[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #7

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #7

 

 

Tujuh

Dinding Runtuh

 

 

Seta menghentikan motornya di bawah sebuah pohon yang rimbun, di dekat sebuah rumah besar berlantai dua. Sejenak ia mengatur napas dan menyurutkan kemarahan. Hal yang akan diurusnya kali ini adalah hal yang sangat besar. Selain itu, ia sekalian menunggu kedatangan Yopie dan Aksan. Beberapa saat setelah ia tadi meninggalkan rumah, ia sempat menghubungi Yopie. Kebetulan Aksan sedang ada di rumah Yopie. Setelah mendengar penuturannya, tanpa berpanjang kata lagi, Yopie dan Aksan pun langsung berangkat ke tempat itu.

 

Sekitar lima menit menunggu, Seta melihat motor besar yang dikendarai Yopie muncul di belokan. Motor itu mendekat dan berhenti di depan motornya. Aksan melompat turun dari boncengan motor Yopie.

 

“Lo yakin?” pemuda itu menatap Seta.

 

Seta menggeleng samar. “Gue cuma main logika, San.”

 

Yopie pun mendekat setelah memarkir motornya baik-baik. Seta beralih menatapnya.

 

“Gue masih ingat urutan kita pas mendaki itu,” ujar Yopie. “Sesekali, kan, gue sempatin juga noleh ke belakang, mastiin rombongan masih lengkap gak. Dari depan itu gue, terus Seta, Aksan, Sagan, Rizal, Alex, Kresna. Ya, wajarlah kalau kita harus kejar penjelasan Alex.”

 

Seta terpekur sejenak. Mereka bertujuh sudah bertahun-tahun bersahabat. Tak pernah ada tanda-tanda permusuhan antara Alex dan Kresna. Apalagi ia mengenal betul Kresna yang penyabar dan tak suka membuat masalah. Sulit sekali untuk menerka motifnya. Tapi seutuhnya Seta memercayai penjelasan Mahesa soal mimpi Samadi, dan pesan yang disampaikan laki-laki itu. Ia kembali menggeleng samar.

 

“Oke, sekarang coba kita tanya Alex baik-baik,” ujar Aksan. “Sudah kepalang basah, kita sudah sampai di sini.”

 

Kedua sahabatnya mengangguk.

 

“Gue harap, lo bisa tahan emosi, Set.” Aksan menepuk bahu Seta.

 

Seta mengangguk. Seandainya benar Alex pelakunya, yang ia lebih butuhkan saat ini hanyalah pengakuan. Agar Kresna bisa kembali.

 

Sayangnya, yang dicari tidak ada. Kata temannya sesama penghuni kompleks rumah kost itu, Alex mudik begitu pulang dari Gunung Nawonggo. Kapan akan kembali, tak ada yang tahu.

 

* * *

 

Gadis muda itu hanya bisa termangu dengan tatapan kosong ketika penjelasan Paitun tuntas, dengan masih menyisakan bagian ‘belahan jiwa’ yang untuk sementara waktu memang sengaja disimpan dulu oleh Paitun. Kresna sendiri masih berusaha melonggarkan napasnya yang terasa sesak tiba-tiba.

 

“Jadi... aku bukan anak Ibu?” Pinasti mengerjapkan mata.

 

Wilujeng hanya bisa menjawabnya dengan sebuah pelukan erat.

 

“Tapi Ibu sangat menyayangimu, Pin,” bisik Wilujeng.

 

Seutuhnya Pinasti memercayai bisikan Wilujeng. Kasih sayang. Itu yang ia dapatkan dari Wilujeng seumur hidupnya hingga detik ini. Lagipula Wilujeng sendiri juga tak pernah tahu bahwa Pinasti bukanlah anak kandungnya.

 

Lalu, tatapan Pinasti berlabuh pada Kresna, yang masih terpekur dengan mata menerawang jauh menembus dedaunan yang merimbun di depan beranda pondok Paitun. Debar liar itu datang lagi.

 

Jadi....

