[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #11

[Cerbung] Perawan Sunti dari Bawono Kinayung #11

 

Sebelas

Setangkup Belahan Jiwa

 

 

Pelan-pelan, Kresna mengeja kembali kehidupannya. Tapi masih terasa ada sedemikian besar ruang kosong dalam jiwanya. Entah semula berisi apa, ia tidak tahu. Sekuat apa pun ia berusaha mengingatnya, semua hal yang ia coba pikirkan itu kembali terpental pada sebuah situasi hampa.

 

Mahesa dan Seta berusaha memahami hal itu. Sederhana saja. Kresna pasti masih merasa sedikit linglung dengan apa yang telah dialaminya beberapa saat lalu. Sejak ia jatuh ke jurang, hingga kemudian ditemukan kembali. Sehalus apa pun keduanya berusaha mengorek keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ia hilang selama beberapa hari, jawaban Kresna tetap sama. Gelengan kepala disertai desahan, “Aku tidak tahu.”

 

Maka, Mahesa dan Seta pun berhenti bertanya. Kresna sudah kembali. Utuh. Selamat. Tak kurang suatu apa pun. Hanya saja sedikit linglung. Itu jauh lebih penting. Sudah lebih dari cukup. Dengan telaten Seta pun mengembalikan Kresna pada kehidupan semula. Kampus yang masih sepi karena musim libur semester, sahabat, teman-teman, yang semuanya masih dikenal Kresna dengan sangat baik. Menimbulkan perasaan lega dalam hati Seta maupun Mahesa.

 

Tentang kenapa Alex bisa melakukan ‘kejahatan’ itu pada Kresna, mereka hanya bisa menduga-duga. Tanpa berani berbuat lebih. Membiarkan jawabannya disimpan Alex sendiri, masih dalam diamnya pada kondisi koma. Hingga akhir minggu itu Lavia muncul dengan wajah pucat pasi di rumah Kresna dan Seta. Mahesa sendiri yang membuka pintu depan untuk gadis cantik berambut panjang bergelombang itu.

 

“Selamat pagi, Om,” bisik Lavia.

 

“Ya?” Mahesa mengerutkan keningnya sedikit. “Selamat pagi,” senyumnya kemudian. “Ada yang bisa saya bantu?”

 

“Saya....” Gadis cantik itu mendegut ludah. “Saya... ingin bertemu Kresna... atau Seta... atau... keduanya...”

 

“Oh....” Mahesa mengangguk seraya melebarkan pintu. “Masuklah. Kamu teman Seta dan Kresna?”

 

Gadis cantik itu mengangguk. “Ya, saya Lavia.”

 

“Oh....” Mahesa kembali mengangguk.

 

Setelah menyuruh gadis itu duduk, Mahesa pun memanggil dua anak kembarnya sekaligus. Seta yang pertama muncul. Kresna masih mandi.

 

“Hai! Halo!” Senyum Seta merekah melihat kehadiran Lavia di ruang tamu. “Sama siapa, Vi?”

 

“Hai!” Lavia berusaha membalas senyum Seta. “Aku sendirian. Mm... Kresna...?”

 

“Oh, dia baik-baik saja,” Seta tertawa ringan. “Lagi mandi. Kamu ada perlu sama Kresna atau aku?”

 

“Mm... Kalian berdua.” Wajah Lavia mendadak saja terlihat seolah menyimpan beban.

 

“Oh?” Seta jadi ikut serius. “Ada apa, ya, Vi?”

 

Lavia tak menjawab. Gadis itu menghela napas panjang. Seolah mengulur waktu. Tapi tak terlalu lama, karena Kresna segera muncul begitu selesai mandi. Disapanya Lavia dengan ramah. Ia pun duduk di sebelah Seta.

 

“Nah, ini Kresna sudah ada juga,” ujar Seta, menepuk halus bahu kiri saudara kembarnya. “Gimana, Vi?”

 

Lavia menatap dengan resah pada kedua pemuda kembar itu. Tapi pada akhirnya ia buka suara juga. Dengan sangat lirih dan terbata-bata.

 

“Aku... sepertinya tahu... kenapa Alex... bikin celaka... Kresna...”

 

Sebuah kalimat terputus-putus yang membuat Seta dan Kresna seketika ternganga.

 

* * *

 

“Jadi... kita akan sama-sama ke ‘atas’, tapi harus berpisah, Bu?”

 

Suara lirih itu membuat airmata Wilujeng hampir luruh. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Bahkan terlalu cepat. Sepertinya beberapa hari belakangan ini ada lubang besar sekali di hatinya. Lubang kosong menganga yang ia tak tahu kenapa dan tentang apa. Belum lagi hal itu terjawab, kini kenyataan lain kembali menghantamnya.

 

Waktunya untuk kembali ke ‘atas’ sudah ditentukan. Itu artinya ia akan berpisah dengan Pinasti kesayangannya. Dan, ia sungguh-sungguh tak tahu bagaimana bisa menyimpan ‘secuil’ Pinasti dalam ingatannya, karena semuanya akan terhapus begitu saja. Dihelanya napas panjang.

 

“Tapi suatu saat kita pasti akan bertemu lagi,” jawab Wilujeng dengan mata mengaca.

 

Pinasti memeluknya erat, berbisik, “Bagaimana kita akan tahu?”

 

“Ibu tidak tahu.” Wilujeng balas berbisik dan memeluk Pinasti. “Tapi Ibu yakin Gusti tidak akan sepenuhnya memisahkan kita. Gusti kita baik sekali, Pin.”

 

“Kenapa kalau Gusti baik, kita harus berpisah?”

 

Pelan, dengan sangat halus, Wilujeng melepaskan pelukan Pinasti. Dirangkumnya kedua belah pipi halus Pinasti dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

 

“Pinasti sayang, dengar kata Ibu.” Wilujeng menatap Pinasti dalam-dalam. “Nini bilang, kita punya garis hidup sendiri-sendiri. Garis yang kelak ada kemungkinan akan saling bersinggungan. Kita tidak tahu kapan. Tapi Ibu yakin, hati kita masih akan bisa saling mengenal dengan baik.”

 

Pinasti terdiam. Wilujeng masih merangkum wajahnya.

 

“Gusti akan menjaga kita,” bisik Wilujeng lagi. “Kita akan baik-baik saja.”

 

Pinasti pun perlahan mengangguk, walau sepenuhnya keraguan masih melanda hatinya. Pada saat itu Paitun muncul di beranda, tempat Wilujeng dan Pinasti bercakap. Ditatapnya kedua orang itu.

 

“Aku harap kalian sudah siap,” gumam Paitun. “Kami semua di sini akan kehilangan kalian. Memang akan selalu ada orang baru. Tapi bagaimanapun, kalian akan selalu ada dalam hati kami.”

 

Wilujeng balas menatap Paitun. “Benarkah kami akan seutuhnya melupakan tempat ini, Mak?” tanyanya sedih.

 

“Ya,” angguk Paitun. “Untuk melindungi tempat ini, Jeng.”

 

“Tapi kenapa Kang Saijan masih bisa terhubung dengan tempat ini, Mak?” Suara Wilujeng terdengar bernada menuntut.

 

Paitun tersenyum samar. “Ada banyak perjanjian dengan Saijan, Jeng. Kami saling membutuhkan. Walaupun begitu, tetap saja ada batasan yang tak bisa ditembus Saijan. Dia tahu tempat ini ada. Begitu juga dengan keberadaan bawono lainnya. Tapi dia tetap tidak tahu bagaimana bisa masuk ke sini. Dan, aku masih bisa sewaktu-waktu menghapus ingatannya kalau dia sampai membahayakan tempat ini.”

