[Cerpen] Tiga Keping Hati

... Bahkan mungkin celana dalam warna apa yang kupakai saat bertemu dengannya pun bisa-bisa ia permasalahkan. Belum, sih. Tapi aku yakin suatu saat pasti kena juga dia nyinyiri. ...

[Cerpen] Tiga Keping Hati


(Keping Hati Marsya)


Ibu mau mengajak Bude Kin tinggal di sini? Yang benar saja! Apakah Ibu tak tahu kalau Bude Kin itu penyeret suasana neraka setiap kali datang ke sini? Ke rumah mungil ini? Ada saja yang tidak benar di matanya. Terutama aku. Ya, aku!


Tak ada dari diriku yang pernah luput dari cercaannya. Mulai dari potongan rambut, selera makan, kegiatanku, sampai ke teman-temanku. Bahkan mungkin celana dalam warna apa yang kupakai saat bertemu dengannya pun bisa-bisa ia permasalahkan. Belum, sih. Tapi aku yakin suatu saat pasti kena juga dia nyinyiri.


"Jadi, bagaimana, Sya?"


Aku tersentak. Kutatap Ibu. Beliau masih menatapku dengan segunung harapan tergambar nyata di matanya. Kuhela napas panjang.


Menolak permintaan Ibu? Menorehkan luka di hatinya yang selembut sutra? Seberapa besar dosa yang harus kutanggung nantinya? Tapi....


Bude Kin.


Aku menggeleng samar.


Kakak Ibu yang cuma satu-satunya itu selama ini memang hidup sendirian di pinggir kota. Tanpa suami. Tanpa anak. Bude Kin itu orang yang kakunya minta ampun. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ibu.


Bahkan kabar burung yang pernah singgah di telingaku, Bude Kin pernah masuk penjara bertahun-tahun lalu. Entah kasus apa. Entah kapan tepatnya. Bertanya kepada Ibu? Oh, aku tak cukup punya keberanian. Kini, aku hanya bisa menatap Ibu. Pasrah. Aku tak punya pilihan lain.


"Tapi... Kenapa, Bu?"


Kulihat Ibu balas menatapku, kemudian diam. Tercenung menatap suatu titik pada bidang meja.


* * *


(Keping Hati Wuri)


Ya, kenapa?


Mau tak mau aku tercenung mendengar pertanyaan sederhana Marsya. Sebuah kata tanya sederhana dengan jawaban rumit di belakangnya. Berterus terang kepadanya? Oh, aku tahu dunianya bisa runtuh. Sedewasa apa pun dia di usianya yang sudah mencapai seperempat abad dua bulan lalu.


Selama ini dia sudah sedikit timpang menjalani hidup. Hanya bersamaku. Tanpa sosok ayahnya. Walaupun aku tahu sepertinya dia tak akan hidup lebih baik kalau ada ayahnya.


Setengah mati aku merangkap peran sebagai ibu sekaligus ayah. Mendidiknya agar jadi perempuan tegar yang tak salah jalan. Tak salah memilih berbagai jalur hidup. Supaya tidak seperti aku. Yang pada ujungnya justru tak hanya harus menanggung akibatnya sendirian.


Dan, Mbak Kin....


Aku tak bisa lagi melihatnya menua dalam hening.  Lihatlah binar matanya saat berkunjung ke sini, atau saat aku mengunjunginya bersama Marsya. Sungguh, aku memahami bila dia kemudian bagai kuda lepas dari kandang. Sedikit lepas kendali saat mengomentari Masya. Mbak Kin hanya tak ingin Marsya jadi seperti aku.


Kesalahan terbesarku adalah membiarkan Marsya tenggelam dalam kesalahpahamannya. Tapi aku sendiri tak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada Marsya. Setitik penjelasan akan mengurai semua lembar tabis yang sudah Mbak Kin dan aku sepakati untuk diselubungkan serapat-rapatnya.


"Bu...."


Suara halus Marsya menyeretku keluar dari lamunan. Kualihkan fokus tatapanku. Wajah polos dan ayunya menampakkan ekspresi menunggu. Kukerjapkan mata.


"Yah...." Setengah mati kucoba mencari kata-kata yang pas. Sebuah alasan, lebih tepatnya. "Mm.... Kasihan saja terhadap budemu, Sya. Sendirian. Makin sepuh. Kalau tinggal bersama kita di sini, kan, paling tidak ada teman untuk bicara."


Kulihat Marsya termangu. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi bahasa tubuh dan tatapannya sudah menyiratkan semuanya. Sebuah penolakan. Walau diungkapkannya hanya dalam hening. Sampai akhirnya....


