Cinta Tak Bisa Disalahkan

"Ya, memang seharusnya seperti itu kan, Tih? Orang tuh emang baru bisa mengerti arti kata 'syukur'sama apa yang nggak pernah dia dapet. Lo belum pernah ngerasain yang namanya disia-siain, sih. Udah berapa kali gue bilang, lo tuh beruntung banget, Tih. Max adalah yang pertama buat lo dan berpotensi untuk jadi yang terakhir. Tuhan tuh udah sayang banget sama lo."     "Kalau Tuhan sayang banget sama gue, apa susahnya bagi Dia buat mengubah hati gue?"

Cinta Tak Bisa Disalahkan

"Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang mengalun indah mengisi jiwa
Merindukan kisah kita berdua
Yang tak pernah bisa akan terlupa..."

    "Tih, lo tuh beruntung banget, sih. Jaman sekarang, ya kali ada laki-laki yang mau bolak-balik Bandung-Jakarta cuma demi nganterin Eki, " ujar Shintya sambil meniup kopinya yang masih panas. 
    Aroma kopi tersebut sore ini tidak sewangi biasanya. Mencoba pura-pura tertarik, kulihat barista manis bertato yang sedang memutar dua buah balok gula sambil menjawab, " Iya, biasalah, Max emang gitu kan dari dulu. Bukan hal baru." Rasanya barista tersebut orang baru. 
    "Iya, tau! Masa gue minta nitip beliin sabun buat Si Chiko aja, laki gue kaga mau. Padahal mah, Si Rasyid tinggal turun satu lantai dari kantornya. Males banget, emang!" sambar Ayu. "Makanya, lo tuh jadi orang jangan suka nggak bersyukur, Tih. Penting cari cowok yang bener sebelum nikah!  Max tuh, udah oke banget. Sepanjang gue pacaran, nggak pernah gue nemu laki-laki kayak Max. Yang ada malah kebalikannya semua. Max udah gila tau sama lo, mah!" 
    "Hmm."
    "Ih, kan. Jawab lo cuma "hmm" doang. Emang jahat lo mah jadi cewek. Di mana-mana mbok ya, dengerin gitu loh, sahabat lo yang udah punya lebih banyak pengalaman. Lebih advanced. Lebih tau lika-liku percintaan kayak gimana. Nanti yang ada malah tinggal nyeselnya aja belakangan." kata Ayu sambil mendengus keras.  

    Kalau bisa muntah, mungkin sudah terlambat 3 tahun. Omongan Shintya dan Ayu sudah bertahun-tahun berputar di telingaku seperti kaset yang sudah usang namun sayang untuk dibuang. Sudah hafal lirik dan iramanya. Selalu sama. Dan efeknya pun sama seperti lagu lama. Kamu akan bosan pada waktunya.  

"Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus berapa lama aku menunggumu
Aku menunggumu..."

[Menunggumu, Chrisye ft. Peterpan]

Entah kenapa lagu yang dimainkan di kafe ini semakin membuatku bersemangat untuk mengakhiri pertemuan sore ini. "Eh, guys! Sorry banget nih, klien gue rese minta dikirimin desainnya hari ini, nih. Gue cabut duluan ya." Shintya tiba-tiba menahan lenganku, "Lo nggak bareng Max baliknya?"
    "Nggak, Shin. Kasihan dia lagi ngurusin kafenya. Gue balik sendiri aja naik Cab." 
    "Udah, bareng gue aja yuk. Gue sekalian mau ke Betamart. Nanti gue drop lo aja," ajak Ayu. Karena tidak ingin memperpanjang debat kusir ini, akhirnya aku mengiyakan tawaran Ayu. Hati ini sebenarnya menolak. Perjalanan panjang dan Ayu bukanlah kombinasi yang baik untuk ketentramannya.

    Di sepanjang perjalanan, diriku pura-pura sibuk memainkan ponsel. Tidak ada pesan. Tidak ada sama sekali. Pokoknya, aku hanya ingin segera sampai di rumah tanpa adanya serangan bertubi-tubi dari Ayu. Mungkin telingaku masih sanggup mendengarkan, namun hati ini sudah lelah. Ia menuntutku untuk membawanya ke tempat peristirahatan.