 

Wilujeng termangu. Paitun mengerti apa yang dipikirkan Wilujeng. Perempuan itu tersenyum.

 

“Bukan kami tak percaya padamu atau Pinasti, Jeng,” ucap Paitun lembut, seraya dengan halus mengusap bahu kiri Wilujeng. “Tapi kalian semua punya peranan sendiri-sendiri. Gusti itu maha sempurna dalam mengatur segala sisi kehidupan kita semua. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua akan baik-baik saja.”

 

“Ni....” Suara lirih Pinasti menyeruak tiba-tiba.

 

“Ya?” Masih dengan senyum terkembang di bibir, Paitun mengalihkan tatapannya pada Pinasti.

 

“Apakah... kehidupanku di ‘atas’... akan sama seperti... sekarang?”

 

“Tentu saja tidak.” Paitun menggeleng tegas walaupun suaranya tetap terdengar lembut. “Tapi kamu akan belajar lagi. Akan ada banyak bagian yang kosong dalam dirimu. Itu milik kehidupanmu yang baru. Sebagian lagi masih akan tertinggal di sini dalam bentuk lain. Hanya sebagian kecil saja. Dan..., kamu akan memiliki keluarga baru di ‘atas’ sana. Keluarga yang menyayangimu dan menganggapmu sangat penting. Kamu akan baik-baik saja.”

 

Pinasti mengalihkan tatapannya pada Wilujeng.

 

‘Kita akan baik-baik saja, Bu...,’ ucapnya dalam hening.

 

Wilujeng mengangguk.

 

“Nah!” Paitun berdiri. “Kalian masih punya waktu sehari ini di sini. Nikmatilah selagi bisa.”

 

“Aku ingin mengajak Pinasti ke padang bunga, Mak,” ujar Wilujeng.

 

“Ya, pergilah ke mana saja kalian suka,” angguk Paitun seraya beranjak masuk ke dalam pondok.

 

* * *

 

“Besok gue berangkat ke Nawonggo bareng geng.” Alex menggigit butir-butir jagung rebusnya dengan sikap acuh tak acuh.

 

Lavia menoleh sekilas. “Lama?”

 

Masih dengan sikap acuh tak acuh, Alex mengedikkan bahu. Lavia kembali menekuni jagung rebus di tangannya sendiri.

 

Alex....

 

Lavia mengerjapkan mata. Entah kenapa ia merasa dekat sekaligus jauh dengan Alex, gadis manis berambut pendek itu. Ia sudah lupa kapan tepatnya dekat dengan Alex. Yang jelas, ia pernah melihat bahwa kedekatannya dengan Alex akan bisa mendekatkan ia pada Kresna. Alex bersahabat dengan Kresna. Sangat dekat.

 

Dan, tak perlu waktu lama bagi Alex untuk mengetahui bahwa ia menyukai Kresna. Sangat. Tapi Alex tak pernah mengatakan apa-apa. Apalagi menjanjikan sesuatu. Kresna tetaplah Kresna yang baik hati pada semua orang, termasuk para gadis. Tak terkecuali dirinya. Sikap yang sama rata. Tak pernah ada yang dipandang istimewa.

 

Begitu dekat di samping Kresna ada sosok Seta. Sama-sama tampan. Sama-sama baik dan sopan. Sama-sama pintar. Tapi hatinya tak pernah bisa berbohong. Rasa itu tak pernah bisa begitu mudahnya berpindah dari Kresna pada Seta. Sekali lagi, ini masalah rasa. Yang ia tak mampu ungkapkan pada siapa pun. Termasuk Alex. Tapi entah bagaimana, rasa-rasanya Alex tahu perasaannya itu. Tapi gadis itu tak pernah bereaksi apa-apa kecuali mengulurkan persahabatan.

 

“Lo sakit hati banget, ya, dicuekin Kresna?”

 

Kalimat dalam nada sambil lalu itu mendadak menghantam kesadaran Lavia. Ditatapnya Alex, yang masih berlagak sibuk mengunyah butir-butir jagung rebus yang telanjur masuk ke dalam mulut. Sekilas ada nada mengejek dalam suara Alex. Membuat Lavia menajamkan tatapan matanya.

 

“Terus kenapa?” Sambarnya dengan nada sedikit menantang.

 

Alex mengangkat alis. Mulutnya sudah berhenti mengunyah. Gadis itu balas menatap Lavia. Tersenyum masam.

 

“Kalau lo gak bisa dapetin Kresna, gue juga bisa bikin gak seorang pun cewek bisa dapetin dia.”

 

“Maksud lo?” Mendadak saja alarm di kepala Lavia berbunyi.

 

Alex kembali mengedikkan bahu. Lavia menyipitkan mata. Entah kenapa, mendadak saja ia mencium aroma bahaya menguar dari diri Alex. Tanpa sadar, ia menggeser duduknya. Sedikit menjauh dari Alex.

 

“Lo kenapa, sih?” Mendadak Alex menoleh. Menatap Lavia tajam. “Gue gak bakal apa-apain lo.”

 

“Tapi omongan lo serem, Lex,” gerutu Lavia.

 

Alex terbahak. Gadis itu kemudian berdiri dan mengibaskan debu yang menempel di bagian belakang celana jeans-nya. Gema suara Alex yang terdengar begitu berat dan dalam menggema di telinga Lavia sebelum Alex melangkah pergi meninggalkannya.

 

“Gue gak bakal sakitin lo, Vi. Gimana gue bisa sakitin lo kalau gue cinta sama lo. Dan... gue gak bakalan biarin Kresna sakitin lo lebih lama.”

 

Ia baru mengerti apa arti ucapan Alex ketika mendengar Kresna jatuh ke jurang saat mendaki Gunung Nawonggo. Sebenarnya, ia tak mau menduga-duga. Tapi berita yang didengarnya terus berkembang, bahwa Alex-lah yang diduga sudah mendorong Kresna. Diikuti dengan kisah pelarian Alex yang berakhir mengenaskan.

 

 

 

“Selama berteman sama dia, nggak sedikit pun aku sangka dia....” Lavia tertunduk. Tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Air mata mulai menetes membasahi pipinya.

 

Seta yang berada lebih dekat dengan Lavia segera meraih gadis itu dan menenggelamkannya dalam pelukan. Kresna hanya mampu menghela napas panjang.

 

Jadi, memang benar Alex penyuka sesama jenis.

 

Kresna mengerjapkan mata. Menatap Lavia yang masih terisak dalam pelukan Seta dengan sorot mata kosong.

 

“Demi Tuhan..., aku nggak pernah... menyuruhnya... mencelakakan... Kresna....” Lavia berucap di sela-sela sentakan napasnya. “Aku... sendiri... kaget dengan... kenyataan ini. Kusangka dia... hanya ingin... berteman..., bersahabat. Tapi... ternyata.... Kalau aku tahu... akan begini... jadinya..., aku nggak akan... mau dekat-dekat... sama dia.”

 

Kresna segera menggeser duduknya. Diusapnya lembut bahu Lavia.

 

“Nggak ada yang menyalahkan kamu, Vi,” bisiknya. “Aku minta maaf, nggak bisa kasih kamu lebih, sesuai harapanmu.”

 

“Nggak... apa-apa....” Lavia menggeleng, melepaskan diri dari pelukan Seta. Tertunduk. “Aku tahu... rasa nggak bisa... dipaksakan.”

 

Kresna menghela napas panjang. Alex? Astaga.... Jadi begitu ceritanya?

 

Ia masih terdiam sampai Seta mengantarkan Lavia pulang. Baru tersentak ketika ada tangan yang menepuk lembut bahu kanannya.

 

“Ayah dengar pembicaraan kalian,” gumam Mahesa, duduk di sebelah anak laki-lakinya.

