BUKAN MALAIKAT

Seberapa kuat dirinya yang diperlihatkan di depan anak anaknya, kita tidak tahu seberapa besar beban yang beliau pikul. Seberapa besar keluhan dan kerinduan yang ia simpan rapat.

BUKAN MALAIKAT
Foto ibuk di usia 68 th

"Koh.. aku udah kirim uang buat belike kado buat mamah ya.. nnti tolong belikke tas selempang"

Bunyi pesan adik iparku ke kakaknya.

"Iya ndut, nanti biar aku yang beli kue ultahnya"

Seperti itulah kakak beradik itu begitu antusiasnya menyambut hari lahir mamah mereka. Setiap tahun , hari ulang tahun mamah adalah momen sakral yang selalu disiapkan dengan matang.

Bahkan di saat pandemi si adik yang nggak bisa pulang kampung pun masih menyempatkan diri berkoordinasi dengan kakaknya menyiapakan acara spesial itu dari jauh.

Di tengah kegembiraan mereka aku tersenyum menerawang. Alangkah bahagianya ibuku jika aku juga menyiapkan perayaan ulang tahun untuk beliau. Mungkin wajahnya juga akan sumringah seperti wajah mama mertuaku saat ini.

Namun masalahnya aku tidak tahu kapan hari ulang tahun ibuku. Bahkan beliau sendiri pun tidak ingat.

"Seingat ibuk ya bulan Desember tahun 52, tapi lupa tanggal berapa"

jawabnya datar ketika aku menanyakan.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya muncul lah ide untuk merayakan ulang tahun ibuk di tanggal 22 Desember. Ya momen yang tepat karena bertepatan dengan Hari Ibu. Lagipula kan sama sama di Bulan Desember.

Tanggal sudah ditentukan dan aku pun sibuk menyiapkan perayaan kecil kecilan untuk ibuku. Sengaja aku tidak memberi tahu kakak kakakku perihal rencana ini. Karena semakin banyak orang tahu nanti malah terbongkar sampai ke telinga ibuk. Bisa gagal rencanaku memberi kejutan.

Mulai dari kue tart sudah kurencanakan. Aku akan membuat sendiri dengan tanganku. Kali ini harus lebih rapi dari kue tart untuk ulang tahun Sellyn tempo hari. Mulai dari join beberapa grup facebook cara menghias kue sampai mondar mandir di beberapa chanel baking class di Youtube. Semua aku jalani demi kue yang layak disajikan untuk ibuk.

Untuk kado aku sudah pesan jauh jauh hari sebelum hari H. Sesuatu yang sangat diinginkan oleh ibuk. Dan aku akan menyiapkannya di hari yang paling spesial buat ibuku.

Tanggal 22 Desember pun tiba. Kado sudah siap sehari sebelumnya dan ku sembunyikan di lemari pakaianku di rumah ibuk. Kue tart yang aku buat semalaman sepulang kerja pun sudah terbungkus rapi dalam kotak karton.

Aku mengundang beberapa kakakku untuk ikut merayakan. Sementara beberapa yang lain tidak bisa hadir karena sedang bekerja ke luar kota.

"Agus ke mana? Kok langsung puter balik?" Tanya ibuk melihat suamiku putar balik setelah mengantarku.

" ada yang ketinggalan buk, jadi diambil dulu di rumah Getas" jawabku.

"Mbak Ayuk mana buk?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

" itu di dapur, lagi masak banyak sekali entah siapa yang mau datang" jawab ibuku dengan raut wajah kebingungan.

" teman2nya mungkin buk, kan mbak ayuk punya banyak teman". Jawabku berbohong.

"Eh ibuk sudah mandi belum? Ganti baju yang agak bagusan gih biar nggak malu kalo ada orang dateng". Kataku sembari menatap outfit ibuk yang hanya pake daster batik sobek di bagian lengannya.

" ibuk hanya menurut meskipun masih terlihat bingung"

Tikar sudah digelar. Beberapa piring makanan sudah berjajar rapi. Tinggal menunggu suamiku sampai.

Ibuk makin kebingungan melihat beberapa anak dan menantunya sudah berkumpul.

" ada acara apa sih ini?? Nggak ada yang mau cerita nih sama ibuk?"

" sudah ibuk duduk di sini dulu. Nanti juga ibuk tahu sendiri" jawabku sambil senyum senyum.

Selang beberapa menit setelah semua orang berkumpul termasuk ibuk, suamiku pun muncul membawa kue ulang tahun diiringi nyanyian " Mabruk Alfa Mabruk" dari geng bocil.

Air mata ibuk pun nggak bisa dibendung, ibuk menangis seperti anak kecil.

" seumur hidup sejak ibuk kecil, ibuk tidak pernah dirayakan ulang tahunnya sama kakek dan nenek kalian." Ibuk berkata sambil sesenggukan.

Ibuk pun memeluk dan mencium kami bergantian. Sambil mengucapkan doa untuk kami. Padahal kan beliau yang ulang tahun.

Acara pun dimulai dengan doa yang dipimpin kakak iparku. Dilanjutkan tiup lilin dan potong kue. Selama acara ibuk terus menangis terharu. Dan tidak berhenti mengucap syukur.

" yah ibuk malah nangis terus.. kan jadi jelek nanti kalau difoto" candaku mencoba mencairkan suasana.

Mendengar itu ibuk pun berusaha menghapus sisa2 air matanya.

" nih ibuk udah nggak nangis.. siapa sini yang mau foto sama ibuk" ucapnya disambut tawa seisi ruangan.

Selesai sesi foto foto, aku mengambil kado yang sudah ku siapkan sebelumnya. Kuberikan kotak persegi panjang berbungkus kertas kado bercorak batik itu pada ibuk.

"Apa ini?" Tanya ibuk penasaran.
" udah dibuka aja, nanti ibuk juga tahu" jawabku sambil tersenyum.

Perlahan lahan ibu membuka bungkusan kadonya. Dan setelah melihat isinya tangis ibuk pun kembali pecah.

Dipeluk dan diciumnya benda itu berulang ulang. Sesekali dilihatnya gambar yang terbingkai dalam frame ukuran 12R di tangannya itu. Air matanya terus mengalir memandang gambar dirinya bersanding dengan gambar bapak di sana.

Sejak bertemu Bapak pertama kali sampai Bapak meninggal tak ada 1 lembar foto pun berisi gambar Ayah bersanding dengan Ibuk. Nyaris tak ada gambar yang mengabadikan kebersamaan mereka. Jadi aku berinisiatif menggabungkan foto mereka berdua dalam 1 frame. Lewat bantuan teman aku berhasil menemukan orang yang bisa melakukan hal tersebut. Dan seperti dugaanku Ibuk benar benar senang dan terharu menerimanya.

Ibuk yang 22 tahun terakhir ini selalu terlihat kuat. Tidak pernah mengeluh. Hari ini terlihat begitu rapuh. Aku baru menyadari bahwa Ibuk bukanlah malaikat. Tidak seperti doktrin yang banyak ditanamkan melalui artikel artikel dan postingan di sosial media. Seorang ibu hanyalah manusia biasa, hanya perempuan biasa. Tidak seharusnya kita memaksanya menjadi malaikat.

Seberapa kuat dirinya yang diperlihatkan di depan anak anaknya, kita tidak tahu seberapa besar beban yang beliau pikul. Seberapa besar keluhan dan kerinduan yang ia simpan rapat.