 

Rupanya perasaan itu tidak salah. Kresna bukanlah abang kandungnya. Bukan pula abang tirinya. Darah yang mengalir di tubuh mereka tidaklah berasal dari sumber yang sama. Tapi....

 

Apakah dia juga punya perasaan yang sama?

 

Tepat saat itu, Kresna mengalihkan arah pandangnya. Kini, tatapan mereka saling mengunci. Saling menyusuri lorong-lorong tersembunyi yang mungkin menyimpan jawabannya. Pada suatu detik yang sama, keduanya sama-sama tersentak. Pinasti buru-buru mengalihkan tatapannya. Wajahnya sedikit memerah.

 

Gusti.... Dia juga....

 

Dan, entah bagaimana, tiba-tiba saja Kresna menemukan jawabannya. Terutama tentang sengatan serupa aliran listrik yang ada saat ia bersentuhan dengan Pinasti.

 

Dia bukan adikku. Jadi....

 

Dihelanya napas panjang untuk sedikit meredakan kecamuk berbagai rasa yang berlompatan secara bersama-sama dalam hatinya. Ada kelegaan, karena ia mendapati bahwa rasa ‘tak wajar’ yang timbul itu ternyata bukanlah sesuatu yang salah. Juga ada kesedihan, karena itu artinya ia sudah tak lagi memiliki adik. Ada juga rasa was-was, membayangkan bagaimana ia nanti harus berpisah dengan Pinasti. Ia dan Wilujeng akan sama-sama kembali ke ‘atas’. Sementara Pinasti.... Kresna mendegut ludah.

 

“Ada banyak hal yang tak mungkin aku jelaskan satu per satu.” Suara Paitun memecah keheningan. “Tapi yang pasti, kehidupan kalian akan terus berlanjut di ‘atas’. Tinggal menunggu satu hal. Yang mendorong Kresna ke jurang harus jelas dulu siapa. Karena itu juga termasuk benang merahnya.”

 

Kresna menggeleng samar. Kembali menatap rimbunnya dedaunan.

 

“Kres, kamu benar-benar tak mau mengatakannya pada Nini?” tanya Paitun dengan sangat lembut.

 

Kresna mengalihkan tatapannya pada Paitun. Tak perlu berpikir ulang untuk menggeleng lagi. Paitun mendesah.

 

“Gusti tahu, Ni,” ucap Kresna.

 

“Ya, Gusti tahu.” Paitun mengangguk. “Gusti tahu segalanya. Tapi Gusti sudah menyerahkan urusan ini pada Nini. Nini harus menyelesaikannya.”

 

Kresna kembali tercenung. Apakah menyebutkan namanya adalah tindakan yang benar? Toh, aku masih hidup. Tidak kenapa-kenapa.

 

Sementara itu, tanpa disadari Kresna, tangan Pinasti membuat lingkaran di udara, kemudian menyentuhkan telapak tangan kanannya pada lengan Paitun. Komunikasi tertutup antara keduanya akan segera dimulai.

 

‘Nini, benarkah Nini tidak bisa menembus pikiran Mas Kresna soal itu?’

 

Paitun menggeleng samar. ‘Pertahanannya terlalu kuat. Kabutnya tebal sekali, Pin.’

 

‘Tadi pagi aku mendapati sesuatu. Tidak terlalu jelas, tapi mulai kelihatan samar-samar.’

 

‘Oh, ya? Katakan pada Nini, Nduk...’

 

‘Yang menyebabkan Mas Kresna bisa sampai dijatuhkan ke sini adalah perempuan. Rambutnya ikal panjang. Cantik. Tapi dia hanya sebab, Ni, sama sekali bukan pelakunya. Hanya itu gambaran yang bisa aku dapatkan.’

 

‘Hm....’ Paitun manggut-manggut.

 

Pinasti pun mengakhiri komunikasi tertutup itu. Paitun berdehem pelan.

 

“Kita sudah mengalami banyak hal hari ini,” ucapnya. “Besok, Suket Teki dan aku akan mengantar Wilujeng ke Bawono Sayekti untuk ziarah ke makam. Kamu boleh ikut, Kres, karena itu makam adikmu juga. Pinasti kalau mau ikut juga boleh.”

