[Cerpen] Chiara-Ben

Jadi itu masalahnya? Bekalnya bukan tidak enak, tapi jelek bentuknya.

[Cerpen] Chiara-Ben

 

“Lagi-lagi bekalnya cuma dimakan sedikit, Pak.”

 

Aswin hanya bisa menghela napas panjang mendengar laporan itu. Ditatapnya Nandari dengan putus asa.

 

“Ada anak lain yang bekalnya kurang, jadi saya berikan padanya dengan seijin Chiara (baca : Ki-a-ra)," lanjut Nandari.

 

Sejenak kemudian Aswin mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Ia mengalihkan tatapan pada sosok malaikat kecilnya.

 

“Chiara!” panggilnya sambil melambaikan tangan.

 

Gadis kecil berpipi bulat kemerahan yang tengah duduk menunggu di ayunan itu kemudian bangkit dan berlari kecil mendekat.

 

“Iya, Papa,” sahutnya manis.

 

“Kasih salam dulu sama Bu Guru, Nak..” Aswin mengelus lembut kepala putri semata wayangnya itu. “Pamit, ya? Kita pulang.”

 

Dengan patuh Chiara menuruti ucapan Aswin. Digapainya tangan kanan Nandari, kemudian ditempelkannya pada pipi kanan sekejap sambil menggumam, “Chiara pulang dulu, Bu.”

 

Nandari kemudian melepas kepergian Chiara dan Aswin. Aswin menggandeng erat tangan Chiara. Gadis kecil itu melangkah sambil melompat-lompat ringan di samping Aswin.

 

“Tadi kenapa bekalnya nggak dihabisin, Chiara?” tanya Aswin sabar, sambil mulai melajukan mobil.

 

“Ng...”

 

Aswin menggeleng pelan. “Nasi goreng buatan Papa nggak enak, ya?”

 

“Enak.”

 

“Lalu kenapa cuma dimakan sedikit?”

 

“Chia kenyang, Pa.”

 

Aswin menghela napas panjang. Tak puas.

 

* * *

 

Kenyang?

 

Aswin menatap takjub ketika dengan sangat lahap Chiara menyantap nasi, sayur bening bayam-jagung manis, potongan tempe bacem, dan suwiran ayam goreng di piring. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, seolah merasa terusik.

 

“Enak?” senyum Aswin.

 

Chiara mengangguk tanpa ragu.

 

“Katanya tadi kenyang?”

 

Chiara hanya meringis lucu. Membuat hati Aswin teraduk karenanya.

 

Aswin bukan tak menyadari sejak kapan Chiara jadi jarang menghabiskan bekalnya. Gadis mungil yang masih duduk di bangku TK nol kecil itu bukanlah anak yang susah diatur. Bukan pula anak yang suka memilih-milih makanan.

 

Tapi sejak Mia tak ada lagi....

 

Chiara tak berubah jadi anak yang bandel. Sama sekali tidak. Ia tetaplah Chiara yang selalu manis. Hanya saja hampir tak pernah lagi menghabiskan bekal yang dibawanya ke sekolah. Padahal ia sendiri yang menentukan menu untuk bekalnya keesokan hari.

 

“Besok aku mau bawa nasi goreng udang, Papa.”

 

Maka Aswin pun menuruti permintaan itu. Membuat nasi goreng udang lengkap dengan campuran kacang polong, ditambah irisan telur dadar dan suwiran ayam goreng, didampingi potongan tomat dan mentimun. Sama persis dengan buatan Mia. Bahkan Chiara sendiri selalu mengklaim bahwa ‘nasi goreng Papa lebih enak’.

 

Atau....

 

“Besok buatkan sup untuk bekalku, ya, Pa?”

 

Maka Aswin akan meracik sup sayur yang lezat dengan tambahan potongan sosis atau bakso, dengan pendamping beberapa buah perkedel kentang serupa kelereng.

 

Atau....

 

“Nugget teriyaki, Papa.”

 

Maka keesokan harinya akan tersedia chicken nugget stick dengan siraman saus teriyaki, disertai french fries dan salad.

 

Atau... masih banyak lagi.

 

Tapi selalu saja makanan dalam porsi mungil itu tak dihabiskan oleh Chiara di sekolah. Tak pernah dibuang juga karena bila makanan itu tak diberikan kepada temannya, maka Chiara selalu berusaha untuk memakan habis bekal itu di dalam mobil sambil meluncur pulang.

