Bukan Orang Jawa

Jadikan mereka yang asing sebagai keluarga dengan komunikasi yang tepat.

Bukan Orang Jawa
Sumber: gettyimages

Saat kuliah dulu, aku pernah merasakan menjadi orang asing. Begitu pula istriku dan salah seorang temannya, yang kisahnya kupinjam untuk dibagikan berikut ini.

Istriku memanggilnya Niar. Menengok nama lengkapnya, apalagi mendengar logatnya saat berbicara, Niar jelas bukan berasal dari Pulau Jawa. Kepada setiap orang yang bertanya mengapa dia bisa terdampar cukup jauh dari kampung halaman, atau lebih tepatnya dari Makassar ke Yogyakarta, jawabannya selalu sama. 

“Ikut suami.” 

Titik. 

Jika bukan karena mengikuti suaminya, Niar mungkin tidak akan menjadi salah satu pendatang yang turut memadatkan pulau Jawa ini. Sebelum itu, Niar juga tidak pernah bermimpi atau berkhayal tinggal di suatu tempat yang benar-benar asing. Kepada istriku, Niar mengungkapkan bahwa dia lebih senang tinggal di lingkungan yang sudah dikenalnya sejak kecil karena itu membuatnya tidak tertekan. 

Ungkap istriku, Niar memang pemalu dan selalu merasa kikuk jika berbicara dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi benar-benar asing. Alasan Niar ternyata sederhana. Niar takut salah bicara, salah mengucapkan atau mengartikan sesuatu, yang kelak akan membuat lawan bicaranya tersinggung atau marah. Itulah mengapa, jika bukan karena “ikut suami”, sejak jauh-jauh hari Niar sudah berencana meninggalkan kota yang masih sangat kental mempertahankan budaya dan bahasa Jawanya itu: Yogyakarta. Sebuah kebiasaan yang membuat Niar sempat kebingungan pada awal-awal masa kepindahannya. 

Sebagaimana yang terjadi pada arisan keluarga besar pertama yang dihadirinya. Suami Niar orang Yogyakarta. Asli. Tanpa campuran. Saat acara arisan, yang diadakan di rumah mertuanya, bertemulah Niar dengan semua anggota keluarga dari pihak sang suami, yang sungguh kebetulan, menurut Niar, bersuku sama semua. Jawa. Di tengah acara itu, terjadilah sesuatu yang ditakutkan Niar sejak lama.  

Saat itu, menurut cerita Niar, para ipar, sepupu, bulik, bude, pakde, paklik, keponakan dan mertuanya sedang berbincang seru—tentu saja dalam bahasa Jawa—di ruang tengah rumah mertuanya yang sangat luas dan berfungsi sebagai ruang televisi pula. Niar menghadiri arisan tersebut tanpa sang suami, yang tidak ikut serta karena sedang bertugas di luar kota. Sebagai anggota keluarga baru yang baik, Niar pun berusaha keras untuk memahami kata-kata mereka agar bisa ikut serta dalam pembicaraan tersebut. Dia mencari-cari kesempatan yang tepat untuk unjuk suara. 

Hingga tibalah saat yang dianggap tepat oleh Niar. Ketika layar televisi memutar cuplikan film Jurasic Park dan kebetulan salah satu kata yang berulang kali diucapkan orang-orang seisi ruangan adalah kata “dino”. Didorong keinginan untuk menampilkan diri sebagai istri Masnya yang ramah dan anggota keluarga baru yang baik, tanpa pikir panjang, Niar spontan nyeletuk dengan nada lugu, “Wah, kalau saya lebih suka film Jurasic Park yang pertama daripada sekuel-sekuelnya.” 

Sebagai jawaban atas kata-kata Niar itu, seisi ruangan tamu langsung terdiam. Selama sepersekian detik, atau berjam-jam menurut perasaan Niar, semua kepala serentak berbalik menatapnya dan membuat Niar salah tingkah. Salah tingkah Niar barulah mereda ketika salah satu adik iparnya berkata bahwa dia juga lebih menyukai film Jurasic Park pertama sambil tersenyum penuh arti, dan setelah itu ruangan kembali ramai dengan obrolan.  

Di akhir hari itu, sepulangnya kembali ke rumah, Niar  merasa harus melakukan sesuatu karena entah mengapa dia merasa ada yang salah pada kejadian di rumah mertuanya siang tadi. Niar pun membuka ponselnya, mengunduh aplikasi penerjemah online bahasa Jawa-Indonesia, lalu mulai mencari arti kata “dino” di sana. Begitu melihat kata yang tercantum dalam aplikasinya, Niar barulah paham mengapa semua orang yang ada di ruangan tadi tiba-tiba melongo. Arti kata “dino” dalam bahasa Jawa adalah hari, bukan dinosaurus!

Gara-gara bahasa Jawa pula Niar pernah menyusahkan suaminya yang sedang sibuk di tempat kerja. Sama seperti cerita di atas, cerita Niar yang satu ini juga diceritakannya kepada istriku, yang kemudian oleh istriku diceritakan ulang kepadaku hanya karena menganggapnya lucu. 

