BUKAN PERJAMUAN TERAKHIR

menangkap sekerumunan kata dalam imaji liar pada ruang gelap...

BUKAN PERJAMUAN TERAKHIR
BUKAN PERJAMUAN TERAKHIR

 

 

Ratusan kilo jarak kau telusuri, yang menjadi bagiannya terbawa ikut serta. Fisik, pikiran, hati yang gelisah bahkan percikan lalu yang pernah dibuatnya menjadi api, sempat membakar singgasana walau tak sampai musnah. Matanya menatap jalan, pikirannya penuh gembira menjemput rupiah dan hatinya tetap gelisah seperti mengantri dalam ruang pengakuan dosa.

Dalam sebuah persinggahan, ia mulai berkisah tatkala air kata-kata bagai anggur perjamuan yang terangkat vertikal mencium langit dan mulai langka tersaji karna pandemi. Katanya "Akulah salah satu milikmu yang menahan derasnya air yang akan mengalir ke muara keinginanmu, bukan tanpa sebab aku berbuat, induk semang mempelaimu mengadu padaku dan kekhawatiran terhampar ada bersamaku saat bersantai makan malam kala itu."

Senyumku mengembang menyaksikan pengakuanmu, nalarku mengikuti tarian gelombang, semakin lincah aku bergerak karna  berlatih setiap hari. Ombak yang kau ciptakan ada dibawah kakiku, kunikmati diatas papan selancar nalar. Lalu kau terkagum-kagum menyaksikan silhouet imanku, bergerak menampar buah pikiranmu. Dan kau tak sadar dalam ruang pengakuan dosa. Meracau pada mimbar, sedikit pun tak terlihat hina dimata mereka kecuali aku.

Para penjilat terpingkal terbahak-bahak menelan dengan rakus kebodohan yang di sajikan sang imam, lalu menjadikannya energi dalam tubuh mereka, dan aku mulai jijik ingin muntah menyaksikan itu. Nalarku dengan manis, menjahit polemik-polemik yang keluar dari mulut sang imam ia telah berubah wujud menjadi hakim agung dan para penjilat, jubah-jubah mereka bersinar memancarkan  keegoisan, membuat mata menjadi buta dan merubah seluruh isi sistematis dalam tubuh hamba-hambanya.

Aku terkekeh menenggak anggur perjamuan itu karna satu hal yang kalian tak ketahui, dalam keselurahanku, segala yang buruk berfermentasi menjadi guna setelah mengendap sekian lama, yang tak pernah rusak, bersemi abadi karna cahaya ilahi menjaga dengan cinta bukan dengan harta. Dan malam ini bukan perjamuan terakhir, aku selalu siap berselancar diatas ombak buah pikiranmu yang membius para penjilat dalam rupa sahabat..Cheers !!!