 

Kenapa kamu, Nak?

 

Ditatapnya sang putri kecil dengan mata menghangat.

 

“Tambah lagi, Papa.”

 

Suara kecil itu menyentakkan Aswin. Chiara tengah menatapnya dengan mata berkilau penuh harap.

 

“Boleh?”

 

“Boleh! Boleh!” Aswin segera menyibukkan diri mengambilkan nasi, sayur, dan lauk lagi untuk Chiara.

 

Diam-diam, dikerjapkannya mata yang membasah.

 

* * *

 

Ada yang terasa sakit dalam hati Aswin ketika melihat Chiara tertidur pulas di atas sofa di dalam kantornya seperti ini. Hening melingkupi. Hanya ada suara musik klasik yang mengalun lembut di seantero ruangan itu.

 

Seharusnya Chiara tidur siang di dalam kamarnya sendiri. Di rumah. Tapi Chiara selalu memilih untuk ikut Aswin kembali ke kantor di bagian belakang bengkel dan toko spare part mobil setelah pulang sekolah dan makan siang. Tempat usaha milik Aswin itu letaknya hanya beradu punggung dengan rumah mereka.

 

Sudah tak ada lagi Mia yang biasa menemani Chiara di rumah. Memasakkan makanan kesukaannya. Menemaninya bermain. Membacakan cerita sebelum tidur. Atau memeluknya. Semuanya kini harus dilakukan sendiri oleh Aswin.

 

Terkadang tak bisa sepenuhnya. Seperti siang ini. Chiara sudah tertidur sebelum Aswin sempat menjeda pekerjaan dan membacakan cerita untuknya. Memang ada Bik Uli di rumah. Tapi tetap saja Mia tak akan tergantikan selamanya. Bahkan sepertinya Aswin pun sulit untuk merangkap peran Mia dalam kehidupan Chiara.

 

Aswin memang berusaha sebisa mungkin menyiapkan semua kebutuhan Chiara dengan tangannya sendiri. Termasuk setiap suap makanan yang harus masuk ke mulut Chiara. Berusaha untuk bersyukur bahwa ia masih memiliki keleluasaan untuk mengurus Chiara tanpa terikat jam kantor.

 

Chiara sendiri tak pernah rewel menghadapi kehidupan yang tentu saja berubah hampir total setelah Mia tak ada lagi. Sebuah sikap manis yang justru membuat Aswin nelangsa karena merasa belum bisa memberikan kebahagiaan yang lebih buat Chiara setelah didera kehilangan dan kesedihan itu.

 

Aswin mengerjapkan mata. Agak tersentak ketika Chiara bergerak. Menggeliat kecil dengan mata masih terkatup rapat. Pelan didekatinya Chiara. Dengan halus ia mendaratkan kecupan penuh rasa sayang di kening dan pipi Chiara.

 

* * *

 

Terlambat bagi Nandari untuk mencegah. Kepalan tangan mungil Chiara terlanjur telak mendarat di pipi kiri Olaf. Pemuda kecil itu segera saja berteriak kesakitan sambil mulai menangis di kursinya. Makin lama makin kencang. Chiara berkacak pinggang di depan Olaf dengan gagah.

 

“Ngomong lagi!” pekik Chiara sambil kembali menyiapkan tinjunya.

 

Tangis Olaf bertambah keras, Nandari buru-buru menengahi keduanya.

 

“Chiara, sudah,” ucap Nandari. Lembut tapi tegas. “Duduk, ya, Nak? Duduk.”

 

Dengan patuh Chiara menuruti ucapan gurunya itu. Ia duduk kembali di kursi sambil menatap sebal ke arah Olaf.

 

Nandari berani bertaruh berapa pun, bahwa sama sekali bukan Chiara yang memulai pertikaian. Chiara adalah salah satu dari sekian banyak anak manis di TK itu. Sebaliknya, Olaf adalah salah satu dari segelintir biang kerok yang sudah terkenal kebengalannya. Besar badannya nyaris dua kali ukuran rata-rata anak-anak mungil itu.

