[Cerbung] Rumah Jacaranda #2

... Rumah Jacaranda, aku menyebutnya, karena letaknya menghadap ke Jalan Jacaranda. ...

[Cerbung] Rumah Jacaranda #2

 

 

Sebelumnya

 

Untuk terakhir kalinya, kutatap rumah ini. Rumah yang sudah kutinggali selama hampir tujuh belas tahun lamanya, sejak aku menikah dengan Mas Diar. Rumah dengan begitu banyak kenangan manis yang sungguh menghangatkan hati. Rumah tempat Mas Diar dan aku saling mengenal dan menerima dengan lebih baik lagi. Rumah tempat Ansel dan Ilda tumbuh dan berkembang jadi remaja yang tampan dan cantik. Untung saja selama ini kami sudah banyak mengabadikan kebersamaan kami di sini dalam bentuk jepretan foto.


Aku menoleh ketika seseorang menyentuh tanganku. Ilda. Ia menempelkan kepalanya di lengan kiriku. Kedua tangannya menggendong Muffin, anjing corgi kesayangan kami. Mendung tebal menggayuti wajahnya. Matanya pun terlihat sembap. Aku tahu, dia menangis semalaman.


Dua sosok lagi mendekatiku. Wajah-wajah tampan yang terlihat cukup bersedih. Bahkan aku melihat mata Ansel memerah dan berkaca-kaca. Suara lembut Mas Diar kemudian memecahkan atmosfer hening di sekitar kami. Terdengar sedikit serak di telinga.


"Ayo, kita berangkat. Nanti kita kesiangan. Perjalanan kita cukup panjang."


Masih dalam hening, kami masuk ke mobil. Sudah lewat dari pukul tujuh pagi. Truk terakhir yang mengangkut barang kami sudah berangkat setengah jam lalu bersama Jody dan timnya, yang membawa MPV sendiri. Untuk terakhir kalinya, aku menatap rumah itu sebelum Mas Diar mulai meluncurkan mobil kami.


Selamat tinggal....


* * *


Perjalanan dari Mairino ke Regentum makan waktu hampir sepuluh jam berkendara dengan mobil pribadi. Itu sudah diseling dengan istirahat makan dan sekadar meregangkan tubuh. Kami memang memilih jalur reguler yang tidak terlalu banyak melewati jalan tol. Supaya perjalanan kami menjemput kehidupan baru sedikit terlihat lebih berwarna. Setiap dua jam, Mas Diar dan aku bergantian menyetir MPV ini. City car-ku sudah dibawanya ke Regentum saat pertama kali berangkat ke sana dulu.


"Nanti kita ke mess dulu, ya," ujar Mas Diar. "Barang-barang kita biar dibereskan dulu sama Om Jody."


Kami bertiga hanya mengangguk sekadarnya. Masih terlalu sedih karena harus meninggalkan Mairino dan rumah pertama kami. Muffin pun sepertinya merasakan hal yang sama. Dia hanya duduk diam di antara Ansel dan Ilda di jok belakang. Sesekali tertidur di pangkuan Ansel atau Ilda.


Pada etape terakhir perjalanan kami, Mas Diar-lah yang memegang kemudi. Matahari sudah condong sekali ke arah barat di sebelah kiri kami. Sudah hampir sampai ke peraduannya. Kubiarkan sinar yang dipancarkannya menghangatkan wajahku.

 

Sepanjang perjalanan tadi, saat aku tidak sedang menyetir, kubiarkan lamunan membawaku ke mana pun dia suka. Pun kini. Ujung-ujungnya selalu jatuh ke rumah itu. Rumah yang akan kami tempati entah sampai kapan. Rumah Jacaranda, aku menyebutnya, karena letaknya menghadap ke Jalan Jacaranda. Rumah yang aku pernah impikan untuk tinggal di dalamnya. Rumah dengan sejuta kenangan manis dan pahit. Kenangan yang membuatku menerima pinangan Mas Diar tanpa pernah yakin apakah aku mencintainya atau tidak. 


Dan, sepasang palem itu masih ada. Masih tegak berdiri di depan pagar. Setidaknya seperti itu yang kulihat dari fotonya.


Pelan-pelan, rasa pahit itu kembali memenuhi hatiku. Rasa pahit yang kukira sudah kusingkirkan jauh-jauh. Tapi ternyata? Masih ada sisanya. Masih banyak.


* * *

 

Langit sudah gelap sempurna ketika kami tiba di mess. Selama tujuh bulan ini, Mas Diar memang hidup bak seorang bujangan di mess, tak jauh letaknya dari pabrik. Ketika dia muncul di Mairino dua hari lalu, kulihat tubuhnya sedikit menyusut. Tampak agak kurang terurus.  Sungguh, hatiku teriris melihatnya. Pada saat seperti itu, aku makin mensyukuri keputusanku untuk kembali bersamanya di tempat baru.


Beberapa penghuni lainnya mess itu menyambut kami. Setelah berkenalan dan basa-basi sejenak, Mas Diar pun menggiring kami masuk ke mess. Beberapa orang membantu mengeluarkan sebuah koper, beberapa travel bag, dan sangkar Muffin dari bagasi.


Ruangan itu tak terlalu besar. Disekat menjadi tiga bagian. Ruang duduk yang nyaris menyatu dengan pantry, satu kamar tidur, dan ruang belakang berisi kamar mandi dan tempat menjemur baju. Sesederhana itu.


"Nanti kita tidur di mana, Yah?" celetuk Ilda.


"Di kamar Ayah," jawab Mas Diar sambil mengambil.alih Muffin dari tangan Ilda. "Tapi di lantai, ya? Pakai kasur busa tipis. Sudah Ayah siapkan. Nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa," Ilda dan Ansel menjawab serempak.


"Atau... kalian mau menginap di hotel malam ini? Coba Ayah carikan."


"Nggak usah, Yah!" Ansel buru-buru mencegah. "Anggap saja kita lagi kemping."


"Iya, betul!" sahut Ilda. "Asal kita semua kumpul, di mana saja asyik, kok."


Kulihat Mas Diar tersenyum dengan berkas-berkas keharuan melompat keluar dari matanya. Ah, betapa manisnya anak-anak kami!


* * *

 

Selanjutnya

 

(Ilustrasi diambil dari pixabay, dengan modifikasi)