 

Tak ada yang bisa mereka lakukan selain mengangguk.

 

* * *

 

Remang terasa makin pekat. Udara pun mendingin. Pinasti terbangun tiba-tiba. Seolah ada yang menggerakkannya untuk meraih sehelai kain lebar yang bisa menghangatkan tubuh bagian atasnya. Sebelum beringsut dari pembaringan dan keluar dari bilik, Pinasti menatap wajah teduh Wilujeng yang terbaring di sebelahnya. Dihelanya napas panjang.

 

Semoga perpisahan kita nanti tidak terlalu menyedihkan, Bu....

 

Ia mengerjapkan mata yang sedikit basah. Kenyataan itu sungguh mengentakkan perasaannya. Ada rasa sakit, sekaligus harapan. Juga keraguan. Semua bergumul jadi satu.

 

Akan jadi seperti apa hari esok?

 

Tapi ia memutuskan untuk berhenti berandai-andai. Tanpa suara, ia keluar dari dalam bilik, kemudian melangkah ke arah depan pondok. Langkahnya sempat terhenti ketika membuka pintu. Didapatinya Kresna sudah ada di beranda. Duduk mencangkung di atas balai-balai. Pemuda itu menoleh ketika merasa ada orang lain di dekatnya.

 

“Pin?” bisiknya.

 

Pinasti mendekat, kemudian duduk di tepi balai-balai. Kresna menurunkan kakinya.

 

“Sini.” Pemuda itu menepuk tempat tepat di sisi kirinya.

 

Pinasti pun beringsut, duduk lebih dekat ke arah Kresna.

 

“Apakah... kamu juga... merasakan hal yang sama... denganku?” Lirih suara Kresna. Sedikit terbata.

 

Pinasti menunduk. Mengangguk tanpa kentara. Tapi dalam keremangan, Kresna menangkap gerakan halus itu. Dihelanya napas panjang.

 

“Aku... takut salah,” gumam Kresna lagi. “Tapi ternyata... kita memang bukan abang-adik.”

 

Pinasti masih terdiam. Larut dalam pikirannya sendiri.

 

Sedikit banyak, ia mulai memahami soal ‘rasa’ itu. Beberapa buku cerita yang pernah dibacanya ada yang bicara soal cinta kepada lawan jenis. Dan, kini ia seolah-olah ‘terjebak’ di dalamnya. Tapi ada kelegaan tersendiri. Karena Kresna ternyata merasakan juga hal yang sama. Dinding itu sudah runtuh.

 

“Aku... belum pernah merasa seperti ini, Pin,” desah Kresna tiba-tiba. “Aku punya banyak teman cewek. Tapi baru kali ini aku.... Ah!”

 

‘Kamu masih kecil, Pin. Tapi aku tahu aku mencintaimu.’

 

Dengan jelas Pinasti menangkap pikiran itu. Pikiran yang berlayar dalam benak Kresna. Tapi ia memutuskan untuk tak mengatakan apa-apa. Cukup tahu saja.

 

“Mas, besok kita ikut Ibu dan Nini, kan?” ujarnya kemudian, halus, mengalihkan bahan pembicaraan.

 

“Ya, aku ikut. Kamu juga, kan?” Kresna menatap Pinasti.

 

Perawan sunti cantik itu mengangguk. “Kalau begitu, sebaiknya kita istirahat. Karena besok kita akan berangkat pagi-pagi.”

 

“Baiklah.” Kresna bangkit pelan-pelan. “Ayo.” Diulurkannya tangan pada Pinasti.

 

Gadis muda itu ragu-ragu sejenak. Tapi disambutnya juga uluran tangan Kresna. Ada sedikit sengatan yang tersalur ketika tangan mereka saling menggenggam. Kresna tersenyum. Ia sudah menyiapkan diri. Bahkan sebelah tangannya yang bebas mengelus kepala Pinasti.

 

“Besok kubuatkan lagi mahkota bunga untukmu,” ucapnya sembari beranjak. “Yang jauh lebih bagus.”