"Ya, sudah, kalau itu sudah jadi keputusan Ibu," ucapnya, dengan nada pasrah.


Seharusnya aku lega mendengar jawabannya. Tapi ternyata tidak. Aku seolah terseret masuk pada lubang jebakan baru. Marsya mengatakan 'ya', tapi ada penolakan dalam matanya.


Ya, Tuhan.... Apa yang sudah kulakukan? Apa yang akan terjadi? Padahal aku sudah telanjur menawari Mbak Kin, dan dia menyetujuinya setelah berhari-hari menggantung jawaban.


"Tapi jangan salahkan aku kalau aku jarang di rumah..."


Suara lirih Marsya menghantam telingaku.


"... Jujur, aku malas dekat-dekat dengan Bude Kin."


Oh, tidak! Masalah baru mulai bergulir! Lagi-lagi, aku yang menyebabkannya.


* * *

 

(Keping Hati Kintan)


Aku melihat berkas-berkas cahaya kelegaan dalam mata Wuri saat aku menyatakan bersedia tinggal dengannya. Keputusan yang sudah kupikirkan selama berhari-hari. Keputusan yang kuambil karena 25% logika dan 75% impuls.


Sejujurnya, sudah lama sekali aku ingin tetap bersamanya, seperti saat kami masih kecil dulu. Menjagainya setiap waktu. Menyelamatkannya dari anak-anak jahil yang suka mengerjai dan membuatnya berurai air mata.


Wuri dan aku memang jauh berbeda. Dia 100% mewarisi kelembutan Ibu, dan aku 100% mewarisi ketegasan Ayah. Seharusnya aku tak perlu khawatir dengan caranya membesarkan Marsya. Tapi....


Ada secubit rasa sakit dalam dada. Kusadari selama ini aku memang terlalu keras terhadap Marsya. Kurasa, dia cukup membenciku karenanya. Menyatakan alasannya? Tidak perlu.


Dia tidak perlu tahu apa yang benar-benar kuinginkan darinya. Kulihat Wuri sudah cukup membekalinya dengan pelajaran menjaga diri sendiri. Wuri pernah terjeblos pada pilihan yang salah. Pilihan yang sudah membuatku dan Wuri sama-sama menyesal. Pilihan yang membuatku dan Wuri sama-sama terjebak masalah yang tak bisa lagi dihapus sejarahnya. Pilihan yang Marsya tak perlu tahu.


Tapi, benarkah Marsya tak perlu tahu? Dia sudah makin dewasa. Seharusnya perlu tahu sejarah hidupnya. Hanya saja semuanya sudah kuserahkan kepada Wuri untuk diputuskan.


Seandainya Marsya harus tahu, aku ingin ada di dekatnya untuk sekadar jadi pelampiasan kecewa dan kemarahannya, seandainya kedua rasa itu benar muncul. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Karena aku tak bisa membalikkan guliran waktu.


* * *


(Keping Hati Marsya)


Bude Kin jadi pindah ke rumah kami tiga hari yang lalu. Tiga hari yang membuatku harus menulikan telinga terhadap semua kecerewetannya. Tapi aku sudah punya rencana lain. Pindah mencari indekos adalah pilihan terakhir saat aku lelah nanti. Sementara ini, yang bisa kulakukan adalah pergi sepagi mungkin, dan pulang selarut-larutnya.


"Lama-lama kamu bisa kolaps, Sya," gerutu Michael, saat kami menikmati makan siang bersama saat jam istirahat kantor.


Aku menatapnya. Tersenyum lebar. Berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang sama. Aku sebenarnya juga khawatir terhadap daya tahan tubuhku sendiri.


"Sebelum kolaps, aku akan cari indekos," ujarku, manis.


Dihelanya napas panjang. Kali ini, tatapan tak puasnya menghunjamku.


"Tak perlu cari indekos," tegasnya. "Menikahlah denganku. Jadilah ratu di rumahmu sendiri. Di rumah kita."


Oh, aku baru tahu kalau Michael sudah lulus pelajaran menggombal. Ia mengerutkan kening melihat aku tergelak. Kugelengkan kepala.


"Memangnya menikah semudah merebus air?" tukasku.


Ia menggeleng beberapa kali. Aku masih tetap terkekeh geli.


"Kamu sendiri yang membuatnya rumit." Gerutuannya terus berlanjut. "Bahagia itu nggak jauh, Sya. Ada di dalam hati. Dan, aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian mengais kebahagiaan itu. Kita cari bersama-sama."


Kali ini, aku tercenung mendengar ucapan serius Michael.


