CLICKBAIT CARA LICIK NGEDAPETIN KLIK.

CLICKBAIT CARA LICIK NGEDAPETIN KLIK.

Belakangan ini kita sering banget mendengar istilah clickbait. Gara-gara era digital, banyak orang yang merasa bahwa itu strategi baru yang mengacu pada media sosial. Iya, sih. Tapi juga gak betul 100%. 

Sejatinya, clickbait adalah strategi jaman baheula yang sudah digunakan manusia sejak jaman purba. Pointnya, mah,  sama aja. Bagaimana bikin orang penasaran sampe syaraf keponya tersentuh sampe gak tahan untuk mencari tau lebih dalam. Dalam konteks digital tentunya ngeklik.

Di jaman koran 'Lampu Merah' dulu, saya sering kejebak sama headline beritanya. Pas lagi di bis kota, seorang tukang koran teriak dengan suara kenceng banget, “Penari Telanjang Mendominasi Acara Tahun Baru di Jakarta.”

Saya gak mau ketipu. Pas saya ngelirik, eh…bener, loh. Headline koran itu emang begitu bunyinya. Langsung, dong, saya beli. 

Namun apa yang terjadi? Ternyata di atas headline tersebut ada kalimat pendahulunya yang dicetak dengan point size yang jauh lebih kecil. Bunyinya, “Gubernur DKI menghimbau, jangan sampai…”  

Jadi kalimat lengkapnya, “Gubernur DKI menghimbau, jangan sampai Penari Telanjang Mendominasi Acara Tahun Baru di Jakarta.” Kampret, kan? 

Di jaman digital ini sama aja. Kalo di kasus di atas, saya dijebak supaya beli korannya. Di social media, kita digiring untuk ngeklik. Udah itu doang! Makanya disebut dengan clickbait. Pancingannya, mah, sama aja.  

Yang nyebelin, yang melakukan clickbait ini bukan cuma media online abal-abal. Media mainstream juga sama aja. Misalnya, wartawan bertanya pada Menteri Kesehatan, “Gimana Pak Terawan soal virus Corona ini?”

Pak menteri nyaut, “Yang penting jaga kesehatan. Makan makanan sehat. Olahraga yang teratur. Pokoknya kalo tubuh kita fit, kita gak akan ketularan. Santai aja.”

Wartawan nanya lagi, “Tapi masker abis, tuh, di pasaran, Pak?”

“Orang yang sehat gak perlu pake masker. Yang perlu memakai masker itu adalah yang sakit.”

Keesokan harinya, berbagai media membuat headline di medianya, “Menteri Kesehatan: Menghadapi Virus Corona ini, kita gak perlu pake masker. Santai aja.”

Orang yang baca langsung emosi. Masak sih menteri kesehatan nyautnya gitu?  Mereka kepancing dan langsung klik berita tersebut. Semua orang pengen tau lebih jauh, seberapa cueknya menteri ini pada tugasnya untuk melindungi rakyat. 

Salahkah media yang menulis seperti itu? Mereka gak salah! Karena menteri memang mengatakan begitu. Si Wartawan cuma sengaja menulis tidak lengkap, Tujuannya? Ya, itu tadi, supaya orang penasaran dan akhirnya mau ngeklik. 

Ada dua macam alasan kenapa wartawan menulis seperti itu. Pertama supaya kita kepancing dan mau ngeklik. 

Kedua, mereka memang sengaja membuat framing supaya kita merasa bahwa pejabat A ternyata begini. Pejabat B ternyata begitu. 

Apakah mereka bisa dihukum? Ya, gak bisa. Karena wartawan itu selalu berlindung di Dewan Pers. Dan Dewan Pers sudah membuat prosedur bahwa kalo gak puas dengan liputan wartawan, narasumber bisa menggunakan hak jawab. Sontoloyo! 

Enak banget jadi wartawan! Mereka bisa ngomong seenak udelnya. Coba kalo orang biasa. Mereka gak memiliki kemewahan itu. Salah ngomong dikit, kita bisa dituntut dengan UU ITE. Kalo kalah di pengadilan, kita bisa dipenjara. Apes!

Semua media selalu menyatakan bahwa mereka netral. Benarkah begitu? BULLSHIT! Gak ada orang yang netral dalam hal politik. Media pasti diatur oleh keberpihakan ownernya. 

Kalo kebetulan ada owner sebuah media yang beneran netral, wartawan juga gak bisa bersikap obyektif. Pastilah secara individu, mereka juga punya kecenderungan mendukung satu pihak. Dan itu manusiawi sekali. 

Di jaman digital ini kita sulit menentukan mana malaikat dan mana setan. Susah membedakan yang mana penjahat dan yang mana ustad. Jadi jangan percaya semua yang kita baca di social media. 

Gunakanlah otak kita semaksimal mungkin. Otak adalah hadiah paling berharga dari Tuhan. Biarkan otak bekerja. Kita punya otoritas penuh untuk menentukan sendiri pendapat kita.