Dendam yang salah sasaran

Dendam yang salah sasaran

" Kenalkan"

aku menatap mereka bergantian. Winda gadis cantik berlengsung pipi ini dan pria didepannku yang menjulurkan tangannya. 

"Baru lagi ?" setengah berbisik pada winda. Temanku ini hanya berkedip dan tersenyum

"Kamu udah kayak berganti baju saja"

"Enggak donk, kalau ganti baju bisa 2 sampai 3 kali sehari. Aku kan palingan seminggu sekali "

"Jadi om- om tadi cuma nganterin kamu doank kesini ?" Pria yang dikenalkannya padaku adalah pacar om- om nya entah yang sekian. Pacaran koq sama om- om ? Seorang gadis muda 22 tahun ,cantik cerdas ,berpendidikan ? Dari keluarga berada pula. Beda dengan ku yang kuliah biaya sendiri. Cari duit sendiri meskipun hanya untuk menghidupi diri sendiri. Aku selalu bertanya kenapa setiap pacaran harus sama om- om ? Malahan kadang dengan om yang sudah berisitri ? Dengan santai winda selalu menjawab bahwa pria seperti itulah tipenya , pria yang lebih dewasa agar bisa mengayomi. Ah busyet banget dah. Mungkin ini yang dinamakan pepesan kosong.  Walaupun winda dicap cabe- cabean atau pelakor , dia sama sekali tak peduli. Padahal pernah digampar istri orang bahkan hampir pernah berurusan sama pihak berwajib gegara pacar om- om nya. Dan itu tidak membuatnya kapok sama sekali. Kenapa juga aku harus berteman dengan Winda ? Kadang tanpa alasan kamu bisa berteman dengan orang yang gak banget tapi baik banget pada mu. Jadi ga ada alasan menolaknya. Karena perbuatannya akan menjadi tanggung jawabnya tentu. Dan ada hal yang tak bisa kita campuri karena bersifat privasi. 

Masa lalu yang kelam menjadikan winda seperti ini. Saat winda kelas 3 SMA. Ibunya mengidap sakit apa gitu, aku kurang paham. Jadi badannya lemah , gampang lelah, lengah dikit pingsan. Dengan keadaan seperti itu ibu winda jadi harus istrirahat dan didampingi suster ( perawat). Takut kalau tetiba pingsan. Hari ke hari Ayah Winda makin kesepian dan mulailah si suster ini pelan- pelan ngesot ke hati Ayah Winda. Kemudian terjadilah hubungan terlarang itu yang pada akhirnya tercium juga oleh Ibu winda dan membuatnya semakin sakit dan akhirya meninggal. Lalu tak perlu waktu lama menikahlah mereka. Kejadian ini yang memicu winda sangat dendam pada Ayahnya dan melampiaskan dendam nya ke om- om genit ini.