    "Udah, Tih. Nggak usah dipikirin. Omongan gue sama Shintya ya demi kebaikan lo, sih. Udah banyak saudara gue yang menikah, tapi nggak bahagia. Ya salah satunya ya karena pasangan yang mereka temuin ternyata nggak sebaik yang mereka kira. Jadi kalau dapet pasangan yang baik, ya jangan di sia-si-" 

TEEEEEEEEEEEEEEET! 

Refleks Ayu menurunkan kaca mobil, "WOY! Bisa nyetir, nggak lo? Sialan!" 

Serangan pertama akhirnya diluncurkan oleh Ayu. 
    "Duh, Yu. Udah, deh. Makanya fokus nyetir aja dulu. Nggak usah bahas-bahas lagi deh tentang gue dan Max. Itu urusan gue." 
    "Eh, enak aja! Ini bukan gara-gara gue yang nggak fokus! Ini tuh gara-gara Si Kampret tadi yang maen nyelonong, aja! Nembak pasti tuh SIM-nya," ujar Ayu sambil menekan pedal gas sehingga mobil meluncur lebih cepat. 
    Ayu adalah sahabatku yang paling mudah naik pitam. Ya, dia adalah tipe "senggol bacok" kalau istilah perempuan yang lagi kedatangan tamu bulanan. Dari dulu dia selalu jadi garda depan untuk membela para sahabatnya ketika mereka dilanda masalah. Sampai-sampai, terkadang justru aku heran mengapa orang tuanya memberi nama "Ayu" kepada dirinya. Nggak ada ayu-ayu-nya sama sekali. Maka dari itu, kuputuskan bahwa tindakan paling bijaksana yang dapat kulakukan sekarang adalah...diam. 

