Cerita tentang sahabatku

Jangan pernah menunda-nunda

Cerita tentang sahabatku
Cerita tentang sahabatku

Beberapa hari ini aku sering ngobrol dengan Arya, sahabat kita di masa kuliah dulu, teman kita melakukan kegilaan di masa kuliah. Kuingat rahang kotakmu, kulitmu yang putih dan warna rambutmu yang kemerahan, kurang vitamin dulu kubilang. Kuingat kita selalu duduk di pojokan kantin, segala macam kita bahas. Aku ingat aku menangis karena kamu lulus lebih dulu daripada aku. Dengan segera aku mencari teman baru yang tidak sebaik kamu. Akupun bercita-cita untuk segera menyelesaikan kuliahku dan bekerja satu kota denganmu, tapi apa daya.. tak lama setelah aku lulus aku diterima di kota lain, bahkan setelah itu aku menerima beasiswa keluar negeri. Untuk sejenak aku melupakanmu... 

Kulihat foto pernikahanmu di email yang kau kirim, nama istrimu Rinta. Kalian tampak serasi dengan balutan busana pengantin batak berwarna merah dengan aksen keemasan. Setahun kemudian kau mengirimiku foto anak lelakimu yang baru lahir, kemudian ulang tahun yang pertama, kedua, lalu kau tak pernah mengirimiku email, menuliskan postingan di sosial media juga tidak. Aku menghubungimu di sosial media, yang dijawab oleh istrimu. Ada perasaan aneh kenapa istrimu yang menjawab, dan akupun merasa tidak nyaman, aku tidak ingin mengganggu kenyamanan kalian. 

Aku tidak pernah menghubungimu lagi hingga aku bertemu Niel, sahabat kita yang lain di tempat makan di Bandung. Dia menanyakan kepadaku tentang kamu, aku langsung merasa terhenyak, ternyata dari waktu itu kamu sudah berada di rumah sakit. Tak berapa lama kemudian aku membaca berita tentang kamu di wa grup kampus. Rasanya aku ingin pingsan. Kamu telah sembuh, sembuh untuk selamanya. Aku menangis keras.. suami yang sedang membaca di ruangan lain berlari ke arahku " Kenapa ninta? Ada apa denganmu ? " aku memeluk suamiku dengan erat dan memintanya untuk mengantarkanku ke Jakarta. Aku sudah tidak ingat lagi kalau kami saat itu sedang defisit keuangan, Suamiku memesankan tiket pesawat untuk kami ke jakarta dan mobil untuk ke rumah duka, 

Aku hampir tak berhenti menangis.. kulihat tubuhmu terbujur kaku di dalam peti jenazahmu. Kulit putihmu terlihat sangat pucat. Wajahmu terlihat tersenyum. " Kau sudah sembuh sekarang sahabatku " kataku dalam hati. Ingin rasanya aku memelukmu, tapi aku masih ingat ada istrimu disana. Kuantar dirimu ke peristirahatan terakhirmu. Aku janji akan mendoakanmu dengan caraku, Sebelum aku pergi, aku memeluk anakmu dengan erat. Istrimu nampak bingung melihat seorang wanita tidak dikenal memeluk anakmu, tapi aku tidak perduli. 

" Arya, kenapa kau tidak pernah mengatakan kepadaku kalau Bona sakit? " Kataku kepada arya sambil menahan tangis. " Aku juga tidak tahu, aku hanya mendengar dia meninggal tak berapa lama setelah aku tahu dia sakit " jawab arya berusaha membela diri. Akupun tidak melanjutkan pembicaraan ini. Aku masih menyesali kenapa aku tidak segera menghubungi dia ketika Niel mengatakan kalau kamu sakit. Aku percaya kamu sekarang ada di surga. Kau tidak pernah mendatangiku dalam mimpi, mungkin karena sudah banyak orang yang mendoakanmu. Tapi walaupun begitu, aku akan terus mendoakanmu dengan caraku.