Bunga Bangkai

“Jangan dinikahi bila segel rusak!”

Bunga Bangkai

 

Saat remajaku di sekitar tahun 90 an, aku masih tinggal di kampungku di Bengkulu.

Aku senang bermain ke hutan, bersama teman masa kecilku, Sariyem.
Walaupun pakaiannya sederhana, lusuh. Tapi tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.
Sariyem hitam manis, lesung pipit selalu menghiasi wajah polosnya yang selalu ceria.
Rambutnya yang panjang lebat bergelombang.  Matanya indah, dengan bulu mata lentik dan alis yang lebat. Cantik alami tanpa polesan make-up.
Sariyem selalu rajin membantu orang tuanya, bertani, memasak dan mencari kayu bakar di hutan bersamaku.
Tangannya selalu kotor dari bekerja tak kenal lelah. Kakinya pun selalu kotor, telanjang, tidak memakai alas. Sariyem terlalu miskin untuk membeli sepatu.
Kupanggil dia Bunga bangkai-ku. Walaupun sering kotor, dekil, tapi Sariyem tetap mempesona.

Bunga bangkai di hutan adalah saksi kisah cinta kami.


Hingga akhirnya aku pergi ke Jakarta untuk kuliah di sana. Walaupun tidak kaya, keluargaku lebih beruntung dari keluarga Sariyem, karena aku anak satu-satunya.
Sariyem hanya mampu sekolah hingga kelas 3 SD. Terpaksa berhenti untuk bekerja, membantu orang tuanya membiayai ke enam adiknya.
Sariyem menangis ketika aku akan pergi.
“Jangan takut, nanti aku pasti kembali, tiap liburan aku pasti ke sini.” janjiku sambil menyeka air mata di pipinya.
Kucium pipinya, lalu bibirnya yang manis. Lesung pipitnya kembali terlihat. Kami berpelukan erat.
Dan Bunga bangkai di hutan kembali menyaksikan kami memadu kasih.


Di Jakarta jadwal kuliahku padat. Saat itu Sariyem tidak memiliki telpon, kami tidak bisa berkomunikasi selain lewat surat biasa. Awalnya aku rutin menyuratinya. Lama lama semakin jarang.
Tapi setiap liburan semester selalu kusempatkan pulang untuk menengok orangtuaku, sekaligus melepas rinduku pada Sariyem.

Dua tahun setelah aku pindah ke Jakarta, aku bertemu Dewi. Teman sekampusku, tapi beda jurusan. Wajah Dewi tidak secantik Sariyem. Tapi Dewi pintar bersolek. Lipstik merah muda selalu menghiasi senyumnya. Alisnya di tato. Pakaiannya selalu modis. Jarinya selalu rapi dihiasi warna kuku yang selalu berganti-ganti. Jauh berbeda dengan kuku Sariyem yang selalu kotor. Dewi adalah adik dari teman dekatku, Panji. Karena kami begitu sering bertemu.
Lama lama kami semakin dekat dan aku mulai suka dengan Dewi. Aku mulai malas pulang kampung saat liburan, lebih senang menikmati liburanku di Jakarta bersama Dewi.

“Sudah lama kamu tidak pulang, Ayahmu sakit, ayo pulang nak” kata Ibuku di telpon.
Akhirnya aku pulang untuk menjenguk Ayah.

Tapi kali ini aku berusaha menghindar dari Sariyem. Sariyem mengirim kue kesukaanku ke rumah. Tapi aku tidak mau menemuinya. Aku bilang aku sibuk belajar untuk ujian.
Kupandang Sariyem berjalan pulang dari balik jendela. Wajah manisnya berurai air mata.
Aku pulang lagi ke Jakarta tanpa menemuinya. Hanya kutitipkan sebuah surat untuknya pada orang tuaku.

“Aku mendapat pekerjaaan di Jakarta, aku akan menetap di Jakarta untuk selamanya.
Maaf aku tidak bisa bersamamu, aku harus memanfaatkan peluang yang ada untuk mengejar masa depanku. Lupakan aku, semoga kamu mendapatkan jodoh dari Tuhan, yang lebih baik segalanya dariku.”
tulisku di surat terakhirku untuk Sariyem.

Aku menceritakan hubunganku dengan Dewi dan orang tuaku tampak senang.
“Memang harus melihat bibit bebet bobot, kalau menikah.” kata ibuku yang berasal dari Jawa.
Ayahku asli dari Bengkulu.
“Ibu dulu sempat khawatir kamu ingin menikah dengan Sariyem, lulus SD saja tidak dia, mana pantas sama kamu yang sarjana.” kata ibuku.
“Yang penting kan akhlaknya, Bu” kata ayahku.
“Ah kamu ini, coba aja liat penampilannya lusuh begitu, kukunya aja selalu kotor. Bikin malu saja punya menantu seperti itu!  Beda sekali dengan Dewi, selalu rapi, sepadan dengan anak kita. Ningrat lagi!” kata ibuku.
Dewi seperti bunga mawar yang dipetik untuk mempercantik rumah.
Sariyem adalah bunga bangkai. Menarik, tapi bukan untuk dipetik.

