DUNIA DALAM LUKISAN

DUNIA DALAM LUKISAN
Koleksi pribadi, lukisan hasil karya Pak Surya

“Selamat datang di rumah saya yang sangat sederhana ini,” Pak Dharma menyapa Kevin dan Dini dengan ramah dan penuh antusias.

“Kehormatan bagi kami untuk dapat bertemu dengan seorang pelukis hebat seperti Bapak!”

Kevin menjabat erat tangan bertato sang pelukis yang memiliki rambut panjang agak gelombang dan kulit sawo matang itu. Sosok pelukis itu bertubuh tinggi besar dan gagah. Ruang tamunya kecil namun tumpukan lukisan tak digantung terlihat di setiap penjuru mata. Kevin dan istrinya lalu diajak ke ruang sebelah yang berukuran kurang lebih sama kecilnya. Sama seperti di ruang tamu lukisan-lukisannya tidak ada yang menempel di dinding. Baru kali ini Kevin menemukan berbagai lukisan dengan macam rupa ukuran bak buku yang disusun dan bersandaran di tembok. Lukisan-lukisannya terlihat menggambarkan manusia, alam dan ada juga yang terlihat abstrak.

Kevin tidak pernah membeli sebuah pun lukisan sebelumnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia memberanikan diri membeli sesuatu yang diyakini akan menambah keindahan di dalam rumah yang baru saja mereka masuki. Sebagai pasangan yang baru menikah dan modal yang diberikan perusahaan untuk mengisi rumahnya, pilihan Kevin didukung oleh istrinya, Dini. Kevin baru saja dipindahtugaskan dari kantor pusat Jakarta ke kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebuah kota yang walau terasa jauh dan asing namun kenyataannya sangat nyaman, asri dan bebas dari cengkeraman polusi.

Lukisan-lukisan pak Dharma tidak sengaja dilihatnya saat dikirim pelatihan dari kantornya di sebuah hotel. Sentuhan seni melukis di berbagai kanvas terlihat menggambarkan kehidupan sehari-hari yang dialami manusia di berbagai rentang usia. Yang menarik bukan saja lukisannya mengantar cerita emosional namun juga gaya melukisnya yang memiliki guratan dan gaya tersendiri. Saat Kevin memutuskan untuk membeli karyanya beberapa hari kemudian, pameran karya Pak Dharma sudah tidak ada lagi di hotel. Kevin yang sempat kecewa akhirnya mengupayakan berbagai cara hingga akhirnya bisa sampai di rumah Pak Dharma hari ini.

Dari puluhan lukisan yang diperlihatkan Pak Dharma di rumahnya tidak ada satu pun lukisan yang menarik hati Kevin.

“Sepertinya saya tidak bisa menemukan lukisan seperti yang saya nikmati ketika berada di pameran hasil karya Bapak di Hotel Langit Biru.” Suara Kevin terdengar sedih namun penuh harapan.

“Ohhh … Pak Kevin tertarik membeli salah satu lukisan saya yang disajikan di galeri Hotel Langit Biru minggu lalu?” Pak Dharma seakan mencoba menyelami pikiran Kevin.

“Saya minta maaf sebelumnya Pak, lukisan-lukisan saya itu habis dibeli orang-orang Eropa, Amerika dan Afrika yang bekerja di perusahaan minyak asing di kota ini. Pak Kevin tentu tau jika jumlah mereka cukup banyak. Walau jarang mengadakan pameran tapi saya perhatikan dari tahun ke tahun mesti yang beli banyak orang asing. Ada juga beberapa pembeli orang Indonesia, namun bisa dihitung jari. Saya bersyukur sekali Pak Kevin tertarik membeli karya saya!” kali ini kedua mata pak Dharma menyiratkan rasa bangga dan kagum akan kedatangan seorang pemuda asal Indonesia yang datang untuk mengapresiasi karyanya.

