Cinta yang Menyelamatkan

Cinta yang Menyelamatkan
Sumber imaji: instagram Europe on Screen
Tontonan keempat saya di festival film online Europe on Screen 2020 (EoS 2020)—yang berlangsung pada 16-30 November 2020—adalah Swoon (2019). Dari Swedia dengan judul asli Eld & Lågor, berbahasa pengantar Swedia. Disutradarai oleh duo sutradara Björn Stein dan Måns Mårlind.
 
Film ini wajib ditonton, karena inilah film yang terpilih sebagai film perdana atau pembuka festival EoS 2020. Bila masa aman, kala dunia tak sedang dirundung pandemi seperti sekatang, film ini akan diputar di teater setelah upacara pembukaan selesai. Itu dasar pribadi dari saya, dalam memutuskan adalah wajib hukumnya menonton film ini.
 
Apalagi, saya hadir di pembukaannya secara daring. Tidak lengkap donk tanpanya. Berhubung tergulung oleh berbagai hal, menontonnya agak tertunda. Tidak di hari yang sama dengan pembukaan—tapi sayang saya tak berhasil mendapat tiket untuk menonton film penutup festival...
 
Dengan setting latar belakang 1940-an, dalam ancaman Perang Dunia II, Swoon berkisah tentang permusuhan antara keluarga Nilsson dan keluarga Lindgren. Dua keluarga pengusaha taman bermain yang saling bersaing. Perseteruan antarkeluarga ini sudah berlangsung selama belasan tahun. Sejak anak-anak dalam keluarga tersebut masih kecil-kecil. Sampai mereka dewasa.
 
Persaingan yang benar-benar tajam dan penuh tindakan saling sabotase. Mengakibatkan banyak kerusakan dan kerugian. Ditambah dengan tindak kekerasan dari debt collector, mungkin salah satu atau bisa jadi kedua taman bermain itu akan segera hancur. Bahkan sebelum PD II masuk ke tengah Swedia. Tapi, percaya atau tidak, cinta menyelamatkannya. Bagaimana itu?
 
"Janganlah kalian bermusuhan, karena siapa tahu anak-anak kalian akan saling jatuh cinta". Demikian ungkapan yang pernah saya baca atau dengar, tapi lupa dari mana. Dalam sejarah umat manusia, banyak contohnya. Contoh yang mungkin paling klasik adalah kisah Romeo & Juliet karya Shakespeare. Contoh lain lagi adalah cerita dalam film Swoon ini.
 
Ketika para ayah dari Ninni Nilsson dan John Lindgren (Yon, bila dibaca cara Swedia) menyuruh anak-anak mereka untuk saling memata-matai, malah cinta yang tumbuh di antara keduanya. Tragedi yang membunuh Lennart, adik John, sempat memisahkan keduanya. Tapi, kabar baik untuk tim Ninni-John, ada ibu dari Ninni yang mendukung cinta mereka meski suaminya menentang. Happy ending buat kita semua. Meski awan gelap PD II kian memekat di atas Swedia.
 
Menarik atau tidaknya film ini, saya serahkan pada masing-masing pribadi. Tapi, kisah cinta selalu menarik, bukan? Yang juga menarik bagi saya adalah kostumnya. Saya bukan pengamat fashion, tapi secara umum kostum film-film drama sejarah (historical drama, atau sering juga disebut period drama) selalu menarik hati saya.
 
Kostum dalam film Swoon benar-benar memanjakan mata. Apalagi kostum Ninni, si pecinta bunga. Melalui kehadiran kostum dalam film ini, kita juga jadi tahu kira-kira trend kekinian apa yang berlangsung di Swedia pada masa itu. Mungkin tak banyak berbeda dengan, terutama, negara-negara Eropa lainnya. Atau, mungkin ada unsur berlebihan semisal pada beberapa pakaian Ninni yang seperti hidup pada adegan fantasi. Tetap saja menyenangkan untuk mengamatinya.
 
Set di lokasi-nya juga tak tanggung-tanggung. Menampilkan satu taman bermain saja sudah heboh. Apalagi dua. Tak heran, karena ternyata pada kurun 2018 produksi film ini merupakan salah satu produksi terambisius di Swedia. Dengan dana yang tak kecil. Saya coba membayangkan riuh-rendahnya tim art dan props di lokasi syuting, saat mempersiapkan set yang kaya seperti itu. Pasti heboh! Dan, seru!
 
Satu lagi hal yangmenarik dari film ini adalah, ia terinspirasi oleh kisah nyata dua keluarga pengusaha taman  bermain di Stockholm, Gröna Lund dan Nöjesfältet. Ceritanya persis kisah Ninni-John dan keluarga mereka. Kalau menonton, sabarlah menunggu sampai film habis. Di bagian belakang ada cuplikan tentang pasangan yang menjadi sumber inspirasi film Swoon ini. Foto-foto lama, dan keterangan verbal.
 
Oya, satu lagi yang juga menarik buat saya adalah, tentu saja, bahasanya. Bahasa Swedia yang tak saya pahami, tapi bisa dinikmati keindahan alunan tuturnya. Surgawi!   =^.^=