Dunia Kita Berbeda

Dunia Kita Berbeda
Photo dari pxhere

“Maa...,” tiba-tiba dalam tidurmu kau berteriak memanggilku padahal beberapa detik lalu masih kudengar suara dengkur dari lelapmu karena obat yang mempengaruhimu.

Aku menghampirimu saat kau terbangun dan memintaku untuk mengganti pakaianmu dengan kemeja dan celana panjang yang biasa kau kenakan saat kerja dulu.

 “Ayo cepetan Ma, aku ada meeting sama orang siang ini. Nanti telat!” kau mendesakku untuk segera memakaikan bajumu.

Aku pandangi wajahmu, “Ini sudah tengah malam, sayangku. Mau kemana? Gak mungkin kita keluar tengah malam begini.”

Kau tak mempedulikan ucapanku, sejenak kemudian kau berceloteh lagi akan rapat  untuk urusan bisnis dengan seseorang yang kau bilang meneleponmu. Padahal sudah beberapa minggu ini telepon genggammu tak pernah berbunyi. Pukul berapa sekarang pun sudah sulit kau pahami.

Kembali aku mengingatkanmu untuk berta’awudz, membaca doa perlindungan itu agar mereka yang tak terlihat olehku yang mungkin ada di sekelilingmu, tak mengganggu. Alhamdulillah, kau ikuti dan kalimat kesaksian pun terus kau lafadzkan hingga kaupun tenang kembali.

***
“Ayo Mama siap-siap mandi terus kita ke Jogja.” Subuh pagi  tiba-tiba kau memintaku untuk berkemas-kemas.

Kau bilang mobil sudah siap untuk mengantarkan kita ke Jogjakarta. Di sana kita akan mengadakan pertemuan untuk bisnis kita. Aku berusaha untuk mendengarkan, tak menjawab walau aku tahu itu hanya ada dalam halusinasimu. Begitu ganasnya sel-sel kanker yang jahat itu berkeliaran di tubuhmu sehingga melumpuhkan daya pikirmu, walau untuk mengingat berjalan pun kau tak lagi mampu. 

“Sekarang kita gak bisa kemana-mana, Yank. Pemerintah membatasi gerak kita karena virus corona.” Aku berusaha hati-hati menanggapi permintaanmu agar tak menyinggung perasaanmu yang kini menjadi sangat rapuh. Aku pun berharap kau bisa mengerti situasi saat ini dan tenang kembali.

“Ayo Ma, kita udah ditungguin orang di Jogja.” Sambil menggeser-geserkan kakimu, kau tetap bersikeras karena kau tak dapat mencerna apa yang aku jelaskan. Jangankan apa itu virus corona, memahami ‘tak boleh’ saja kau tak bisa. Bagimu aku cuma ‘berdusta’ agar kau tak kemana-mana. 

“Mama nih bohong. Ini gak boleh, itu gak boleh. Aku harus kerja. Harus cari uang buat kita Ma.” Katamu selanjutnya. Aku hanya diam tak bersuara.

Bagimu tak ada kata berhenti untuk bekerja. Walau dalam laramu, ‘semangat’ itu yang terus terpelihara. Aku bersaksi bahwa kau adalah seorang imam yang sangat bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Semoga ini kelak yang akan menuntunmu ke surga Yang Maha Kuasa.

“Ok, tapi wudhu dulu ya terus sholat subuh. Abis itu aku siap-siap deh.” Aku berusaha membujuk untuk mengulur waktu agar bisa menenangkanmu.

Melihat anggukanmu, segera kuambil waslap dan kubasahi air hangat. Kuseka wajahmu, lenganmu, telingamu hingga kakimu untuk berwudhu. Sekuat hati kutahan jatuhnya air mata, kupanjatkan doa agar kau bisa melafadzkan kembali doa-doa sehingga sholatmu bisa terlaksana.

***
Hari ini kau tak mau bicara. Hanya berisarat dengan tanganmu saja. Kau minta alat tulis dan kau menulis entah apa. Kubaringkan tubuhku di sampingmu. Kukuat-kuatkan hatiku, aku ingin sekali menyampaikan padamu karena aku yakin hatimu mendengarkan. Aku takut kehilangan waktu.

“Yank, aku...aku mau meminta maaf jika selama ini aku banyak berbuat salah.” Terbata-bata aku memulainya, kau tak bergeming.