“Tidak apa-apa Pak, kalau begitu mungkin belum rejeki saya untuk membeli karya Bapak saat ini.“

Kevin terlihat menyesal karena tidak langsung membeli lukisan ikan yang dilihatnya saat dikirim pelatihan di hotel minggu lalu. Melihat kekecewaan di wajah Kevin, Pak Dharma lalu mengajak Kevin dan istrinya untuk mengikutinya dan menaiki tangga kecil yang terbuat dari kayu yang dilapisi cat putih. Sebuah tangga yang berada di ujung sudut rumah mungil maestro melukis itu.

“Sebenarnya ada belasan karya lukisan yang saya simpan di sini, rata-rata sudah saya lukis beberapa tahun yang lalu.” Debu dan sarang laba-laba menghiasi pemandangan langit-langit di atas Kevin. Ruangan yang berbau cat minyak ini terlihat cukup terang karena cahaya sinar yang masuk melalui dua jendela kecil.

Mata Kevin menatap sebuah lukisan besar yang terlihat begitu megah, mungkin karena tingginya hampir menyaingi tubuh istrinya. Dini sendiri sedang asyik memanjakan matanya dengan lukisan-lukisan di sekeliling gudang mungil itu. Lukisan yang ditatap Kevin begitu hidup dan terlihat jelas gambaran orang-orang berkuping panjang yang sedang memegang ikan di tiap tangan mereka. Tiba-tiba tubuh Kevin seperti ditarik oleh lukisan itu dan dirinya sekonyong-konyong masuk ke dunia dalam lukisan yang baru beberapa detik lalu diamat-amatinya.

*******

Aneka jenis pohon dan tanaman tumbuh subur di hutan yang terletak di pedalaman hutan Kalimantan ini. Kevin terpesona dengan warna daun degradasi hijau tua, muda bahkan hijau yang menjelma menjadi toska. Tanaman Pakis berjejer dan bertingkat-tingkat seakan memberi bentuk kerajaan hutan yang penuh misteri dan rahasia ilahi. Tanah tertutup oleh hamparan dedaunan berwarna coklat tua dan muda. Kevin merasa kakinya tenggelam dalam karpet alami dan hidungnya dapat menghirup aroma daun yang begitu menyegarkan.

Sinar matahari yang menembus di antara pepohonan tinggi berumur ratusan tahun terasa hangat menerangi seisi rimba mengagumkan ini. Suara puluhan burung Enggang pun tidak ketinggalan menggelegar seakan memberi tanda keberadaan mereka yang sedang bermain riang gembira di pucuk-pucuk pohon Jati dan Bangkirai yang tinggi dan kokoh itu.

Tiba-tiba dua anak remaja saling berlari dan berkejaran karena memperebutkan sesuatu yang sangat berharga. Kevin mencoba mendekat, namun kedua anak itu sama sekali tidak menyadari kehadiran dirinya di antara mereka. Kevin sadar bahwa dirinya hanyalah pengamat dari sebuah cerita yang sedang dipertontonkan di hadapannya.

Suara anak perempuan cantik bermata lugu dan berambut panjang hitam terdengar setengah berteriak, “Kak Labiiiiih, bagi aku na Kulat Pelawan naaa … aku tadi sudah berniat menarik kulat itu tapiii ... tapi ... kakak lebih cepat mencabutnyaaaaa!”

“Hamen adikku yang manis, di kala kita mencoba mendapatkan sesuatu dengan perjuangan bukankah segala rasa menjadi lebih manis? Hahahaha … ayoook kejar aku sampai dapat!”

Labih yang bertaut umur 4 tahun dengan adiknya seakan sedang menasehati adiknya ketimbang sekedar bermain.