 

Selama ini belum pernah ada yang berani melawan Olaf. Pihak sekolah sendiri sudah beberapa kali memanggil orang tua Olaf. Tapi hingga saat ini hampir tak ada perubahan yang terjadi. Dan baru kali ini, si mungil Chiara berani mendaratkan kepalannya di pipi Olaf dengan tenaga penuh.

 

“Tadi, Olaf apakan Chiara?” tanya Nandari sabar.

 

Olaf masih terisak. Tapi dijawabnya juga pertanyaan Nandari. Dengan terbata-bata.

 

“Olaf... cuma bilang... makanan Chiara... sekarang jelek. Mamanya... sudah mati....”

 

Seketika Nandari menghela napas panjang. Pantas sekali kalau Chiara sampai sakit hati sedemikian rupa. Pantas juga kalau Olaf harus menerima hantaman telak itu di pipinya. Tapi ia tetap harus bersikap adil.

 

“Olaf, dengar Ibu.” Mata Nandari lekat menatap mata Olaf yang masih merah berair. “Chiara sedih sekali mamanya meninggal. Bukan mati, ya, Olaf? Itu tidak sopan namanya. Jadi Olaf tidak boleh lagi mengejek Chiara, atau siapa pun. Coba kalau Olaf yang diejek, sedih, bukan? Dipukul seperti tadi, sakit juga, bukan?”

 

Olaf tertunduk. Nandari kemudian memanggil Chiara. Gadis kecil itu mendatangi Nandari dan Olaf tanpa ekspresi takut. Justru Olaf yang kini terlihat ketakutan ketika Chiara mendekat. Dengan lembut, Nandari meminta Chiara duduk di sebelah Olaf.

 

“Chiara bawa bekal apa hari ini?” tanya Nandari halus.

 

“Ng.... Nasi, udang goreng, saus, setup sayur.”

 

“Enak?” senyum Nandari.

 

Chiara mengangguk.

 

“Kenapa tidak dihabiskan?”

 

“Kenyang, Bu.”

 

“Tadi sarapan apa?”

 

“Roti keju, sama minum susu coklat.”

 

Nandari manggut-manggut. Tatapannya kini beralih pada Olaf.

 

“Olaf bawa bekal apa?”

 

Olaf tak menjawab. Hanya menyodorkan kotak makannya. Isinya aneka kudapan buatan pabrik dalam bungkus mini. Dan, Nandari segera menangkap tatapan penuh minat Olaf terhadap isi kotak makan Chiara.

 

“Olaf tadi sarapan apa?”

 

“Cuma minum susu. Mama kesiangan bangun.”

 

“Olaf sekarang lapar?”

 

Olaf mengangguk tanpa malu-malu. Tatapan Nandari kembali beralih pada Chiara.

 

“Chiara, besok-besok jangan pukul temannya lagi, ya? Kalau ada yang ganggu Chiara, bilang saja sama Ibu."

 

Chiara mengangguk patuh. Nandari tersenyum karenanya.

 

"Sekarang, boleh tidak, bagi makanannya buat Olaf?”

 

Tatapan Chiara tampak ragu. Nandari masih mendapati ada sisa rasa sebal dalam mata Chiara.

 

“Olaf minta maaf dulu!” ketus Chiara kemudian. “Jangan nakal lagi! Jangan ejek-ejek lagi!”

 

Sebelum Nandari sempat membuka mulut, Olaf sudah mengulurkan tangannya pada Chiara.

 

“Maafin, ya, Chiara....”

 

“He eh.” Chiara langsung menyambut uluran tangan itu. “Sama-sama. Bekal Chia memang jelek, tapi enak. Kalau Olaf nggak nakal, Chia bagi bekal Chia.”

 

Olaf mengangguk. Ia kemudian menyodorkan kotak bekalnya pada Chiara. “Ini buat Chiara.”

 

Selanjutnya Nandari bisa bernapas lega karena masalah anak-anak itu sudah selesai.

 

Selesai?

 

Nandari menggeleng samar. Kemungkinan besar belum.

 

* * *

 

Pelan-pelan Sofia berusaha memahami penjelasan Nandari dengan kepala dingin. Diakui atau tidak, Olaf memang memiliki tenaga ‘lebih’ bila dibandingkan dengan anak seusianya. Sejujurnya, ia juga tak begitu saja bisa menerima bahwa ada yang membuat sebelah pipi Olaf jadi lebam biru sedemikian rupa. Tapi ia akhirnya memahami bahwa memang Olaf-lah yang menjadi biang keladinya.

