[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #2

Catatan: Episode ini agak panjang. Satu bab sekaligus. Selamat menikmati akhir pekan.

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #2

 

Dua

Sunyi di Bilik Rasa

 

 

Perasaan Seta seolah menggeliat tak tentu arah ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Mahesa. Ada rasa sakit dan kemarahan luar biasa meluap keluar dari sorot mata ayahnya itu. Rasa sakit dan kemarahan yang auranya mengudara dalam senyap. Seta mengalihkan fokus pandangannya. Kali ini ke arah lantai.

 

‘Bagaimana bisa?’ adalah satu-satunya kalimat tanya yang digumamkan Mahesa. Dengan nada pedih yang luar biasa. Membuat Seta terhenyak dalam sunyi.

 

Pencarian sudah dimulai beberapa jam yang lalu. Hasilnya tentu saja belum ada. Perlu waktu sekian jam untuk sampai ke titik bibir jurang tempat jatuhnya Kresna. Mereka hanya bisa menunggu di salah satu pos tim penyelamat di kaki Gunung Nawonggo.

 

Mahesa mengalihkan tatapannya dari sosok Seta. Berbagai perasaan muncul dan bergumul dalam hatinya. Yang paling kuat adalah perasaan khawatir sekaligus pesimis. Ia tahu sedalam apa jurang-jurang di Gunung Nawonggo. Sekuat apa pun Kresna, bila harus terperosok ke kedalaman itu, apa yang bisa terjadi? Membayangkan itu, ada yang terasa menyentak hati Mahesa.

 

Kehilangan lagi?

 

Pahit terasa menyekat tenggorokan dan benaknya.

 

Tiga belas tahun berlalu masih terasa seolah kemarin. Titik waktu ketika ia harus kehilangan perempuan yang sangat dicintainya dan calon bayi ketiga mereka. Titik waktu ketika Seta dan Kresna harus kehilangan ibu dan calon adik mereka. Titik paling menyakitkan dalam hidupnya.

 

Jauh di dalam hatinya, ia merasa bahwa Wilujeng masih ada. Jasadnya memang tak pernah ditemukan, tapi ia telanjur memberi ruang dalam lipatan hatinya untuk kehadiran Wilujeng. Memelihara senyum dan cinta Wilujeng. Mengabadikan sosok Wilujeng. Tak pernah ia membuka ruang lain. Membuatnya bisa membesarkan Seta dan Kresna dengan tangannya sendiri.

 

Dan, sekarang?

 

Mahesa tertunduk. Dibiarkannya air mata menetes tak terkendali di pangkuannya. Ia hanya diam ketika sebuah sentuhan terasa di bahunya. Ia juga hanya membisu ketika sebuah bisikan menggema di telinganya.

 

“Maafkan aku, Yah. Aku nggak bisa jaga Kresna dengan baik.”

 

Tapi sebuah kemarahan kemudian meletup begitu saja setelah beberapa jenak.

 

“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?” desisnya dengan nada murka.

 

Seta menciut di sebelahnya.

 

Ya, apa yang aku bisa lakukan?

 

* * *

 

Samadi pelan-pelan turun dengan tali panjang yang terulur dari atas. Di sebelahnya ada Yoga. Terikat pada tali lain.

 

Walaupun merasa pesimis, tapi ia dan tim harus tetap menjalankan tugas. Sebesar apa misteri yang tersimpan dalam perut-perut lembah Gunung Nawonggo, ia paham seutuhnya.

 

Sudah tak bisa dihitung dengan jari tangan, berapa kali ia tergabung dalam tim pencarian korban celaka di Gunung Nawonggo. Terkadang berhasil, dengan menemukan korban yang sudah dingin dan kaku, ataupun korban masih hidup dengan luka sangat parah. Terkadang juga pencarian memunculkan korban selamat dengan luka sekadarnya dalam keadaan setengah linglung beberapa hari kemudian. Korban yang seolah-olah muncul dari keremangan kabut yang sering menyelimuti Gunung Nawonggo. Tapi lebih sering lagi, pencarian tak membuahkan hasil apa-apa. Korban bagai lenyap ditelan bumi.

 

Atau mungkin sudah lebih dulu disergap dan disantap binatang buas.

