Dapur dan Politik: Apa Hubungannya?

Dapur, bagian rumah yang hanya berkaitan dengan urusan domestik, bisa berubah menjadi arena politik. Kegiatan perlawanan terhadap sebuah rezim bisa berlangsung di dapur. Dapur yang biasanya dianggap urusan perempuan bisa menjadi bagian dari propaganda politik. Dua pemimpin negara adikuasa pun pernah berdebat panas gara-gara urusan perempuan di dapur!

Dapur dan Politik: Apa Hubungannya?
Jens Johnsson (Unsplash)

 

Apa hubungannya antara dapur dan politik? Dapur merupakan bagian rumah yang biasanya jarang berhubungan langsung dengan dunia luar, apalagi politik. Walaupun begitu, tidak mustahil bahwa masalah-masalah politik merambah masuk ke dapur.

Urusan dapur cenderung dianggap urusan perempuan. Secara tradisi, perempuan menghabiskan banyak waktu di dapur untuk menyiapkan berbagai kebutuhan keluarga. Dampak beban pekerjaan perempuan di rumah terhadap kemajuan dan kesejahteraan perempuan ternyata menjadi perhatian pemerintah di beberapa negera.

 

Dapur Berbahaya

Setelah revolusi 1917, di bawah ideologi komunis, Rusia melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki kehidupan warga perempuan dan memberdayakan mereka. Salah satu caranya adalah dengan meniadakan dapur di setiap rumah dan membuka tempat makan umum untuk rakyat.

Jika perempuan menghabiskan lebih banyak waktu bekerja setiap hari di dapur, hal itu dianggap pemerintah Soviet akan menghambat kemajuan kaum perempuan. Dapur zaman dulu, tanpa sentuhan teknologi modern, membuat kerja perempuan menjadi lebih berat. Ditambah lagi, dalam masyarakat tradisional Rusia perempuan harus memikul sendiri beban kerja di dapur karena tanggung jawab pekerjaan rumah tangga berada pada pundak perempuan semata. Oleh karena itu, dapur disebut rezim komunis Rusia sebagai “ruangan budak”. Dengan membebaskan perempuan dari dapur, mereka bisa berpartispasi di sektor kerja dan memiliki waktu untuk mengembangkan diri, seperti membaca, belajar sastra dan seni—hal yang akan memungkinkan terjadinya pemberdayaan perempuan.

 

Dapur di kommunalka Rusia

 

Ternyata tempat makan umum yang disediakan pemerintah tidak begitu diminati masyarakat. Dengan arus perpindahan masyarakat yang makin deras ke kota, pemerintah mulai menyediakan apartemen komunal, disebut kommunalka, dengan dapur bersama. Di sini beberapa keluarga dari kalangan sosial berbeda hidup bersama di bawah satu atap. Setiap penghuni mempunyai jadwal bergilir untuk membersihkan tempat yang digunakan bersama, seperti kamar mandi, dapur, dan koridor, sebagaimana cerita berikut.

Pada dini hari, dengan kelopak mata masih setengah terpejam, Olga membuka pintu kamar mandi, sambil menggenggam sikat WC di tangan kirinya. Hari Minggu ini adalah giliran Olga, perempuan muda yang sehari-hari bekerja di kantor pemerintah, untuk membersihkan kamar mandi dan dapur.

Saat membuka pintu kamar mandi, dengan refleks Olga melepas sikat WC dari tangannya hingga benda itu jatuh ke lantai dan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Rupanya si Pak Tua yang menghuni kamar sebelah lagi-lagi pulang semalam dalam keadaan mabuk dan muntah di kloset serta membuang hajat kecil di lantai!

Memang pengalaman hidup di Kommunalka penuh dinamika. Apartemen jenis ini memiliki dapur bersama agar para penghuni bisa memasak dan makan bersama. Dan sejak itu, dapur menjadi tempat yang amat berbahaya. Mengapa? Karena kalau Anda salah-salah bicara, seperti mengkritik pemerintah, mungkin saja ada tetangga yang akan melaporkan Anda!

Hidup bersama dengan beberapa keluarga memang bukan hal yang mudah. Akibat sendok yang hilang pun para penghuni kommunalka bisa saling bersitegang di dapur. Syukurlah mulai tahun 1950-an pemimpin Rusia, Nikita Khrushchev, merancang pembangunan massal gedung tempat tinggal dengan unit-unit untuk satu keluarga. Dijuluki Khrushchyovka dari nama pemimpinnya, kualitas minim gedung-gedung tersebut sering menjadi bahan lelucon warga Rusia sendiri. Namun setidaknya, keluarga (biasanya terdiri atas tiga generasi) yang menghuni ruang sempit tersebut tidak perlu lagi berbagi dapur dengan tetangganya.