Dalam pandangan Kevin anak Dayak laki-laki itu terlihat sangat gagah walau hanya menggunakan sedikit kain di tubuhnya. Hidungnya yang mancung dan mukanya yang sedikit kotak memperlihatkan suatu ketegasan dan kecakapan yang luar biasa.  Adiknya Hamen dengan kulit berwarna putih dan mata sedikit sipit seakan mengerti setiap jengkal kehidupan yang terjadi di hutan tropis yang mengagumkan ini. Kedua kakak beradik ini menggunakan ikat kepala yang terbuat dari manik- manik bercorak kuning, putih dan merah. Kevin tetap tidak mengerti mengapa tubuhnya dapat terbang ke dunia yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kevin memutuskan untuk menikmati dan memperhatikan setiap kejadian yang akan ia lalui bersama kedua matanya.

Kulat yang sedang mereka perebutkan adalah sebuah jamur yang dapat dimakan oleh manusia. Jamur itu terlihat begitu menggiurkan. Tidak heran kakak beradik itu memperebutkan jamur berwarna merah muda polos namun dihiasi titik kuning di batangnya. Labih akhirnya merasa iba kepada adiknya dan memberikan jamur berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa itu padanya.

Karena mereka sudah sampai di pinggir sebuah sungai tenang dan jernih, maka adiknya pun lalu mencuci jamur itu di air sungai. Layaknya anak-anak yang begitu bahagia mendapat sebuah permen gulali dengan warnanya yang menggoda, kakak adik itu pun menikmati jamur itu dengan penuh ungkapan syukur.

“Dik, kau tau Bapak pernah bercerita tentang sebuah keajaiban yang terjadi di sungai Mahakam ini sepuluh tahun yang lalu?”

Hamen masih sibuk menikmati setiap gigitan jamur yang begitu renyah dan manis di mulutnya. Namun berusaha membalas pertanyaan kakaknya.

“Maksudmu keajaiban? Kita bisa bertemu naga raksasa seperti yang diceritakan Kakek dan Nenek kita mengenai sungai ini?  Hihihihi.”

“Bukaaan, ini benar-benar sesuatu yang nyata dan mendatangkan kebahagiaan bagi seluruh warga desa ini. Bapak pernah bercerita jika bulan purnama datang, sesuatu yang mistis … mengagumkan, akan terjadi di sungai ini. Sayangnya kejadian ini tidak terjadi setiap tahun. Hanya terjadi tepat di saat bulan purnama bercahaya terang sempurna.”

Mata Labih berbinar-binar saat menceritakannya. Terlihat dari ekspresi mukanya bahwa ia ingin sekali dapat menyaksikan kejadian itu dengan kedua matanya sendiri.

“Ikan-ikan di sungai ini hampir tidak ada lagi, namun pada saat bulan purnama yang sangat istimewa sungai ini akan dipenuhi ikan-ikan yang jumlahnya tak terhitung selama satu hari penuh. Entahlah dari mana mereka datang. Ahhh … aku dapat membayangkan betapa bahagianya jika kita dapat menyantap ikan-ikan segar dari sungai ini, Hamen!”

Kekaguman dan rasa penasaran bergelora dalam diri Hamen mendengar cerita dari kakaknya itu. Sejak hari itu ia selalu menantikan kapan datangnya bulan purnama terang sempurna. Jika hari itu datang dan dia dapat menyaksikannya pastilah dirinya akan menjadi gadis Dayak yang paling beruntung dari seluruh gadis suku Dayak Kenyah yang mendiami hutan di Kalimantan bagian timur itu. Setiap datangnya bulan purnama, Hamen akan bertanya kepada kakak kesayangannya mengenai misteri keajaiban di sungai. Namun setiap kali bulan purnama itu menyinari desanya, mimpinya kembali pupus. Sungai Mahakam mengalir seperti hari-hari biasanya.

Sebelum matahari terbit keesokan harinya Labih dan bapaknya bersiap-siap untuk berburu. Banyak hal yang akan dia pelajari dari ayahnya yang merupakan kepala suku Dayak Kenyah terhormat dan terpandang di Desa Pampang itu. Sorot mata Hamen ikut bahagia melihat kepergian kakak dan ayahnya yang hendak menjelajahi hutan karena persediaan makan mereka sudah habis. Hamen tidak sabar menunggu makanan apa yang akan akan dibawa mereka kali ini.