 

Lolongan panjang yang menggema dari dasar jurang Gunung Nawonggo, Samadi pernah mendengarnya. Bahkan sering. Saat ia bersama tim terpaksa harus menginap dalam kegelapan hutan untuk melanjutkan pencarian keesokan paginya. Tapi seperti apa bentuk hewan buas itu, ia tak pernah tahu. Tak pernah ingin tahu. Sepertinya anjing hutan. Hewan yang wajar menghuni kedalaman lembah Gunung Nawonggo. Hewan yang belum pernah ditemuinya saat ia melakukan pencarian di bawah. Entah di mana sarangnya.

 

Sambil terus turun, Samadi mengamati medan di sekitarnya. Ada beberapa bekas semak yang tercabut dari dinding jurang. Ia menoleh pada Yoga.

 

“Sepertinya benar dia terjatuh di sini,” ucapnya.

 

Yoga menoleh sekilas. “Jujur, aku pesimis.”

 

Samadi diam. Tapi ia merasakan hal yang sama dengan Yoga. Jurang yang mereka turuni kali ini paling tidak dalamnya tujuh puluh meter. Dengan bagian dasar lembap karena jarang tersentuh sinar matahari.

 

“Eh, Sam....”

 

Samadi menoleh. “Ya?”

 

“Aku nggak yakin korban terpeleset,” ujar Yoga. “Nggak ada tandanya di bibir jurang. Lagipula semalam purnama. Cukup terang di kegelapan jalur pendakian.”

 

“Maksudmu, korban sengaja dicemplungkan ke jurang oleh teman-temannya, begitu?”

 

“Aku nggak bilang gitu.” Yoga mengelak.

 

“Arah bicaramu menjurus,” gerutu Samadi. “Sudahlah, tugas kita mencari. Ketemu atau tidak, ketemu dalam kondisi apa pun, tugas kita cuma mencari dan mengusahakan evakuasi.”

 

Mereka berdua sudah sampai di dasar jurang. Kaki mereka menjejak rontokan dedaunan yang terasa empuk, bercampur dengan lumut. Udara terasa cukup dingin, namun sedikit pengap. Dengan mata tajam, mereka mengamati sekeliling.

 

Dasar jurang itu penuh dengan semak. Bahkan ada beringin di dekat tempat mereka turun yang tumbuh pada tebing. Akarnya meliuk-liuk tak tentu arah, dan akar gantungnya menjuntai-juntai. Bercampur dengan liukan batang pohon akar raga sakti. Suasana yang menimbulkan suasana seram justru karena begitu heningnya. Angin pun seolah mati raga. Sinar matahari pun sepertinya tak cukup bisa menerangi tempat itu. Cahaya hanya menerobos pada satu titik sempit, sekitar tempat mereka menjejakkan kaki.

 

Nihil. Tak ada tubuh yang mereka temukan di sekitar titik mereka turun. Samadi dan Yoga kemudian memutuskan untuk mencari dalam radius dua puluh meter. Tak bisa lebih, karena semak dan pepohonan terus merapat.

 

Beberapa menit kemudian tim berikutnya turun. Mereka berlima kini. Berembuk menentukan langkah apa yang harus diambil.

 

“Secara logika,” ucap Jamil, “minimal Kresna terluka. Nggak mungkin jauh dari sini.”

 

“Lagipula mau ke mana?” timpal Munawar. “Kondisi rapat begini.”

 

“Mereka bilang dengar lolongan dari arah bawah sini,” gumam Samadi.

 

“Mereka nggak bohong,” tukas Yoga pelan. “Aku lihat ada jejak binatang di tanah basah sebelah sana. Seperti jejak anjing, tapi ukurannya lebih besar. Menghilang di tumpukan dedaunan rontok.”

 

“Kita ini sasaran empuk,” ujar Munawar. “Ini habitat anjing hutan. Mereka bisa ada di mana saja di sini.”

 

“Dan, mungkin Kresna juga sudah habis,” celetuk Yoga.

 

“Tapi nggak ada bekasnya sama sekali.” Samadi menggeleng. “Bahkan bekas seretan tubuh pun nggak ada.”