 

Tak lama kemudian, Kudengar kabar dari orangtuaku bahwa Sariyem dipinang orang sekampungku. Tapi pinangan itu dibatalkan.
“Belum nikah sudah hamil!, bikin malu saja. Tuh lihat Pak, seperti apa akhlak si Sariyem!” sindir ibuku pada ayahku yang selalu membela Sariyem.
“Pantas aja pinangannya dibatalkan. Jangan dinikahi bila segel rusak!” kata ibuku
“Untung anak kita tidak jadi sama dia. Sudah kotor penampilannya, Kotor juga akhlaknya” kata  ibuku.
Aku terdiam. Aku juga sudah mencicipi sari diri Sariyem.
Tapi benar kata ibuku. Jangan dinikahi bila segel rusak.
 

Setelah lulus kuliah, akhirnya aku menikah dengan Dewi dan menetap di Jakarta.
Keluarga Dewi yang berdarah biru dan pendidikan Dewi yang sepadan denganku, membuat  aku lebih memilih dia daripada Sariyem.
Sekarang kami sudah 20 tahun menikah. Tapi kami tidak dikaruniai anak. Dulu Dewi pernah hamil 3 kali, tapi semuanya keguguran.

 

Aku sudah kehilangan pekerjaanku selama setahun karena pandemic covid.
Rumah tanggaku cukup terguncang.
Istriku yang memilih menjadi ibu rumah tangga, tidak bisa mengganti gaya hidupnya yang sudah terbiasa hidup enak.
“Apa kamu harus ke Spa juga?, Aku kan sedang tidak kerja, kita harus hemat Ma, Aku tidak tahu sampai kapan tabunganku cukup, bagaimana kalau aku masih belum kerja tahun depan?” kataku mengingatkan istriku.
“Emang papa mau aku kucel?, Aku kan perlu perawatan Pa!” jawab Dewi.
“Apa perlu beli tas itu, kan tas kamu sudah banyak?” tanyaku.
“Ini kan cuma Prada, bukan Hermès!” jawab Dewi.
Akhirnya aku terlibat hutang yang cukup besar untuk membiayai gaya hidup istriku.


Untunglah bulan lalu aku mendapat perkerjaan baru.
Sebuah Perusahaan High tech yang didirikan Arnold, anak muda yang baru lulus kuliah. Tapi sudah menjadi perusahaan sukses dalam waktu singkat.
Kantornya bergaya modern dengan segala fasilitasnya yang tidak biasa.
Mengikuti gaya kantor google. Aneka makanan gratis  tersedia  di ruang makan besar yang di design seperti taman makan. Di tengah jam kerja kita boleh main game, atau nonton film di bioskop yg tersedia. Bahkan ada kamar tidur bagi siapa saja yang ingin tidur siang. Ada gym, salon dan spa.

Aku merasa beruntung bisa diterima bekerja di sini. Mungkin aku termasuk yang paling tua, di sini 90 persen di dominasi wajah wajah muda. Dunia IT memang lebih menyukai anak muda.
Orang seusia aku dinilai ketinggalan jaman. Karena bahasa coding selalu berubah cepat. Perusahaan ini termasuk  daftar perusahaan dengan perkembangan tercepat.
Hingga Arnold, boss ku yang baru berusia 22 tahun, sering diwawancarai di TV dan majalah. Masuk daftar 10 pemuda paling berpengaruh di Indonesia.

“Saya ini anak dari single mom, ibu saya dari kampung. Tidak berpendidikan tinggi. Ibu saya bekerja keras untuk membiayai sekolah saya. Jadi saya bertekat untuk cepat sukses agar dapat membahagiakan ibu saya” kata Arnold dalam sebuah wawancara di TV. Aku ikut bangga dengan boss ku itu.

 

 

Hari ini adalah pesta ulang tahun perusahaan. Dirayakan di kantor kami di lantai 30. Ada Taman bunga dan kolam renang di lantai ini.
Kulihat banyak celebrity bertebaran di pesta ini. Selain para pengusaha, teman teman Arnold dan karyawan perusahaan ini. Beberapa gadis cantik berkerumun di sisi Arnold berusaha menarik perhatiannnya.

