Bulan Memperingati Disleksia

Sebuah artikel untuk menghargai para anak-anak dan orang-orang disleksia

Bulan Memperingati Disleksia

Aku tidak mempunyai banyak ide atau inspirasi untuk hari ini. Tapi, ada tapi, aku merasa kita perlu menghargai seseorang dengan suatu kelainan. Kelainan yang kita anggap remeh, tapi memiliki suatu keajaiban yang aneh. Suatu gangguan yang sangat langka, bisa kita bilang seperti itu. Suatu gangguan yang tidak bisa disembuhkan dengan obat dan memiliki jangka bertahun-tahun atau bisa seumur hidup.

 

Kenapa aku menulis artikel ini? Artikel ini aku tulis karena bulan ini diperingati sebagai Bulan Peringatan Disleksia. Aku juga merasa, aku butuh menulis artikel ini mengingat bahwa adik saya juga memiliki suatu gangguan tersebut. Aku bukan seorang psikolog atau ahli kesehatan mental, melainkan hanya seorang anak SMP PKBM kelas 7. Aku memiliki adik dan termasuk yang terbungsu dari 3 bersaudara dalam keluarga kami. Dia memiliki suatu gangguan yang membuatnya susah untuk membaca dan sangat lambat saat mempelajari sesuatu.

Bagi kalian yang tidak tahu apa itu disleksia, disleksia adalah suatu kegangguan yang ditandai dengan kesulitan membaca. Jika anak kalian kesusahan dalam membaca sesuatu, bukan artinya mereka bodoh. Kalian para orangtua bisa mengajari anak-anak kalian untuk membaca dengan sabar. Untuk mengajari anak-anak kalian supaya bisa membaca juga butuh proses.

Apa kaitannya susah membaca dengan disleksia? Dari pengalamanku memiliki adik dengan gangguan disleksia, mengajarinya itu terkadang cepat dan terkadang lambat. Terkadang susah dan terkadang mudah. Susah gampang begitulah. Ketika kami mengajarinya untuk membaca, adikku terkadang bisa lupa dan terkadang bisa ingat. Dan itu kami latih dia setiap hari hingga terkadang ia stress juga emosian. 

Apa yang dilihat oleh anak-anak disleksia saat membaca bisa beragam. Ada anak yang melihat tulisan pada buku itu tulisannya tampak basah, ada yang tulisan pada buku itu tampak goyah, ada yang tampak tulisan tidak ada spasi, ada juga tulisan pada buku tampak akan pergi dari buku tersebut atau tulisan itu pergi kemana-mana, dll. Itu tergantung dengan pandangan anak-anak disleksia cara melihat tulisan tersebut. Beberapa juga melihat "b" sebagai "d", "d" terbalik menjadi "p", "c" ditulis terbalik. 

Kembali lagi kepada cerita, adikku juga sempat dikira bodoh didalam kelasnya. Saat adikku memasukki kelas 1 SD, sudah pasti setiap murid harus diajari cara membaca, menulis, dan mengeja yang benar. Tapi, adikku saat itu benar-benar merasa kesulitan untuk membaca karena tulisan yang dibacanya itu tampak tidak memiliki spasi. Aku dan keluargaku juga bisa melihat dari tulisannya yang tampak sangat susah untuk dibaca dan tampak seperti tulisan robot. Tulisannya itu tampak tidak ada spasi juga dan dia menulis dengan tangan kiri yang tampaknya menulis dengan tangan kiri itu sangat sulit untuk seseorang yang normal. 

 

Disaat kelas 1 nya, dia kesusahan untuk memiliki teman. Selain kesusahan memiliki teman, dia juga kesulitan untuk memahami suatu pelajaran apalagi mata pelajaran matematika. Dia akan cepat emosi ketika dia terlalu tertekan karena pelajaran itu. Disaat ulangan juga, dia adalah seseorang yang paling lama menyelesaikan ulangan semester karena kesulitannya dalam membaca dan juga menulis. Hal itu memunculkan suatu stigma dari teman-temannya. Hal tersebut membuatnya terlihat tidak normal di suatu kelompok.

Lanjut ke masa kelas 2, kali ini adikku memiliki wali kelas yang lebih baik. Guru kelas 2 nya bisa saya panggil sangat baik dan juga sangat sabar saat mengajari adikku. Mungkin karena kesabarannya dalam mengajari adikku, disaat itu adikku sudah mulai bisa lancar membaca dan tulisannya itu sudah bisa dibilang sudah bisa terbaca. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil, kita hanya butuh kesabaran. 