 

Saat mereka masih berdengung membicarakan kemungkinan yang terjadi, tiba-tiba saja ada sahutan di sekeliling mereka. Dengking pendek-pendek, terdengar nyaris dari segala arah.

 

“Kik... kik....”

 

“Kik... kik... kik....”

 

“Kik... kik....”

 

Serentak mereka mundur dan merapat ke arah tebing. Dari balik semak di sekitar mereka, muncul sekurang-kurangnya tiga ekor ajak. Binatang itu menyeringai dengan wajah garang.

 

Gusti Allah... Paringono slamet...,” gumam Munawar dengan bibir bergetar.

 

‘Kembalilah ke atas.’

 

Jantung Samadi hampir berhenti ketika suara berat itu menggema di benaknya. Tatapannya bersirobok dengan tatapan seekor ajak putih yang berada tepat di hadapannya. Sepertinya pemimpin gerombolan itu.

 

‘Sekarang!’

 

Tak ada pilihan lain. Apalagi ketika muncul lagi dua ekor ajak, dan kelimanya kini mengelilingi mereka yang makin merapat ke tebing.

 

“Kita naik,” ujar Samadi pelan, dengan suara sedikit bergetar. “Sekarang!”

 

Tanpa banyak berpikir kelima orang itu pun meraih tali masing-masing dan mulai merambat naik. Tak ada keberanian untuk menoleh ke bawah, memastikan apakah kawanan ajak itu masih ada ataukah sudah pergi. Tapi rasa-rasanya, kawanan ajak itu masih menunggu.

 

Ketika mereka sudah berada lima meter dari bibir jurang, terdengar lolongan panjang bersahutan dari arah dasar jurang. Membuat tim yang menunggu di atas terhenyak. Kemudian paham seutuhnya ketika Samadi dan kawan-kawan muncul dengan tangan kosong.


Lalu, sunyi....

 

* * *

 

Mata Kresna mengerjap ketika ada remang terang yang terasa mulai menembus kelopak yang terkatup. Rasa nyeri itu kembali. Tak sedahsyat yang ia rasakan sebelumnya. Tapi tetap saja mengganggu kenyamanannya. Tanpa bisa menahan, ia mengerang.

 

“Kamu sudah bangun, Nak?”

 

Suara yang sedikit parau tapi mengandung kelembutan itu menyapa telinganya. Pelan-pelan, ia membuka mata. Pertama adalah bayang-bayang baur. Lalu semuanya jadi lebih jelas setelah ia mengerjap beberapa kali lagi. Pada detik itu ia ingat peristiwa yang melintas di kepalanya semalam.

 

Ibu?

 

“Ibumu sedang mandi,” gumam perempuan tua berkepala nyaris gundul itu.

 

Seketika Kresna tersentak. Di tengah pening yang masih mendera kepalanya, dicobanya untuk fokus menatap perempuan tua itu. Perempuan yang seolah bisa membaca pikirannya.

 

Mimpi apa ini?

 

“Ibumu sedang mandi,” ulang perempuan itu. “Dan, yang kamu alami ini sama sekali bukan mimpi.”

 

Kresna nyaris kehilangan kesadaran lagi. Pelan-pelan tatapannya kembali memburam. Ia mengatupkan kelopak matanya, tapi kesadarannya sudah kembali secara utuh.

 

Di mana ini?

 

“Kamu berada di Bawono Kinayung.”

 

Suara sedikit parau itu kembali menembus telinganya. Seketika Kresna membuka mata.

 

Bawono... apa?

 

“Bawono Kinayung.” Perempuan tua itu tersenyum.

 

Dan, tatapan Kresna berubah jadi menyiratkan kengerian.

 

Dia bisa membaca pikiranku!

 

Ia ingin bangun dan lari sejauh-jauhnya, tapi....

 

“Aaah....” Ia terpaksa mengerang ketika rasa nyeri terasa menusuk pinggang kirinya. Ia terpaksa mengerang sekali lagi ketika pergelangan kaki kirinya pun terasa sangat sakit.

 

“Jangan takut.” Perempuan tua itu mencoba menenangkannya. “Aku tahu namamu Kresna. Aku Paitun. Panggil saja Nini Paitun.”

