Camer Idola (Bagian 3)

Camer Idola (Bagian 3)
Ilustrasi dibuat dengan aplikasi Canva

Peranku sebagai asisten tabib tidaklah sulit. Tugas utamaku memastikan stok bahan ramuan selalu lengkap, dan membantu menyiapkan bahan ketika Nenek Shaman hendak meracik. Pengalamanku membantu Bibi Edna sangatlah berguna. Standar penyiapan bahan-bahan kurang lebih sama, sehingga tak butuh waktu lama aku menjadi asisten yang sangat baik.

 

Sebagai perempuan tua yang hidup sendiri, Nenek Shaman tergolong jauh dari rewel. Pendiam malah dan cenderung pragmatis. Serba praktis tanpa drama. Saat bekerja kami tidak banyak bicara, dan pekerjaan cepat selesai dengan sempurna. Aku senang sekali bekerja untuknya. Tak terasa sudah dua purnama aku tinggal di istana.

 

Minggu pertama aku ngendon di ruang tabib, mengenal semua bahan sambil mencatat stok yang harus ditambah. Minggu kedua aku lebih banyak menghabiskan waktu di kebun kerajaan. Awalnya aku ditemani dua tukang kebun, yang memastikan aku mendapatkan bahan yang diperlukan. Namun setelah keduanya meilhat bahwa aku memperlakukan tanaman sama baiknya dengan mereka, aku dibiarkan berkeliaran sendirian. Mereka percaya kebun akan aman-aman saja. Itu yang paling penting buat mereka.

 

Minggu-minggu berikutnya, jadwalku pagi di kebun, siang di ruang tabib, dan sore kadang aku ke kebun lagi jika ada bahan yang harus kuambil sore hari. Beberapa bahan memang harus diambil pagi hari sebelum burung-burung selesai sarapan. Sebagian lagi justru harus diambil sore, segera setelah matahari terbenam.

 

Saat di kebun inilah, aku menyadari bahwa letaknya berada di sisi Timur dapur kerajaan. Bahkan dari kebun, bisa melihat ke dalam dapur karena ada jendela kaca besar ke arah kebun. Daaan... Pangeran Orens sering sekali terlihat di jendela!

 

Ketika Pangeran menyadari bahwa aku sering berkeliaran sore di kebun, ia selalu menungguku di jendela. Ia melambaikan tangan menyuruhku mendekat, dan memberiku sesuatu untuk dicicip. Ternyata pangeran tiap hari di dapur dan bereksperimen dengan masakan. Dan yang lebih menggembirakan, ternyata pangeran jadi banyak berbicara dan bercerita jika topiknya adalah makanan.

 

"Bita, coba cicip ini. Menurutmu, sup ini cocok untuk sarapan atau makan malam?"


"Bita, kasi tau yang jujur ya. Perkedel jagung ini kurang gurih atau sudah pas? Terlalu pedas, ya?"


"Bita, jangan bilang kamu belum bisa mbedain rasa hanya karena mau cicip lagi!" Semprot pangeran yang akhirnya sadar kuusilin.


Aku sering berpura-pura belum bisa mencicip dengan baik supaya mendapat ekstra. Lama-lama pangeran sadar dengan muslihatku. Ya, harap maklum, meskipun tinggal di istana, aku harus masak sendiri. Apa enaknya sih masak sendiri dan makan sendiri? Eh, ada Nenek Shaman yang kini makan bersamaku. Tetapi dia lebih banyak tak berkomentar. Kapan lagi kan ada pangeran yang memasak bagiku. Eh?

 

Masakan Pangeran Orens sangat khas. Meskipun yang ia masak dan suruh aku cicip kebanyakan adalah masakan yang belum pernah kuketahui sebelumnya, namun kesemuanya punya rasa yang khas. Ada rasa hangat dan manis yang samar-samar kurasakan. Kemungkinan besar itu subyektif dariku, karena diam-diam aku makin terjerat pesona pangeran.

(bersambung)