[Cerpen] Pelet

[Cerpen] Pelet

 

Sudah bulat tekad Tarno Paijo untuk secepatnya mendapatkan pendamping hidup. Selama ini ia sudah berusaha mati-matian untuk menggapai mimpinya berumah tangga. Mulai dari perawan tingting sampai ibu-ibu ranum bersuami ia coba dekati. Berhasil? Lha, kalau berhasil, masa sampai detik ini ia masih jomlo dengan hasrat meluap?

 

Bisa dimaklumilah kalau usahanya mentok di jurusan gagal. Ukuran ganteng itu sebenarnya relatif. Walaupun nggak ganteng-ganteng amat seperti Tarno Paijo, kalau bisa nyambung saat diajak omong, minimal seoranglah ada yang kecantol. Sayangnya.... Ah, sudahlah!

 

Ketika cara normal selalu gagal, maka terbitlah pikiran untuk mencoba cara 'abnormal'. Dari bisik-bisik tetangga, ia mendapatkan sebuah nama. Mbah Sangkil. Kata tetangganya yang memberikan informasi itu, pelet Mbah Sangkil ini cukup sakti. Sekali tebar jerat, mangsa pun masuk. Soal mahar, cincai-lah.... Bahkan mahar itu bisa diutang. Khasiat pelet baru akan muncul nanti setelah utang dilunasi. Hebat, kan?

 

* * *

 

Dengan tak sabar, Tarno Paijo akhirnya berangkat ke padepokan Mbah Sangkil dengan mengendarai motor sport berisiknya. Tidak berisik bagaimana, wong knalpotnya sudah diganti dengan yang tanpa silencer? Sebelumnya, ia sudah janjian dengan Mbah Sangkil melalui WA. Ia menghela napas lega ketika masuk ke halaman padepokan Mbah Sangkil.

 

Seorang murid Mbah Sangkil menyambutnya dengan ramah, dan menggiringnya masuk ke ruang kerja. Sejenak, Tarno Paijo ternganga melihat isi ruangan itu. Bayangan di benaknya tentang sebuah ruang remang-remang beraroma kemenyan dan penuh barang bertuah buyar seketika. Alih-alih bernuansa mistis, ruang kerja Mbah Sangkil ternyata cukup moderen dan terkesan mewah. Sama sekali tidak mengesankan ruang praktek seorang dukun sakti. Lebih mirip ruang kerja seorang direktur perusahaan.

 

Ada televisi LCD (atau LED?) berukuran tak kurang dari 50 inci menempel di salah satu dinding. Belum lagi perabot yang terkesan mewah. Seperangkat sofa kulit, entah asli entah imitasi, tampak elegan membentuk formasi rapi di tengah ruangan. Belum lagi rak besar dan tinggi yang menempel di salah satu dinding. Penuh dengan aneka buku, yang entah pernah dibaca entah tidak. Juga aneka lukisan surealis yang terbingkai secara artistik dan menghiasi dinding. Plus, meja kerja besar yang terlihat megah dari kayu berukir dipelitur warna coklat gelap dengan kursi model direktur yang terkesan sangat empuk, ergonomis, dan nyaman.

 

Mbah Sangkil sendiri tak kalah funky penampilannya. Alih-alih berbusana bercita rasa tradisional, laki-laki kelimis berusia pertengahan lima puluhan itu justru tampak seperti eksekutif perusahaan ternama. Penampilannya sangat rapi dengan setelan jas warna hijau lumut terseterika licin melekat di tubuhnya. Cukup tampan dengan wajah tampak sangat terawat. Rambutnya pun dipotong pendek rapi bermodel trendi. Sangat jauh dari kesan seorang mbah dukun yang kumuh dan lusuh.

 

Tak perlu jadi cenayang untuk menebak tujuan Tarno Paijo datang ke padepokan itu. Penampilan Tarno Paijo sudah menyiratkan segalanya. Euh.... Tidak begitu juga, sih. Bukankah mereka sudah janjian melalui WA waktu tepatnya, termasuk tujuan Tarno Paijo datang ke sini?

 

Tanpa banyak kata, Mbah Sangkil menyuruh Tarno Paijo duduk di sofa. Ia kemudian mengambil sesuatu di atas meja kerjanya. Sebuah stoples kaca mungil berisi campuran sesuatu berwarna merah dan kehitaman. Disodorkannya stoples itu kepada Tarno Paijo.

 

"Ini, sudah kusiapkan, Mas Tarno," ucap Mbah Sangkil dengan suara empuknya yang mirip penyiar radio. "Hadiahkan ini pada perempuan yang menarik hatimu. Dijamin manjur."

 

Dengan wajah berseri-seri, Tarno menerima stoples itu dari tangan Mbah Sangkil. Tapi, sedetik kemudian keningnya berkerut.

 

Heleh.... Lha, kok, cuma murbei??? pikirnya, sedikit meremehkan.

 

"Jangan ragukan khasiatnya!"

 

Suara keras Mbah Sangkil benar-benar mengagetkan Tarno Paijo. Stoples itu hampir saja meluncur jatuh dari tangannya.

 

"Murbei itu sudah ku-'isi' sesuai dengan kebutuhanmu. Dijamin manjur."

 

"Pantangannya, Mbah?"

 

"Nggak ada pantangan." Mbah Sangkil menggoyangkan tangannya. "Tapi satu pesanku, jangan sampai murbei itu dimakan orang yang tidak tepat. Bisa kacau hidupmu."

 

Tarno Paijo manggut-manggut. Hanya sekadarnya saja. Karena selama ini, kan, sumber tidak nyambung-nya obrolan dengan orang lain, karena ia tak pernah mau mendengarkan orang lain. Ia cuma fokus terhadap dirinya sendiri. Bagaimana tidak missed dari segala arah jadinya?