 

Kresna menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Menggeleng resah.

 

“Aku bukan sahabat yang baik,” erangnya lirih. “Seharusnya aku, atau kami semua, lebih tahu tentang Alex. Jadi nggak akan seperti ini akhirnya.”

 

“Kres, Ayah rasa soal itu masih jadi hal yang sensitif buat Alex,” ujar Mahesa. “Tidak semua hal bisa diceritakan pada seorang atau para sahabat. Sedekat dan seerat apa pun hubungan kalian. Jangan pernah merasa bersalah. Ya, kita semua memaafkan Alex. Pada kenyataannya kamu selamat. Masih bisa berada di sini, bersama Seta dan Ayah. Itu melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Apalagi saat ini kondisi Alex masih seperti itu. Kalaupun dia mampu bertahan, kita tak tahu seperti apa masa depannya. Kalau memang dia harus pergi, setidaknya kita semua sudah mengampuninya.”

 

Kresna mengerjapkan matanya yang mendadak saja terasa hangat. Soal pengampunan itu, ia tak perlu jauh-jauh mencari contoh nyatanya. Ayahnya sendiri sudah mewujudkan hal itu secara nyata. Pengampunannya pada Seta. Hal yang sama sekali tidak mudah, tapi ayahnya bersedia melakukan itu. Dan, mengingat hal itu, mau tak mau pikirannya berlabuh pada satu sosok.

 

“Ibu...,” gumamnya, nyaris tanpa gema.

 

“Ya?” Mahesa menoleh cepat.

 

Kresna mendegut ludah. “Entah kenapa... belakangan ini aku... merasa begitu dekat... dengan Ibu. Tapi sekaligus juga... sangat jauh. Entahlah.” Pemuda itu menggeleng lemah.

 

Mahesa merengkuh bahu Kresna. “Ayah tahu rasanya. Mungkin Ayah sudah gila, tapi... Ayah selalu merasa Ibu masih ada. Sudah belasan tahun, Kres, tapi Ayah sama sekali tak bisa menghilangkan perasaan itu.”

 

“Bagaimana kalau Ibu kembali?” Kresna menoleh cepat. “Tiba-tiba saja... kembali?”

 

“Kita selamatan.” Mahesa tertawa, terdengar sedikit sumbang. Sekadar menutupi kesedihannya. Harapan itu entah kenapa semakin menjauh walaupun perasaaanya tak juga berubah. “Atau apa pun.”

 

Ada nyeri yang terasa menggigit hati Kresna. Kalau Ibu kembali.... Dan, tanpa bisa dicegah, kerinduan yang sudah digulungnya selama bertahun-tahun atas nama cintanya pada seorang ibu terburai kembali. Terasa menyesakkan dada.

 

* * *

 

Kali ini, padang bunga itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Warna-warni keindahannya tetap sama. Hanya saja seolah diliputi kabut tipis berwarna kelabu. Wilujeng dan Pinasti pun duduk dalam hening di tepinya.

 

Pinasti meraih beberapa sulur bunga dan dedaunan yang ada di dekatnya. Pelan-pelan, tangannya merangkai bebungaan dan aneka daun itu jadi sebuah mahkota yang cantik. Tanpa kata, diletakkannya mahkota bunga itu di kepala Wilujeng. Perempuan itu seketika menoleh, sekaligus meraba kepalanya. Sejenak, diturunkannya rangkaian mahkota bunga itu dari kepalanya. Diamatinya baik-baik.

 

“Bagus,” gumamnya seraya tersenyum. “Cantik sekali! Kamu belajar merangkai dari mana?”

 

Wilujeng mengenakan kembali mahkota bunga itu di kepalanya. Pinasti terlihat tersipu malu. Pipinya ranum memerah.

 

“Aku... aku belajar dari pangeran... dalam mimpiku, Bu.” Suara Pinasti melirih. Perawan sunti itu tertunduk malu.

 

Wilujeng tertawa sambil merengkuh bahu Pinasti.

 

“Ganteng pangeranmu?” goda Wilujeng.

 

Pinasti makin tersipu, menjawab malu-malu, “Iya.”

 

“Semoga suatu saat dia hadir dalam kehidupan nyatamu, Nduk,” gumam Wilujeng, membelai rambut Pinasti. “Bisa menjagamu, bisa menyayangimu. Ngomong-ngomong, seperti apa penampakannya?”

 

Pinasti tertawa kecil sebelum menceritakan mimpi-mimpi yang belakangan ini kerap kali mewarnai tidurnya. Tentang seorang pangeran tampan yang pandai merangkai mahkota bunga dan menempatkan mahkota itu dengan sangat manis di puncak kepalanya. Membuatnya merasa melambung tinggi dan seribu kali lebih cantik.

 

Wilujeng mengeratkan rengkuhannya. Bayi kecilnya sudah menjelma jadi perawan sunti cantik yang sudah mulai mengenal ketertarikan pada laki-laki. Tapi mendadak saja ia membeku.

 

Pangeran itu....

 

Ia juga memiliki dua orang pangeran di rumah. Entah sudah segagah apa sekarang. Pelan, dihelanya napas panjang.

 

“Kenapa, Bu?” Suara lembut Pinasti membuatnya sedikit tersentak.

 

“Ibu... punya dua anak laki-laki, kembar,” gumam Wilujeng. “Entah sudah sebesar apa sekarang. Ceritamu tentang pangeran dalam mimpi membuat Ibu jadi teringat mereka.”

 

“Mereka seumurku?”

 

Wilujeng menggeleng, mendesah, “Lebih tua. Mereka sudah berusia delapan tahun ketika Ibu jatuh di jurang Pegunungan Pedut. Itu tiga belas tahun yang lalu. Berarti sekarang umurnya dua puluh satu. Sekitar itulah.”

 

“Oh....”

 

Hening sejenak.

 

“Pin, Ibu lapar. Kita pulang, ya?”

 

Pinasti mengangguk patuh. Sambil bergandengan tangan, keduanya kemudian kembali ke Bawono Kinayung.

 

* * *

 

Sekuat tenaga Paitun menyerap aura kesedihan yang menguar di Bawono Kinayung dan membuangnya jauh-jauh dari tempat itu. Pada akhirnya perpisahan akan datang juga. Waktu tiga belas tahun sama sekali bukan masa yang pendek untuk mengikat rasa sayang pada Wilujeng dan Pinasti. Karena itu Nyai Sentini pun turut membantu Paitun mengurangi warna kelabu dan aroma perpisahan di tempat itu.

 

Menjelang sore, waktunya pun tiba bagi Wilujeng untuk meninggalkan tempat itu. Paitun memeluknya untuk terakhir kali. Air mata pun menetes di kedua belah pipi Wilujeng. Pun ketika Pinasti memeluknya. Isak tangis Wilujeng pecah. Demikian pula Pinasti.

 

“Bu..., kita akan... baik-baik saja,” bisik Pinasti, tersendat. Seolah ia pun ingin meyakinkan dirinya sendiri.

 

Wilujeng mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukannya. Dirangkumnya kedua pipi Pinasti dengan telapak tangannya.

 

“Kita pasti akan bertemu kembali,” ucap Wilujeng. “Semoga hati kita tetap saling mengenal, Nduk.”

 

Pinasti mengangguk-angguk. Saat itu juga, Paitun dan Nyai Sentini menyatukan telapak tangan kanan masing-masing. Seketika mata Pinasti dan Wilujeng sama-sama terkatup. Bersamaan pula Paitun dan Nyai Sentini menghapus ingatan-ingatan yang tak perlu dari benak Pinasti dan Wilujeng.

