Cukup Untukku

Cukup Untukku

Cukup Untukku

Dia melangkah memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang gelap gulita. Seorang laki-laki berjas memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana berdiri tegap dan menatap rumah yang telah sekian lama kosong. Bulan purnama tepat di atas kepala menjadi satu-satunya sumber cahaya.

“Ah, andai kau memilihku, rumah ini pasti menjadi istana terbaik untuk kita,” ucapnya lirih sembari melangkah menuju teras yang atapnya penuh jaring laba-laba.

Perlahan dia membuka daun pintu yang menimbulkan suara berderik akibat bergesekan dengan lantah tehel yang retak. Laki-laki itu menatap ruang tamu yang remang-remang. Cahaya bulan masuk melalui celah-celah jendela. Langkah kakinya menggema di ruang itu. Angin bertiup dingin menembus kain jas dan celananya. Udara lembab dan bau taik kucing tercium menusuk hidung.

Sangat pasti kaki laki-laki itu kini menuju ruang  tidur di sebelah kanan rumah. Berbeda dengan sebelumnya, ruang itu berisi puluhan lilin aroma terapi yang menyala. Ruang tidur itu terang. Laki-laku itu mendekati tempat tidur yang terletak di tengah ruangan.

“Maria, maafkan aku. Aku sibuk beberapa hari ini. Aku tidak sempat datang. Kamu pasti kesepian.” Ditatapnya wajah pucat seorang gadis yang terbaring kaku. Matanya tetap menutup seakan tidak peduli kehadiran laki-laki itu. 

“Lihatlah, Maria, di luar bulan sedang bersinar bulat penuh. Cantik sekali sama sepertimu.” Gadis itu tetap diam di bawah selimut yang menutupi tubuhnya.
“Kau marah padaku, Maria?’ Tanya laki-laki itu dengan suara lembut merayu. “Baiklah jika kau masih marah aku tidak akan mengganggumu.” Dia melangkah meninggalkan aroma formalin yang kalah dengan bau-bauan dari lilin.

Kini laki-laki itu pergi meninggalkan rumah yang dulu dia persiapkan sebelum menikahi Maria kekasihnya. Meski gadis itu memilih laki-laki lain dan menolak pinangannya.

Dia tidak ikhlas gadisnya dimiliki orang lain. Maka dibiarkannya Maria berdiam selamanya di rumah kosong di pinggiran kota.

***

Medan, 3 Maret 2021