[Cerbung] Rumah Jacaranda #3

... Yang seolah menggantung abadi di kedua pelupuk mataku adalah rumah itu. Rumah Jacaranda. ...

[Cerbung] Rumah Jacaranda #3

 

Sebelumnya
 

Malam berlalu nyaris tanpa aku bisa memejamkan mata. Anak-anak tidur nyenyak dalam pelukan ayah mereka. Makin malam menggelincir menuju pagi, makin aku resah. Ada banyak debar yang nyaris tak bisa kutampung dan kukendalikan lagi.


Rumah itu....


Yang seolah menggantung abadi di kedua pelupuk mataku adalah rumah itu. Rumah Jacaranda. Rumah beserta kehangatannya yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Bagian begitu besar. Yang harus kulepas agar aku bisa terus melangkah ke depan. Bersama Mas Diar, dan kemudian bersama anak-anak pula.


Akan kembali lagi ke rumah itu? Hidup di dalamnya seperti impianku? Apakah aku akan mampu menghela dan melepaskan napas secara normal di sana? Bukankah pada akhirnya impianku untuk menjadi ratu di rumah itu tercapai?


Dengkingan pendek Muffin dari luar kamar menyentakkan aku. Kuraih ponselku yang tergeletak di lantai dekat kaki meja. Sudah pukul setengah lima pagi. Jadwal Muffin untuk buang hajat.


Sambil menguap aku bangun. Menggeliat sejenak. Sekadar melepaskan rasa pegal setelah puluhan ribu detik terkungkung dalam mobil kemarin. Pelan-pelan aku keluar dari kamar. Mas Diar dan anak-anak masih terlelap.


Muffin mendengking riang sambil mengibas-ngibaskan ekornya di dalam sangkar. Terpaksa semalam dia harus dikandangkan di tempat sempit itu. Dia segera meraihku dengan kaki depannya ketika kubuka pintu sangkar. 


"Ayo, pis dulu, Fin," bisikku. 


Dengan patuh Muffin mengikuti langkahku ke kamar mandi di bagian belakang. Sambil menunggu Muffin selesai, aku memeriksa pantry. Hanya ada mesin kopi, sebuah galon air tanpa dispenser, sebuah kompor gas bertungku tunggal dengan sebuah panci kecil bertengger di atasnya, sebuah kulkas satu pintu, dan sebuah lemari plastik kecil di sana. Ketika kubuka pintu kulkas, hanya kujumpai sekotak susu cair, dua botol air dingin, bungkusan roti tawar yang entah kapan kedaluwarsanya, dan sebotol kecil selai kacang.


Aku beralih ke lemari plastik kecil di sebelah kulkas. Hanya ada dua buah piring melamin, setengah lusin sendok, dan dua buah mug keramik di dalamnya. Bahan makanan? Hanya ada sebuah stoples berisi sebungkus kecil gula pasir, satu kemasan besar kopi bermerek favorit Mas Diar, dan teh celup dalam kemasan sachet. Lainnya? Aku menggeleng prihatin. Benar-benar 'tidak ada apa-apa' di mess ini.


Dengking pendek Muffin membuatku beralih dari pantry ke kamar mandi. Dia sudah selesai dan aku segera membersihkan kloset. Bersamaan dengan itu, kudengar suara Mas Diar dan anak-anak. Beberapa detik kemudian, Mas Diar muncul.

 

"Nggak ada apa-apa, Bu," celetuknya dengan raut wajah 'berdosa'.


Aku terkekeh ringan. Lalu, anak-anak dikasih sarapan apa ini nanti? Seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku, Mas Diar berucap lagi.


"Nanti sekalian kita berangkat ke rumah baru, mampir makan dulu di ujung sana. Ada depot yang buka 24 jam. Aku hampir tiap hari makan di sana."


"Enak?"


"Cukup enak dan bersih," angguknya. "Tapi masih jauuuh rasanya dari masakanmu, Bu."


"Halaaah...." Kucocol pipi kirinya yang sudah lama membulat dengan ujung telunjuk kananku. Ia tergelak.


Setelah itu kami bersiap untuk antre mandi. Sementara Ansel dan Ilda sedang berbagi giliran, Mas Diar mengajakku berpamitan ke para penghuni mess. Senyampang mereka belum berangkat kerja. Ketika kami kembali, Ansel dan Ilda sudah rapi. Bahkan sudah menggulung kasur dan merapikan kembali kamar.


"Ini semua barang mau dimasukkan ke mobil?" tanya Ansel.


"Jangan semua," jawab Mas Diar. "Itu semua kopor dan tas Ayah yang harus dibawa ada di dekat pintu. Juga semua barang yang kalian bawa. Kasur, semua perabot dan alat dapur, tinggalkan saja. Biar diurusi orang-orang di sini. Toh, kita sudah punya semuanya."


Setelah aku dan Mas Diar bergiliran mandi, kami pun siap meninggalkan mess itu. Penanggung jawab mess sudah ada di depan pintu ketika kami keluar. Kami pun berpamitan, dan Mas Diar menyerahkan kunci mess. Mobil kami makin penuh karena ditambah dengan barang-barang pribadi Mas Diar. Pelan-pelan, Mas Diar meluncurkannya meninggalkan halaman mess.


Bersamaan dengan mobil yang melaju makin kencang, makin kencang pula pacuan jantungku. Jeda yang ada saat kami mampir ke depot untuk sarapan tak mampu meredakan debar-debar liar dalam dada.


Ah, Rumah Jacaranda.... Dengan sepasang palem di depan pagar. Masihkah tetap menyimpan kehangatan yang sama?


* * *

 

Bersambung hari Jumat

 

(Ilustrasi dari pixabay, dengan modifikasi)