 

"Jadi, maharnya berapa, Mbah?"

 

Mbah Sangkil mengulum senyum. Tatapannya beralih ke luar jendela ruang kerjanya. Jatuh ke area parkir. Sedetik kemudian ia pun menyebutkan mahar yang ia inginkan. Membuat Tarno Paijo ternganga selebar-lebarnya.

 

* * *

 

Sambil mengomel panjang pendek, Tarno Paijo mengayuh sepeda kebo antik itu, pulang ke rumah. Sepeda itu sama sekali tak nyaman untuk ditunggangi. Mungkin karena sudah lama sekali tak dipakai. Seluruh badan sepeda berderit saat Tarno Paijo mengayuhnya. Seolah protes karena sudah 'diperkosa' sedemikian rupa.

 

Lho, ke mana motornya?

 

Ingat soal mahar tadi? Nah, motor berisik itulah mahar yang diminta oleh Mbah Sangkil. Tarno Paijo berusaha bernegosiasi, tapi Mbah Sangkil bersikukuh dengan pilihannya. Daripada peletnya tidak manjur, maka Tarno Paijo pun mengalah. Direlakannya motor kesayangannya untuk dimiliki Mbah Sangkil

 

"Lha, ini saya pulangnya gimana, Mbah?" tanya Tarno Paijo dengan nada memelas.

 

Dengan enteng, Mbah Sangkil menunjuk sebuah sepeda yang terparkir di pendopo.

 

"Pakai saja itu," Mbah Sangkil mengulum senyum. Kapan lagi bisa mengerjai orang se-culun Tarno Paijo?

 

Jadi, begitulah.

 

Sampai ngos-ngosan Tarno Paijo mengayuh sepeda itu. Tapi semangatnya tetap membara. Keinginan untuk segera memperoleh tambatan hati sudah tak terbendung lagi. Sambil terus ngonthel, Paijo berpikir-pikir siapa kiranya perempuan yang akan ia jatuhi cinta.

 

Apakah Rini yang semlohai? Apakah Kris yang nasi goreng gongsonya juara? Apakah Luciele yang juragan minyak sakti itu? Apakah Rosa yang tomboi dan humoris? Apakah Anneke yang body-nya setipis wayang kulit? Apakah Pinasti yang judes tapi baik hati? Apakah Demi yang tenang-tenang menghanyutkan? Apakah Sari yang montok abis? Apakah Agus yang suka 'mesum', eeeh... musim buah-buahan? Lho! Agus, kan, laki-laki! Hadoooh....

 

Semua wajah yang bertaburan dalam benak Tarno Paijo itu membuatnya hilang konsentrasi. Fokusnya buyar berantakan. Ia tak lagi ingat bahwa jalan menuju ke rumahnya saat ini sedang rusak berat. Batu aneka bentuk dan ukuran bertebaran di mana-mana.

 

Akibatnya, roda sepedanya terantuk sebuah batu yang ukurannya lumayan besar. Seketika sepeda yang dikendarai Tarno Paijo oleng. Ia tak lagi bisa menguasai kendaraan sederhananya itu.

 

BRUK! PYAR!

 

Jatuhnya ia bersama sepedanya menimbulkan pula akibat lain. Stoples berisi murbei sakti yang dimasukkannya ke dalam kantung kresek dan digantungan pada setang sepeda pecah berantakan. Isinya berhamburan.

 

Tarno Paijo sempat tertegun sebelum berteriak panik ketika mendadak saja muncul seekor induk ayam bersama tiga belas ekor anaknya. Ayam besar dan ayam-ayam kecil itu segera sibuk mematuki buah murbei segar yang berhamburan di pinggir jalan. Tarno Paijo benar-benar tak kuasa mencegahnya. Ia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa murbei-murbei itu sudah tandas dalam hitungan detik.

 

Sebelum Tarno Paijo sadar seutuhnya tentang apa yang menimpanya, tiba-tiba....

 

'Kangmas....'

 

Dalam hening, suara cempreng itu begitu saja menyelinap di benaknya.

 

'Kangmas Tarno Paijo, aku Bonsye, ibu dari anak-anak manis ini. Aku padamu, Kangmas. Aku padamu....'

 

Dengan ngeri, Tarno Paijo menatap induk ayam montok berwarna coklat gelap yang melakukan telepati kepadanya itu. Bonsye menengadah. Menatapnya dengan mata terlihat gemerlap. Paruh kuningnya yang asli tanpa dipoles gincu tampak sedikit terbuka.

 

'Kangmas....'

 

Tarno Paijo tergeragap. Ia buru-buru berdiri, hendak kabur secepatnya dari tempat itu. Malangnya, roda sepeda kebonya ternyata penyok. Begitu pula pedalnya. Rusak parah

 

Asamalakataaak..., erangnya dalam hati.

 

Sekali lagi ia menatap Bonsye. Induk ayam itu tampak sudah siap berlari ke arahnya. Dengan ketakutan, Tarno Paijo kemudian berlari ngibrit pulang ke rumahnya. Tapi, alih-alih meninggalkan sepeda rusaknya, ia justru memanggul sepeda itu. Membuat langkah kakinya makin terseok. Apalagi kedua lututnya sedikit berdarah karena tadi sempat 'mencium' tanah berbatu.

 

Sementara itu, Bonsye berlari di belakangnya. Mengikutinya dengan semangat 'empat lima'. Di belakang Bonsye, anak-anaknya berlomba membuntuti. Membuat Tarno Paijo makin terbirit-birit. Tak sempat lagi menyesali peletnya yang gagal.

 

Eh, gagal? Sukses, 'kaleee! Buktinya....

 

* * * * *

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)