DIGITAL. SURGA BUAT KAUM NARSISUS

DIGITAL. SURGA BUAT KAUM NARSISUS
Koleksi Pribadi

Sejak dulu kita memahami bahwa manusia itu suka pamer alias narsis. Tapi kegilaan seseorang untuk mengakomodir rasa narsis baru terlampiaskan selebar-lebarnya saat internet muncul. Itupun tidak langsung dan serta-merta, awalnya orang masih malu-malu untuk menaruh fotonya di sebuah sosial media. Misalnya ketika media sosial Friendster baru muncul, sebagian besar teman gak mau memakai nama asli. Mereka menggunakan nama kecil atau nama palsu, alamat palsu bahkan memakai foto orang lain sebagai profile picturenya.

Namun ketika Friendster booming, rasa malu perlahan terkikis, naluri narsis bergejolak. Semua orang tanpa ragu memasang foto asli, nama asli, dan hampir semua data tentang dirinya dicantumkan. Bahkan di era Facebook, orang tanpa sungkan memasang foto dirinya, isterinya, anaknya, sampe alamat email dan teleponnya pun dicantumkan.

Secara singkat, dapat kita simpulkan bahwa media interaktif sudah seperti panggung buat mereka. Karena itulah untuk pengguna internet, digital adalah sarana untuk melampiaskan keinginan mereka untuk narsis. Sifat narsis adalah insight semua manusia di seluruh dunia. Dan insight inilah yang dimanfaatkan digital marketer untuk mendekatkan diri pada digital user.

 

BERBAGAI CARA MELAMPIASKAN NALURI NARSIS

1. SELFIE

Budaya selfie sebenernya sudah dikenal sejak jaman dulu kala, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya alat yang namanya tripod, monopod untuk keperluan tersebut. Tapi budaya selfie baru mencapai puncak kejayaannya ketika smartphone dilahirkan. Teknologi kamera pada smartphone yang sudah begitu canggih membuat naluri narsis seseorang makin terpenuhi. Apalagi ketika ditemukan alat yang namanya tongsis (tongkat narsis) atau dalam bahasa inggris biasa disebut dengan selfie stick.

Banyak perdebatan tentang siapa sebenernya yang menemukan tongsis. Ada yang bilang penemunya orang Indonesia, ada yang mengatakan orang Amerika, ada pula yang mengatakan orang Korea. Yang mana yang betul? Wallahu alam.

Tapi menurut Benny Harianto, teman saya yang gila fotografi, penemu tongsis yang pertama adalah orang Jepang. Orang tersebut namanya Hiroshi Ueda, diketahui sebagai orang pertama yang mematenkan tongsis di tahun 1983. Hiroshi ketika itu bekerja sebagai insinyur di perusahaan kamera Minolta. Sayangnya karena budaya narsis belom terlalu heboh, karyanya ini tidak banyak dikenal orang. Ketika smartphone dan budaya selfie berkembang, tiba-tiba ada banyak orang yang juga mematenkan tongsis sehingga Hiroshi tidak mendapatkan keuntungan royalty sama sekali dari penjualan tongsis yang terjadi sekarang ini. Kesian banget ya?

Narsis berakhir tragis

Jangan pernah menganggap enteng budaya narsis. Di luar dugaan ternyata orang rela melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan narsisnya. Kenapa demikian? Mereka menginginkan foto narsisnya menjadi viral, kan? Jadi kalo mereka hanya bikin swafoto yang biasa-biasa saja, mana mungkin bisa mendapat perhatian dari netizen? Persaingan terlalu ketat, orang lebih suka ngeliat foto-foto narsis artis-artis cantik yang berpose dengan pakaian yang minim daripada foto makanan, foto kaki, foto pemandangan atau foto kita berpose sambil mengacungkan jempol.

Penggila selfie menyadari benar hal itu, karena itulah mereka mencari tempat-tempat yang ekstrim untuk menghasilkan foto yang dramatis. Ada yang memanjat atap gedung tinggi, ada yang berpose di pinggir jurang, ada yang bergelantungan di jembatan dengan sungai berarus deras di bawahnya, ada yang bergaya sambil melakukan terjun payung dan masih banyak lagi. Gila, gak? Mereka rela menyabung nyawa hanya untuk mendapatkan foto yang dramatis. Mereka ikhlas membahayakan diri demi mendapatkan perhatian dari netizen. Intinya mereka rela melakukan apa saja hanya untuk membuat fotonya menjadi viral di sosial media.