 

“Olaf butuh perhatian lebih, Bu,” ucap Nandari sehalus mungkin. “Apalagi selama ini dia belum memiliki teman, karena bagi sebagian besar temannya, dia itu nakal.”

 

Sofia menatap ke kejauhan. Tampak Olaf tengah mengayun dengan hati-hati seorang gadis kecil berpipi bulat dengan rambutnya diikat ekor kuda yang sudah tak keruan lagi bentuknya. Nandari mengikuti arah tatapan Sofia.

 

“Mereka justru berteman sekarang,” senyum Nandari.

 

Sofia turut tersenyum. “Itu yang namanya Chiara?”

 

Nandari mengangguk. “Ibunya belum genap seratus hari berpulang.”

 

“Oh....” Sofia seketika kehilangan kata-kata.

 

* * *

 

Jadi itu masalahnya?

 

Aswin tercenung di depan meja kerja.

 

Bekalnya jelek.

 

Dihelanya napas panjang sambil menyandarkan punggung.

 

Sebelum ini bekal Chiara memang selalu ditata dengan sangat apik oleh Mia. Saat Mia dalam keadaan sakit sekali pun. Aswin yang menyiapkan, Mia yang menata. Bekal yang berpenampilan menggemaskan itu tentu saja mengatrol habis selera makan Chiara. Apalagi kemampuan memasak Aswin, yang berangkat dari hanya sekadar hobi itu, memang di atas rata-rata. Bahkan Mia mengakui bahwa masakan Aswin jauh lebih enak rasanya daripada masakannya sendiri.

 

Sekarang?

 

Mendadak saja tenggorokan Aswin terasa tercekat. Mungkin benar bahwa rasa bekal yang disiapkannya untuk Chiara cukup lezat.

 

Tapi penampilannya?

 

Aswin menggeleng lemah. Hanya sekadar ditempatkan sedemikian rupa di dalam kotak bekal. Begitu saja.

 

Setengah mati Aswin kemudian berusaha mengingat nama model bekal lucu yang dulu pernah diucapkan Mia. Yang ia ingat hanyalah bento. Maka kata itulah yang kemudian ia ketikkan pada layar laptopnya.

 

Ketika ia melanjutkan browsing, yang ia inginkan muncul juga. Ia hampir bersorak gembira ketika menemukannya.

 

Charaben. Atau kyaraben. Bento yang dibentuk menyerupai berbagai karakter.

 

Seketika itu pula ia ingat, bahwa Mia menyimpan peralatan untuk menata bekal Chiara di salah satu sudut lemari dapur.

 

Hampir berlari ia kemudian menuju ke dapur lewat pintu belakang area bengkel yang tembus ke halaman belakang rumah. Ketika menggeratak salah satu lemari gantung, ia menemukan harta karun itu tersimpan rapi dalam sebuah kotak. Cetakan plastik berbagai bentuk, egg mold untuk mencetak telur rebus, nori puncher, alat untuk membuat sosis spiral, pisau kecil, dan pinset.

 

Ini dia!

 

Hampir saja Aswin berjumpalitan saking girangnya.

 

“Cari apa, Pak?”

 

Aswin terjingkat kaget. Bik Uli menatapnya dengan wajah heran. Dalam gendongannya ada Chiara yang masih terbungkus handuk. Terlihat segar setelah mandi sore. Diulurkannya tangan untuk meminta Chiara. Segera saja gadis mungil itu berpindah ke dalam gendongannya.

 

“Tolong, alat-alat itu dicuci bersih, ya, Bik?” Aswin menatap Bik Uli. “Mau aku pakai besok.”

 

Bik Uli hanya mengangguk tanpa kata.

 

* * *

 

Dengan wajah berseri-seri, Olaf membuka kotak bekal yang beberapa detik lalu disodorkan Chiara padanya. Tapi dalam sekejap ia tertegun. Ia menoleh ke arah Chiara yang sudah mulai membuka bungkus kudapan yang tadi ia tukar dengan bekal Chiara.

 

“Wow! Ini bagus, Chia!” Olaf menyodorkan kotak bekal itu pada Chiara.

 

Mata Chiara terbelalak seketika.