 

Pinasti tersenyum mendengarnya.

 

* * *

 

Tangis Wilujeng tumpah di atas sebuah makam kecil di belakang pondok pasangan Sentono dan Winah. Diam-diam Kresna mengusap air matanya sambil ikut bersimpuh di sebelah Wilujeng. Makam kecil itu tak bernama, tapi masih terawat dengan sangat baik. Sementara itu Pinasti berdiri agak di belakang bersama Suket Teki. Sedangkan Paitun menunggu di pondok Sentono dan Winah.

 

Suket Teki menyentuhkan telapak kaki kanannya ke badan Pinasti. Perawan Sunti cantik itu pun menoleh sekilas.

 

‘Mahkota bungamu bagus,’ puji Suket Teki.

 

Pinasti tersipu. Di puncak kepalanya memang bertengger sebentuk mahkota yang terbuat dari bunga-bunga liar warna-warni yang diambil dan dirangkai Kresna pada sepanjang perjalanan mereka berlima dari Bawono Kinayung menuju Bawono Sayekti. Sejujurnya, ia merasa tersanjung sekali dengan perlakuan Kresna itu. Kresna tak banyak bicara, tapi sikapnya sungguh menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi Pinasti.

 

Tapi, mendadak saja kesedihan menghinggapi hati Pinasti. Kalau Wilujeng dan Kresna kembali ke ‘atas’...

 

... lantas bagaimana denganku?

 

‘Aku akan menjagamu, Nduk.’

 

Pinasti kembali menoleh ketika mendengar suara lembut Suket Teki menggema dalam benaknya. Tapi perawan sunti itu tak berkata apa-apa. Terlalu sedih memikirkan perpisahan yang sepertinya akan terjadi tak lama lagi.

 

‘Kelak, Nini Paitun tak akan membiarkanmu larut dalam kesedihan,’ ujar Suket Teki lagi.

 

Pinasti mengangguk. Sungguh, ia tak meragukan ujaran Suket Teki, walaupun tak memahami bagaimana hal itu kelak bisa terjadi. Pinasti menoleh ke arah makam ketika merasa ada gerakan dari arah sana. Rupanya Wilujeng dan Kresna sudah menyelesaikan ziarahnya. Lengan kukuh Kresna melingkari bahu Wilujeng ketika keduanya berjalan menghampiri Pinasti dan Suket Teki.

 

Masih ada sisa-sisa kesedihan menggayuti wajah Wilujeng. Tapi perempuan itu berusaha ikhlas. Bagaimanapun si kecilnya sudah berada di Surga. Makamnya pun terawat dengan sangat baik. Sama seperti beberapa makam yang berjajar rapi di tempat itu.

 

Tangan Wilujeng terulur, menjangkau bahu Pinasti. Memeluknya sambil berjalan ke arah pondok Sentono dan Winah. Mereka bertiga kemudian masuk lewat pintu belakang yang terbuka lebar, sementara Suket Teki memilih untuk langsung ke beranda depan, duduk menunggu di sana.

 

“Sudah?” Senyum Winah menyambut ketiganya ketika muncul di dapur luas serupa yang ada di pondok Paitun.

 

Wilujeng mengangguk, dan duduk di sebelah Paitun. Kresna dan Pinasti memilih untuk duduk di atas balai-balai di pojok ruangan. Sekilas, Winah menatap keduanya. Tersenyum.

 

“Indah sekali rasanya bila melihat belahan jiwa duduk berdampingan seperti itu,” bisiknya.

 

Paitun pun ikut tersenyum. Ditatapnya Winah.

 

“Aku belum memberi tahu mereka soal itu,” ia berbisik juga. “Biarlah waktu yang akan bicara.”

 

Winah mengangguk. Tatapannya kemudian beralih pada Wilujeng.

 

“Kelak, pada waktu-waktu tertentu kamu masih akan dapat mengingat tempat ini,” ucapnya. “Selebihnya, ingatanmu akan terhapus. Begitu pula Kresna. Juga Pinasti. Karena hidup kalian akan terus berlanjut.”