 

Khrushchyovka di Tomsk

 

Pada masa itu, dapur berubah dari ruang publik menjadi ruang privat. Di dalam dapur inilah masyarakat negara tirai besi itu belajar mempraktikkan kebebasan bereskpresi. Keluarga dari tiga generasi berkumpul bersama di dalam dapur mungilnya, bahkan tamu pun diundang, untuk mendiskusikan masalah-masalah politik atau untuk membaca samizdati–tulisan underground–yang diedarkan sendiri oleh penulisnya.

Bahkan musik bergenre jaz dan rok yang dilarang pihak penguasa juga dinikmati bersama di balik dinding-dinding dapur. Alih-alih menjadi tempat yang aman bagi keluarga dan kawan untuk berkumpul, dapur menjadi ruang yang penuh bahaya. Pemerintah makin mengawasinya, bahkan menyadapnya.

 

Perang Dingin dan Mesin Pencuci Piring

Ternyata bukan hanya di Uni Soviet saja politik bisa merambah ke ruang dapur. Hal ini juga terjadi di negara lawannya pada masa Perang Dingin, yaitu Amerika Serikat. Salah satu percakapan terkenal masa Perang Dingin antara kedua pemimpin negara tersebut yang dijuluki “the kitchen debate” terjadi saat pameran Amerika di Sokolniki Park, Moscow pada 1959. Tampak kedua pemimpin, Nikita Khrushchev dan Richard Nixon, ingin menjagokan sistem politiknya sebagai sistem paling baik bagi kemajuan perempuan.  

 

Nikita Khrushchev dan Richard Nixon saat pameran Amerika di Sokolniki Park, Moscow pada 1959

 

Pada kesempatan itu, Nixon dengan bangga memperlihatkan dapur modern yang dibangun dalam rumah-rumah suburban (pinggir kota) baru di Amerika. Nixon secara khusus ingin mengangkat sebuah contoh emansipasi perempuan Amerika. Sambil menujuk pada sebuah mesin cuci piring, ia berkata:

“Ini adalah model terbaru. Ini jenis yang dibuat dalam jumlah ribuan unit untuk diinstalasi di rumah-rumah penduduk. Di Amerika, kami ingin membuat hidup lebih mudah bagi kaum perempuan.”

Tak mau kalah, Khrushchev membalas, “Sikap kapitalistik Anda terhadap perempuan tidak terjadi di bawah komunisme.”

Berupaya mengimbangi, Nixon menjawab, “Saya rasa sikap ini terhadap perempuan adalah universal. Apa yang kita ingin lakukan adalah membuat hidup lebih mudah bagi para ibu rumah tangga.”

Memang benar. Setelah Perang Dunia II, para arsitek, insinyur, dan pakar ekonomi rumah tangga di Amerika–dengan mendengarkan masukan dari para ibu rumah tangga–merancang model dapur baru dengan teknologi modern. Inovasi ini membuat pekerjaan menyiapkan, memasak, dan menyimpan makanan, serta membersihkan dan mencuci menjadi lebih mudah, ringan, dan cepat. Namun, hal ini kemudian menjadi bagian dari sebuah propaganda politik.

 

Foto seorang ibu rumah tangga Amerika di dapur dari majalah tahun 1950-an

 

Pada masa Perang Dingin, keluarga sakinah dengan laki-laki pencari nafkah utama dan perempuan berstatus ibu rumah tangga merupakan citra keluarga ideal masyarakat Amerika. Keluarga ideal ini, yang tinggal di rumah-rumah model baru lengkap dengan dapur modernnya, menunjukkan kesejahteraan pascaperang yang berhasil dicapai di bawah sistem kapitalis.

Menurut para pengamat politik, nilai-nilai ideal masyarakat Amerika saat itu yang diwujudkan melalui citra ratu rumah tangga–seorang ibu kelas menengah kulit putih–merupakan bagian penting dari propaganda Perang Dingin AS. Propaganda ini berfokus pada kesejahteraan keluarga dan keamanan nasional dengan tujuan menjual keunggulan sistem kapitalis keluar negeri.

 

Perumahan suburban Levitton, New York, 1950-an

 

Bagi pihak Soviet yang menghadiri pameran tersebut, apa yang diklaim pemerintah AS sebagai upaya memperbaiki kondisi kaum perempuan melalui teknologi baru hanyalah upaya agar perempuan tetap di dapur. Kapitalisme diyakini tidak mendorong keterlibatan penting perempuan di ranah publik. Empat tahun setelah percakapan seputar mesin pencuci piring antara kedua pemimpin negara adikuasa tersebut, penulis AS, Betty Friedan mengungkap hal itu.