 

Kresna mendegut ludah. Terasa pahit. Dan, tak berani memikirkan apa-apa lagi. Ia hanya mampu menatap Paitun. Sejuta tanya yang bermain memenuhi benak ditekannya. Membuat peningnya terasa makin parah.

 

“Yang kamu butuhkan sekarang adalah istirahat,” ujar Paitun lagi. “Jangan berpikir macam-macam. Kamu aman di sini. Masih hidup. Utuh jiwa dan raga. Dan... ibumu akan menjagamu.”

 

Kresna kembali tersentak

 

“Ibu...,” gumamnya, tanpa suara.

 

Tepat saat itu pintu terbuka. Paitun beringsut keluar. Seorang perempuan cantik melangkah masuk. Demi melihat sosok yang terbaring di atas tilam sudah membuka mata, ia pun bergegas mendekat.

 

“Kresna... Kresna...,” bisiknya berkali-kali.

 

Perempuan itu memeluknya yang masih terbaring. Dengan penuh cinta. Dengan kehangatan yang masih tetap sama dengan kenangan yang disimpannya rapi jauh di lubuk hati. Pelan-pelan kedua tangannya terangkat. Balas memeluk perempuan itu. Wilujeng. Ibunya. Ibu kandungnya. Dan, aromanya pun masih tetap sama.

 

“Bu....” Hanya itu yang ia mampu bisikkan.

 

“Iya, Kresna,” jawab Wilujeng terbata di tengah tangis bahagianya. “Ini Ibu. Ibu, Nak.”

 

Mereka berpelukan. Menumpahkan rindu. Melepas kesedihan yang tertahan karena sekian belas tahun tak bisa bertemu. Hanya bisa saling menyapa dalam ruang ingatan, dalam sunyinya bilik hati.

 

“Bu... Ini tempat apa?” bisik Kresna, pada akhirnya.

 

Wilujeng melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah pucat Kresna. Dielusnya pipi kiri pemuda itu, yang lebamnya mulai pudar.

 

“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Wilujeng lembut. “Yang penting sekarang kamu sembuh dulu. Nini Paitun akan mengobatimu. Pergelangan kaki kirimu terkilir. Nini akan mengurutnya. Sedikit sakit memang, tapi tangan dan ramuannya sungguh manjur. Kamu akan segera pulih.”

 

Tanpa sadar Kresna meringis. Saat itu, ia menyadari bahwa ada yang mengintip dari sela daun pintu yang terbuka sedikit. Wilujeng menyadari pula hal itu. Ia memutar badannya dan melambaikan tangan.

 

Seorang gadis muda dengan rambut lurus terurai sepunggung, bermata besar bening dengan iris berwarna coklat. Jajaran bulu mata yang sangat lentik menaungi mata itu. Hidungnya mungil dan bangir. Sementara bibirnya yang terkatup rapat berwarna merah muda menggemaskan. Dengan langkah ragu-ragu, gadis muda itu berjalan mendekat. Wilujeng meraih tangannya.

 

“Ini Pinasti,” Wilujeng kembali menatap Kresna. “Adikmu.”

 

Adik?

 

Kresna ternganga. Adik? Ya, ia ingat bahwa pada suatu waktu yang lalu ia sangat gembira karena akan memiliki adik. Tapi sayangnya Adik pergi bersama Ibu. Tak pernah sekali pun kegembiraan itu jadi nyata. Bahkan yang tersisa adalah kesedihan panjang. Ibu dan adiknya tak diketemukan. Bagai hilang ditelan bumi.

 

“Pin, ini Mas Kresna,” ujar Wilujeng dengan sangat lembut. “Saudaramu. Abangmu.”

 

Mata besar Pinasti mengerjap. Ditatapnya laki-laki muda tampan itu. Detak liar jantungnya kembali lagi. Dengan ragu, ia menatap uluran tangan Kresna. Dengan ragu pula, ia menyambut uluran tangan itu. Tapi....

 

Zzzrrrt...

 

Hanya sedetik bersentuhan, keduanya sudah saling menarik tangan bersamaan. Seolah ada aliran listrik yang menyengat.

 

‘Hei! Kendalikan dirimu!’