Ada hukum tidak tertulis di antara penduduk desa bahwa ketika perburuan akan dilakukan adalah tabu untuk bertanya ke mana mereka akan pergi dan jenis hewan apa yang akan mereka buru. Ayahnya pun hanya akan bercerita bagaimana perburuan itu harus dilakukan dengan penuh ungkapan syukur kepada Sang Hutan pemberi kehidupan. Kegiatan berburu dilakukan ketika cadangan makanan mereka sudah benar-benar habis.

Sepulangnya dari perburuan sore itu Labih menumpahkan segala cerita di hutan bersama ayahnya kepada Hamen, adik semata wayangnya itu. Hamen ingat, ayahnya sering pulang membawa berbagai jenis hewan primata, bajing dan bahkan burung. Kali ini betapa Labih kegirangan karena untuk pertama kalinya berhasil menangkap rusa hasil buruannya untuk dibawa pulang dan menjadi santapan lezat bagi segenap anggota keluarga.

Senjata sumpit yang memiliki panjang dua sampai tiga meter berhasil ditaklukkan Labih dengan baik. Dengan kekuatan penuh mulutnya meniup anak sumpit ke rusa yang dipanggil secara ajaib oleh ayahnya. Hanya menggunakan suara yang keluar dari satu lembar daun yang digulung dan dimasukkan ke dalam mulut ayahnya, tiba-tiba datanglah seekor rusa yang berjarak kurang lebih 50 meter dari tempat mereka bersembunyi.

“Hamen kesayanganku, seandainya saja kau dapat ikut kami berburu … kau tidak akan percaya betapa heningnya hutan kita! Dari antara dedaunan lebat Ayah menyuruhku untuk tidak bergerak sama sekali. Semua berjalan sangat cepat dan seketika anak sumpitku melesat tepat di perut rusa yang berwarna coklat keemasan itu.” Labih tersenyum bahagia dan sensasi kebahagiaan sekali lagi menjalar di sekujur tubuhnya.

Hamen ikut senang atas keberhasilan yang diraih kakaknya. Namun penantian akan keajaiban di sungai selalu menghantui dirinya siang dan malam. Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian penangkapan rusa. Itu tandanya keluarga Labih dan Hamen perlu kembali menangkap hewan untuk mencukupi kebutuhan protein di keluarga itu.

Malam itu Hamen sibuk membuat kalung dari manik-manik yang berwarna-warni. Tiba-tiba seluruh warga desa berteriak dan membuat suara gaduh. Hamen dihinggapi ketakutan dan menduga sesuatu yang buruk terjadi. Setiap bapak-bapak di desa mengambil tombak kepunyaan mereka. Para ibu dan perempuan remaja sibuk membawa berbagai bakul anyaman. Sebagian ibu lain menggendong anak batita mereka dipunggung dengan gendongan rotan. Suara teriakan ini mulai terdengar seperti sebuah lagu adat yang tidak asing di telinga Hamen. Semua berlari menuju ke dalam hutan.

Hamen tidak tau harus berbuat apa. Tidak lama kemudian Labih datang dan menarik tangan Hamen dengan sekuat tenaga dan bersiap mengajaknya berlari. “Apalagi yang kautunggu Dik, ayuk kita menuju sungai ajaib ituuuuuu. Ayah dan Ibu sudah menunggu kita di sana. Aku balik hanya untuk mencarimu Hamen … keajaiban yang kita tunggu akhirnya tiba!”

“Maksudmu Kak … keajaiban di sungai? Aku dapat menyaksikan sungai yang meluap dengan ikan?" Kali ini Hamen berusaha menggerakkan kedua kakinya secepat kilat.