* * *


(Keping Hati Wuri)


"Michael mengajakku menikah, Bu."


Bisikan itu bagai suara petir menghantam telingaku. Kutatap Marsya. Dia balik menatapku. Serius.


"Dan, kamu setuju, kan?"


Pertanyaanku bagaikan retorika yang menguap begitu saja di udara. Tanpa Marsya menanggapinya secara verbal pun, aku sudah tahu jawabannya.


Michael sudah lama jadi temannya. Sejak SMP. Ibunya pun aku kenal baik karena kami tinggal berdekatan, dan sering terlibat dalam kegiatan ibu-ibu gereja yang sama. Pemuda tampan nan sopan itu sama seperti Marsya. Sama-sama anak tunggal yang sudah yatim. Bedanya, ayah Michael meninggal saat Michael masih TK. Serangan jantung. Sedangkan ayah Marsya.... Ah!


Kembali kutatap Marsya. Dia terlihat menengok ke kiri dan kanan.


"Bude ke mana?" tanyanya tiba-tiba, setengah berbisik.


"Lagi keluar. Nagih utang kredit baju di sekitar rumahnya dulu."


"Sampai malam begini?" Marsya mengerutkan kening.


"Sudah bilang mau menginap kalau kemalaman."


"Oh...." Tatapannya tampak lega.


"Jadi, bagaimana soal Michael?" usikku.


Marsya terdiam. Hanya menatapku. Lama.


* * *


(Keping Hati Kintan)


Oh, jadi Michael itu....


Aku sudah lama mencium kedekatan Marsya dengan Michael. Pemuda yang kulihat cukup santun dari keluarga baik-baik. Tapi, bukankah Projo dulu juga begitu? Lihat apa yang sudah dilakukannya kepada Wuri! Kepadaku!


Dan, Michael itu.... Aku harus mencari kejelasan!


* * *


Kubiarkan dia meraung dan menatapku dengan kemarahan meluap. Kuterima juga tatapan Wuri yang menghakimiku.


‘Mbak tak berhak melakukan itu!’


Jelas-jelas kutangkap pesan yang tersirat dalam tatapan tajamnya.


"Bude jahat! Bude menghancurkan hidupku!" teriak Marsya lagi.


Wuri memeluknya erat-erat. Aku balik menatapnya tajam-tajam. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Wuri berani menentang mataku.


"Seharusnya Mbak bicara dulu denganku sebelum mengusik hubungan Marsya dan Michael," ucapnya, dengan nada menahan marah.


Oh! Apa haknya mengatakan seperti itu? Bukankah Marsya anakku? Aku hanya ingin memastikan pilihan Marsya tidak salah seperti Wuri dulu.


Aku masih ingat betul bagaimana ekspresi Michael ketika aku mengungkapkan semua hal tentang Marsya padanya. Bagiku, hanya laki-laki yang tepatlah yang bisa menerima Marsya dengan seutuhnya. Bukan laki-laki abal-abal bermental bejat seperti Projo dulu.


"Saya.... minta waktu... untuk berpikir," ucap pemuda itu. Terbata-bata. "Saya...."


Cukup! Keraguan itu.... Dia tidak layak untuk Marsya. Marsya-ku!


* * *

 

(Keping Hati Marsya)


Hancur sudah! Hidupku hancur! Hancur!


Aku benar-benar tidak tahu apakah perempuan tua bernama Kintan Winarni itu benar budeku, kakak Ibu, jelmaan nenek sihir, malaikat kematian, ataukah iblis yang sedang menyamar. Bagaimana tidak? Sudah dihancurkannya kehidupanku sedemikian rupa.


Saat aku sedang memikirkan untuk menerima lamaran tak resmi Michael, saat itu juga harus kuterima kemarahan Michael. Kemarahan yang benar-benar tak kumengerti ujung pangkalnya. Kemarahan yang surut seketika saat aku kukuh mengatakan tidak tahu. Dan, berakhir dengan kegelapan.


"Kenapa selama ini kamu tak berterus terang kepadaku?"


Aku kaget melihat lumuran perasaan kecewa bercampur amarah dalam mata Michael. Ia tak berteriak. Lebih tepatnya mengerang. Erangan yang utuh menyiratkan kesakitan. Ada apa ini?


"Terus terang soal apa?"


"Soal sejarahmu, ibumu, ayahmu!"


Aku ternganga. Ada apa dengan sejarahku, ibuku, dan ayahku? Ia balas menatapku. Tajam.


"Marsya, aku mencintaimu. Sangat! Tapi bukan dalam suasana kebohongan seperti ini!"