 

Wilujeng termangu sejenak sebelum menggumam, “Tapi Mak Paitun bilang saya tak bisa membawa Pinasti. Bagaimana dia nanti?”

 

“Jangan khawatirkan itu, Jeng,” Winah menepuk lembut bahu Wilujeng. “Gusti sudah menggariskan jalan hidup yang terbaik buat kalian. Jangan khawatirkan juga makam bayimu. Sampai kapan pun akan tetap kami rawat baik-baik.”

 

“Terima kasih banyak, Mak.” Wilujeng mengangguk takzim.

 

Sebetulnya masih banyak pertanyaan dalam benak Wilujeng. Tentang Kresna, Pinasti, dan ia sendiri. Tapi karena terlalu banyak, tanya itu tak bisa terungkap dari mulutnya. Paitun mengerti. Ditepuknya lembut bahu Wilujeng.

 

“Kita masih punya waktu, Nduk,” ucap Paitun. “Pelan-pelan kamu akan mengerti.”

 

Wilujeng kembali mengangguk.

 

* * *

 

Sama sekali tak sulit untuk mendapatkan alamat rumah Alex di Gondang. Seta bersama para sahabatnya sudah pernah berlibur ke sana. Menjelang siang ini, Yopie pun meluncurkan SUV-nya ke arah Gondang, melalui jalur Gunung Pedut. Ada Mahesa, Aksan, Sagan, dan Seta bersamanya. Rizal absen, karena sudah telanjur memesan tiket pesawat untuk pulang ke Sanggura di pulau seberang. Jadwal penerbangannya kemarin sore.

 

Mereka berenam sudah membicarakan hal ini siang kemarin. Dugaan mereka pun makin kuat. Mengerucut pada nama satu tersangka. Alex. Karena posisinyalah yang terdekat dengan Kresna saat peristiwa itu terjadi. Walaupun masih juga tak habis pikir kenapa Alex bisa melakukan hal itu.

 

Mahesa menatap dengan kosong ke arah jurang-jurang sepanjang jalur Gunung Pedut. Sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi, baru kali ini ia melalui kembali jalur Gunung Pedut. Pun Seta. Wajahnya terlihat murung. Bagaimanapun kecelakaan yang pernah terjadi dan menimpa mereka sekeluarga di Gunung Pedut adalah kesalahannya.

 

Pada suatu titik waktu, Mahesa menyadari keheningan Seta. Ia menoleh ke sebelah kirinya. Pelan, tangannya terulur, menggenggam tangan kanan Seta. Pemuda itu sedikit tersentak. Dan, tatapan mereka bertemu.

 

“Yang penting adalah mengikhlaskan semua yang pernah terjadi,” gumam Mahesa.

 

Seta mengerjapkan mata. Tak pelak, ia bisa menangkap sedikit nada pahit dalam suara ayahnya. Ia mengalihkan tatapan.

 

Ikhlas? Dengan tetap memelihara kenangan akan Ibu seumur hidup Ayah?

 

“Maafkan Ayah, Set.”

 

Bisikan Mahesa itu membuat Seta kembali menoleh. “Untuk?”

 

“Semuanya,” Mahesa mengerjapkan mata. “Terutama sikap Ayah selama ini. Ayah tahu, Ayah banyak mengecewakanmu.”

 

Tangan kanan Seta segera merengkuh bahu ayahnya. Matanya mengaca. Sepenuhnya ia memahami, bahwa kesalahannya di masa lalu saat masih kecil terlalu besar hingga harus ditebus dengan kehilangan ibunya. Bukan hanya ayahnya yang menderita, tapi Kresna juga. Mungkin mereka memang sudah dipulihkan, tapi belum seutuhnya. Hanya saja ia berusaha menerima semua ‘hukuman’ itu. Bahwa sikap Mahesa terhadapnya tidaklah sesabar ketika laki-laki itu menghadapi Kresna. Ada luka dalam hati yang tercipta karena perlakuan itu walaupun ia masih bisa menerimanya dengan lapang dada.