 

Setelah semuanya usai, Nyai Sentini menggandeng tangan Wilujeng, sedangkan Paitun meraih Pinasti dan merengkuh bahu perawan sunti itu. Kedua tangan Nyai Sentini membuat sebuah lingkaran besar di udara. Bersamaan dengan itu, kabut putih tebal menyelimuti seluruh pondok Paitun.

 

Selama beberapa saat kabut itu mengambang di udara, sebelum pada akhirnya menipis. Dan, bersamaan dengan menghilangnya kabut itu, Nyai Sentini dan Wilujeng pun lenyap dari pandangan.

 

Paitun menghela napas panjang. Lega, walaupun masih ada setitik kesedihan menghinggapi hatinya. Tapi waktu terus berputar. Diremasnya lembut bahu Pinasti yang matanya masih terpejam erat. Bersamaan dengan itu, Paitun memanggil Kriswo dan Randu melalui pikirannya. Kedua orang itu muncul beberapa saat kemudian.

 

“Sudah selesai,” gumam Paitun.

 

Kriswo mengusap air matanya yang mengembang. Ia dan Randu memang sengaja tidak muncul di pondok Paitun saat Wilujeng hendak dibawa Nyai Sentini meninggalkan tempat itu. Terlalu menyedihkan bagi keduanya untuk berpisah dengan Wilujeng.

 

“Pinasti jadi kami bawa pulang, Mak?” tanya Randu, memecah keheningan.

 

Paitun menggeleng. Didudukkannya Pinasti yang matanya masih terpejam di balai-balai terdekat.

 

“Malam ini juga dia harus meninggalkan tempat ini.”

 

Air mata Kriswo menderas. Tangannya terulur, membelai kepala Pinasti.

 

“Akan ada orang baru, Kris,” ujar Paitun dengan suara lembut. “Selalu ada perjumpaan dan perpisahan.”

 

Sambil mengucapkan itu, Paitun terus-menerus menyerap kesedihan Kriswo dan Randu, hingga rasa itu pun mereda. Sesuai perintah Paitun, Randu menggendong Pinasti ke dalam kamar dan membaringkannya di atas tilam. Perawan sunti itu sungguh-sungguh terlelap. Menunggu waktunya tiba untuk meninggalkan pula tempat itu.

 

* * *

 

Di tengah keheningan sebuah tepi danau kecil yang airnya sangat jernih, kabut putih perlahan melingkupi sekitar tempat itu. Tak lama. Kabut itu kemudian perlahan menipis dan menghilang.

 

Dengan sangat lembut, Nyai Sentini mendudukkan Wilujeng di tepi danau itu, di atas rerumputan bagai permadani di bawah sebuah pohon besar. Pelan-pelan, ia kemudian menjauh dan menyembunyikan diri di balik pepohonan. Dari tempatnya itu, Nyai Sentini masih bisa melihat Wilujeng. Ia pun menjentikkan jemarinya tiga kali. Tepat saat itu, dilihatnya Wilujeng sedikit tersentak. Ia pun tersenyum, dan mulai mengambil peranannya.

 

* * *

 

Wilujeng merasa seperti terperosok dalam kegelapan tak berujung. Ingin ia berteriak, tapi tak sedikit pun suara muncul dari mulutnya. Segalanya terasa begitu hening. Hingga tiba-tiba saja ia mendengar sebuah ledakan keras, dan matanya terbuka lebar.

 

Hal pertama yang dilihatnya adalah pemandangan indah yang terpampang begitu saja di depan mata. Danau beriak lembut yang dikelilingi padang semak kecil berhiaskan aneka bunga liar warna-warni. Di seberang danau itu ada tebing tinggi dengan sisa-sisa cahaya matahari mengintip dari puncaknya. Sebersit angin sepoi menyapa wajahnya, membawa pula aroma segar tanah basah dan udara yang segar murni. Wilujeng ternganga.

 

Tempat apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?

 

Perempuan itu mengerutkan kening dalam-dalam. Perlahan, ia berdiri dan melangkah ke arah danau. Genangan bening itu kini memantulkan wajahnya. Membuatnya terkesiap seketika.

 

Benarkah ini aku? Apa yang terjadi?

 

Pantulan wajah di permukaan air danau itu memang benar wajahnya. Tapi wajah yang mulai menua, bukan lagi wajah seorang perempuan berusia akhir dua puluhan.

 

Astaga...!

 

Lalu kilasan-kilasan peristiwa itu menyambar-nyambar begitu saja dalam benaknya. Liar. Tak terkendali. Tapi rangkaiannya seketika membuatnya terhenyak. Hal terakhir yang diingatnya adalah ia terjun bebas ke sebuah jurang di Pegunungan Pedut setelah mobil yang ia tumpangi mengalami kecelakaan. Pintu mobil terbuka lebar, dan ia seolah tersedot keluar tanpa bisa menghindar. Lalu gelap, dan ia berada di tempat ini.

 

Ia tersentak lagi. Bayiku? Seketika tangannya meraba perut. Kempes. Ya, Tuhan.... Apa yang terjadi? Mana bayiku?

 

Wilujeng terduduk lunglai di tepi danau itu, dan mulai menangis. Selama beberapa saat ia tersedu, hingga ada suara lembut yang menyapanya.

 

“Nduk....”

 

Ia menoleh cepat. Dari balik tirai airmatanya, tampak seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan membawa sebuah tempayan kecil melangkah pelan mendekatinya. Wajah perempuan tua itu terlihat ragu-ragu.

 

“Kamu siapa? Sedang apa di sini?” tanya perempuan tua itu.

 

Wilujeng buru-buru menghapus air matanya. Ia pun berdiri.

 

“Nek, tempat apa ini?” Perempuan cantik itu justru balik bertanya.

 

“Ini Telaga Wening. Aku biasa mengambil air di sini. Kamu siapa? Kamu bukan orang sini kelihatannya.”

 

“Saya....” Wilujeng mengerutkan kening. “Saya Wilujeng, Nek. Saya....”

 

“Oh, Wilujeng.” Nenek itu mengangguk-angguk. “Aku Sentini. Rumahku tak jauh dari sini. Rumahmu di kampung mana?”

 

Wilujeng mendegut ludah. Di titik mana persisnya Telaga Wening ini berada di peta, ia tak tahu persis. Tapi ia masih ingat betul rumahnya, kotanya.

 

“Saya dari Palaguna, Nek.”

 

“Palaguna?!” Sentini membelalakkan matanya. “Kota Palaguna? Itu jauh sekali dari sini!”

 

Wilujeng kembali terhenyak. Ditatapnya Sentini.

 

“Sebenarnya ini di mana, Nek?”

 

“Sebelah situ--,” Sentini menunjuk ke arah belakang punggungnya, “Pegunungan Pedut. Di sebelah sana--,” Sentini menunjuk ke arah tebing di seberang telaga, “—Gumuk Sewu. Dan, telaga ini maupun rumahku, masuk daerah Ngentas. Tepatnya Ngentas Timur.”

 

Astaga.... Wilujeng menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. Aku ini kenapa?

 

“Kamu sendirian di sini?” tanya Sentini lagi.

 

Wilujeng mengangguk, kemudian menggeleng. Wajahnya tampak diliputi kebingungan.

 

“Saya....” Ia kembali mengerutkan kening. “Saya jatuh ke jurang di Pegunungan Pedut, Nek. Tapi... Saya kenapa bisa ada di sini sekarang?” Wilujeng setengah menggumam.

 

“Kapan kamu jatuh?” Sentini menatap Wilujeng dengan khawatir.

 

“Itu....” Wilujeng seketika tersentak lagi. “Sekarang ini tahun berapa, Nek?”

