Curahan Hati yang Terabaikan

Curahan Hati yang Terabaikan

Apa yang salah dengan pekerja atau bekerja di bawah naungan orang? Aku kira tidak.

Satu hari di tempat reuni (lagi-lagi aku tidak suka reuni), yang jadi bahan perbincangan adalah jabatan, salary, pelesir dan kamu sudah punya apa saja.

Tidak penting ya?.

Buat sebagian orang penting, karena itu salah satu cara mereka untuk pamer dengan memancing kamu cerita lebih dulu.

Dan yang paling tidak suka ketika keluar kata-kata “Lu mau sehebat apapun di perusahaanmu, tetap saja kerja di bawah ketek orang.”

 

Iya, lalu kenapa?

Kalau semua orang jadi pengusaha yang notabene jadi produsen lah siapa yang mau konsumennya.

Ingat semua sudah diatur oleh Allah SWT. Setidaknya saat ini para pekerja yang masih bisa bertahan, bersyukur luar biasa karena masih mendapat salary utuh walau dengan kerja dari jauh alias WFH.

Padahal WFH ini sangat tidak enak kalau terlalu lama. Apalagi yang menyandang status ibu-ibu. Ya kerja kantor ya kerja rumah. 24 jam sangat tidak cukup pastinya.

 

Jadi mau kerja, mau jadi pengusaha, mau jadi PNS. Semua sudah diatur. Jalani dan syukuri.

 

Untuk kamu yang sudah jadi PNS, nikmati dan mengabdi yang benar pada negara. Masih banyak yang merasa cinta tanah air tapi sia-sia karena nilai testnya kecil. Padahal yang nilai testnya kecil bisa jadi jiwa nasionalismenya lebih besar lo.

Kita tidak bisa judge terpuruk tidaknya atau baik buruknya negara ada pada bahu seseorang. Silakan nilai diri sendiri, sudah seberapa besar anda  mengabdi untuk negara. Apa saja yang sudah dilakukan untuk negara.
Kalau ada yang menimpali, “dikira mudah kerja buat negara?”. Ya memang susah, perlu kerja keras dan daya upaya untuk membuat Indonesia semakin jaya. Dan untuk itu perlu orang-orang yang siap berada di garda terdepan, bukan hanya yang menginginkan agar kalau sudah tak produktif tetap dapat pensiun. Eh masih ada tidak yang seperti ini?

 

Lalu untuk kamu yang sudah jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang adil, yang mampu melihat setiap kemampuan karyawannya, yang bisa menjadikan karyawannya jauh lebih baik, bertumbuh dan berkembang kemampuannya.

Karena karyawan itu investasimu, semakin mereka bersinar maka akan semakin bagus perusahaanmu. Jangan takut nanti mereka berpindah hati, selama hak dan kewajiban terpenuhi, tak ada alasan untuk berpindah kelain hati.

Kalau sudah diberikan haknya tapi masih juga pindah, bersyukurlah, karena tipe karyawan seperti itu tidak baik lama-lama ada di perusahaanmu.

 

Dan kamu yang sampai saat ini masih bekerja di bawah ketiak orang, bersyukur jugalah. Saat ini kamu tak dibebankan soal income, revenue, karyawan mesti dipertahankan atau dirumahkan.

 Walaupun informasi itu sampai ke telingamu, setidaknya keputusan bukan ada di tanganmu.

Kamu cukup bekerja dengan baik, cintai pekerjaanmu. Karena bekerja bukan saja tanggungjawabmu pada perusahaan tapi pada Tuhan sang pemberi rezeki.

Sampai sini kita sepaham?

 

Tidak terasa, lima belas tahun sudah mengabdi pada tiga perusahaan yang selama ini menjadi media Tuhan berikan rejekiNya.

 

Karena bukan type kutu loncat, maka bertahan adalah salah satu hal yang aku lakukan selama ini. Buatku kerja dimana saja sama kok. Ya kalau kamu punya label seribu terus kamu pindah ke perusahaan lain tapi kemampuanmu tetap seribu jangan berharap cepat-cepat seperti Bob Sadino.

Anda tetap pekerja.

Jadi kalau sampai berpindah tempat bekerja. Alasannya pasti sangat kuat. Bukan karena kena damprat sedikit lalu resign atau gaji tidak seimbang lalu resign.

 

Maka jangan terlalu khawatir saat kamu merasa bekerja mati-matian tapi ternyata harapanmu tak juga menjadi kenyataan.

 

Percayalah yang mengalami seperti ini tidak sedikit. Jika di satu perusahaan dengan jumlah karyawan 20 orang lalu yang merasa haknya tidak diperjuangan ada 3 orang maka perbandingannya 1 : 7.