"Bohong?" sambarku, setengah menjerit. "Bohong tentang apa?"


"Semuanya! Semuanya!" Volume suaranya mulai naik.


"Semuanya apa? Kami ini ngomong apa, sih?!"


Sedetik, ia tertegun.


"Jadi, kamu belum tahu?"


"Tahu apa?!"


"Bude Kin itu...."


Dan, suara lirih Michael selanjutnya seperti guntur yang meledak di telingaku. Kemudian, semuanya gelap.


* * *


(Keping Hati Wuri)


Seharusnya, SEHARUSNYA, SE-HA-RUS-NYA, aku tak perlu mengikuti impulsku untuk mengajak Mbak Kin tinggal bersamaku dan Marsya. Dua puluh lima tahun lebih aku membungkus Marsya rapat-rapat dengan kasihku. Menjauhkannya dari semua kemelut hidup yang pernah kualami. Berusaha melupakan kenapa dia hadir. Kenapa dia bisa berada di tanganku.


Awal dari semuanya adalah kesalahanku. Mutlak. Baik kedua orang tuaku maupun Mbak Kin sudah mengingatkanku. Tapi aku menutup rapat-rapat mata dan telingaku. Bahkan menganggap peringatan Mbak Kin hanya cetusan perasaan iri karena hingga aku menerima lamaran Projo, Mbak Kin belum juga menemukan jodohnya.


Aku bisa menikah dengan Projo karena aku berlagak hamil duluan. Sesuatu yang membuat keluargaku gempar dan mengambil keputusan cepat. Akhirnya pernikahanku dan Projo bisa terwujud.


Sayangnya, kebahagiaan itu tak lama. Projo tak pernah betah bekerja di satu tempat.  Belum juga kami memperingati ulang tahun pertama pernikahan kami, Projo sudah berganti tempat kerja sebanyak tiga kali. Awal tahun kedua, ia bahkan menganggur dan tak mau berusaha untuk mencari pekerjaan baru.


Kami hidup dari hasil usahaku mengkreditkan baju dan berbagai alat rumah tangga. Usahaku cukup lancar, tapi tidak perkawinanku. Projo ternyata makin 'ringan tangan' dan menderaku dengan berbagai ucapan tak pantas. Bahkan, ia menyiksaku secara seksual. Aku mulai hancur, dan Mbak Kin tahu.


Dia datang ke rumahku. Bermaksud melabrak Projo. Saat itu aku sedang tak ada di rumah. Sedang keliling mengumpulkan tagihan kredit. Mbak Kin-ku yang perkasa tetaplah bukan tandingan Projo yang kalap karena dibombardir omelan.


Labrakan itu berakhir dengan diperkosanya Mbak Kin oleh Projo, dan dikepruknya kepala Projo oleh Mbak Kin dengan pengganjal pintu yang berupa batu asah besar, keras, dan masif. Sekuat tenaga yang tersisa Mbak Kin melalukannya. Projo tewas di rumah sakit, sedangkan Mbak Kin digelandang ke kantor polisi.


Cuma itu? Tentu saja tidak. Ternyata perbuatan Projo meninggalkan jejak dalam rahim Mbak Kin. Di tengah upaya banding atas hukuman lima tahun penjara yang didapatnya di Pengadilan Negeri, Marsya lahir. Aku segera mengambil dan merawatnya. Ibunya memang pembunuh suamiku, tapi bayi mungil itu sama sekali tidak berdosa. Apalagi aku tahu betul bahwa Mbak Kin hanya membela diri. Dan, dari pernikahanku dengan Projo, aku belum memiliki keturunan.


Hukum tidak menutup mata dan telinga kali ini. Pengadilan Tinggi membebaskan Mbak Kin, dan Mahkamah Agung menguatkan keputusan itu. Mbak Kin bebas murni setelah berjuang hampir tiga tahun lamanya. Dan, Marsya? Tetap di bawah pengasuhanku. Mbak Kin masih perlu waktu untuk menata hati dan diri. Sudah dipastikan kariernya sebagai CPNS hancur setelah peristiwa itu. Dia kemudian mengikuti jejakku. Membangun kehidupan baru sebagai tukang kredit aneka busana dan peralatan rumah tangga.


Aku mengampuninya. Seutuhnya. Seperti dia juga mengampuniku. Andilku juga cukup besar, bukan? Seandainya aku cukup cerdas untuk melepaskan diri dari Projo sebelum pernikahan itu berlangsung....


Dan kini, nasi sudah menjadi bubur. Marsya terguncang? Sangat. Apalagi ia mendengar semua itu justru dari Michael.


"Maafkan saya, Bu. Maafkan saya."


