Bir dan Kalung Salib

Saya tak suka pribadi dan karakter Yngwie Malmsteen, tapi senang mendengar karya-karyanya. Memang sebaiknya begitu. Yngwie sendiri mengakui sikap tak ramah, nyeleneh serta angkuhnya.

Bir  dan Kalung Salib

Sosok kaukasoid melangkah masuk ke kantor kami. Tubuh besarnya memenuhi koridor di kantor majalah remaja yang digemari di zamannya, HAI. Lorong yang dibatasi beberapa kubikel tiba-tiba seperti mengecil. Apa tubuh besar itu memenuhi koridor? Seharusnya dia berada di ruang rapat untuk wawancara artis atau selebritis. Tapi siapa berani melarang rock star internasional? 

 

“Hi, Yingwie..?” Sapa seorang rekan. Tak digubrisnya. Postur setinggi 190 senti itu tetap berjalan. Terkesan angkuh dengan rambut gondrong khas anak metal di zaman itu. Ya, dia si gitaris bang jago asal Swedia, Yngwie Malmsteen. Yngwie dengan sempurna mewakili sosok seorang anak band sebagai pemilik strata tertinggi dunia musik di era itu.   

 

Lorong pendek itu benar-benar penuh oleh tubuh Yngwie. Jika ada yang akan berpapasan harus mengalah, mundur atau menyerong. Dia berjalan tanpa sedikit pun memalingkan muka. 

 

Beberapa menit kemudian, saya sudah berdua Yngwie Malmsteen di ruang wawancara. Sesekali tampak Daniel Supriyono, sang fotografer, yang bebas bergerak. Jepret, jepret, keluar. Nanti masuk lagi. Jepret, jepret lagi. Bisa dibilang sepanjang wawancara nyaris satu berdua dengan musisi pongah ini.

 

Tidak mudah menjinakkan Yngwie. Matanya liar dan tampak tak sabar, bahasa tubuhnya tidak bersahabat. Saya mengamatinya sebentar. Dia berpakaian serba hitam. Jaket yang seperti jubah. Kalung salib besar bergantung di dada. Berbagai gelang memenuhi lengan kiri dan kanan. 

 

Bir di tangan kiri yang nyaris ta pernah lepas dari genggaman. Rokok di tangan kanan. Seingat saya, dia lebih sering menenggak bir daripada menghisap rokok. Posisi duduknya seperti raja, memenuhi ujung meja yang lebar. Tatapannya berkesan meremehkan. 

 

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, dibalas dengan jawaban-jawaban klise. Tak ingat betul apa detailnya waktu itu. Yang pasti seputar album baru dan kegiatan roadshow yang akan dilakukannya di kota Jakarta dan Surabaya. 

 

Wawancara berjalan lancar. Itu menurut saya.  Menurut editor saya belum tentu. Di masa itu, menggali materi untuk wawancara tidak seperti sekarang. Internet ada, tapi tak bisa diandalkan. Rilis media hanya untuk mencek data dan fakta sang musisi. 

 

Sumber terbaik adalah mendengarkan lagu-lagu di album sang musisi.  Saya kenyang, sampai hampir muntah, mengunyah deretan lagu di album Facing the Animal dari Yingwie yang dirilis di tahun itu. Satu singelnya, Like An Angel, menempel di kepala sampai sekarang.

 

Momen wawancara ini menjadi penting dalam beberapa hal. Saya bukan wartawan musik waktu itu, dan memang tidak dipersiapkan ke sana. Tapi bukan alasan untuk tidak melakukan wawancara musisi internasional. Kedua, sumber informasi yang terbatas justru menjadi pemicu untuk kreatif. 

 

Saya tak suka pribadi dan karakter Yngwie, tapi senang mendengar karya-karyanya. Memang sebaiknya begitu. Yngwie sendiri mengakui sikap tak ramah, nyeleneh serta angkuhnya. Dirinya mungkin paling ngeselin dan paling banyak berbuat tak baik. Tapi dia tak peduli dan juga tak berharap orang lain untuk mengerti dirinya. Mungkin, katanya, di masa depan orang lebih akan berujar, “Ah, dia enggak seburuk itu ternyata.”

 

Komentar negatif apa pun tentang Yngwie tak mengubah prestasi dan kehebatannya. Menurut majalah Time, dia berada di urutan 9 dari 11 pemain gitar listrik terbaik sepanjang masa. Siapa yang meragukan kehebatan itu?

 

Foto-foto: Daniel Supriyono