Brompton vs Ontel

Ketika Pesepeda Naik Kelas

Brompton vs Ontel

Di suatu laman media sosial ada yang bertanya begini.

+++

Adakah yang berasal dari Indonesia? Saya penasaran apa yang terjadi di sana. Kenapa kalian mencoba beli sepeda ini, sedangkan di banyak negara bilang ini sepeda mahalnya keterlaluan? Apakah kamu mau berbagi cerita di sana?

Catatan: secara personal saya gak ada masalah dengan itu. Bahkan sebenarnya saya bahagia karena seseorang baru saja menawar $4000 untuk Brompton saya minggu lalu. Saya jual ke dia tanpa ragu. Salah satu teman saya menjual dengan harga $6000 untuk CHPT3-nya. Kemarin teman saya nanya, bisa gak carikan 15 Brompton baru untuk dikirim ke Indonesia. Harga tidak masalah. Itu gila banget!!!

+++

Bersepeda memakai Brompton, sekarang ini punya persepsi sendiri. Yang menggunakan merek tersebut, dianggap kaya, mampu, dan beda kelas.

Sama halnya dengan yang mengendarai mobil Tesla, Ferrari, atau Jaguar.

Bersepeda sekarang ada kelas-kelasnya. Padahal, jalurnya mungkin sama. Menaiki tanjakan dan menuruni jalanan yang sama. Tapi kenapa, pengguna Bropmpton akan merasa dirinya berbeda?

Itu karena Brand. Brand itu nama dan makna. Begitu kita pakai sepeda dengan merek Brompton, persepsi orang lain terhadap kita akan bergeser. Dipandang mewah, mampu, kaya. Padahal bisa jadi itu sepeda pinjaman. Numpang test drive. Tapi yang melihat dari jauh tidak peduli itu.

Apakah banyak yang memakai Brompton? Tidak. Barang-barang branded itu segmented. Niche market. Spesifik. Kalau banyak yang pakai namanya komoditi.

Yang naik Brompton bisa saja dalam dirinya berkata kepada rombongan Federal, atau Wimcycle, atau BMX, "Minggir, Brompton mau lewat!"

Pengguna Federal pun menelan ludah. Berkata dalam hatinya, "Ini sepeda tahun 90an juga jaya-jayanya! Sekarang aja selera berubah."

Dan pengguna Federal pun ada komunitasnya. Mereka pun bangga masih menyimpan sepeda zaman 90an hingga kini. Mahal di mata kolektor. Biasa-biasa saja di mata emak-emak.

Sepeda Brompton mungkin punya kelebihan di fiturnya. Berat sepeda, ergonomik, handling, dan lain-lain. Itu product benefit. Sedangkan dipersepsikan mampu, elegan, kaya, adalah emotional benefit, yang bisa jadi lebih berharga di mata penggunanya. Karena ia akan dianggap beda kelas.

Saat komunitas Brompton berada paling depan di jalur sepeda, menyusul Federal, Wimcycle, dan BMX, di belakang ada pasukan sepeda yang tidak kalah jumlahnya.

Mereka berpakaian ala kolonial. Berkumis baplang. Dan keris di belakangnya. Dandanannya klasik. Bersepeda dengan badan tegak dan santai.

Merekalah sekawanan sepeda Ontel. Bagi mereka, bisa jadi Brompton tidak sepadan dengan nilai klasik sebuah sepeda. Ontel susah dicari. Sekalinya ada, mungkin sudah tidak bisa dikendarai. Jadi yang punya sepeda Ontel, barangkali juga jumawa.

Semua itu tidak ada yang salah. Karena inilah Brand.

Brand menurut Pak Bi adalah nama dan makna. Brand adalah ikatan emosi antara produk dan konsumennya. Brand adalah apa yang mereka katakan tentangmu. Brand adalah kepercayaan. Itu versi Subiakto Priosoedarsono, praktisi Brand dengan pengalaman 50 tahun.

Jadi kalau ada kamu-kamu, atau emak-emak yang nyinyir, buat apa sepeda mahal-mahal? Itu sama saja dengan pria-pria yang bertanya, buat apa tas mahal-mahal?

Dan buat semua yang bertanya, buat apa beli barang mahal? Kan fungsinya sama saja dengan yang murah?

Artinya, pola pikir, gaya hidup, dan kelasnya tidak sama.

Ada yang mengutamakan fungsi, ada yang mementingkan gengsi.

Ada yang sukanya di red ocean. Asal barang murah dan laku. 

Ada yang sukanya di blue ocean. Asal barang mewah dan punya value.

Hidup itu pilihan. 
Tidak usah diambil pusing.
Karena covid sudah cukup bikin rungsing. 
Jangan lagi ditambah beban pikiran.

 

OKSAND