 

Pinasti terdiam sejenak ketika suara jiwa Janggo menegurnya. Tanpa melihat ke arah jendela pun ia tahu bahwa Janggo setia mengintip dari luar sana. Pelan-pelan ia mulai mengatur napas dan mengendalikan diri.

 

Ketika detak jantungnya kembali normal, ia mengulas senyum dan kembali mengulurkan tangan. Kresna menatap tangan itu ragu-ragu. Sengatan yang ia rasakan baru saja seperti masih mencubit-cubit telapak tangannya.

 

“Tidak apa-apa.” Gadis muda itu menggeleng. “Aku Pinasti, anak Ibu.”

 

Maka, Kresna pun menyambut uluran tangan itu. Telapak tangan mungil yang terasa sangat hangat dalam genggaman.

 

“Kamu sudah besar, Dik,” gumam Kresna. “Cantik sekali, seperti Ibu.”

 

Pinasti tersipu dan buru-buru menarik tangannya dari genggaman sang abang. Bertepatan dengan itu, Paitun masuk dengan membawa sebuah baskom besar yang diletakkannya di lantai.

 

“Sebelum aku mengurut pergelangan kakimu, kamu harus bersih dulu, Kresna,” ucap Paitun tegas. “Karena kamu belum boleh bangun, maka Wilujeng akan menyekamu.”

 

Tanpa menunggu jawaban Kresna, Paitun menarik tangan Pinasti. Keduanya kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

 

“Ayo, bayi besar, mandi kucing dulu,” senyum Wilujeng sambil tangannya dengan cekatan mulai meraih handuk yang sudah disiapkan Paitun sejak kemarin. “Baumu sudah mulai apek.”

 

“Memangnya sudah berapa lama aku di sini, Bu?”

 

“Dua hari dua malam,” jawab Wilujeng seraya menyingkap sedikit demi sedikit selimut yang menutupi tubuh Kresna, dan menyekanya dengan sangat berhati-hati.

 

Dua hari dua malam?

 

Kresna terhenyak.

 

Semua yang dialaminya terasa terlalu absurd. Ia didorong begitu saja ke jurang, bertemu dengan ibunya yang hilang tiga belas tahun lalu, bertemu dengan adik cantik yang tangannya menyengatkan aliran serupa listrik, pingsan dua hari dua malam di....

 

Apa tadi? Bawono... apa?

 

“Kinayung.” Wilujeng menjawab tiba-tiba, di tengah kesibukannya.

 

Kresna hampir kehilangan napas. Ibunya....

 

‘Ya, Kresna, Ibu bisa membaca pikiranmu.’

 

Kali ini jantungnyalah yang hampir berhenti berdetak. Suara lembut Wilujeng menyeruak masuk. Tidak melalui telinganya. Tapi langsung ke benaknya.

 

Seketika, sekelilingnya terasa beku dan senyap.

 

* * *

 

Lilin kehidupannya seolah padam. Mahesa tak tahu apakah ia masih sanggup menjalani kehidupannya lebih lanjut. Tim penyelamat sudah mengambil kesimpulan, Kresna hilang di dasar jurang. Tubuhnya tak bisa diketemukan. Pencarian tak bisa dilanjutkan karena kondisi di dasar jurang sangat berbahaya. Ada kawanan ajak. Berbahaya betul atau tidak, kawanan itu tetaplah hewan liar yang patut diwaspadai.

 

Mahesa menghela napas panjang. Terasa berat. Tiga belas tahun belakangan ini, kehidupannya sudah remang-remang. Antara keyakinan dan kenyataan sungguh jauh bertolak belakang. Hanya anak-anaklah yang menjadikannya jauh lebih kuat. Terutama Kresna.

 

Sedangkan Seta?

 

Mahesa kembali menghela napas panjang.

 

Jauh di lubuk terdalam hati, ia sungguh ingin menyayangi keduanya secara adil. Bagaimanapun keduanya adalah darah dagingnya sendiri bersama Wilujeng. Kembar identik, dengan watak sangat berbeda.

 

Pada awalnya ia menerima perbedaan watak itu. Sangat menerima. Tapi sejak kejadian itu, sekeras apa pun usahanya untuk ikhlas, tetap saja ada yang berubah dalam cara pandangnya terhadap Seta dan Kresna. Dan, ia sungguh tak berdaya melawannya.