Kalo kita googling berapa korban tewas akibat selfie ekstrim ini, pastilah kalian akan terkejut. Ternyata di Indonesia saja sudah puluhan nyawa yang melayang gara-gara berselfie ekstrim. Bagaimana jika kita telusuri korban tewas akibat selfie di seluruh dunia? Pasti angkanya akan membuat kita tercengang dan geleng-geleng kepala.

 

2. MEMPOSTING TULISAN

Memposting tulisan bisa dilakukan di banyak tempat. Misalnya membuat artikel di Facebook, di Twitter, di blog pribadi atau di blog keroyokan seperti Kompasiana.com agar tulisan kita mudah dibaca orang. Bahkan banyak juga yang membuat media berita abal-abal. Mereka menulis berita lalu linknya disebar ke berbagai media sosial lain supaya visitor mampir dan membaca beritanya.

Masalahnya, kalo tulisan kita kurang bagus, rasanya sulit untuk mengharapkan postingan kita menjadi viral.  Makanya tidak jarang orang menulis berita bohong lalu menyebarkannya ke sosial media semata-mata demi mendapatkan visitor yang banyak.

Jadi jangan pernah percaya pada berita-berita yang datang dari media yang gak jelas. Kalo ada berita yang heboh, coba cek apakah berita tersebut juga ditayangkan oleh media-media mainstream seperti Detik.com atau Kompas.com. Kalau tidak ada, lupakan. Pasti itu berita hoax atau berita bohong.

Kalo orang tipe loser, biasanya mereka gak pernah nulis apa-apa tapi kerjaannya cuma stalking tulisan orang lain lalu menyerang secara membabi buta di ruang komen user. Kalo itu terjadi pada account kita, saya anjurkan gak usah dilayani. Delete aja komennya lalu block accountnya. Sosial media adalah sarana untuk mencari pertemanan. Ngapain kita melayani orang yang gak kenal untuk berdebat kusir. Belom jadi teman aja mereka udah nyusahin. Daripada buang-buang energi untuk sesuatu yang gak produktif lebih baik kita singkirkan dari media sosial kita.

 

3. MEMPOSTING VIDEO

Memposting video adalah salah satu cara untuk bernarsis ria. Banyak orang berkarya lewat video lalu mempostingnya di Youtube. Misalnya artis tanggung yang belom terkenal, mereka merasa mendapatkan media yang tepat untuk memamerkan karyanya. Cukup banyak temen-temen saya yang sukses membuat konten di Youtube. Karena kontennya menarik, mereka mendapat follower yang cukup banyak sehingga produsen berbondong-bondong memasang iklan di konten tersebut. Akibatnya temen-temen saya tersebut mendapat penghasilan dari iklan yang mereka peroleh.

Karena penghasilan yang mereka hasilkan jumlahnya cukup menjanjikan, akhirnya mereka resign dari pekerjaan utamanya lalu fokus bekerja freelance sebagai content creator. Mereka kadang berinisaitif berkarya sambil mengharapkan iklan datang atau kadang mendapatkan order dari berbagai perusahaaan yang meminta dibuatkan content. Keren, kan? Saya kadang suka geli kalo ngebaca kartu nama mereka, di sana tertulis nama mereka dengan jabatan ‘Youtuber’. Hehehehehe….

Jangan mengira kalo content creator ini hanya dilakukan oleh anak muda golongan menengah. Siapa saja, asal punya kreativitas, bisa saja menjadi pembuat konten. Bahkan Office Boy saya, namanya Alan, sudah menjadi content creator. Dia sering memposting lagu-lagu ciptaannya di Youtube. Saya kagum loh dengan lagu dan musiknya. Kalo ada produser yang menemukannya, saya yakin dia akan menjadi terkenal dan bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik dari yang dijalaninya sekarang.

Facebook, Instagram dan beberapa sosial media lainnya cukup jeli melihat fenomena ini, karena itulah mereka juga menyediakan fitur Live Video dan Your Story untuk penggunanya membuat video. Kita bisa memproduksi film dengan kita sebagai bintang utamanya, kita sebagai produsernya, kita sebagai sutradaranya, kita sebagai cameramannya, pokoknya naluri narsis kita mau jadi apa akan terpenuhi di sosial media.

