Cerpen

Toxic

Cerpen

#diselakesibukan
#innakuberdongeng

????????????

Maaf Ibu

Menyusuri lorong bawah tanah yang sepi tidak menghalangi langkah kakiku untuk melangkah dengan ketenangan. Jengkal demi jengkal kutapaki santai tanpa harus terburu-buru memenggal sunyi yang membuat bulu-bulu di tubuhku seketika mengejang. 
Sebelum belokkan terakhir aku terpaku  menatap sudut lorong yang menyediakan bangku dari kayu bagi para pejalan yang kelelahan. Samar ingatan itu datang.

“Ibu, aku udah tidak punya uang lagi.”

“Jangan jadi anak durhaka!” suara Ibu mulai meninggi di seberang telepon genggamku.

“Ini udah yang ketiga kalinya bulan ini Ibu meminta uang. Gajiku sudah habis, Bu.”

“Kau kan masih bisa meminjam ke temanmu! Kalau tidak karena terdesak aku juga tidak akan mengemis padamu.” Sepertinya Ibu mulai kesal.

“Setiap bulan selalu seperti ini. Selalu ada keperluan mendesak. Aku bukan mesin pencetak uang, Bu.”

“Aku dan ayahmu sudah tua. Kami tidak sanggup lagi bekerja. Kau tidak mau menolong orang tuamu sendiri?”

“Kalau hanya sekedar memberi Ayah dan Ibu uang untuk keperluan sehari-hari tidak ada masalah bagiku, Bu. Tapi ini sudah kelewatan. Bulan lalu Ibu minta untuk merenovasi rumah yang menurutku tidak perlu. Kemarin untuk beli baju baru karena Ibu malu tidak punya baju bagus ke pesta Pak RT. Belum lagi Ayah juga minta ganti motor. Sekarang aku juga harus ikut membantu Tisa. Dia anak laki-laki, Bu. Dia juga sudah tamat sekolah, sudah bisa mencari kerja dan menghasilkan uang sendiri.”

“Jadi kau tidak mau menolong adik kandungmu sendiri?”

“Sewaktu seumur dia, aku sudah dipaksa bekerja dan memberi Ayah dan Ibu uang. Bahkan keinginanku untuk melanjutkan kuliah harus kubatalkan karena tabungan terkuras Ibu minta.”

“Kau sudah mulai hitung-hitungan dengan orang tua sendiri? Sudah mulai kurang ajar kamu?”

“Aku tidak bermaksud begitu, Bu. Di perantauan sini aku juga punya keperluan. Tidakkah Ibu mengerti aku harus benar-benar hemat karena habis seluruh gajiku untuk Ayah dan Ibu. Aku tidak pernah jalan-jalan dengan teman-temanku. Tidak pernah beli baju baru. Bahkan kadang kala aku harus mengutang demi membayar uang kos.” Kusampaikan keluhan itu dengan harapan Ibu mengerti.

“Teman-temanmu juga tidak keberatankan kau utangi?”

“Bukan masalah keberatannya, Bu. Tapi aku malu kalau harus tiap bulan mengutang.”

“Ah, kau tinggal bilang akan membayar saat gajian. Apa susahnya, sih? Lagian ngapain mesti malu, selama manusia masih hidup kan memang harus tolong menolong.”
“Bukan tolong menolong yang seperti ini, Bu.”

“Sudahlah, kau mau membantu ibumu ini tidak? Tisa butuh motor untuk mencari pekerjaan. Ayah dan Ibu tidak punya uang untuk membelikannya.”

“Udah aku bilang dari tadi, Bu, aku juga tidak punya uang lagi.”

“Dasar anak kurang ajar. Nggak tahu diri. Pelit sekali ke keluarga sendiri. Mau kau kemanakan uangmu, hah! Ingat ya, anak yang membangkang ke ibunya tidak akan mendapat berkah.”

“Ibu! Bukan aku pelit. Kalau aku punya uang kapan aku menolak keinginan, Ibu?”

“Nggak usah banyak alasan. Kau memang anak durhaka! Ibu kandungmu lho ini yang meminta tapi kau buat seperti pengemis!” Ibu mematikan panggilan teleponnya kasar meninggalkanku termenung di bangku kayu di sudut lorong. Mata yang mulai berkaca menghentikan perjalananku menuju kosan.

Begitulah tiga hari lalu Ibu menelepon dan seperti biasa tujuannnya hanya untuk meminta uang. Bahkan bertanya tentang kabar saja tidak beliau lakukan. Selama aku masih bisa bernafas dan memenuhi keinginannya, keadaanku tidaklah penting. Pun sama dengan ayah. Menghubungi nomor teleponku hanya pada hari saat gajian. Beliau sangat hapal dengan tanggal keramat itu. Dengan suara lembut penuh wibawa beliau akan membuat daftar kemauan. Bulan lalu beliau minta dibelikan motor dengan alasan motor bututnya sering mogok tidak terkendali. Bulan sebelumnya minta dibelikan gawai keluaran terbaru. Sebelumya lagi minta televisi di rumah diganti dengan alasan yang lama sudah tidak bagus lagi warnanya. Tidak jarang demi mengabulkan daftar ingin itu, aku harus mengajukan kredit dari koperasi kantor.

Kali ini aku tidak dapat memberikan apa yang Ibu minta. Bukan seperti yang beliau tuduhkan penyebabnya, tapi karena uang yang kumiliki memang hanya cukup untuk biaya makan dan transportasi setiap hari bulan ini. Sisanya sudah di transfer ke Ibu dan Ayah di awal bulan. Meminjam uang seperti yang disuruh Ibu tidak mungkin kulakukan. Masih banyak hutang menumpuk ke teman-teman yang belum bisa terlunasi. Aku tidak mau menambah lagi. Meski mereka tidak akan keberatan memberikan pinjaman jika kuceritakan alasannya.

Kata serapah itu bukan yang pertama kali kuterima. Pernah sekali dulu dalam keadaan sama, Ibu juga menyumpahiku. Katanya aku tidak akan mendapat berkahnya karena tidak berbakti. Ketakutan dengan kata ajaib itu, mati-matian aku membuat Ibu senang dengan selalu berusaha mati-matian mengirimi uang sesuai permintaannya.

Ah, bangku kosong dari kayu di sudut lorong itu telah menjadi saksi bahwa akhirnya aku menjadi anak durhaka atas sumpah ibuku sendiri karena tidak mampu untuk selalu menuruti ingin mereka. Maafkan anakmu Ibu yang masih terlalu miskin untuk memuaskan inginmu.
***

Medan, 14 Agustus 2020