 

Tapi kini semua luka itu terhapus sudah. Dengan permintaan maaf yang begitu tulus dan terasa menggetarkan hati dari kedalaman suara Mahesa. Seta mengangguk.

 

“Aku juga, Yah,” bisiknya, sedikit tersendat. “Semua kehilangan ini, akulah penyebabnya.”

 

Mahesa menggeleng. “Mungkin sudah kehendak Tuhan demikian, Set. Dan, kehidupan kita tetap harus terus berjalan. Lagipula Kresna tak apa-apa di luar sana. Walaupun masih entah ada di mana.”

 

Seta mendegut ludah. Rahangnya mengeras. Apa pun akan dilakukannya untuk membuat Alex mengakui perbuatan kejinya.

 

Apa pun!

 

Supaya Kresna bisa kembali.

 

* * *

 

Secepatnya menjauh dari Palaguna dan kembali ke Gondang adalah satu-satunya hal yang bisa dipikirkan Alex sekembalinya dari Gunung Nawonggo. Tentu saja ia tidak tenang. Yang sudah dilakukannya di Gunung Nawonggo adalah hal yang luar biasa. Menyangkut nyawa sahabatnya sendiri. Apalagi semalam ia menerima pesan dari Yunita, teman satu kostnya, bahwa Seta, Yopie, dan Aksan datang mencarinya.

 

Tentu saja mudah bagi mereka untuk menjatuhkan dugaan. Tapi dari mana mereka punya kecurigaan itu? Ia sudah tak mampu lagi memikirkannya. Cepat atau lambat, ia akan dicari juga sampai ke Gondang. Rasa-rasanya, ia tak akan mampu mengelak lagi dari tuduhan itu.

 

Menyerah?

 

Alex menggeleng. Selama ia punya kesempatan untuk mengulur waktu, maka ia akan melakukannya. Lari lagi. Entah ke mana. Seperti saat ini. Ia mulai melajukan mobilnya, keluar dari Gondang.

 

* * *

 

Mereka datang terlambat. Alex sudah tidak berada di rumah ketika rombongan Seta sampai di Gondang. Pada awalnya Seta dan Mahesa tak mau menjelaskan alasan mereka datang mencari Alex, tapi kedua orang tua Alex mendesak. Wajah ibu Alex berubah pias setelah Seta dan Mahesa bergantian menyelesaikan penuturan mereka, sedangkan wajah ayah Alex jadi merah padam menahan marah.

 

“Anak itu....” Hanya itu yang mampu laki-laki itu desiskan.

 

“Ini baru dugaan, Pak,” ucap Mahesa, berusaha menenangkan. “Makanya kami ingin penjelasan dari Alex. Kalau Bapak bertemu Alex, tolong, segera kabari kami. Tanpa titik terang dari penjelasan Alex, anak saya belum bisa kembali.”

 

Tampaknya, keluarga Alex memahami situasi itu. Setelah rombongan kecil itu berpamitan, ayah Alex – seorang saudagar tembakau terkaya di Gondang – segera menyuruh beberapa orangnya untuk menyebar mencari Alex ke seluruh penjuru kota, bahkan hingga ke luar kota. Ada beberapa tempat yang mungkin jadi tujuan Alex. Ke sanalah para orang suruhan itu menuju.

 

* * *

 

Siang sudah meredup ketika mereka berlima kembali ke Bawono Kinayung. Paitun, Wilujeng, dan Suket Teki asyik bercakap dalam hening, sementara Pinasti dan Kresna lebih banyak diam. Mendengarkan. Sesekali Kresna melirik Pinasti. Sebetulnya perawan sunti itu merasakan debar jantungnya meliar setiap kali tatapan Kresna jatuh sekilas padanya. Ia hanya bisa menunduk sambil melangkah.

