Dari Atap Gedung

Dari Atap Gedung
Image by : pixabay.com

Seperti biasa setiap sore setelah selesai merapikan alat-alat kerjanya, Rowi naik ke atap gedung. Kali ini dia sendirian. Hari sabtu, teman-temannya sudah buru-buru pulang sejak bel berbunyi.  Ada janji dengan pacar untuk pergi malam mingguan katanya. Rowi mengalah, pulang paling akhir. Merapikan alat-alat kerja sendirian. 


Sampai di atap gedung suasana sore langsung terasa. Semilir angin. Matahari dengan sinar oranye yang menyemburat dari barat. Suara klakson bersahut-sahutan dari bawah sana yang entah kenapa tetap terdengar dari atas sini. Kendaraan yang terlihat seperti 100 mainan transportasi dalam kotak pensil berukuran 10x3 senti, terlampau padat. Burung-burung yang tetap santai berseliweran. Pola mereka sama, hinggap sebentar di kabel listrik lalu terbang lagi. Serta pohon-pohon yang bergoyang karena tertiup angin. Sungguh sebuah sore di hari sabtu yang teramat indah.


Rowi duduk di pinggir atap gedung. Menghadap ke barat. Kedua kakinya terjulur ke bawah. Dengan posisi seperti ini, ditemani sebungkus rokok yang warna khas bungkusnya merah maroon dengan gambar penyakit di bagian atasnya, dan sebotol air mineral dia bisa bertahan setidaknya sampai nanti jam delapan malam. 


Baru tiga puluh menit duduk-duduk menikmati sore, batang pertama rokonya saja belum habis, seseorang datang dari arah belakang. Langsung duduk di samping Rowi. Rowi sedikit terperanjat. Heran, siapa pula yang datang menyusulnya. Teman-temannya sudah pulang semua. Lagipula kegiatan menikmati sore sepulang kerja dengan duduk-duduk di atap gedung seperti ini hanya rutin dilakukan oleh OB. Karyawan lain tidak ada yang suka pergi ke atap gedung ini, apalagi dengan tujuan nongkrong. 


Rowi menoleh ke orang disampingnya. Tersenyum tipis. Pak Bos ternyata. Pria bertubuh ceking yang selalu dihormati. Meski dia tidak tau apa motif  bosnya ikut naik ke atap gedung sore ini, Rowi tetap menyambutnya dengan baik. Rowi mengambil rokok lalu menawarinya. Pak Bos mengambil satu batang. Setelah memastikan rokonya menyala, semua kembali menatap lurus ke depan.  


“Apa yang kau lakukan disini?” ucap Pak Bos setelah hening beberapa menit. 


“Duduk saja, Pak. Setiap sore begini pemandangannya selalu indah” jawab Rowi.


“Apa jabatanmu?’ tanya Pak Bos lagi.


“Office Boy, Pak.”


“Bah..” katanya kemudian. Entah mencibir entah tersedak rokok murahan. 


“Kau itu masih muda. Harusnya bekerja keras. Sepulang kerja dari sini kau cari sampingan apa gitu, jangan cuma duduk-duduk seperti ini.” Lanjutnya.


“Untuk apa, Pak?” tanya Rowi. 


Rowi sering sekali mendapat tawaran pekerjaan yang bisa dikerjakan sepulang dari kerja jadi OB ini, tapi tak satupun yang dia ambil. Baginya jadi OB disini sudah cukup. Gajinya UMR plus uang makan. Gaji itu dia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mengirim mamak di kampung, tabungan, dan beberapa untuk memberi pinjaman saat teman datang ngutang. Jadi lowongan kerja lainnya itu biar untuk orang yang lebih membutuhkan saja, pikirnya selalu.


“Agar kau bisa kaya lah. Punya banyak usaha, kau jadi bos. Lantas kau bisa duduk-duduk menikmati sore di atap gedung,” jawab Pak Bosnya.


Rowi menoleh. Memandang laki-laki bertubuh ceking yang ruangannya setiap pagi dia bersihkan itu dengan takjub.


“Lantas menurut Bapak apa yang sedang saya lakukan sore ini disini?”


Laki-laki bertubuh ceking tadi ganti menoleh. Memandang Rowi dari atas sampai bawah. Rambut potong pendek. Kulit sawo matang. Seragam kerja yang mengeluarkan wangi pelicin pakaian murah setiap kali terkena semilir angin. Celana hitam yang hampir sama hitamnya dengan celana yang dia kenakan. Sepatu merk adidas harga ratusan ribu yang tetap kw. Lelaki itu mengulangi pandangannya dari atas ke bawah sekali lagi. Seorang OB yang rapi, pikirnya kemudian.


Melihat Pak Bosnya tadi hanya diam saja, Rowi melanjutkan bicaranya, “gak perlu jadi kaya untuk bisa menikmati hidup, Pak”


Setelah itu hening. Yang ada hanya semilir angin bercampur asap rokok dari keduanya. Matahari sudah semakin tenggelam. Semburat oranyenya hanya tersisa sedikit sekali di ujung barat sana. Langit sudah mulai gelap. Sayup-sayup suara adzan magrib terdengar dari kejauhan. Lelaki ceking tadi menarik napas panjang. Tatapannya tetap lurus kedepan, kosong. Entahlah apa yang ada dipikirannya.


“Saya tau kalian sering sekali menghabiskan waktu, setiap sore, sepulang kerja disini,” kata Pak Bos.

Tatapannya tetap lurus ke depan sambil sesekali mengisap rokoknya.


“Berbincang-bincang. Mengolok-olok. Saling melempar lelucon. Tertawa bersama-sama. Tidak peduli tanggal tua atau muda.” Lanjutnya.


Rowi tersenyum. Ikut mengisap rokok ditangannya. Pak Bos menarik napas lagi. Berat sekali. Hari ini dia belajar bahwa menikmati hidup, bahagia, serta tertawa bukan hak mutlak orang kaya. Siapa saja berhak menikmati hidupnya. Siapa saja berhak bahagia. Tak peduli kaya atau miskin. Lagipula, kaya dan miskin dalam dunia yang serba digitalisasi seperti sekarang ukurannya sudah relatif, bukan? Terlihat kaya bukan berati benar-benar kaya, begitu juga sebaliknya.

Pak Bos menarik napas lagi. Kali ini lebih panjang. Lalu menoleh ke Rowi, menjabat tangannya lantas berdiri pamit pulang lebih dulu.

Sore sudah berganti malam. Tidak ada lagi semburat oranye di ujung barat sana. Langit sudah sempurna gelap. Hanya ada bulan sabit yang bersinar sendirian. Tak terlihat satupun gemerlap bintang. Semilir angin dari atas gedung ini tetap sama, sejuk. Jalanan di bawah sana juga tetap sama, padat merayap. Rowi masih tetap duduk di pinggir atap gedung kerjanya. Masih tetap menghadap ke barat. Rokoknya tinggal separuh. Air mineralnya tinggal seperempat. Tapi tak ada tanda-tanda dia akan segera pulang. Bagi Rowi, menatap bulan, apapun bentuknya, selalu menenangkan.


Kediri, 24 Juni 2020.