Sesampainya di sungai itu Hamen menyaksikan kejadian yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya. Sungai itu meluap dengan ikan-ikan air tawar yang tak terhitung jumlahnya. Hamen terharu melihat warga desanya yang tampak begitu bahagia dengan tangkapannya. Ada yang memakai tombak namun ada juga yang menggunakan tangan kosong untuk menangkap hamburan ikan yang begitu banyak dan berlompatan di atas sungai yang dangkal itu. Ukurannya ada yang kecil, sedang bahkan begitu besar untuk diangkat dengan kedua tangan biasa.

Setiap warga terlihat mengekspresikan kebahagiaan dengan caranya masing-masing. Ada yang mengangkat tinggi ikannya lalu berdoa, ada yang menyanyi sambil menangkap ikan bahkan ada yang tertawa bahagia sambil menunjukkan hasil tangkapan kepada keluarganya. Sudah lama warga di sana tidak menikmati ikan karena sungai yang sempat kering dan kelangkaan ikan yang bertahun-tahun melanda desa mereka.

Hamen tersungkur di pinggir sungai sambil menikmati pemandangan yang nampak begitu indah dalam tangkapan bola matanya. Walau langit terlihat hitam kelam namun sinar bulan purnama dengan cahayanya yang putih menyerupai perak berkilauan turut menyoroti Hulu Sungai Mahakam di malam cantik itu. Bukan hanya ikan dengan jumlah tak terhingga meramaikan suasana pesta di malam itu. Ketika Hamen melihat ke atas, jutaaan kunang-kunang dengan cahaya kuning kelap kelip bagai ikut berdansa dan menjadi saksi keajaiban atas sungai yang penuh dengan ikan dan manusia. Seakan Penjaga Hutan sendiri sedang membuka pintu surga ikan untuk dinikmati segenap warga desa yang bermukim di sekitarnya.

Kevin meneteskan air mata melihat segala kejadian yang dipertontonkannya. Dalam hitungan detik tubuhnya sekonyong-konyong menghilang. Kevin merasakan dirinya melayang dan berpindah dari hutan pedalaman Kalimantan lalu masuk kembali ke dalam dirinya sendiri. Kedua matanya basah sambil memandang hasil karya lukisan Pak Dharma.

*******

Suara pak Dharma membangunkan Kevin dari lamunan panjang. Perjalanan yang baru saja dilaluinya terasa begitu nyata dan benar-benar terjadi. Kalimat dari pak Dharma perlahan tapi pasti mulai terdengar jelas di telinga Kevin,

“Pak Kevin begitu lama memandangi lukisan saya ini, apakah Bapak tertarik memilikinya?”

“Iya Pak, saya jatuh cinta dengan lukisan ini. Untuk sesaat saya seperti terbawa dalam dunia yang Bapak lukiskan dengan indah. Sebuah kehidupan suku Dayak primitif di pedalaman hutan Kalimantan yang tengah bersukaria di sungai karena menangkap begitu banyak ikan.” Kevin berusaha menumpahkan dimensi yang baru saja dilaluinya dalam untaian kata. Dini turut menangkap pesan yang disampaikan suaminya lalu memegang kedua tangan suaminya.

“Hahahaha, syukurlah pesan saya bisa ditangkap dengan baik,” Pak Dharma tersenyum puas dan mencoba menerangkan lebih jauh makna lukisannya itu.

“Saya ingat ketika berada di Jawa, orang Jawa biasanya berpesta karena menuai panen padi dari sawah yang mereka tanami. Berbeda halnya dengan suku Dayak pedalaman, mereka berpesta ketika datang musim panen ikan di sungai. Rasa bahagia dan haru mereka coba saya hadirkan dalam lukisan ini. Tidak salah rasanya jika saya memberi tema PESTA untuk karya saya ini.”

Senyum lega dan rasa sukacita mengisi relung hati Kevin dan Dini. Mereka berhasil menemukan lukisan yang akan menghiasi salah satu dinding di rumah baru mereka.