 

Retorika Politik

Friedan memaparkan temuan penelitiannya dalam buku The Feminine Mystique (1963), yakni bahwa para ibu rumah tangga kelas menengah Amerika ternyata tidak bahagia dengan kehidupan yang terbatas pada rumah tangga. Menurut Friedan,

“Hanya ada satu cara bagi perempuan untuk mencapai potensi sepenuhnya sebagai manusia—dengan berpartisipasi dalam masyarakat arus utama, dengan menggunakan (hak) suara mereka sendiri, dalam semua keputusan yang membentuk masyarakat.” (Friedan, Time, 1973)

Apakah Pemerintah Uni Soviet lebih berhasil memajukan warga perempuannya? Pascrevolusi, perempuan Rusia diberikan serangkaian hak ekonomi, politik, dan hukum. Namun, ketika Josef Stalin berkuasa, ia mengingkari hal ini dengan mengembalikan nilai-nilai tradisional yang mendefinisikan perempuan terutama sebagai ibu dan istri, serta mengabaikan hak perempuan. Kondisi perempuan pun menjadi makin memburuk dan kesadaran masyarakat akan hak perempuan pun menurun. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di balik dinding apartemen-apartemen komunal, banyak perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

 

Tatiana Mamonova (tengah), penulis Woman and Russia

 

Pada 1979, empat perempuan Rusia  (Tatiana Mamonova, Tatiana Goricheva, Natalia Malakhovskaya, dan Yuliya Vesnesenskaya) menyusun almanak bawah tanah Woman and Russia. Almanak ini membeberkan apa yang sebenarnya dihadapi perempuan di Uni Soviet: standar ganda sebagai proletariat serta istri dan ibu, gaji yang tidak setara, kekerasan dalam rumah tangga, kondisi klinik bersalin yang buruk, dan kualitas lembaga pengasuhan anak yang buruk.

Namun, banyak kalangan yang menutup mata terhadap kondisi perempuan Rusia dan tidak mau mengangkatnya saat diskusi politik di meja dapur. Tidak lama setelah keberadaan almanak tersebut diketahui oleh KGB, para penulis terpaksa melarikan diri keluar negeri. Pada 2020, 40 tahun lebih setelah beredar, alamanak ini menjadi bagian dari pameran Leningrad Feminism 1979–sebagai sejarah yang perlu diketahui oleh generasi tua dan muda Rusia.

Politik dapat merambah ke dalam rumah hingga ke pojok-pojok dapur. Dan dapur-dapur AS dan eks-Soviet pun menjadi saksi bagaimana pemberdayaan perempuan lebih banyak merupakan retorika politik.

 

Terkait: POLITICIZING THE KITCHEN

 

Sumber

Friedan, Betty (1973) ‘Up from the Kitchen Floor.’ NY Times. https://www.nytimes.com/1973/03/04/archives/up-from-the-kitchen-floor-kitchen-floor.html [22 August 2020].

GeoHistory (2015) The Evolution and Dissolution of the Soviet Kitchen. https://geohistory.today/soviet-kitchen/ [5 July 2020].

Krasner, Barbara (2014) ‘The Nuclear Family and Cold War Culture of the 1950s.’ Academia. https://www.academia.edu/9926751/The_Nuclear_Family_and_Cold_War_Culture_of_the_1950s [21 December 2019].

NPR (2014) How Soviet Kitchens Became Hotbeds of Dissent and Culture: The Salt. https://www.npr.org/sections/thesalt/2014/05/27/314961287/how-soviet-kitchens-became-hotbeds-of-dissent-and-culture [5 July 2020].

Peacock, Margaret (2016) ‘Cold War Consumption and the Marketing of Childhood in the Soviet Union and the United States, 1950–1960.’ Journal of Historical Research in Marketing Vol. 8 No. 1: 83–98. https://doi.org/10.1108/JHRM-05-2015-0015.

Roache, Madeline (2019) ‘Is Capitalism or Communism Better for Women? How the Kitchen Debate Gave a New Meaning to the Cold War “Home Front”. Time. https://time.com/5630567/kitchen-debate-women/> [16 August 2020].

The Calvert Journal (2020) The Story Behind the 70s Samizdat that Launched Late Soviet Feminism. https://www.calvertjournal.com/articles/show/11906/woman-and-russia-feminist-zine-samizdat [16 August 2020].

The Kitchen Debate-transcript 24 July 959 Vice President Richard Nixon and Soviet Premier Nikita Khrushchev U.S. Embassy, Moscow, Soviet Union. https://www.cia.gov/library/readingroom/docs/1959-07-24.pdf [16 August 2020].

The Kitchen Sisters (2020) Communal Kitchens. http://www.kitchensisters.org/hidden-kitchens/communal-kitchens/ [5 July 2020].

United States Department of Agriculture National Agricultural Library (n.d.) Step-Saving Kitchens https://nalgc.nal.usda.gov/step-saving-kitchens. [22 August 2020].

Sumber Gambar

Gambar 1: museum.ru.com

Gambar 2: Wikipedia

Gambar 3: NPR.org

Gambar 4: clickamericana.com

Gambar 5: Pinterest

Gambar 6: calvertjournal.com