Waktu itu, ceritanya, Niar nekat naik bus umum sendirian bukan dari terminal yang biasa. Tujuan Niar adalah sebuah kantor distributor sebuah produk dimana dia menjadi salah satu reseller di sana. Kantor itu terletak di jalan raya menuju Prambanan, tapi masih berlokasi di kota Yogyakarta. Pikir Niar, toh selama bus itu mengarah ke jurusan sama maka pastilah dia tidak akan kesasar. Maka ketika sebuah bus berhenti di depannya, dengan penuh percaya diri, Niar langsung meneriakkan kata kunci itu.

“Prambanan?”

Nggih, “ kata sang kernet.

Dua jam kemudian. Niar menelpon suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Lewat telpon, Niar meminta sang suami menjemputnya saat itu juga karena bus yang ditumpanginya ternyata tidak membawanya sampai ke tujuan. Bus itu tidak membawa kabur Niar, tapi diantar dengan selamat sampai tiba di salah satu pemberhentian yang ada di sebuah kampung nun di belakang Candi Prambanan, Klaten. 

“Padahal saya mau ke kantor distributor yang ada di Yogyakarta, bukan Klaten,” keluh Niar pada suaminya.

Kepada istriku, Niar bercerita kalau kala itu suaminya sempat mengomelinya karena dikira dia hanya diam saja ketika tahu tersesat. Niar pun membela diri dengan berkata bahwa dia sudah berusaha untuk mengerti perkataan kernet bus itu, yang ternyata hanya bisa berbahasa Jawa, tidak bahasa Indonesia. 

“Saya juga sudah bertanya pada sopirnya, tapi dijawab pakai bahasa Jawa. Jadi, tetap saja saya tidak mengerti.”

Menurut Niar, dia bahkan sudah menyuruh kernet bus itu berbicara kepada ponselnya, setelah mengaktifkan aplikasi penerjemah online yang telah diunduhnya, tapi aplikasinya malah kebingungan dan tidak menerjemahkan apa-apa.

“Aplikasinya bilang itu bahasa Portugal, padahal bahasa Jawa. Dia saja bingung, apalagi saya,” keluh Niar kepada istriku. 

Pada akhirnya, karena tidak bisa menjemputnya dengan alasan sedang berada di tengah suatu rapat penting, sang suami menyuruh Niar membicarakan dan menegosiasikan hal tersebut dengan kernet bus. Kali ini, bukan aplikasi penerjemah online yang digunakan Niar sebagai perantara melainkan suaminya sendiri. Lewat ponsel, suami Niar berbicara kepada kernet bus itu. Untungnya, masih menurut Niar, meskipun saat itu dia berada di sebuah kampung yang letak persisnya tidak tercantum dalam peta GPRS, tapi ponselnya mendapat sinyal yang bagus dan kuat sehingga pembicaraan antara suaminya dan kernet bus berjalan lancar. Beberapa jam kemudian, setelah diantar oleh bus yang berbeda tapi kernetnya berteman dengan kernet sebelumnya, Niar menjadi bahan tertawaan orang-orang di kantor distributor yang mendengar kisah tersesatnya Niar di Prambanan.

Berbagi pengalaman adalah salah satu cara untuk memetik pelajaran atau mengambil hikmah dari apa yang dialami, entah oleh diri kita sendiri atau orang lain. Dalam hal ini, pengalaman Niar telah mendorong istriku, yang sama-sama bukan wong Jowo, mencari aplikasi penerjemah online Jawa-Indonesia yang lebih bagus. Dan karena pekerjaan istriku terkadang membuatnya bepergian ke pelosok, dia juga mempersenjatai ponselnya dengan kartu provider yang bisa membuatnya mengakses internet dengan lancar, juga menelpon ke rumah dengan suara jernih, terlebih mengingat lokasi rumah kami yang terletak jauh di pinggiran kota.  

Pentingnya dua hal itu sudah pernah terbukti ketika sekali waktu istriku mesti berangkat ke Amerika Serikat sehubungan dengan pekerjaannya. Pada suatu hari, istriku tiba-tiba saja melakukan panggilan video call ke ponselku. Rupanya, pada panggilannya kali itu, bukan istriku yang hendak berbicara denganku, melainkan seorang perempuan asing. Terang istriku, perempuan itu adalah salah satu koleganya yang hendak merasakan kembali sensasi mengobrol langsung dengan seorang Jawa asli, sebagaimana yang pernah dirasakannya dulu ketika masih melakukan penelitian di Pulau Jawa pada tahun 70-an. 

“Halo? Nice to meet you. I’m Julie.” Wajah seorang bule paruh baya berdarah campuran Amerika-Asia muncul di layar ponselku.

Hi, Julie. I’m Endhiq. Nice to meet you, too. Piye kabarmu? Kapan teko neng Jowo maneh?”

Di ujung pembicaraan yang lancar itu, Julie ternyata memutuskan untuk menitipkan sebuah oleh–oleh dari Amerika khusus untukku. Sungguh sebuah kejutan!

Pada abad dimana segalanya telah mengglobal ini, pengalaman menjadi orang asing atau bertemu dengan orang asing mestilah akan dialami oleh siapapun. Namun, sebagaimana yang terjadi pada Niar, teman istriku, juga kualami sendiri, mereka yang asing ternyata bisa menjadi keluarga atau sedekat keluarga jika kita bisa menjembatani perbedaan yang ada itu dengan sebuah komunikasi yang tepat. ***