Camer Idola (Bagian 2)

Camer Idola (Bagian 2)
Gambar milik Katherine Hanlon di unsplash.com

Akhirnya kuletakkan buku hijau itu di atas meja. Tak terasa sudah lewat tengah malam. Suasana benar-benar sepi. Aku bangkit dari duduk, meluruskan punggung yang pegal, lalu berjalan ke arah dapur. Sambil membawa dian, aku masuk ke ruangan sebelah dapur. Ruangan ini selalu gelap, tetapi memiliki sirkulasi udara yang baik. Ini adalah ruangan tempat Bibi Edna menyimpan semua bahan-bahan untuk ramuannya. 

 

Stoples-stoples kaca bening berderet memamerkan berbagai isinya. Kebanyakan berisi akar dan kulit tanaman, serta bunga yang telah dikeringkan. Aku hapal beberapa bahan karena sering kupakai meracik ramuan. Tetapi kini aku kok yakin Bibi Edna menyimpan bahan-bahan lain yang sepertinya aku belum pernah lihat. Di belakang deretan stoples kaca itu, aku melihat sesuatu yang janggal. Kuketuk-ketuk bilah papan itu dan kudekatkan dian untuk melihatnya dengan lebih jelas.

 

Papan di bagian belakang itu ternyata bisa diangkat, dan… voilà! Kuletakkan papan penutup di meja. Wow! Rupanya di sini Bibi Edna menyimpan semua bahan rahasianya. Ada sederet stoples, yang ini berwarna coklat dan hijau gelap. Aku memicingkan mata, mengambil salah satu stoples, menggoyangkannya sambil mencoba melihat isinya. Ya, persis dugaanku! 

 

Bibi Edna hanya memberi label bertuliskan kombinasi nomor  dan abjad di stoples-stoples ini. Dalam sedetik aku langsung menebak bahwa pemberian label itu  sama dengan daftar bahan dalam buku hijau tebal itu. Aku tahu tebakanku pasti benar.


***


Tok tok tok. Tok tok tok. TOK TOK TOK!!!
Suara ketukan pintu makin lama makin keras terdengar. Aku kaget dan akhirnya terbangun. Rupanya aku tertidur dengan posisi duduk dan menyandarkan kepala di meja, berbantalkan tangan. Segera aku bangkit dari duduk, mengambil buku hijau tebal itu dan menyimpannya di rak atas. Lalu menuju pintu depan.

 

Cahaya matahari pagi menyusup ke dalam rumah, melewati tirai jendela yang tak rapat. Waduh!  Sepertinya aku terlambat bangun. Gara-gara menemukan stok bahan rahasia milik Bibi Edna, aku membaca ulang buku tebal itu. Memeriksa kembali beberapa resep ramuan, mencatat kode bahan-bahan serta dosis.

 

Sebenarnya aku ingin segera menyiapkan racikan, namun ternyata aku terlalu lelah dan ngantuk, sehingga tertidur. Samar-samar kudengar suara depak kuda menyeret pedati di luar, sebelum terlelap. Itu pasti pedati Pak Green, memasok sayur mayur ke pasar sekitar satu jam sebelum ayam berkokok.

 

“Pangeran?” Aku kaget melihat Pangeran Orens berdiri di depan pintu, dengan dua pengawal di belakangnya. Aku bergegas membungkuk memberinya hormat.

 

“Ibunda Ratu menyuruhku menjemputmu, Bita. Kau disuruh tinggal di istana.” Kata-kata pangeran merdu mendayu di telingaku. 

 

Antara takjub dan tidak percaya, kembali aku mendengar suara merdu pangeran menyuruhku bersiap, karena saat itu juga aku harus bersamanya kembali ke kerajaan. Aku merasa bagai kerbau bertindik di hidung: Tak kuasa menolak. Otakku berpikir cepat dan membuat hipotesis: Aku akan dijadikan menantu ratu?

 

Hipotesisku tidak terbukti. 

 

Ternyata aku diberi tugas sebagai asisten tabib kerajaan. Tabib perempuan yang makin sepuh perlu bantuan. Aku curiga Bibi Edna ada di balik penugasanku ini. Kebanyakan orang hanya mengenalku sebagai Bita si pemanggang kue. Tidak ada yang mengenalku sebagai peracik ramuan.

 

Di akhir hidupnya, Bibi Edna jarang menerima pesanan ramuan karena ia lebih banyak berbaring sakit di tempat tidur. Hanya kadang-kadang ia menyuruhku menyiapkan bahan-bahan yang kemudian diambil oleh orang.


Ruangan kerja tabib ada di bangunan istana sayap Timur. Ruangannya dua kali luas rumah Bibi Edna. Jendela besar ada di sisi timur. Dinding sisi lain berisi rak-rak dan lemari. Ada stoples bening berderet, juga banyak buku. Ada satu ruangan gelap kecil di sisi Timur Laut. Mirip ruangan milik Bibi Edna. Aku berani bertaruh, di situ tempat penyimpanan bahan yang penting.

 

Tabib kerajaan yang sudah tua itu dipanggil dengan nama jabatannya: Nenek Shaman. Dia memang sudah nenek-nenek. Pertama kali bertemu dengannya, ia langsung menyuruhku menyiapkan beberapa bahan dasar. Sepertinya ia mengujiku. Setelah mendapat izin memeriksa stoples-stoples di rak, dengan cekatan aku mengambil bahan yang dimintanya. Tanpa perlu memandang wajahnya pun, aku bisa merasakan bahwa Nenek Shaman tersenyum tipis melihat kerjaku.

(bersambung)