Cintamu Tak Semurni Bensinku

Cintamu Tak Semurni Bensinku
(Catatan: seri Tulisan di Truk)"
 
Cihuuuuy!!!" Amrin berteriak girang.
 
Saking girangnya, ia melompat. Tak sadar bahwa kamar mandi kecil di pompa bensin area rehat Pantura, meski bersih, licin lantainya. Sudah bisa diduga kan, apa jadinya.
 
Gedubrag blezing klenteng!!!
 
"Aw aw aaaaaw!!!" Amrin ganti menjerit.
 
Untung sih dia sempat pegangan ke gantungan baju di pintu. Sial sih, gantungan itu copot dan ikut jatuh terjerembab bersamanya. Masih untung juga sih, sebab dia pakai sepatu yang depannya berlapis besi. Oleh-oleh sahabatnya yang kerja di Freeport. Kalau tidak, ujung-ujung jari kakinya pasti terluka kepentok undakan jamban.
 
Masih ada lagi untungnya. Ember air toilet kosong. Meski ketendang jatuh bergelimpang, tak ada air tumpah merendam hp-nya yang ikut jatuh ke lantai. Celana bagian pantat pun hanya lembab. Meski mayan sih, pantat berasa kemeng. Tapi, hatinya tetap merasa untung. Sangat beruntung.
 
Sedikit terpincang, Amrin keluar dari toilet. Lega hatinya sebab tak ada orang lain di toilet. Malu kan kalau orang tahu dia jatuh. Senyum dibibirnya makin lebar saat kakinya melangkah ke jejeran warung. Waktunya ngopi, dan meresapi lagi kebahagiaan yang membuatnya merasa sebagai manusia paling beruntung di jagad raya.
 
"Buk, kopi susu satu ya!" katanya.
 
"Di sini nggak ada yang ngelayaninya, mas, jadi kita sistem setabrak. Kalo udah jadi, saya panggil ya. Namanya siapa, mas?" kata si ibu warung.
 
"Untung," jawab Amrin yakin dan masih dengan senyum lebar dari kuping ke kuping.
 
"Ditunggu ya, mas Untung".
 
"Siap!"
 
Untung, eh, Amrin, duduk di pojok. Lokasi yang dianggapnya aman dari gangguan, tapi masih bisa jelas mendengar bila dipanggil si ibu kopi. Ia keluarkan hp-nya  yang tadi sempat jatuh di toilet. Dibukanya wa dari yang bernama Asih. Incaran cintanya yang bagai pemain layangan. Tarik ulur dalam menerima cintanya. Tumben-tumben, nggak ada angin nggak ada topan, Asih duluan yang mengirimkan pesan. Biasanya sih dia hanya menjawab gombalan Amrin.
 
"Maaaaaas kapan pulangnya?' wa Asih tanpa tedeng aling-aling.
 
Senin depan. Kenapa, say?
 
Ujungnya, Asih minta diajak jalan-jalan ke Tunjungan Plaza, dan minta dibelikan minyak wangi merek tertentu. Yang asli, bukan yang kw, di plaza itu.
 
Belikan ya, Mas. Nanti mas boleh minta apa aja deh ke aku,“ Asih berjanji.
 
Membaca itu Amrin merasa bagai terlontar ke atasnya dari langit ketujuh.
 
Siap! Aku balik Senin sore, Selasa ya kita ke TP. Oke?“ kata Amrin.
 
Okok”  jawab Asih.
 
Lov yu, my darling,”
 
Lov yu juga, kangmas,” balas Asih, dan menutup wa-nya dengan emotikon bibir mengecup.
 
Masih berbunga-bunga dengan hati seenteng kapas, Amrin mengganti nama Asih di hp-nya menjadi 'My Bojo'. Hatinya yang senang luar biasa itu membuatnya senyum-senyum sendiri, sampai-sampai panggilan ibu kopi sempat tak didengarnya. Bergegas ia menjemput kopinya, lalu sambil menyeruput kopi, hp dibuka lagi. Kali ini wa dari bos.
 
Nggak usah ke Madiun, langsung saja kembali ke Surabaya,” kata bos.
 
Lihat! Bukankah Amrin memang manusia paling beruntung? Perintah dari bos artinya, Jumat sore ia sudah bisa tiba di rumah. Wah, bisa ajak My Bojo jalan-jalan Sabtu nih! Tapi, Amrin ingin buat kejutan, meski rindu sudah tak tertahankan. Dia tak berkabar ke Asih bahwa kepulangannya dipercepat. Yang penting, masa depannya terasa cerah.
 
Untuk menambah kejutan, Jumat malam setelah mengandangkan truknya dan menerima gaji Amrin ke TP. Bermodalkan foto yang dikirim Asih, Amrin berhasil menemukan parfum dambaan Asih. Harganya lumayan membuat Amrin meringis, tapi kata-kata Asih, Mas boleh minta apa aja deh ke aku, menihilkan segala keraguan.
 
Dengan hati makin berbunga, dan pikiran yang sibuk menyusun datar permintaan ke Asih, Amrin memeluk erat kantong belanja berisi parfum untuk Asih. Ingin lari rasanya agar bisa cepat sampai di rumah.
 
"Belikan yang ini, ya, mas. Nanti mas boleh minta apa aja deh ke aku".
 
Langkah Amrin terhenti di dekat counter parfum. Ia terkesiap. Ia mengenal tak hanya kata-kata itu. Tapi juga suara itu. Dan punggung itu, yang dirangkuh erat oleh lelaki di sebelahnya.
 
Malamnya di rumah, mbok Amrin menjadi wanita paling berbahagia di dunia dengan parfum mahal hadiah dari Amrin.