 

Ketika Sentini mengucapkan sederet angka tahun berjalan, Wilujeng serasa hampir pingsan. Ia terhuyung dan segera bersandar pada pohon terdekat. Sentini membuntutinya, masih dengan tatapan khawatir.

 

“Nduk, kamu tak apa-apa?” Sentini mengulurkan tangannya, mengusap bahu Wilujeng.

 

“Nek...,” ucap Wilujeng dengan suara bergetar hebat. “Saya jatuh di Pedut sudah tiga belas tahun lalu.”

 

“Gusti....” Sentini menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Lha, kok, bisa kamu di sini sekarang? Selama ini kamu di mana?”

 

Wilujeng menggeleng resah. “Saya tidak tahu, Nek. Saya benar-benar tidak tahu.”

 

Sentini terlihat berpikir sejenak sebelum kembali buka suara, “Sudah, begini saja. Ini sudah hampir sore. Kamu ikut aku ke rumah. Nanti kita pikirkan bagaimana kamu bisa pulang. Ya?”

 

Wilujeng tak punya pilihan lain kecuali mengangguk. Sentini kemudian meneruskan niatnya untuk memenuhi tempayan kecilnya dengan air telaga. Setelah itu, ia mengajak Wilujeng meninggalkan Telaga Wening.

 

* * *

 

Rumah serupa gubuk itu sederhana saja. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, los tanpa sekat bilik. Atapnya berupa rangkaian daun kelapa kering. Perabot di dalam gubuk itu pun sederhana saja. Alat masak sekadarnya beserta tungku tradisional berbahan bakar kayu. Balai-balai bambu beralaskan tikar ada di sudut bagian depan gubuk, dan satu lagi di belakang di area dapur. Tanpa kursi, tanpa meja. Hanya ada sebuah bangku kayu panjang di bawah jendela dekat pintu.

 

“Nenek tinggal sendirian di sini?” celetuk Wilujeng.

 

“Tidak. Ada keponakanku. Sekarang sedang ada di ladang.”

 

Wilujeng duduk di bangku setelah meletakkan tempayan yang tadi dibawanya di sudut yang ditunjuk Sentini. Sentini pun ikut duduk di sebelah Wilujeng.

 

“Nah, sekarang bagaimana?” tanya Sentini dengan wajah serius.

 

“Saya harus pulang, Nek.” Wilujeng tertunduk.

 

“Hmm... Kalau begitu, tunggulah keponakanku pulang,” ujar Sentini. “Sebentar lagi. Biasanya sebelum gelap dia sudah pulang. Nanti biar kamu diantarnya langsung ke kantor polisi. Kalau harus melalui kepala desa, letaknya terlalu jauh. Masih lebih dekat kantor polisinya.”

 

Dan, ucapan Sentini terbukti. Seorang laki-laki tinggi besar berambut panjang yang diikat rapi di belakang kepala muncul tak lama kemudian. Sentini pun memperkenalkannya pada Wilujeng.

 

“Nah, ini keponakanku, Nduk Wilujeng. Namanya Tirto.”

 

Laki-laki itu menyalami Wilujeng dengan sikap sangat sopan. Sentini kemudian menjelaskan pada Tirto siapa Wilujeng. Pun maksud Sentini agar Tirto mengantarkan Wilujeng ke kantor polisi terdekat. Tirto pun segera menyanggupinya.

 

Laki-laki itu keluar dari gubuk. Samar-samar Wilujeng mendengar ringkik kuda yang mendekat. Beberapa saat kemudian, Tirto kembali lagi.

 

“Kereta kuda sudah siap, Mbakyu,” ujarnya halus, tanpa bermaksud mengusir. “Kalau kita perginya terlalu sore, kasihan Bibi kalau harus saya tinggalkan sendirian di sini.”

 

Wilujeng pun mengangguk. Dipeluknya Sentini sembari berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Ketika ia keluar membuntuti langkah Tirto, sebuah sado yang terikat pada seekor kuda sudah siap di depan gubuk. Sentini membalas lambaian tangan Wilujeng hingga sado itu menghilang di belokan.

 

Perempuan tua itu mengangkat kedua tangannya dan membuat lingkaran besar di udara. Kabut putih pun perlahan muncul, menebal, untuk kemudian menipis kembali. Dengan menghilangnya kabut itu, menghilang pula bangunan gubuk berserta Sentini. Tempat itu hanya menyisakan pepohonan rapat khas hutan perbukitan. Kembali hening dan kian temaram.

 

* * *

 

Benar, kantor polisi yang mereka tuju tidaklah jauh. Begitu keluar dari jalanan hutan dan masuk ke jalan raya beraspal halus, Tirto membelokkan sadonya ke kiri. Ketika sampai di perempatan pertama yang berjarak sekira tiga ratus meter dari arah mereka keluar dari hutan, Tirto kembali membelokkan arah sadonya. Kali ini ke kanan. Dan, kantor Polsek Ngentas Timur terletak tak jauh dari perempatan itu. Dengan tenang, Tirto membelokkan sadonya masuk ke halaman polsek.

 

Laporan yang ia sampaikan singkat saja. Bahwa bibinya bernama Sentini menemukan seorang perempuan tak dikenal bernama Wilujeng di tepi Telaga Wening ketika ia hendak mengambil air telaga. Perempuan itu terlihat seperti kebingungan. Dan, menurut pengakuannya sendiri, perempuan bernama Wilujeng itu pernah jatuh ke dalam jurang di Pegunungan Pedut sekitar tiga belas tahun yang lalu. Tak ingat apa-apa hingga ditemukan Sentini.

 

Polisi bernama Royan itu menatap Tirto dengan tajam. Tapi Tirto tetap tenang. Polos. Sama sekali tak terlihat merasa diintimidasi. Naluri Royan mengatakan, bahwa laki-laki bernama Tirto itu mengatakan hal yang sebenarnya. Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Wilujeng.

 

Wajah cantik perempuan itu terlihat kuyu dan masih menyisakan kebingungan. Pelan-pelan, Royan mulai menginterogasinya. Tapi sebelum pembicaraan itu terlalu dalam, Tirto memberanikan diri untuk berpamitan. Royan menatapnya lagi.

 

“Bibi saya umurnya sudah hampir delapan puluh, Pak,” ucap Tirto dengan nada sopan. “Saya tak tega kalau harus lama-lama meninggalkan beliau. Apalagi rumah kami jauh dari tetangga.”

 

Setelah berpikir sejenak, Royan kemudian mengabulkan permintaan Tirto. Tentu saja setelah mencatat dengan lengkap nama dan alamat Tirto. Laki-laki itu memang tak membawa tanda pengenal. Tapi Royan percaya pada nalurinya. Apalagi Tirto menyebut juga bahwa dirinya adalah salah seorang warga Lurah Suwari, yang memang dikenal Royan.

 

“Mbakyu, saya pulang dulu.” Tirto berpamitan pada Wilujeng. “Kalau ada waktu, mampirlah lagi ke gubuk kami. Mbakyu sudah tahu tempatnya. Tak jauh dari sini.”

 

“Terima kasih banyak, Kang Tirto.” Wilujeng mengucap setulus-tulusnya. “Titip salam buat Nek Sentini. Sampaikan juga ucapan terima kasih saya padanya.”

 

Royan kembali pada Wilujeng setelah Tirto pergi. Cerita yang ia dapatkan dari Wilujeng persis sama dengan yang disampaikan Tirto. Dan, kali ini nalurinya kembali membisikkan bahwa perempuan itu tidak berbohong.

 

“Baik, Bu,” ucap Royan di ujung interogasinya. “Laporan Ibu sudah saya buat. Sekarang saya akan melakukan laporan secara lisan pada atasan saya. Kalau memang Ibu harus diantarkan pulang secepatnya sesuai perintah atasan, maka akan kami antarkan. Ibu masih ingat alamat Ibu?”