“Jujur .... ini gak mudah bagi aku dan anak-anak..” Kutahan suaraku karena air mataku pecah sudah.

Sejenak aku terdiam tak dapat melanjutkan. Namun hatiku membuncah untuk terus menyampaikan.

“Tapi kalau memang waktumu sudah dekat...aku akan berusaha ikhlas...,” aku kembali terdiam untuk tidak sesegukan. Yaa Allah, aku tak berdaya tapi aku harus bisa menjalani semua.

“In syaa Allah, aku akan mendidik anak-anak untuk ikhlas dan kuat...In syaa Allah.” Kupejamkan mata karena tak dapat lagi kutahan air mata yang sudah mengambang lama.

Namun tiba-tiba dalam diammu kau gerakkan kepalamu dan menengok ke arahku. Kau menangis.

“Kasihan anak-anak...” itu saja yang kau ucapkan berkali-kali dalam tangismu.

Dalam derasnya air mataku aku masih merasakan bahagia walau di ujung hatiku. Ternyata kau mendengarku, kau masih menangkap pesanku.

“In syaa Allah anak-anak bisa kuat menjalani semua, Yank.” Aku berusaha meyakinkannya walau aku sendiri remuk redam, tapi hidup harus terus berjalan, tak bisa kubiarkan tenggelam.

Setelah itu kau kembali hanyut dalam celotehmu yang tak karuan.

***
Sore kemarin kau memanggilku dengan suara lemahmu. “Maa, minta minum...” hampir tak terdengar.

Lalu kutuangkan air ke dalam gelas, agak panas karena begitu selalu keinginanmu. Pelan-pelan aku duduk di sampingmu, kuelus tanganmu, lalu kubisikkan di telingamu, “Ini minumnya, Yank.”

Kau buka matamu perlahan lalu kau raih wajahku dan mencium keningku dengan lembut, seperti dulu yang sering kau lakukan. Aku terkesiap, kau tampak tak seperti biasanya.

“Ma, Kamu urusin anak-anak dulu ya. I’m trying to survive.” 

Untukku ini luar biasa! Selama ini yang kudengar dari mulutmu hanya racauan-racauan tanpa makna. Semangatmu masih menyala, Alhamdulillah!

***
Sudah hampir dua bulan kita tidak keluar rumah karena virus corona yang masih merajalela. Kondisimu yang begitu rentan membuatku tak bernyali untuk kontrol bulanan ke rumah sakit yang saat ini menjadi tempat yang paling dihindari. Kita bertahan di rumah dan berusaha menyambung obat dengan membeli di apotek dulu saja. Tak apa, kita bisa berkumpul bersama anak-anak kita untuk berdoa dan saling menguatkan.

Aku tak dapat menyangkal rasa bosan dan lelah kadang menghinggapi. Jangankan dirimu yang tempat tidur saja menjadi ruang lingkupmu, aku pun yang masih sesekali ke luar untuk membeli beberapa keperluan tak dapat menghindari rasa jenuh itu.

“Ma, aku capek...” begitu katamu setiap kali akhir-akhir ini.

Kini, kau gelengkan kepala saat kuminta untuk tetap bersemangat. Kau tepiskan lenganku saat aku membujukmu untuk makan sesuatu.

“Gak mau...jangan maksa. Aku sudah makan.” Begitu katamu selalu, padahal selama tiga hari ini hanya air putih saja yang kau telan.  

Sel-sel ganas itu semakin buas mengendalikanmu. Terkadang aku melihatmu seperti sedang makan atau minum sesuatu saat masih terlelap dalam tidurmu. Atau berkali-kali kau memaksa ingin ke kamar mandi untuk berhadas padahal duduk pun kau tak mampu. Hingga akhirnya popok itu kupasangkan walau kau tak suka karena sudah tiga kali berhadas kau tak menyadarinya. Namun, kadang aku terkesima, di antara itu semua, kudapati gerakan-gerakan sholat kau jalankan walau dalam tidurmu. 

“Yaa Allah, dunianya kini semakin berbeda. Aku tak berdaya untuk kembali memutarnya seperti sediakala. Hanya Engkau Yang Maha Bijaksana, jadikanlah dunianya  bagiku sebagai ladang pahala.”

 

Bassura, 1 Mei 2020
Ramadhan, hari ke delapan