Yang lagi lumayan epik adalah vlog atau video blog. Saat ini hampir semua orangmempunyai vlog. Dari anak SMP, SMA, kuliah, artis dan masih banyak lagi. Yang paling saya kagumi adalah Youtuber Agung Hafsah, anak muda berusia 18 tahun yang sangat sukses dengan vlognya. Hampir semua vlognya dia lakukan sendirian tapi hasilnya keren. Gara-gara vlognya, dia bahkan diundang ke acara Kick Andy dan menceritakan prestasinya di sana.

Seorang temen pernah mengkalkulasi pendapatan Agung Hafsah, menurut perhitungan kasar versi teman tersebut, penghasilan Agung Hafsah sudah mendekati Rp 100 juta perbulan. Ck..ck…ck…. Ya gak heranlah, soalnya Agung Hafsah sudah memiliki lebih dari 500 ribu subscriber. Dalam hati saya jadi bertanya-tanya, berapa penghasilan Raditya Dika sebagai Youtuber mengingat subscribernya sudah melampaui dua juta orang.

Masih banyak nama-nama Youtuber yang vlognya banyak dikunjungi visitor. Kaesang anak Jokowi adalah salah satu di antaranya. Bahkan, Presiden Jokowi juga mempunyai vlog. Kontennya sederhana dan bukan berupa berita yang heboh-heboh,  kambing melahirkan pun dibuat vlognya oleh Jokowi dan bisa menjadi viral.  Ya iyalah, presiden gitu loh, hehehe….

So, teman-teman, silakan bernarsis ria. Nasihat saya cuma satu: Kalo mau narsis lakukanlah dengan creative attitude. Tuhan itu maha adil. Dia selalu memberi hadiah pada orang yang bekerja. Kalo karya kalian bagus, bukan mustahil kalian akan menjadi celeb berikutnya di sosial media.

Selamat bernarsis! 

 

4. SHARE

Share juga salah satu cara orang untuk bernarsis. Banyak loh tipe pengguna sosial media yang pemalas. Mereka sudah puas berfungsi sebagai penikmat dan malas untuk berkarya. Jadi kerjaannya cuma komen atau nge-share sesuatu yang dianggap menarik.  Itu sebabnya, di Kaskus, orang sering ngasih komentar dengan kata ‘PERTAMAX’. Kata ‘pertamax itu sendiri sudah mengandung makna pembuktian kenarsisan. Artinya hanya dengan menjadi orang pertama yang berkomentar pun ternyata sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka.  

Tapi perlu diingat, mereka gak akan mau nge-share sesuatu yang sudah diketahui banyak orang. Mereka hanya mau nge-share postingan yang mereka yakini adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang heboh dan belom diketahui oleh teman-teman di komunitasnya. Nah, insight ini pula yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang jahat di dunia digital.

Di sosial media cukup banyak orang yang berbisnis berita fitnah.  Mereka sangat mengerti bahwa pengguna sosial media terlalu mudah untuk nge-share sebuah berita baru dan heboh. Mereka memanfaatkan insight ini untuk mendapatkan uang. Caranya bagaimana? Mudah saja. Mereka memberitakan aib orang terkenal. Kalo aibnya gak ditemukan, mereka memfitnah orang tersebut dengan berita yang memalukan lalu barisan buzzer siap memviralkannya. Ketika membaca berita tersebut, tentu saja kita terkejut dan tanpa menyelidiki lebih lanjut langsung kita share ke komunitas kita. Teman-teman juga kaget lalu nge-share lagi dan akhirnya kita tanpa sengaja membantu para penjahat memviralkan berita bohong.

Setelah berita heboh tersebut menjadi pembicaraan di masyarakat luas, Sang Korban tentu saja panik dan malu. Nah, di saat itulah para penjahat digital memerasnya dengan meminta uang pada orang yang difitnah dengan imbalan mereka akan menyetop pemberitaan tersebut. Sadis banget ya?

Boleh percaya, boleh tidak, tindak kejahatan seperti ini sangat banyak bahkan lalu berkembang menjadi bisnis beneran. Kelompok orang-orang ini bisa disewa oleh orang tertentu untuk menyingkirkan pesaingnya. Mereka ini datang dari kalangan politik, artis, bisnis, birokrasi dan lain-lain.