 

Wilujeng mengangguk sekaligus menarik napas lega. Pulang.... Ia mengerjapkan mata. Aku bisa kembali pulang. Benarkah? Setelah sekian belas tahun, entah ada di manakah aku....

 

* * *

 

Kapolsek datang tak lama kemudian bersama istrinya. Perempuan bertubuh subur dengan wajah sangat ramah itu kemudian melayani berbagai keperluan Wilujeng sementara suaminya melakukan berbagai koordinasi dengan kepolisian daerah Palaguna. Sungguh, ia prihatin dengan kondisi Wilujeng. Sama sekali ia tak berani membayangkan bagaimana kalau ia ada di posisi Wilujeng.

 

Pasti menyedihkan sekali!

 

Selesai mandi dan makan malam di bagian belakang kantor polsek, Wilujeng tampaknya sudah siap untuk diantarkan pulang. Ia sudah mengganti gaun katun sederhananya dengan sehelai daster batik bersih yang masih sangat bagus milik istri kapolsek. Sebuah ikat pinggang tipis menyelamatkan penampilan Wilujeng dari kedodoran karena daster yang didapatkannya agak terlalu longgar membungkus tubuhnya.

 

“Bu, Ibu akan kami antar pulang sekarang,” ucap Royan. “Pak Kapolsek sudah berkoordinasi dengan Polsek Palaguna Kota. Karena ini sudah mulai malam, maka Ibu akan kami antarkan langsung ke rumah. Tak perlu mampir ke Polsek Palaguna Kota.”

 

Wilujeng buru-buru mengangguk dengan wajah lega.

 

* * *

 

Mahesa menghentikan langkah ketika lewat di depan kamar Kresna. Sudah hampir pukul dua dini hari. Pintu kamar itu terbuka lebar. Ketika ia melongok sedikit, senyumnya terulas. Kresna masih sibuk menghadapi kanvas lebarnya. Tak cuma ada Kresna dalam kamar itu. Tapi Seta juga. Terlelap di ranjang Kresna.

 

“Belum tidur, Yah?”

 

Mahesa tersentak mendengar suara lirih itu. Rupanya Kresna mengetahui kehadirannya. Sedetik kemudian ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar itu. Pelan-pelan, ia duduk di tepi ranjang Kresna. Seta bergerak sedikit, tapi matanya tetap terpejam. Ditatapnya coretan Kresna di atas kanvas yang masih berupa sketsa.

 

“Lagi melukis apa?” tanyanya, setengah berbisik.

 

Kresna tersenyum tipis.

 

“Entahlah, Yah,” Sekilas diangkatnya bahu. “Hanya pemandangan yang beberapa hari ini muncul di pikiranku.”

 

Mahesa manggut-manggut. “Kelihatannya bagus.”

 

Kresna tersenyum lagi. “Belum tahu akan jadi seperti apa.”

 

“Kalau sudah jadi, buat Ayah, ya? Buat dipasang di ruang kerja.”

 

“Boleh....” Kresna melebarkan senyumnya. “Semoga layak pajang.”

 

“Pasti layak,” Mahesa tertawa kecil. “Lukisanmu selalu bagus.”

 

“Nggak tidur, Yah? Sudah malam. Eh, hampir pagi malahan.”

 

“Besok, kan, tanggal merah,” jawab Mahesa sambil membaringkan dirinya di samping Seta. Tadi asyik browsing, tahu-tahu sudah jam segini.”

 

Merasa ada pergerakan tak wajar di dekatnya, pelan-pelan Seta membuka mata. Mahesa menoleh ke arahnya. Tergelak ringan.

 

“Jadi sempit, ya?” ucapnya.

 

Seta menguap sambil tertawa. Sejurus kemudian ia bangun. Turun dari ranjang.

 

“Lho, malah minggat?” gerutu Mahesa.

 

“Mau buat kopi, Yah.” Seta kembali tertawa. “Ayah mau?” Seta menatap Kresna, “Lo mau juga?”

 

“Mau,” angguk Kresna.

 

“Ayah mau teh hijau hangat saja, Set,” ujar Mahesa. “Takutnya minum kopi jantung Ayah makin deg-degan. Nggak tahu, seharian ini rasanya nggak enak banget.”

 

“Ayah kurang istirahat.” Kresna menoleh cepat, menatap Mahesa dengan khawatir.

 

“Enggaklah....” Mahesa mengelak. “Kerjaan Ayah di kantor sudah banyak ditangani Seta.”

 

“Kemarin-kemarin Ayah stress berat gegara lo ngilang.” Seta tertawa ringan sebelum beranjak ke dapur.

 

Kresna menatap manik mata Mahesa. Walaupun Seta seolah main-main ketika mengucapkan kalimatnya baru saja, tapi tampaknya saudara kembarnya itu serius. Sebersit keharuan merayap masuk ke dalam hati Kresna. Ia memutar arah duduknya. Sekarang menghadap tepat pada Mahesa yang masih berbaring.

 

“Yah, maafkan aku,” ucapnya, nyaris berupa gumanan. “Aku nggak bisa jaga diri dengan baik.”

 

“Sshh... Sudahlah.” Mahesa menggeleng, berusaha untuk tersenyum. “Yang penting kamu sudah kembali, dan yang mencelakakanmu sudah mendapatkan ganjarannya sendiri.”

 

Kresna tertunduk.

 

“Yang jelas, Ayah tak mau kehilangan lagi,” lanjut Mahesa. “Baik kamu maupun Seta. Kalian berdua berarti sangat besar buat Ayah.”

 

Mata Kresna mengaca.

 

Saat itu, samar-samar terdengar ada mobil yang berhenti di luar. Kresna bangkit dari duduknya, bermaksud untuk melongok melalui jendela kamarnya yang menghadap tepat ke arah pintu pagar. Dari balik jendela kamar di lantai atas rumah itu, Kresna mengerutkan keningnya.

 

Sebuah mobil double cabin berhenti tepat di depan rumah. Tampak jelas di bawah siraman lampu merkuri yang ada tepat di atas pintu pagar. Begitu juga ketika seseorang turun dari balik kemudi mobil itu. Seseorang berseragam polisi.

 

“Polisi, Yah,” gumamnya. “Mau apa dini hari begini?”

 

Sebelum Kresna dan Mahesa sempat beranjak, bel pagar terdengar berbunyi nyaring memecahkan kesunyian. Tanpa dikomando, bergegas Mahesa dan Kresna turun ke lantai bawah. Pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan garasi sudah terbuka. Tampaknya Seta sudah lebih dulu bergerak untuk membuka pintu garasi.

 

* * *

 

Seta membuka pintu pagar dengan wajah ragu-ragu. Sikapnya terlihat siaga. Saat ini benar-benar bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Apalagi tamunya kali ini seorang polisi.

 

“Selamat malam, Dik.” Polisi dengan bordir nama Royan di dadanya itu memberi hormat secara singkat.

 

“Selamat malam, eh, pagi,” sahut Seta.

 

“Saya Royan, dari Polsek Ngentas Timur, Kabupaten Maniksuri. Betul di sini rumah Ibu Wilujeng Swandayani Prabangkara?”

 

“Ada apa ini?”

 

Sebelum Seta menjawab, suara Mahesa sudah mengudara cukup keras. Seta dan polisi bernama Royan itu mengalihkan tatapan ke arah belakang Seta. Mahesa muncul diiringi Kresna. Mahesa menatap tajam ke arah Royan. Tanpa mereka sadari, salah satu pintu mobil yang ada di depan pagar terbuka dan tertutup. Lalu....

 

“Mas... Mahesa....”