 

Tak ada lagi hamparan nasi putih dan lauk yang berserakan. Yang ada dua panda imut yang berbaring dengan wajah menggoda di atas alas selada hijau, dengan bebungaan terbuat dari sosis di sekitarnya. Ada juga dua potong telur rebus berbentuk bintang. Tak lupa empat potong chicken eggroll beserta irisan tomat dan mentimun.

 

Tanpa banyak kata diraihnya kotak makan itu dari tangan Olaf. Chiara segera menikmati bekalnya dan melupakan Olaf. Olaf sendiri diam-diam menarik kotak bekalnya dari depan Chiara dengan raut wajah kecewa. Gerakan itu membuat Chiara menoleh dan menyadari sesuatu.

 

“Olaf,” bisik Chiara. “Nasi pandanya ada dua. Kamu mau satu? Lauknya juga banyak, nih!”

 

Mata Olaf berbinar seketika.

 

Peristiwa itu tak luput dari perhatian Nandari. Ia mengulum senyum karenanya. Dan, sebersit keharuan pun tanpa permisi memasuki hati.

 

* * *

 

Rasanya tak ada kebahagiaan lain yang lebih besar saat Aswin mengetahui bahwa hasil perjuangan pertamanya ludes tak bersisa. Semuanya terbayar lunas ketika Chiara mengacungkan kotak bekalnya yang kosong dan ringan dengan wajah begitu cerah.

 

Tak sia-sia ia memutuskan untuk mempelajari cara membuat charaben hingga hampir tengah malam melalui layar laptop. Mempelajari berbagai bentuk dan bahan seadanya yang sementara waktu bisa ia gunakan untuk membuat charaben. Berpikir sambil membolak-balik berbagai cetakan plastik dan peralatan yang terserak di meja dapur, dan memeriksa isi kulkas.

 

Hm.... Masih banyak telur, ada juga chicken egg roll yang belum digoreng, sosis, selada, tomat, mentimun.

 

Ia juga masih menemukan sisa nori di lemari. Masih bagus. Baru dipakai tiga hari lalu untuk membuat sushi.

 

Tak sia-sia pula ia menyetel alarmnya satu jam lebih awal agar bisa mulai bereksperimen menyiapkan charaben untuk Chiara pagi tadi. Sambil menunggu nasi matang, ia mulai menyiapkan sosis yang sejak semalam sudah ia pindahkan dari freezer ke laci chiller. Cukup mudah membentuk potongan-potongan sosis menjadi (calon) bunga yang akan merekah sempurna setelah digoreng nanti, dengan bantuan sebilah pisau kecil.

 

Setelah itu ia mulai merebus tiga butir telur ayam. Menurut teori, agar telur tidak pecah dan kuning telurnya pas di tengah saat matang nanti, telur harus direbus sejak air di dalam panci masih dingin hingga mendidih, dan terus diaduk pelan-pelan. Itulah yang dilakukannya dengan sabar. Setelah telur matang, ia mengupasnya dengan hati-hati saat telur masih agak panas. Lalu dicetaknya telur kupas itu dengan egg mold, dan direndamnya dalam air dingin selama beberapa menit.

 

Hasilnya? Telur berbentuk kepala kelinci pecah berantakan, yang berbentuk kepala beruang tidak rapi bentuknya, sedangkan yang berbentuk bintang sangat sempurna. Ketika ia membelah telur bintang itu, kuningnya ada tepat di tengah.

 

Aswin tersenyum puas. Selanjutnya ia memotong nori dengan nori puncher. Cukup mudah karena ia pernah melihat Mia menggunakan alat itu. Setelah itu ia mulai menggoreng sosis dan chicken egg roll.

 

Ketika Chiara dimandikan dan didandani Bik Uli, Aswin bergerak cepat menata charaben dalam kotak makan. Beberapa lembar selada keriting dijadikan alas kotak. Dua bentuk oval nasi cetak diletakkannya di atas selada itu. Menggunakan pinset, ia mengambil dan menyusun potongan nori dengan hati-hati di atas nasi. Menjadi telinga, alis, mata, hidung, mulut, leher, tangan, dan kaki. Jadilah dua panda yang terlihat cukup imut. Sekitar panda disesakinya dengan sosis goreng berbentuk bunga yang merekah sempurna. Pada sisi lain kotak, ia meletakkan telur bintang, beberapa potong chicken eggroll, beserta irisan tomat dan mentimun.