Kulihat seorang wanita separuh baya yang anggun berdiri di dekat jendela kaca, sedang mengamati.
Walaupun sudah tidak muda lagi, masih terlihat garis garis kecantikannya. Gaunnya terlihat mahal, lehernya dibalut mutiara. Tangan kanannya memegang segelas minuman, cincin berlian menghiasi jarinya. Pewarna kukunya yang pastel pink, terlihat alami. Tangan kirinya memegang tas Hermès. Elegant.
Kulitnya masih mulus, nyaris tidak terlihat kerutan. Mungkin karena sering perawatan.
Rambutnya yang lebat bergelombang dipotong sebahu. Kecantikan Klasik yang tidak hilang dimakan waktu.
Tapi gayanya agak berbeda dengan ibu-ibu sosialita lain.
Wajahnya terlihat familiar. Apakah aku pernah bertemu dengannya?
Tapi aku tidak ingat siapa dia dan bertemu di mana. Mungkin dia celebrity dan aku melihatnya di TV.  Seseorang menyapanya, lalu wanita itu tersenyum, lesung pipitnya terlihat, manis.

“Halo Pak Satria, mari saya perkenalkan. Ini ibu saya!” kata Pak Arnold, boss-ku.
Wanita anggun itu menjabat tanganku, ”Sari” katanya.
“Ini pak Satria Bun, Pak Satria  berasal dari Bengkulu.” kata Arnold.
“Bengkulunya di mana pak?” tanya wanita itu.
Aku menyebutkan nama desaku dulu.
“Bunda juga berasal dari desa itu ya Bun?” tanya Arnold.

Wanita itu menggangguk dan terdiam. Wajahnya berubah sedih.
“Maaf pak Satria, bunda punya banyak kenangan pahit di desanya. Jadi sedih kalau ingat itu.” kata Arnold.
Seseorang memanggil Arnold untuk di wawancara, Arnold segera meninggalkan kami.
“Wajah anda familiar, tapi saya tidak ingat pernah bertemu di mana.” kataku pada wanita itu.
“Saya juga rasanya kenal sama bapak, tapi tidak ingat di mana.” katanya.
“Mungkin ibu melihat saya di kantor.” kataku.
“Iya, mungkin juga.” katanya.

Dia terdiam sebentar.
“Bapak suka main ke hutan waktu di kampung dulu?” tanyanya.
“Oh iya, itu kesukaan saya main ke hutan, cari kayu. Saya paling suka melihat bunga Raflessia.” kataku.
“Raflessia Arnoldii, bunga bangkai. Itu bunga favorite saya, Temanku dulu memanggilku bunga bangkai.” katanya.
“Nama Arnold juga kuambil dari Raflessia Arnoldii.” katanya.
Aku terkenang saat saat remajaku di hutan di Bengkulu, memadu kasih disaksikan Raflessia.
Apa kabarnya bunga bangkaiku sekarang? Kuingat lesung pipit manisnya.

Tiba tiba aku tersentak.
Wanita itu memandangku, tersenyum dengan lesung pipitnya, persis seperti lesung pipit bunga bangkaiku.
“Bu Sari…, apakah nama anda Sariyem?” tanyaku.

Bu Sari mengangguk. Apakah dia bunga bangkaiku?
Aku tersentak seperti tersadar dari mimpi.
“Di mana suamimu sekarang?” tanyaku.
“Aku tidak pernah menikah.” katanya.

Aku mulai menghitung di kepalaku. Usia Arnold 22 tahun. Terakhir kali aku bercinta dengan Sariyem, saat liburan semester ke Bengkulu, sekitar 23 tahun yang lalu.
Mungkinkah Arnold….?

Arnold sudah kembali lagi di samping kami. Dia membawakan 2 gelas minuman untukku dan ibunya.
“Minum dulu, kok keliatannya pada pucat!” katanya.
“Ini ayah anda pak Arnold?” tanya seorang wartawan yang membuntutinya.
“Oh bukan, Pak Satria ini salah satu karyawan di sini.” Kata Pak Arnold.
“Wah kok mirip sekali wajahnya ya!” komentar wartawan itu.
Pak Arnold tertawa.
“Ayahnya mana pak Arnold, kok tidak datang?” tanya wartawan itu.
“Saya tidak pernah kenal ayah saya, Dia kabur meninggalkan ibu saya yang sedang hamil dulu. Makanya sejak kecil saya bertekat untuk bekerja keras membahagiakan ibu saya.” kata Arnold.


Ketika para wartawan sudah pergi, di saat pengunjung sudah mulai sepi, aku menyempatkan diri menghampiri Bu Sari yang sedang sendiri.
Kulampiaskan rasa penasaranku.
Rupanya Sari juga baru mengenaliku beberapa saat yang lalu, saat bertukar cerita tentang pengalaman kita di hutan.
“Apakah Arnold anakku?” tanyaku.
Sariyem terdiam.
“Bukan, Arnold anakku, aku yang membesarkannya.” katanya.
Aku setengah lega, setengah kecewa.
Lega, ternyata aku bukan jahanam yang menelantarkan anakku.
Kecewa, karena memiliki anak sesukses Arnold akan sangat membanggakan.
Apalagi istriku tidak pernah memberiku anak.

“Kamu cuma penyumbang sperma saja!” kata Sariyem.
Aku tersentak.
Aku ingat kata-kata ibuku dulu, “Jangan dinikahi bila segel rusak!”