    "Tadi sampe mana kita, ya? Nah, makanya gue mencoba buat mengingatkan lo biar nggak kena karma, sis. Karma is a bitch! Jangan sampe nanti lo ngerasain yang namanya sakit hati. Pilihan karma cuma dua, antara lo kena karma dengan disakitin orang lain atau justru perasaan lo yang nanti berbalik untuk memohon-mohon Max untuk stay di hidup lo. Jadi, mending lo mikir seribu kali lagi buat udahan sama Max. Gue serius, Tih." ujar Ayu sambil menatap lurus-lurus ke jalanan yang ada di depannya. 
    "Yu, daritadi gue mencoba diam karena gue nggak mau ngebahas ini lagi. Mikir-mikir? Come on! Gue jadian ama Max udah 7 tahun, yu. Luar-dalem dia, gue udah tau. Baiknya apa, buruknya apa... "
    "Ya, memang seharusnya seperti itu kan, Tih? Orang tuh emang baru bisa mengerti arti kata 'syukur'sama apa yang nggak pernah dia dapet. Lo belum pernah ngerasain yang namanya disia-siain, sih. Udah berapa kali gue bilang, lo tuh beruntung banget, Tih. Max adalah yang pertama buat lo dan berpotensi untuk jadi yang terakhir. Tuhan tuh udah sayang banget sama lo."
    "Kalau Tuhan sayang banget sama gue, apa susahnya bagi Dia buat mengubah hati gue?"
    "Wah, hati-hati sama omongan, Tih. Jangan sampai kelewat batas."
    "Kenapa ya...Tuhan nggak membuat ini mudah buat gue sebagaimana Dia membuat ini mudah untuk Max, Shintya, dan lo? Kenapa ya dari semua kebaikan yang Max kasih ke gue, Tuhan nggak sedikitpun menggerakan hati gue? Kenapa ya dari semua nasehat lo berdua yang bikin gue udah kenyang selama 7 tahun ini, Tuhan nggak sedikitpun meyadarkan gue? Kenapa ya kalau Tuhan udah tau Max itu jodoh gue, cinta gue malahh makin lama makin nggak ada artinya?"
    "Itumah, lo nya aja. Udah, deh...Nggak usah bawa-bawa Tuhan segala apalagi nyalahin Dia," terdengar nada gusar dari suara Ayu.
    "Nggak, nggak. Lo harus tau, Yu. Dan lagi, lo kan yang sebut-sebut nama Tuhan duluan. Gue cuma heran aja, kenapa hati gue malah semakin hari semakin sedih semenjak dengerin nasehat lo berdua. Bertahun-tahun gue denger, gue analisa, bahkan gue lakuin. Nggak ada yang bekerja buat hati gue," sela diriku. Hatiku pelan-pelan menghampiri dan memeluk dirinya sendiri seperti teman yang sudah lama. Bertahanlah, untuk sedikit waktu saja.
    "Padahal otak gue tau persis, maksud lo berdua itu baik. Sangat baik. Kalian mau menjaga gue dari rasa sakit yang lebih parah. Apa yang lo bilang itu bener banget. Orang baru bisa mengerti arti kata 'syukur' sama apa yang nggak pernah dia dapet. Hati lo nggak pernah mengalami apa yang hati gue alami sekarang. Kalau pernah, pastinya lo akan mengerti pilihan gue dan tentunya merasa bersyukur kalau dulu ada yang pernah nyakitin hati lo, " sesaat diriku ragu untuk melanjutkan percakapan ini. Bagaimanapun juga, Ayu adalah sahabatku. Tetapi terkadang aku hanya ingin Ayu bisa melihat sisa-sisa kejujuran dari kata-kata yang kuucapkan.   
    "Bersyukur karena disakitin? Sombong banget ya, gue? Gue udah biasa berada di posisi ini, jadi mungkin hati gue juga udah kehilangan rasa pedulinya. Tapi saran gue, bersyukurlah, Yu. Karena lo pernah ngerasain perihnya disakiti, lo jadi bisa mengapresiasi cinta lebih banyak. Lo bisa merasakan kelebihan cinta karena lo pernah kekurangan. Lo bisa menilai dalamnya cinta Rasyid karena lo pernah tenggelam. Sedangkan gue nggak. Kamus rasa gue nggak ada isinya. Nggak ada petunjuk buat hati gue ketika Max dateng, mengetuk dan ngasih semuanya. Hati gue bingung dan dia terus bertanya-tanya untuk mencari alasan. Dan sayangnya, cinta butuh rasa bukan alasan. Berbeda dari logika yang cuma butuh alasan untuk berubah. Dalam cinta, semakin lo nggak punya alasan justru semakin kuat rasa cinta itu," sambil menghela napas, ku berhenti sejenak. Mencoba meredam segala getaran suara yang mulai merambat. 
    "Jadi, mau berujuta-juta alasan apapun yang gue kasih, cinta buat Max nggak akan hadir kembali selama hati ini nggak bisa membedakan rasa. Dan kesimpulannya, hati gue butuh merasakan rasa yang lain untuk menghargai cinta."

    Seperti yang sudah kuduga, percakapan ini akan berakhir di dalam keheningan. 
    Hening.    
    Dan hening.
    Keheningan membuat kita berdua tenggelam di dalam rumitnya perlawanan antara pikiran dan perasaan. Dan jalannya waktu semakin mempertegas kecanggungan yang mulai terlihat di suasana dalam mobil.
    Tiba-tiba, rintik-rintik hujan mulai turun dan menampakkan dirinya di kaca mobil Ayu. Secara otomatis, Ayu langsung menggerakkan jemari kanannya sehingga muncullah suara wiper yang mulai bekerja. Untunglah, setidaknya suara wiper membelah keheningan di antara Ayu dan diriku. Tak lupa, Ayu juga kemudian menyalakan lampu sorot mobil untuk memperjelas suasana jalanan yang semakin kelabu diterpa hujan. Pelan-pelan, jari telunjuk kirinya juga menekan tombol radio mobil. Mungkin Ayu juga sudah merasa kalau keheningan ini terlalu mendominasi jarak di antara kita. 