 

Jika jumlah angkatan kerja di Bulan Februari 2019 ada 136 juta (BPS, 2019) maka berapa jumlah karyawan yang mengalami hal yang sama. Tentu sulit ya menghitungnya. Hanya yang perlu digaris bawahi di sini. Anda tidak sendirian.

 

Jadi tidak usah berkecil hati.

Kurang lebih perhitungannya begini. Jika Tuhan akan memberimu rezekimu 1 juta namun perusahaan kamu hanya memberi setengahnya dari itu maka hak kamu akan tetap terbayarkan, walaupun dari cara yang lain.

Sebaliknya, jika Tuhan akan memberimu rezeki 100 ribu, ternyata karena kepiawaianmu untuk menarik hati (bukan dari kinerjamu), kamu mendapatkan 1 juta per bulannya. Suatu saat tetap akan diambil kembali.

 

Sampai sini, kita sepaham?

 

Lalu bagaimana dengan unek-unek, rasanya mau teriak, curahan hati yang tetap hanya jadi cerita.

Kamu manusia, adalah hal yang wajar saat merasa dirampas hakmu, harapanmu tak kunjung tiba. Keluarkan saja dan tumpahkan saja. Toh benar adanya.

Jika tiba-tiba, “aku takut kalau cerita, nanti kalau dipecat bagaimana?”.
Loh, lawan ceritamu siapa?. Lantas kamu berkemampuan bukan?. Kenapa mesti takut. Tuhan tidak pernah tidur.

 

Satu kali, sebut saja Bunga. Memberi pesan via Whatsapp.

“Gue ga tahan deh, cape banget. Masa gue lebih takut ketinggalan kerjaan daripada ketinggalan kewajiban sama Tuhan”.

Atau,

“Perasaan makin kesini aku aku makin terperangkap. Masa ke toilet aja mesti buru-buru. Ditinggal sebentar WA banyak banget yang mesti gue respon.”

Atau,

“Aku kira WFH, bisa bikin aku lebih deket sama anak. Rupanya malah tetap tidak bisa aku perhatikan. Kerjaku jamnya bertambah. Sementara dari perusahaan sepertinya tidak peduli tuh, aku baik-baik saja atau tidak. Sehat itu kan bukan badan aja ya, pikiran juga perlu sehat.”

 

Oke, sampai sini ada yang merasakan juga?.

Kalau iya, Bunga banyak temannya.

 

Wajar kalau kamu complain. Justru kamu gila kalau sudah sedemikian hebat waktumu tersita tapi kamu masih baik-baik aja. Kamu manusia atau robot sih?.

 

Aku tidak membenarkan keputusan perusahaan untuk tidak melakukan perubahan termasuk status, posisi atau salarymu. Tapi juga tidak sekonyong-konyong menganggukkan kepala agar tetap berada di posisi yang aman.

Anggap saja itu keputusan terbaik versi perusahaan.

Tapi perusahaan perlu tahu bahwa karyawan yang cerdas akan punya banyak peluru dan akan ditembakan pada saat yan tepat.

Tidak melulu karyawan yang berdiam diri, tak mau debat akan tetap stay lo.

Tidak juga karyawan yang merasa karena perusahaan sudah punya budaya yang membuat nyaman karyawannya, mereka akan tetap stay bila perusahaan tidak segera melakukan perubahan.

Tidak juga.

 

Kecuali, karyawan tersebut tidak berkontribusi. Terkadang ada juga perusahaan atau atasannya yang menutup mata bahwa teamnya sudah berkontribusi. Dengan alasan keputusan bukan di tangannya maka tidak bisa berbuat banyak.

 

Jika saya kumpulkan karyawan yang senasib dengan Bunga, maka akan begini responnya,

“Pak, Pangeran Diponegoro saja perlu waktu lima tahun untuk berjuang melawan Hindia Belanda atau Tuanku Imam Bonjol saja perlu waktu 35 tahun saat berjuang pada perang Padri. Masa bapak berhenti di satu kali perjuangan”.

Kalau dijawab, saya bukan Pangeran Diponegoro. Balik badan cepat ganti yang baru.

 

Pada akhirnya, semua akan tiba masanya. Akan datang segala berkah pada saat yang tepat. Pandai-pandai menjaga emosi agar tidak sembarangan kata-kata yang keluar dari mulut.

Sampai saat ini mulutku harimauku dan lidah tak bertulang masih berlaku lo.

 

Jangan bergantung pada manusia, lakukan saja yang terbaik. Sisanya biar Tuhan saja yang bekerja.

 

Tuhan itu hebat, tak ada yang berani mendebat.

Kamu tetap di tempat, sambil tetap menatap harap. Bekerja dengan baik karena kamu laik untuk jadi yang terbaik.

 

#Bandung, 24 Juni 2020.