 

Bagaimanapun Wilujeng dan si kecil hilang karena Seta. Seandainya dia bisa sedikit lebih manis dan bisa duduk diam, mungkin....

 

Mahesa mengerjapkan matanya yang diam-diam membasah. Pedih hatinya tak terkira bila terpaksa harus mengingat momen itu. Momen di mana mereka harus kehilangan Wilujeng dan si kecil dalam kandungan Wilujeng.

 

“Yah....”

 

Terdengar ketukan di pintu, diikuti panggilan Seta.

 

“Sarapan dulu, Yah.”

 

Tapi ia memutuskan untuk diam. Hanya duduk dalam hening di dalam ruang kerjanya. Bersila di atas lantai di depan sebuah meja pendek dengan foto Wilujeng berada di atasnya. Wilujeng-nya yang cantik. Wilujeng-nya yang segar dan penuh energi. Wilujeng-nya yang memancarkan tatapan dan senyum penuh cinta. Biasanya hanya foto Wilujeng yang terpajang. Tapi kini foto itu tak sendirian. Foto Kresna menemaninya dalam sunyi.

 

Dengan tangan gemetar, Mahesa menyalakan sebatang lilin putih. Ditatapnya cahaya yang berkelip di ujung lilin itu. Berharap asap tipis lilin yang membumbung ke atas bisa menyampaikan kerinduannya pada Wilujeng, di mana pun istri tercintanya itu kini berada. Juga sebait doa untuk Kresna, putra yang sangat dikasihinya.

 

* * *

 

Badan Kresna terasa sedikit lebih segar setelah Wilujeng menyekanya. Ia tak lagi telanjang bulat di bawah selimut. Wilujeng menemukan pakaian dalam, sehelai celana pendek, dan kaus oblong di dalam ransel yang ditemukannya di dekat tubuh Kresna di dasar jurang. Baju itulah yang kini dipakai Kresna. Pemuda itu berbaring setengah bersandar di pembaringan

 

“Setelah ini kamu sarapan dan minum ramuan yang sudah dibuatkan Nini,” ujar Wilujeng seraya membereskan baskom dan handuk. “Biar Nini cepat mengurut kakimu.”

 

Bersamaan dengan Wilujeng menjangkau handel pintu, pintu itu sudah terbuka dari luar. Paitun masuk dengan membawa sebuah mangkuk kecil terbuat dari tempurung kelapa. Di belakangnya ada Pinasti, membawa sebuah piring terbuat dari tanah liat beralaskan daun jati, dengan makanan berada di atasnya. Gadis itu meletakkan bawaannya di atas meja bambu dekat pembaringan.

 

“Kamu temani Mas dulu, ya, Nduk,” ucap Wilujeng.

 

“Iya, Nini juga mau siapkan ramuan buat mengurut kaki masmu,” timpal Paitun.

 

Beriringan kedua perempuan itu keluar dari kamar. Setelah pintu tertutup, sejenak hening menyelimuti ruangan sempit itu. Pada satu detik, Kresna dan Pinasti saling menatap. Sunyi. Asing. Sebelum Pinasti mengerjapkan mata indahnya. Membuat Kresna tersadar.

 

“Mm...,” gumam Kresna. “Aku dulu senang sekali ketika tahu mau punya adik. Tapi sayangnya....” Ia tak sanggup meneruskan ucapannya.

 

Pinasti mengalihkan tatapannya dari wajah Kresna. Tangannya kemudian menjangkau piring di atas meja. Disodorkannya piring itu pada Kresna.

 

“Makan dulu, Mas,” ucapnya halus.

 

Makanan biasa. Dalam hati Kresna merasa lega karena tak harus makan yang aneh-aneh. Diterimanya piring berisi nasi merah dan sayur hijau berkuah sedikit kental yang mengandung potongan-potongan sesuatu berwarna putih itu sambil mengucapkan terima kasih.

 

“Ini sayur apa?” tanya Kresna sambil menyuapkan sesendok nasi dan sayur ke dalam mulutnya.

 

“Daun kelor, jamur barat, dan sarang burung walet,” jawab Pinasti singkat.