 

Pekerjaannya selesai tepat sebelum pintu kamar Chiara terbuka dan gadis kecil itu muncul dalam kondisi segar, rapi, wangi, dan cantik. Diciumnya pipi Chiara sepenuh hati sambil menanyakan olesan apa yang diinginkan Chiara untuk roti jatah sarapannya.

 

Sambil menemani Chiara menikmati sarapan, benak Aswin terus bekerja. Memikirkan charaben apa lagi yang besok-besok bisa ia buatkan untuk Chiara.

 

Lebah kuning? Katak hijau? Nasi goreng Teddy Bear? Hello Kitty ungu? Atau kelinci pink? Hm....

 

Aswin memutuskan untuk menyerahkan semua urusan bengkel sepanjang hari ini pada para karyawannya. Agar ia bisa memuaskan hasrat untuk browsing segala sesuatu yang berkaitan dengan charaben. Sekaligus berbelanja bahan yang ia tidak punya stoknya di kulkas.

 

* * *

 

Aswin ternganga.

 

“Tolonglah, Pak. Anak-anak ingin juga sesekali membawa bekal seperti Chiara.”

 

Sofia masih menatapnya dengan sorot mata penuh harap. Aswin tercenung.

 

Mengajari sekelompok ibu-ibu membuat kyaraben? Yang benar saja!

 

“Saya juga baru belajar, Bu,” elaknya kemudian. “Lagipula banyak contohnya di internet.”

 

“Tapi kurang nendang kalau tidak melihat dan praktek langsung, Pak.” Sofia masih berusaha menggoyahkan iman Aswin.

 

Aswin kembali berpikir. Beberapa hari belakangan ini Chiara memaksanya untuk membuat dua kotak – bahkan lebih – charaben.  Temannya selalu ada yang ingin, begitu alasan Chiara. Apalagi yang bernama Olaf.

 

“Kasihan Olaf, Papa. Mamanya nggak bisa bikin charaben kayak Papa.”

 

Siapa pula yang tega menolak permintaan malaikat kecil seperti itu? Meskipun kerepotannya bertambah, ia penuhi juga permintaan Chiara. Dan, kerepotannya akan bertambah lagi bila harus mengajari beberapa orang ibu untuk membuat charaben.

 

Tapi setelah itu? Aku bebas!

 

“Hm.... Baiklah, Bu,” angguk Aswin kemudian. “Nanti saya catatkan apa saja alat dan bahan yang diperlukan. Ibu koordinir teman-teman yang ingin ikut belajar juga. Kalau sudah siap, Ibu bisa hubungi saya. Nanti kita jadwalkan. Tapi tak bisa mendadak ya, Bu? Saya juga harus mengurus bengkel saya.”

 

Sofia hampir saja bersorak gembira. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan Aswin untuk menghampiri kumpulan ibu-ibu di seberang sana.

 

Bel berbunyi. Tak lama kemudian Aswin melihat Chiara sudah berjalan sambil melompat-lompat menghampirinya. Tentengannya tampak ringan. Aswin menyongsongnya.

 

“Bekalnya habis lagi?” Wajah Aswin tampak penuh harap.

 

“He eh,” angguk Chiara dengan mata berbinar. “Chia kenyang, Papa.”

 

“Wah....” Aswin berlagak kecewa. “Berarti sudah nggak ada tempat lagi buat es krim, ya, di sini?” Aswin menggelitik perut Chiara.

 

Gadis kecil itu terkikik geli, tapi kemudian melompat-lompat penuh semangat.

 

“Mau, Papa! Mau! Mau!”

 

Aswin mengangguk sambil tertawa. Segera digandengnya Chiara ke mobil.

 

“Besok charaben-nya mau yang seperti apa?” tanya Aswin sambil mulai menekan pedal gas.

 

“Apa saja Chia mau, tapi harus lucu.”

 

Tangan kiri Aswin sekilas mengelus kepala Chiara.

 

Apa pun untukmu, Nak. Apalagi cuma charaben. Papa akan buatkan yang paling bagus untukmu....

 

* * * * *

 

 

Ilustrasi : www. wikipedia.com. dengan modifikasi