Begitu ucapnya berkali-kali. Kutatap pemuda itu. Yang hampir tak pernah beranjak dari sisi Marsya sebelum berangkat dan seusai bekerja. Ada penyesalan begitu besar dalam matanya. Aku juga menemukan cinta berkelip dalam matanya saat menatap dan mengajak bicara Marsya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit di bawah pengaruh obat penenang.


Ya, aku percaya padanya. Pemuda ini tidak seperti Projo. Lagipula, ibunya pun bisa memahami sejarah itu seutuhnya. Dia sama sekali tak keberatan putra tunggalnya nanti menikahi putri tunggalku. Putri tunggal kami, lebih tepatnya. Mbak Kin dan aku.


* * *

 

(Keping Hati Kintan)


Terlambat untuk menyadari bahwa aku sudah benar-benar kehilangan logika. Lihatlah betapa egoisnya aku! Hanya karena ingin agar  Marsya tidak salah memilih, aku justru menjebloskannya dalam guncangan yang teramat besar. Seharusnya.... Seandainya....


Ah, apakah masih penting memikirkan hal itu? Semua seandainya dan seharusnya yang sudah terlanggar mentah-mentah? Aku hanya bisa terhenyak. Menatap pemuda yang duduk dengan sikap sangat takzim di hadapanku.


"Saya mohon restu Bude untuk menikahi Marsya," ucapnya, lirih tapi tegas.


Kuteliti setiap lorong yang berliku dalam matanya, tapi tak kutemukan setitik pun kebohongan. Hanya ada kesungguhan. Aku menghela napas panjang.


"Kamu mengasihaninya, karena nasib Marsya seperti itu?"


Suaraku terkesan mengadilinya. Tapi pemuda ini tetap terlihat tenang. Dengan berani, ia menentang tatapan mataku.


"Saya mengasihinya, Bude, sama sekali bukan mengasihaninya," ucapnya lagi. Tetap terdengar tegas dan penuh tekanan di telingaku. "Selamanya akan tetap seperti itu. Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, akan mencintai, menghargai, menghormati, dan membahagiakannya seumur hidup."


Terdengar seperti sederet gombalan, tapi hatiku berkata lain. Kutatap baik-baik pemuda bernama Michael ini.


Dia Michael, bukan Projo. Dia pemuda baik-baik, bukan banjingan seperti Projo. Rasa-rasanya aku akan dengan senang hati melepaskan Marsya untuk dijaga olehnya. Tapi, aku harus memastikan lebih dulu.


"Ingat, akan terjadi apa kalau kamu menyakiti Marsya?"

 

Dia rupanya menangkap senyum dalam suaraku. Ia menyambut senyum itu.


"Silakan Bude mengepruk kepala saya sampai pecah."


Mau tak mau aku tertawa. Walaupun kalimat itu terasa mencubitku, aku tetap menemukan sisi lain. Sisi humor yang sangat menyegarkan.

 

Aku mengalihkan tatapan. Dari sofa di sudut ruang perawatan Marsya, kulihat Marsya sedang disuapi oleh Wuri. Sekejap ada yang terasa menyesakkan hati. Dia anakku. Anak kandungku. Tapi bagi hatinya, Wuri-lah ibu yang sesungguhnya.


Sedetik, tatapannya jatuh kepadaku. Dia menghentikan sejenak kunyahannya, dan melemparkan senyum kepadaku. Senyum manis yang terlihat begitu tulus.


Seluruh kekerasanku padanya sudah terbilas habis. Tak mudah baginya untuk menerimaku dengan segala kesalahan yang telah kuperbuat. Michael membuat segalanya jadi lebih mudah. Dengan kesabarannya yang sungguh luar biasa, dia berhasil membuat Marsya paham.


Anakku sudah memaafkan dan mengampuniku. Lebih dari itu, ia juga bersedia menerimaku seutuhnya sebagai bagian dari hidupnya.


Dan, aku? Kalau Michael bisa berjanji untuk membahagiakan Marsya selamanya, kenapa aku tidak berjanji saja untuk berhenti mencerewetinya setelah ini?


Aku tersenyum simpul mengingat ancaman Wuri padaku semalam


"Kalau Mbak berisik melulu soal Marsya, di dapur ada batu asah besar. Bisa mampir ke kepala Mbak kalau aku nekat."


Dia mengucapkannya sambil tertawa. Tapi aku tahu, matanya bersinar serius. Oh! Tentu saja aku ngeri membayangkannya! Dan, aku memilih untuk mulai belajar memanjangkan logika dan mengunci mulutku.


* * * * *

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)