 

Ujung perjalanan mereka dari pondok Sentono dan Winah berujung pada sebuah dermaga kecil. Sebuah sampan yang tertambat di dermaga itu menunggu mereka. Paitun segera meraih tali sampan dan membuka simpul tambatan. Kresna naik pertama kali, kemudian mengulurkan tangan pada Wilujeng. Perempuan itu pun menyambut uluran tangan Kresna dan naik ke sampan. Berikutnya adalah Pinasti. Lagi-lagi ada sengatan lembut aliran listrik ketika tangannya bertemu dengan tangan Kresna. Pemuda itu mengangguk ketika Pinasti menggumamkan ucapan terima kasih. Setelah itu Paitun. Dengan senang hati menyambut uluran tangan Kresna. Terakhir adalah Suket Teki, yang langsung melompat ke dalam sampan.

 

Kresna sudah tidak heran lagi ketika arus sungai berbalik arah. Membawa sampan yang mereka tumpangi kembali ke Bawono Kinayung. Tapi ia masih juga terkagum-kagum dengan suasana asri di sepanjang sungai, dan sisa pantulan sinar matahari di langit-langit tinggi yang menaungi mereka. Tepian sungai berair bening sangat bening itu penuh dengan berbagai tumbuhan hijau. Pada beberapa bagian dihiasi aneka bunga warna-warni dalam berbagai ukuran. Sesekali tercium aroma harum bebungaan, menguar di udara. Bercampur dengan segarnya aroma rumput basah.

 

Kali ini, sampan yang mereka tumpangi meluncur agak pelan, sehingga Paitun dapat mengambil sulur-sulur pakis muda yang ujungnya masih tergulung rapat di sepanjang perjalanan mereka. Batang-batang pakis muda itu enak sekali bila dimasak. Kemarin Kresna sudah merasakannya. Hasil masakan Pinasti. Rasa lezat tumis pakis itu seolah masih melekat di lidahnya.

 

“Kamu suka tumis pakis, Kres?” usik Paitun tiba-tiba. Ia sudah selesai memetik banyak sekali sulur pakis yang diletakkannya di dalam keranjang.

 

“Suka, Ni.” Kresna terlihat agak tersipu. “Yang kemarin enak sekali.”

 

“Besok biar dimasakkan lagi sama Pinasti,” senyum Paitun.

 

Kresna mengangguk, masih dengan wajah tersipu. Wilujeng tersenyum simpul melihatnya. Sementara Pinasti berpura-pura tak acuh dengan asyik memetik bebungaan liar yang batangnya menjulur hingga ke pertengahan sungai. Ia tak asal memetik, tapi memilih yang bisa digunakan untuk melezatkan masakannya besok. Bebungaan itu pun diletakkannya di keranjang, bercampur dengan sulur-sulur pakis.

 

Sampan itu seolah tahu bahwa Paitun dan Pinasti sudah selesai dengan maksud masing-masing. Kini, mereka melaju sedikit lebih kencang. Ketika hari sudah makin temaram, sampan pun merapat ke dermaga di belakang pondok Paitun.

 

Suket Teki berpamitan begitu kakinya menginjak tanah. Ajak putih itu melompat ke arah seberang sungai, dan menghilang dalam rimbunnya ‘hutan’ Bawono Kinayung. Aroma sedap ikan bakar menyambut mereka ketika berjalan menyusuri jalan setapak. Pintu belakang pondok Paitun terbuka lebar. Janggo duduk manis di beranda belakang pondok. Dari dalam pondok, muncul Tirto.

 

“Mak, aku habis memancing tadi,” ucap Tirto. “Sudah kubakar ikannya. Aku juga sudah menanak nasi dan membuat sambal. Ada lalapan juga.”

 

Seketika Kresna mendegut ludah begitu mendengar sederetan menu yang disebutkan Tirto. Paitun mengucapkan terima kasih. Pinasti mengulurkan tangan, mengelus kepala Janggo. Ajak merah kecoklatan itu mendengking senang.

 

‘Pin, kamu capek atau tidak?’ tanya Janggo.

 

Pinasti menggeleng. ‘Kenapa?’

 

‘Mau kuajak ke danau.’

 

‘Boleh.... Tapi aku mandi dan makan dulu, ya?’

 

Sekali lagi, Janggo mendengking senang.

