Dua Telinga Satu Mulut

Dua Telinga Satu Mulut

 

Berbicara –mengeluarkan kata secara lisan– adalah cara manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Terasa tidak aneh, karena kita memang melakukannya setiap hari. Cara kita berinteraksi satu sama lain. Namun, kepiawaian mengeluarkan kata-kata ini tidak dimiliki oleh setiap orang. Ada orang yang mudah untuk menyampaikan meski tidak sedikit yang kesulitan. Kesulitan ini yang akan menjadikan salah paham. 

Atau, waktu penyampaiannya juga kurang tepat. Bisa jadi respon lawan bicara tidak seperti yang kita harapkan. Ada pula apa yang disampaikan menyimpang dari inti pembicaraan, jadilah kita dianggap tidak mengerti arah pembicaraan. Hal-hal yang menjadikan bicara sebagai komunikasi yang salah.

Jika bahasa lisan saja masih bisa melahirkan masalah, bagaimana dengan bahasa tulisan? Bahasa yang hanya bisa ditangkap mata dan dicerna oleh otak dan dimaknai oleh hati. Kepiawaian memilih kata, waktu dan memahami arah pembicaraan sama pentingnya. Kelebihannya, kita bisa menarik kembali kata atau kalimat yang sudah kita tuliskan. Membacanya sekali lagi menjadi ‘penyelamat’ dari kesalahpahaman yang mungkin timbul. Berbeda dengan bahasa lisan yang sekali keluar tak mungkin bisa ditarik lagi.

Apakah semudah itu? Karena pada dasarnya bahasa tulisan hanya mengubah bahasa lisan menjadi kalimat tertulis. 

Kunci untuk selaras dalam berkomunikasi adalah kita memahami lawan bicara. Bicara dalam kondisi tenang tentu menjadi keinginan setiap manusia yang ingin menyelesaikan masalahnya. Jika itu tidak juga didapat, lalu bagaimana?

Menahan diri untuk tidak berbicara dalam kondisi marah atau emosi tinggi adalah salah satunya. Diam sejenak. JIka masih terasa membebani, melepaskannya dalam tulisan bisa jadi solusinya. Langsung berikan sama yang dimaksud? Enggak dong. Baca lagi, bila perlu lebih dari sekali. Suasana saat mambaca dan mood, akan membantu memilah mana yang memang harus diungkapkan.

Bicara ataupun menulis dengan hati berniat menyelesaikan masalah yang ada, akan membawa suasana positif. Tidak ada yang khusus dalam bicara atau menulis sebagai sarana komunikasi, karena setiap orang memiliki kekhasannya, cara yang nyaman untuk dirinya terutama pada siapa ide, gagasan cerita, bahasan atau apapun disampaikan.

Kita dibekali dua telinga dan satu mulut, karena Tuhan mau kita banyak mendengar daripada bicara. Mendengar pun sangat diperlukan dalam membangun komunikasi yang baik. Bayangkan jika semua bicara. Jangankan untuk mengerti, untuk bisa mendengar jelas saja kita tidak bisa. Maka jika kita bisa bicara dengan baik, seyogyanya kita mampu mendengar lebih baik. 

Bahasa tulisan pun sesungguhnya memerlukan pendengaran yang diwakili oleh mata. Bila semua ditempatkan tepat dan pas, komunikasi yang terjadi akan mampu menyelesaikan masalah yang ada.  

Selamat berbahasa, semua yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati. (YD)