasi menjadi hal yang sangat vital dalam setiap sendi kehidupan. Sekitar 85% dari kehidupan kita adalah berkomunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal, verbal maupun nonverbal. Bahkan kita telah menerapkannya sejak pertama kali merasakan dunia. Jangan mengira bayi yang baru lahir belum bisa melakukan apa-apa, justru mereka sudah mampu berkomunikasi. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk tangisan. Seorang bayi akan menangis ketika lapar, dan saat kita meresponnya dengan memberikan susu, maka yang terjadi bukan hanya komunikasi belaka, melainkan juga sebuah interaksi.

Berbicara tentang komunikasi, maka tidak akan jauh dari pembahasan mengenai masalah. Komunikasi sendiri berasal dari bahasa latin communicare yang artinya menyampaikan. Menyampaikan secara langsung ataupun tidak langsung. Tampaknya komunikasi memang sederhana, semua orang bisa melakukannya. Namun, ternyata komunikasi itu juga ada ilmunya, supaya kita tidak saling salah paham. Mengapa komunikasi ini sangat penting? Karena orang tidak bisa membaca isi kepala kita, orang tidak bisa memahami jalan pikiran kita. Tanpa komunikasi yang jelas, orang tidak akan mengerti harapan dan keinginan kita, dan akhirnya kita kecewa. Setiap orang pasti memiliki ekspektasi, bohong kalau ada yang mengatakan tidak. Disisi lain, masalah timbul akibat ketidaksinkronan antara ekspektasi dan realita, atau antara refleksi dan aksi. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia untuk senantiasa menjalin komunikasi. Tidak jarang, jalan keluar dari problematika yang kita alami adalah sesimple komunikasi ini. Karena komunikasi bukan sekadar merangkai pesan dan merancang media, tetapi juga cerita mengenai makna. 

For example, ada dua sejoli katakanlah Dewa dan Dewi. Mereka sudah berpacaran selama 9 tahun hingga akhirnya menikah. Ketika hendak liburan, mereka memutuskan untuk liburan ke Tasmania. Dengan menyewa sebuah mobil kecil, mereka berkeliling Tasmania dan mampir di salah satu food curt untuk makan. Karena harus mengangkat telepon, Dewi meminta Dewa memesankan makanan. Selesai menerima telepon, Dewi mencuci tangan kemudian duduk di meja nomor 15. Dewa pun dengan senyum manisnya datang membawa dua nampan makanan. Satu untuk Dewa, satu untuk Dewi. Dan apa yang terjadi? Ketika makanan itu sampai di depan Dewi, dia langsung marah. Begitu melihat makanan tersebut, Dewi kaget, karena dia sangat benci dengan makanan chinese apalagi makanan yang lauknya dicampur aduk. 

Sebenarnya masalahnya sepele. Dewi bukan semata-mata marah karena makanannya, masalah terbesar baginya ialah dalam ekspektasi Dewi, berpacaran selama 9 tahun harusnya Dewa sudah bisa mengerti dan memahami apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Nah, disini hal-hal yang seharusnya bisa dikomunikasikan malah memicu pertengkaran. Kita punya ekspektasi, tetapi masalahnya kita tidak komunikasi. Itulah contoh kecil yang kerap kali terjadi disekitar kita.

 

Sumber: muslimobsession.com

Apabila dilihat dari sudut pandang kehidupan beragama, manusia merupakan makhluk individu. Meskipun begitu, bukan berarti kita tidak membutuhkan komunikasi. Lebih-lebih komunikasi menjadi kewajiban bagi kita. Sebagai umat islam, kita diwajibkan shalat lima waktu yang tentunya disambung dengan berdoa. Wujud komunikasi kita dengan Allah swt. ya seperti itu, komunikasi vertikal. Jika dalam tauhid dinamakan Hablun Minallah. Banyak dari kita yang mungkin belum menyadarinya. Saat kita sedang dirundung masalah, baik masalah dengan teman, keluarga bahkan masalah dengan diri sendiri, kita memohon petunjuk kepada-Nya. Mengadukan segala isi hati, dan hebatnya lagi, ketika kita curhat dengan Allah Swt. seketika rasa tenang dan lega menghampiri. Sehingga shalat dan berdoa ini bukan lagi menjadi kewajiban bagi kita, tetapi sudah bagai kebutuhan sehari-hari. 