 

“Enak,” gumam Kresna. Walaupun rada aneh.

 

Pinasti tersenyum sedikit. “Aku yang masak tadi.”

 

Seketika Kresna menghentikan gerakan tangannya. Ditatapnya Pinasti dengan perhatian penuh.

 

“Kamu?” Sedikit rasa tak percaya bersemburat dalam sorot mata Kresna.

 

Kening Pinasti sedikit berkerut. “Iya. Kenapa?”

 

Kresna menggeleng samar. “Nggak apa-apa. Enak, kok. Enak banget.”

 

Dalam waktu singkat, dihabiskannya makanan itu. Sambil tersenyum, Pinasti menerima piring kosong dari Kresna. Sambil meletakkan piring itu kembali di atas meja, Pinasti meraih tempurung kelapa yang tadi dibawa Paitun.

 

“Kata Nini, Mas harus menghabiskan ramuan ini,” ujar Pinasti dengan nada manis. “Biar Mas cepat sembuh dari dalam. Tapi....”

 

Kresna menatapnya dengan sorot mata bertanya.

 

“Mm...,” lanjut Pinasti sedikit meringis, “... Rasanya luar biasa nggak enak.”

 

Kresna pun tanpa sadar mengikuti ekspresi Pinasti.

 

“Tapi aku bisa menutup sedikit indera perasa dan penciuman Mas.” Pinasti menyodorkan tempurung kelapa berisi cairan pekat berwarna hijau tua kehitaman itu. “Itu juga kalau Mas mau.”

 

Kresna terbengong sejenak. Ia baru tersadar ketika dilihatnya Pinasti masih menatapnya.

 

“Wow! Gimana caranya?” Kresna mengerjapkan mata.

 

“Sini, tangan kanan Mas,” kata Pinasti sambil meletakkan kembali tempurung kelapa ke atas meja.

 

Dengan patuh, Kresna mengulurkan tangan kanannya. Pinasti menarik napas panjang sebelum mengambil tangan Kresna. Setelah meraba sejenak, dengan sangat lembut tapi kuat ditekannya satu titik pada telapak tangan Kresna dengan telunjuk kanan, tepat di tengah garis tangan. Beberapa detik kemudian gadis itu menggerakkan tangan kirinya di depan hidung Kresna.

 

“Bau apa?” tanya Pinasti.

 

Kresna menggeleng. Ia memang tidak membaui apa-apa. Dengan cepat Pinasti melepaskan tekanan telunjuknya, kemudian meraih tempurung kelapa di atas meja. Disodorkannya ramuan itu pada Kresna.

 

“Cepat minum, Mas,” tegasnya. “Ini cuma bertahan tak sampai satu menit.”

 

Dengan sekali tenggak, ramuan itu pun meluncur ke dalam mulut dan kerongkongan Kresna. Benar-benar tak berasa dan berbau. Dengan puas Pinasti menatapnya. Diterimanya kembali tempurung kelapa itu dari tangan Kresna.

 

Tanpa berkata apa-apa, gadis muda itu kemudian membereskan bekas tempat makan dan minum Kresna. Ketika ia akan beranjak, Paitun kembali ke kamar itu dengan membawa tempurung kelapa lain di tangannya.

 

“Kamu taruh di belakang dulu, Pin,” ujar Paitun sembari duduk di ujung pembaringan, dekat kaki Kresna. “Setelah itu kamu kembali ke sini, ya?”

 

“Baik, Ni,” jawab Pinasti patuh.

 

Paitun memeriksa kondisi pergelangan kaki Kresna sambil menunggu Pinasti kembali. Perempuan tua itu tersenyum puas ketika melihat bahwa bengkak di bagian terkilir itu sudah mengempis walaupun masih lebam kebiruan. Tak berapa lama Pinasti muncul lagi.

 

“Apa lagi, Ni?” tanyanya halus.

 

“Mm....” Paitun menatap Kresna, tepat di manik mata. “Urutanku agak menyakitkan. Kira-kira kamu kuat atau tidak?”