Disaat kelas 3 nya, kami memutuskan untuk membawa adikku terapi. Disaat itu juga, aku mengetahui jika adikku memiliki suatu gangguan yang dinamakan disleksia. Pada awalnya, aku terkejut. Tapi, semenjak ibuku juga seseorang yang juga sama-sama memiliki suatu kegangguan disleksia, aku tidak terlalu syok dan menganggap itu sebagai sebuah kekecewaan atau rasa tidak menerima. 

Dari kekurangannya itu, dia memiliki beberapa kelebihan yang baru-baru ini terlihat. Mungkin terkadang dia sangat membuatku kesal atau terlalu sering mengoceh. Tetapi, dia sudah mulai mempunyai skill berdebat yang mana itu baru terlihat belakangan ini. Ia tidak pernah berbohong dan justru ia mencari tahu informasi tentang sesuatu yang ia sukai. Dia memiliki pengetahuan tentang game yang ia sukai bahkan lebih awal mengetahui tentang game yang ia sukai. Ia bisa kreatif ketika dia sedang dikondisi suasana hati yang baik. Ia memiliki skill berjualan yang bisa kubilang hebat. Dalam sehari dia bisa menghasilkan uang sebesar 50 ribu dari hasil jualan permen di sekolahnya. Ia juga bisa menjadi seorang genius. Dia bisa menjawab pertanyaan dengan cepat dan memahami suatu pelajaran lebih cepat. 

Banyak tokoh-tokoh terkenal yang juga memiliki suatu gangguan disleksia. Kalian pasti tidak asing dengan salah satu tokoh terkenal yang bernama Albert Einstein. Ya, seorang ilmuwan ini juga dulu pernah dianggap bodoh oleh orang sekitar. Sama juga dengan halnya, Thomas Alva Edison tokoh penemu bola lampu. Sejak kecil, Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh oleh gurunya. Dia pun di sekolah rumahkan oleh orangtuanya. Selama itu, Thomas Alva Edison pun bereksperimen dengan barang-barang dirumahnya hingga tercipta namanya lampu pijar. Masih ada banyak tokoh terkenak dengan gangguan disleksia seperti Agatha Christie, Tom Cruise, Han Christian Andersen, dan masih banyak lagi. Dari tokoh-tokoh terkenak dengan disleksia itu, kalian harus mampu memaksimalkan kemampuan diri berdasarkan talenta anak-anak.

Hal itu membuktikan semua anak itu tidak bodoh dan anak sejak lahir bukanlah sebuah kertas kosong. Sebuah kepintaran itu tidak dinilai dari nilai akademiknya, tapi sebuah bakat anak juga harus kalian perhatikan. Anak-anak bukan seorang kertas kosong. Sejak lahir mereka sudah mempunyai sebuah kepintaran dan bakat masing-masing. Tanpa kalian ajari, anak bayi sudah bisa merangkak supaya bisa berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tanpa kalian ajari, anak bayi sudah bisa menangis untuk mendapatkan perhatian orangtua karena mereka yang belum bisa berbicara. Kalian berucap sesuatu pada anak bayi, mereka akan belajar untuk mengikuti perkataan kalian. Anak-anak memiliki bakat masing-masing. Ketika mereka melakukan sesuatu, terserah apa yang mereka lakukan, hal itu bisa menjadi bakat mereka atau mereka berimajinasi menjadi sesuatu. Jadi, janganlah kalian para orangtua terus mengekang anak-anak. Hal itu juga berlaku untuk anak-anak yang berbeda dengan anak normal, mungkin anak-anak dengan suatu gangguan, kelainan fisik tubuh, dll. Seluruh anak-anak spesial.

Mungkin sampai disini saja artikelku. Artikel ini untuk menghargai anak-anak dan orang-orang dengan disleksia. Artikel ini juga untuk merayakan Bulan Memperingati Disleksia, karena orang yang memiliki disleksia juga masih memunculkan stigma di lingkungan masyarakat sama dengan penyakit mental dan kelainan fisik/cacat dan difabel. Untuk kalian yang merasa berbeda dengan masyarakat sekitar, tidak mengapa untuk berbeda. Perbedaan diri kalian merupakan ciri khas kalian dan kalian jangan takut dengan itu. 

Salam literasi,

Anggyta Kirana Savitri

(murid PKBM kelas 7)