 

Suara lirih itu memecahkan keheningan. Mahesa menoleh. Dan, mereka bertatapan. Sedetik. Hingga Mahesa berlari secepat kilat mendekati pemilik suara halus itu.

 

“Wilujeng? Wilujeng? Sayangku Wilujeng? Wilujeng? Ya, Tuhan... Wilujeng! Wilujeng-ku!”

 

Pelukan erat disertai derai air mata keduanya seolah tak lagi bisa diurai. Menyatu bagai setangkup belahan jiwa yang tak terpisahkan.

 

* * *

 

Tak puas-puasnya Mahesa menatap Wilujeng yang terlelap dengan wajah damai di ranjang besar mereka. Ada sedikit gurat lelah dalam wajah Wilujeng, tapi tak mengurangi kesan damai itu. Ia tak lagi akan menempati ranjang besar itu sendirian saat beristirahat setelah sibuk bekerja seharian. Itu membuatnya sangat lega sekaligus bahagia.

 

Wilujeng-nya memang tak lagi persis sama dengan Wilujeng tiga belas tahun yang lalu. Tapi yang ada di dekatnya saat ini memang benar-benar Wilujeng dalam bentuk lebih matang. Wilujeng-nya yang tetap cantik. Wilujeng yang amat sangat dirindukannya. Wilujeng yang dicintainya seumur hidup. Wilujeng belahan jiwanya.

 

Mahesa menghela napas panjang. Apakah ini artinya debar jantungku yang berlebihan sepanjang hari kemarin? Pelan, ia mengulurkan tangan. Menyentuh lembut anak-anak rambut di sepanjang batas kening Wilujeng. Ini benar-benar dirimu, Jeng.... Ya, Tuhan, terima kasih! Terima kasih tak terhingga!

 

Walaupun Wilujeng kembali sendirian, tanpa adik Seta dan Kresna yang kemungkinan besar memang tidak selamat, tak mengapa bagi Mahesa. Wilujeng sendiri tak tahu nasib bayi mereka, karena tiba-tiba saja sudah melampaui masa tiga belas tahun tanpa bisa mengingat apa-apa dalam periode itu.

 

Mata Mahesa menghangat ketika mengingat kembali pertemuan mereka beberapa puluh menit yang lalu. Sebuah rasa ketidakpercayaan yang begitu besar saat melihat kembali sosok Wilujeng. Tapi semuanya buyar saat ia menyentuh dan memeluk Wilujeng. Sosok itu nyata. Benar-benar hadir kembali dalam kehidupannya.

 

 

 

Rasa-rasanya ia tak ingin melepaskan Wilujeng. Tapi sebuah sentuhan lembut di bahu menyadarkannya. Ia menoleh. Mendapati kedua perjaka kembarnya menatap dengan mata besar mereka. Ia masih meneteskan air mata, sekaligus tertawa, ketika meraih Kresna dan Seta dengan kedua tangannya.

 

“Ini anak-anakmu, anak kita. Sudah sebesar ini,” ucapnya dengan suara serak.

 

Kedua tangan Wilujeng terulur, membelai pipi Seta dan Kresna, kemudian menenggelamkan keduanya dalam pelukan.

 

“Persis seperti yang selalu kubayangkan,” bisik Wilujeng begitu saja, walaupun ia sendiri tak paham kapan pernah membayangkan wajah anak-anaknya.

 

Seketika Seta tersedu sambil memeluk erat Wilujeng.

 

“Maafkan aku, Bu... Maafkan aku. Aku nggak akan nakal lagi. Aku nggak akan pernah mencelakakan Ibu lagi.”

 

“Sudah... Sudah...,” bisik Wilujeng di telinga Seta. “Yang penting kita sekarang bisa berkumpul kembali. Ibu bisa pulang, dan kita bisa bertemu lagi.”

 

Sementara itu Kresna hanya bisa memeluk erat Wilujeng dan Seta sekaligus, dalam diam. Mulutnya seolah terkunci rapat. Ada terlalu banyak hal yang ia ingin ungkapkan. Pada akhirnya, semua itu hanya bisa dinyatakannya dalam pelukan erat. Penuh kerinduan.

 

“Maaf, Pak....”

 

Suara itu menyentakkan Mahesa. Laki-laki itu menoleh. Polisi bernama Royan itu masih ada di dekat mereka. Menyadari hal itu, Mahesa buru-buru menggiring mereka semua masuk ke dalam rumah.

 

“Jadi benar, Ibu Wilujeng itu istri Bapak?” tanya Royan setelah duduk nyaman di ruang tamu. Hanya berdua saja dengan Mahesa. Kresna dan Seta membawa Wilujeng masuk ke bagian dalam rumah.

 

“Betul, Pak.” Mahesa mengangguk dengan mata mengaca. “Kami mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar tiga belas tahun lalu di jalur Pegunungan Pedut. ...” Dan, Mahesa pun menceritakan kronologi kejadian itu.

 

Sesekali Royan manggut-manggut. Menemukan kecocokan penjelasan Mahesa dengan pengakuan Wilujeng.

 

“... Sejak saat itu kami tak lagi pernah mendengar kabarnya.” Mahesa tertunduk. “Juga tak dapat menemukan jasadnya seandainya dia memang benar-benar kehilangan nyawa. Tapi dia hilang begitu saja.”

 

“Tapi syukurlah sekarang Ibu sudah kembali, Pak,” senyum Royan.

 

“Betul, Pak. Saya dan anak-anak bersyukur sekali. Oh, ya, bagaimana istri saya bisa ditemukan, Pak?”

 

Royan kemudian ganti bercerita tentang kedatangan Wilujeng ke Kantor Polsek Ngentas Timur.

 

“Karena atasan kami menganggap Ibu harus segera diantarkan, maka semalam apa pun, kami antarkan langsung ke sini, Pak.” Royan menutup penjelasannya.

 

“Terima kasih banyak, Pak. Saya tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Bapak.” Mahesa menangkupkan telapak tangan di depan dada.

 

“Sudah jadi tugas kami, Pak.” Royan menganggukkan kepala. “Oh, ya, sewaktu-waktu Polsek Palaguna Kota meminta keterangan ke mari, minta tolong dibantu, ya, Pak?”

 

“Oh, baik. Baik, Pak.”

 

Royan segera minta diri. Hendak melaporkan diri ke Polsek Palaguna Kota dan beristirahat sejenak, sebelum kembali ke Ngentas, Maniksuri.

 

 

 

Mahesa mengerjapkan mata ketika hidungnya samar-samar mencium aroma sedap dari arah luar kamar. Kembali ditatapnya Wilujeng. Rasa-rasanya ia masih tak rela meninggalkan Wilujeng walau hanya sejenak untuk menengok dapur. Takut kalau ia nanti kembali, Wilujeng-nya akan menghilang lagi. Tapi tampaknya ia memang tak perlu melakukan niatnya. Aroma itu sudah jelas. Tumisan bumbu nasi goreng.

 

Laki-laki itu tersenyum. Pasti kedua anak kembarnyalah yang sibuk di dapur. Karena ia sengaja meliburkan ART mereka untuk hari ini dan besok. Senyampang ada dua tanggal merah berimpitan. Dan, ia bersyukur atas keputusan itu. Karena itu artinya mereka punya waktu hanya berempat untuk meretas segala kerinduan. Tanpa diganggu oleh siapa pun.

 

Lalu, ia kembali menatap Wilujeng. Sepuasnya. Hingga perempuan cantik itu terjaga. Terlihat bingung sejenak, sebelum memberinya senyum teramat manis. Dan, Mahesa memeluknya erat. Lagi dan lagi.