 

Kresna mengerutkan kening. Sesungguhnya ia tak tahu apa-apa soal ini. Tak juga bisa membayangkan akan seperti apa sakitnya. Sebelum ia menjawab, Paitun sudah menjangkau kaki kirinya, dan tangan perempuan itu mulai bekerja.

 

Pada gerakan pertama, Kresna sudah mengerang keras karena tak bisa lagi menahan nyeri. Paitun menghentikan kegiatannya. Ia menoleh pada Pinasti.

 

“Kurangi rasa sakit masmu, Nduk,” perintahnya halus.

 

Pinasti pun mengangguk. Gadis itu pun duduk di tepi pembaringan. Diraihnya tangan kanan Kresna. Kedua telapak tangan mungilnya kemudian menggenggam erat tangan Kresna. Perlahan, Kresna merasakan aliran kehangatan bergerak di sekujur tubuhnya. Pada satu detik, ada sedikit sengatan yang dirasakannya. Tapi sama sekali tidak menyakitkan. Pinasti pun sepertinya merasakan hal yang sama.

 

“Sudah, Ni,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Paitun. “Sudah siap.”

 

Kresna yang tadinya tak berkedip menatap Pinasti, kini mengalihkan arah pandangnya pada Paitun. Perempuan itu sudah melanjutkan kerja tangannya. Kresna mendesis ketika nyeri masih dirasakannya. Hanya saja, sudah tak sesakit sebelumnya.

 

Tanpa sadar ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Pinasti. Segera saja semburan rasa hangat terasa kembali mengaliri seluruh tubuhnya. Lebih hangat daripada sebelumnya. Nyeri itu makin berkurang. Masih ada, tapi hampir tak terasa. Ia aman hingga Paitun menyelesaikan urutan itu.

 

Pelan-pelan Pinasti melepaskan genggaman tangannya. Paitun pun bangkit dari duduknya. Ditatapnya Kresna dengan serius.

 

“Dalam dua-tiga hari ini, kamu akan bisa berjalan lagi,” senyum Paitun. “Tapi pelan-pelan dulu. Jangan coba-coba langsung jumpalitan tak keruan.”

 

Kresna membalas senyum itu. Kendati masih terasa sangat asing, tapi ia bisa menangkap aura ramah tempat itu dengan mata hatinya. Paitun kemudian membantunya berbaring kembali.

 

Tepat saat itu telinganya menangkap dengking pendek-pendek yang berasal dari luar pondok. Ruangan itu pun mendadak jadi makin remang. Ia menoleh, mencari sumber suara itu. Dan, jantungnya serasa hampir copot ketika melihat apa yang ada di luar jendela. Pun, ia nyaris lupa bernapas.

 

Sesosok makhluk berbulu coklat kemerahan tampak mengintip dari luar jendela. Mirip serigala, cukup besar sehingga setengah tubuhnya hampir menutupi seluruh ruang pandang yang dibatasi bingkai, dan terlihat sangat menyeramkan.

 

“Tak perlu takut, Mas,” ucap Pinasti lirih, sambil beranjak. “Dia Janggo, sahabatku.”

 

Seketika Kresna ternganga. Tanpa menunggu tanggapan lanjut dari Kresna, Pinasti pun berpamitan pada Paitun. Lalu, keduanya beriringan keluar dari ruangan. Kresna menghela napas berkali-kali untuk menormalkan kerja paru-paru dan jantungnya.

 

Ya, Tuhan.... Tempat apa ini?

 

Kresna bergidik. Tepat saat itu ada suara yang menggema di benaknya. Suara bernada teguran tegas.

 

‘Sudah! Nggak usah mikir macam-macam! Kamu istirahat. Tidur. Nanti kalau pekerjaan Ibu sudah selesai, Ibu temani kamu.’

 

Kresna mendegut ludah. Pelan-pelan, ditariknya selimut hingga menutupi wajah. Tak lagi berani berpikir apa-apa. Tapi ada perasaan aman dan nyaman yang menyusup di hatinya.

 

Ada Ibu. Aku nggak akan kenapa-napa.

 

Dan, ia pun mulai memejamkan mata.

 

* * *

 

Bersambung hari Selasa

Mulai minggu depan cerbung ini akan diterbitkan dalam versi lebih panjang per episodenya (satu bab sekaligus), pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)