 

* * *

 

Sepeninggal Pinasti dan Janggo, Paitun mengajak Wilujeng dan Kresna duduk-duduk di beranda depan pondok. Kesempatan itu dipakai Paitun untuk membicarakan perjalanan pasangan ibu dan anak itu kelak.

 

“Jadi, kalian harus siap sewaktu-waktu meninggalkan tempat ini,” ucap Paitun pada suatu detik. Lirih.

 

Wilujeng terdiam, sedangkan Kresna menatap Paitun.

 

“Siapa yang lebih dulu, Ni?” tanyanya.

 

“Seharusnya kamu,” Paitun balas menatap Kresna. Tajam. “Lebih cepat lagi kalau kamu mau mengatakan padaku siapa yang sudah membuatmu celaka.”

 

Kresna tertunduk. Sekilas, peristiwa itu terbayang lagi dalam ingatannya. Paitun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Kabut hitam yang rapat menyelimuti benak Kresna sedikit tersingkap. Paitun berusaha untuk masuk sejenak sebelum kabut itu merapat kembali. Dan, sesuatu yang ia dapatkan membuatnya sedikit tersentak.

 

Pinasti benar! Masalahnya karena seorang gadis berambut ikal panjang. Tapi... gadis berambut pendek itu? Dia....

 

Mata Paitun menyipit. “Siapa gadis berambut pendek itu? Yang sudah mendorongmu ke dalam jurang?”

 

Seketika Kresna mengangkat wajahnya. Ada kilasan rasa ngeri membayang dalam sorot matanya. Tapi, tatapan tajam Paitun membuatnya terkunci. Ia pun menyerah.

 

“Alex,” bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. “Alexandra....”

 

Wilujeng ternganga. Sedangkan Paitun mengangguk puas. Samar-samar, terdengar suara petir menggelegar di kejauhan. Paitun memejamkan mata sejenak.

 

Itu balasannya! Benang merah sudah terangkai....

 

* * *

 

Hujan yang turun sejak siang membuat Alex merasa sedikit kedinginan. Salah satu vila milik keluarganya di Bukit Seribu Kembang Goyang itu jadi tempat persinggahannya kali ini. Sejenak ia membayangkan nikmatnya menyantap jagung bakar manis-pedas di warung-warung yang berjajar di kaki bukit.

 

Tanpa berpikir lagi, ia menyambar kunci mobil dan berlari-lari kecil di bawah siraman gerimis menuju ke mobilnya yang masih terparkir di luar. Dihelanya napas lega begitu ia masuk, dan ia segera meluncurkan mobil itu.

 

Jalur dari puncak bukit menuju ke bawah penuh dengan kelokan tajam yang membuatnya harus mengemudi dengan hati-hati. Kembali dihelanya napas lega ketika mobilnya melewati gapura Kecamatan Samenik yang ada di kaki bukit. Tempat itu cukup ramai walaupun gerimis masih merinai. Deretan warung aneka makanan menyambutnya di kedua tepi jalan.

 

Warung jagung bakar yang jadi tujuannya terletak agak di ujung. Warna-warni terang warung itu sudah tampak di bawah siraman cahaya lampu. Jalanan melengang, dan Alex menekan sedikit lebih dalam lagi pedal gas mobilnya. Tapi....

 

BLAAARRR!!!

 

Sebuah kilatan cahaya yang jatuh tepat di depan mobil dan menimbulkan suara menggelegar membuat Alex terkejut setengah mati. Seketika ia hilang kendali. Mobilnya yang berkecepatan cukup tinggi di jalan menurun itu oleng dan menyeruduk sebuah warung iga bakar di sisi kiri. Masih sempat didengarnya jeritan dan teriakan dari arah warung setengah hancur itu, di tengah teriakan paniknya sendiri. Sebuah benturan keras terasa menyakitkan di kepalanya, diikuti sebuah ledakan dan timbulnya kobaran api di luar mobil.

 

Lalu gelap.

 

Dan, ia tak ingat apa-apa lagi.

 

* * *

 

(Bersambung hari Sabtu)

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)