 

Jika dalam agama Islam, shalat adalah tiang agama. Maka dalam bermasyarakat, komunikasi layaknya sebuah fondasi. Selain sebagai makhluk individu, manusia juga dikatakan sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain, interaksi ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut juga dengan "zoon politicon". Aristoteles adalah orang pertama yang mengatakan bahwa manusia merupakan "zoon politicon" atau makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Terlebih lagi dalam ruang lingkup organisasi, di mana organisasi ada karena persamaan tujuan. 

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaian informasi antara dua orang atau lebih. Komunikasi merupakan suatu proses yang penting dalam organisasi karena komunikasi diperlukan bagi efektivitas kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan, manajemen konflik, serta proses-proses organisasi lainnya. Kurangnya komunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman bahkan hingga perpecahan. Sebaliknya, jika komunikasi terjalin dengan baik, maka akan tumbuh rasa toleransi serta solidaritas antar individu. 

 

Seringkali dalam sebuah organisasi masalah utama yang muncul ialah mis-communication. Hampir seluruh kegiatan dari organisasi berlangsung melalui komunikasi antar anggotanya. Maka dari itu, salah komunikasi (mis-communication) bisa menjadi masalah besar bagi suatu organisasi karena dapat merusak rencana organisasi kedepannya. Mis-communication secara tidak langsung juga mampu menyebabkan keefektivitasan kerja suatu organisasi menjadi menurun, sehingga waktu kerja organisasi jadi berkurang (terbuang). Misalnya, Seorang atasan memberi tugas berbeda kepada dua orang bawahannya, si A dan si B, tetapi hanya si A yang mengerti maksud dari tugas itu, sedangkan si B menafsirkan tugasnya sama dengan si A. Sehingga mereka pun mengerjakan tugas yang sama. Dari ilustrasi tersebut dapat dilihat jika mis-communication membuat pembagian kerja menjadi tidak teratur sehingga menurunkan efektivitas kerja organisasi. 

Dalam lingkup luas dan arti yang kompleks, ketiadaan komunikasi dapat memunculkan adanya suatu penindasan. Yang bisa saja secara sadar maupun tidak sadar. Seperti yang terjadi di Brasil sekitar tahun 1960-an, yang mana banyak terjadi keresahan. Pada waktu itu Brasil mempunyai penduduk sekitar 34,5 juta jiwa dan hanya 15,5 juta yang dapat mengikuti pemilihan umum. Hak ikut serta dalam pemilihan umum di Brasil waktu itu dikaitkan dengan kemampuan orang untuk menuliskan nama masing-masing. Tidak mengherankan jika program kenal aksara seringkali dihubungkan dengan usaha peningkatan kesadaran politik penduduk, terlebih penduduk perdesaan yang telah lama menjadi sekadar alat untuk mendukung kepentingan-kepentingan golongan minoritas yang berkuasa. 

Dalam kegiatan politiknya, kelompok elite yang berkuasa menggunakan konsep pendidikan gaya bank untuk menumbuhkan sikap pasif dalam diri kaum tertindas yang tenggelam dan memanfaatkan sikap pasif tersebut untuk mengisi kesadaran mereka dengan slogan-slogan yang menciptakan rasa takut lebih besar akan kebebasan. 

Paulo Freire, dalam bukunya yang berjudul Pedagogy of the Oppresed menyebutkan bahwa hanya dialoglah yang menuntut adanya pemikiran kritis, yang mampu melahirkan pemikiran kritis. Tanpa dialog berarti tidak ada komunikasi, karena komunikasi yang menuntut terjadinya dialog, dan tanpa komunikasi tidak akan mungkin ada pendidikan sejati. Pendidikan yang mampu mengatasi kontradiksi antara guru-murid berlangsung dalam suatu situasi di mana keduanya mengarahkan laku pemahaman mereka kepada objek yang mengantarai keduanya. Pendidikan yang menerapkan komunikasi dengan sebenar-benarnya. 

Dari berbagai gambaran mengenai peran pentingnya komunikasi tersebut, tidak diragukan lagi betapa besar kontribusi sebuah komunikasi dalam kehidupan manusia. Komunikasi yang bukan hanya sekadar komunikasi. Melainkan komunikasi yang ada ilmunya, komunikasi yang jelas, dan komukasi yang benar. Semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi, memang benar adanya. Karena pada dasarnya, solusi utama dari setiap permasalahan yang ada ialah komunikasi. 



 

===============================================

Daftar Pustaka:

Daryanto, dan Muljo Raharjo. 2016. Teori Komunikasi. Yogyakarta: Gava Media. 

Freire, Paulo. 1972. Pendidikan Kaum Tertindas. Danuwinata, F. 2008. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. 

Zuhry, Ach. Dhofir. 2018. Peradaban Sarung. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.