"Kucinta padamu
Namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku
Andai 'ku bisa
Berkata sejujurnya..."

    "Menurut gue ya, lo terlampau egois, Tih." tangan Ayu memutar stir ke kiri berkali-kali."Kenapa nggak lo bilang aja kalau emang Max nggak sesuai sama apa yang lo mau, sih? Pake nyalahin masalah hati, seolah-olah dia yang 'bermasalah'. Cinta itu sederhana kok, Tih. Yang jatuh cintanya aja yang kadang ribet. Ini tuh cinta yang akan lo bawah ke pernikahan, rasa mah cuma salah satu aspek dari ribetnya kehidupan pernikahan. Bukan bermaksud menggurui, tapi gue udah ngerasain sendiri. Gue cuma nggak abis pikir aja gitu, semua yang perempuan cari ya ada di Max. Mulai dari sikap, kepribadian, perhatian, dan bonus fisik. Paket lengkap, deh." ujar Ayu sambil sesekali melihat ke arahku.
    Dengan enggan, kumenjawab, "ya...gapapa, Yu. Nggak semua orang paham sama apa yang gue omongin tadi, mungkin termasuk lo. Justru karena gue harus memutuskan siapa yang akan jadi pendamping hidup gue selamanya, gue mau bahagia. Hati gue udah terlalu sakit dan lelah untuk nggak menjadi ikhlas. Udah 7 tahun juga perasaan gue terus berjuang. Mulai dari berjuang untuk mencintai Max sampai berjuang untuk membohongi diri sendiri. Kalau pada akhirnya karma emang harus menjemput gue, yaudah, nggak apa-apa." kataku sambil melihat seorang nenek penjual gorengan yang sedang menepi dari balik kaca mobil. Raut wajahnya begitu lelah dan gorengannya masih banyak. Entah sudah berapa banyak orang yang membeli darinya pada hari ini. 

    Sayangnya hujan turun lebih awal. 
    "Ih, kok lo jadi ngomong gitu sih, Tih? Sorry, deh. Gue nggak bermaksud sampe sejauh ini sih, sebenernya."
    "Nggak apa-apa, kok. Apa yang lo omongin dari tadi itu semuanya bener. Bener buat orang-orang yang melalui hal yang sama seperti lo, seperti Shintya. Gue tadi cuma pengen curhat aja sih, kenapa ya orang-orang selalu memposisikan diri menjadi Max, nggak pernah mencoba jadi gue? Enak ya jadi orang yang punya cinta. Nggak bisa disalahkan. Sedangkan buat orang-orang yang nggak bisa membalas cinta, rasanya kayak sampah. Apapun yang keluar dari mulut orang tersebut jadi nggak ada artinya. Mau tulus memuji tapi akhirnya nggak bisa tulus mencintai, sama aja. Nggak adil buat Max dan nggak adil buat gue juga. Max mungkin yang terbaik yang pernah hadir di kehidupan gue dan juga mungkin sebaliknya. Tapi kita nggak cocok. Udah, gue nggak mau ngebahas ini lagi, Yu. Cukup sampe di sini. " 
    Sambil mengangguk, Ayu dan aku akhirnya menikmati perjalanan tanpa satu kata pun. Sesekali ayunan wiper dan rintik hujan beradu untuk melengkapi nada yang keluar dari radio. Tentunya tidak pas. Tidak membuat alunan lagu menjadi lebih indah. 
    Tetapi, entah kenapa, aku bersyukur hari ini hujan datang lebih awal. 
    Rintik hujan mengingatkanku tentang caranya menangis. Hati, yang terluka terlalu dalam ini, sudah lupa caranya menangis. 
    Ia hanya mampu bersedih dalam diam.  
                
"Jangan kau pilih dia
Pilihlah aku
Yang mampu mencintamu
Lebih dari dia
Bukan kuingin merebutmu
Dari sahabatku
Namun kau tahu
Cinta tak bisa
Tak bisa kau salahkan..."

[Cinta dan Rahasia, Glenn Fredly ft. Yura Yunita]