 

* * *

 

Wilujeng menatap berkeliling sambil berjalan keluar dari kamar utama di lantai atas, menuju ke dapur di lantai bawah, digandeng erat oleh Mahesa. Nyaris tak ada yang berubah dari rumah itu. Sebagian besar masih tetap sama dengan saat ia tinggalkan dulu. Ada beberapa perabotan dan alat elektronik baru, tapi suasana rumah mereka masih tetap sama. Hangat dan menyenangkan.

 

Mata Wilujeng berbinar ketika Mahesa mendudukkannya di kursi, menghadap meja makan. Sebetulnya Seta dan Kresna ingin menata sarapan di taman belakang, tapi matahari sudah cukup tinggi dan sinarnya mulai menyengat. Maka keduanya pun menyiapkan sarapan di meja ruang makan. Hanya semangkuk besar nasi goreng udang, telur dadar, acar mentimun-wortel, kerupuk udang, dan emping melinjo goreng.

 

“Wah! Ini siapa yang masak?” Wilujeng membelalakkan mata indahnya dengan takjub.

 

Seta dan Kresna saling menunjuk sebelum tawa riang mereka pecah.

 

“Kami berdua, Bu,” jawab Kresna, akhirnya.

 

Wilujeng mencicipi sesendok nasi goreng yang diambilkan Mahesa, lengkap dengan telur dadar, acar, dan emping melinjo goreng, kesukaan Wilujeng. Setelahnya, ia tak bisa berhenti menyuap dan mengunyah. Bahkan menambah sepiring lagi. Ia sedikit tersipu ketika menyadari bahwa tatapan diiringi senyum dikulum dari ketiga laki-laki tercinta yang ada begitu dekat di sekitarnya.

 

“Mm... Ibu rakus, ya?” Ia sedikit meringis. “Tapi ini enak sekali. Kalian jago masak rupanya!”

 

Tawa ketiga laki-laki itu pecah seketika. Mahesa yang duduk di sebelahnya meraih dan merengkuh bahunya.

 

“Makanlah seberapa pun,” ujar Mahesa. “Mintalah apa pun. Sepanjang aku dan anak-anak mampu memenuhinya, akan kuberikan semuanya padamu, Bu.”

 

“Owh....” Seketika Wilujeng menatap Mahesa, dengan kerlip cinta memenuhi matanya. “Terima kasih, Yah.”

 

“Ehm!” Kresna berdehem, menoleh pada Seta. “Kayaknya cukup lama, nih, lo bakal dilepas Ayah urusin perusahaan sendirian.”

 

Seta terbahak. Ia tahu maksud Kresna. Tahu sekali.

 

“Jelaslah! Kan, bakalan ada yang bulan madu lagi.” Seta mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi jenaka.

 

Mereka terbahak lagi. Meriah sekali suasana ruang makan itu.

 

“Eh, perasaan semalaman kita nggak tidur. Kok, nggak ngantuk, ya?” celetuk Seta kemudian.

 

“Halah.... Sebentar lagi juga kita pada teler.” Kresna meringis. “Nih, mataku juga sudah pedes.”

 

“Nggak apa-apa. Hari libur ini,” sahut Mahesa dengan nada santai. “Habis ini kita kelonan lagi, ya, Bu?”

 

Wilujeng langsung tersipu. Kresna dan Seta kembali terbahak. Jelas sekali atmosfer kebahagiaan memenuhi ruangan itu.

 

“Padahal kita kangen juga sama kelonan Ibu, ya, Kres?” Lengan Seta menyenggol lengan Kresna.

 

Sang saudara kembar buru-buru mengangguk dengan wajah jahil. Mahesa dan Wilujeng tertawa lebar melihatnya.

 

“Ya, sudah, kita kelonan berempat,” ujar Mahesa. “Semoga tempat tidur kita kuat, nggak ambleg.”

 

Mereka terbahak lagi, untuk kesekian kalinya.

 

* * *

 

Dengan sangat lembut, Wilujeng membelai pipi Seta dan Kresna yang sudah terlelap di ranjang besar di kamar utama. Tak puas-puas, ditatapnya kedua pemuda itu. Rasa-rasanya masih sulit memercayai, bahwa pada akhirnya ia bisa kembali lagi ke rumah ini. Bertemu lagi dengan suami dan anak kembarnya dalam kondisi hidup dan utuh.

 

Ketika ia membelai pipi Kresna, sesaat ia merasa seperti terjebak dalam sekilas deja vu. Rasa-rasanya, belum lama ini ia melakukan hal yang sama.

 

Tapi kapan? Di mana?

 

Sementara ia sendiri sempat terjebak dalam lorong gelap selama belasan tahun lamanya, entah di mana dan melakukan apa saja. Sesuatu yang ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

 

“Sekitar dua minggu lalu, Kresna sempat hilang selama sekitar sembilan hari,” gumam Mahesa. “Rasanya aku sudah hampir gila, Jeng.”

 

Wilujeng menoleh cepat. “Di mana? Bagaimana kejadiannya?”

 

Mahesa kemudian menuturkan peristiwa hilangnya Kresna. Termasuk saat hatinya cenderung menuduh bahwa Seta-lah yang telah sengaja mencelakakan saudara kembarnya sendiri.

 

“Dan, sama sepertimu.” Mahesa menatap Wilujeng dengan mata mengaca. “Dia juga sama sekali tak ingat apa pun selama dia hilang. Cukup jauh jaraknya dari tempat dia hilang dengan tempat dia ditemukan. Sama persis sepertimu.”

 

Wilujeng kehilangan kata. Ditatapnya kembali Kresna dan Seta. Dibelainya kembali pipi kedua pemuda itu.

 

“Perasaanku bilang, Seta sudah berubah,” bisik Wilujeng. “Tak lagi senakal dulu.”

 

“Ya,” angguk Mahesa. “Dia benar-benar menyesal sudah menyebabkan kita celaka dan kamu hilang. Perlu penanganan psikolog soal itu. Tapi dia pejuang, Jeng. Anak-anak kita adalah pejuang yang hebat. Aku bangga sekali pada mereka.”

 

Tatapan Wilujeng meredup. “Dan, aku tak ada di samping kalian untuk melihat mereka berjuang dan tumbuh besar seperti sekarang.”

 

Tangan Mahesa terulur. Membelai puncak kepala Wilujeng.

 

“Yang penting kamu sudah kembali, Jeng. Utuh, selamat, tak kurang suatu apa pun.”

 

Wilujeng mengangguk. “Ya, dan banyak sekali ketinggalan yang harus kukejar.”

 

“Dunia berputar cepat sekali, Jeng,” senyum Mahesa.

 

Wilujeng tertegun sejenak. Ya, dunia cepat sekali berputar.... Dan, rasa-rasanya ia seperti kehilangan sesuatu. Entah apa. Tapi secepatnya ia menindas habis perasaan itu. Lalu, sesuatu seperti menyentil benaknya. Ditatapnya Mahesa baik-baik.

 

“Apakah... pernah ada orang lain?” gumam Wilujeng. “Perempuan lain?”

 

Dengan tegas Mahesa menggeleng. “Tak pernah ada, Jeng. Bagiku, cuma kamu belahan jiwaku. Dulu, kemarin, sekarang, selamanya.”

 

Tak ada setitik kebohongan pun dalam manik mata Mahesa. Itu yang didapati Wilujeng.

 

“Tanyakan saja pada anak-anak,” senyum Mahesa.

 

Wilujeng pun ikut tersenyum. “Ya, aku percaya.”

 

Mungkin cinta Mahesa juga yang membuatnya bertahan dalam kegelapan total ingatan kosong selama tiga belas tahun lamanya. Cinta dari seorang belahan jiwa sejati yang membuatnya bisa kembali.

 

* * *

 

(Bersambung hari Selasa)

 

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)