Bicaralah, Maka Orang Lain Akan Mengerti

Bicaralah, Maka Orang Lain Akan Mengerti

                Era digital membuat segalanya menjadi lebih mudah dari sebelumnya, tak terkecuali dalam hal berkomunikasi. Jika puluhan tahun lalu orang harus bersabar menunggu jawaban atas suratnya yang dikirim ke orang lainnya, saat ini cukup bermodal sinyal internet atau pun pulsa komunikasi pun sudah terjadi. Kemudahan itu tentunya sangat membantu untuk banyak hal. Orang bisa berjualan tanpa harus bertemu dengan pembelinya. Anak rantau tidak perlu repot pulang setiap bulan dengan alasan jarak dan biaya yang cukup besar, karena video call pun menjadi solusinya. Bahkan di masa seperti ini (Pandemi) sekolah mulai dari tingkat dasar hingga perkuliahan dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka. Semua kemudahan itu seakan membuat orang hidup di dunia yang sungguh berbeda.

                Dampak yang sangat luar biasa ini seolah melepas batas di semua lokasi di dunia ini. Orang dapat mempelajari apa pun tanpa harus keluar dari rumah karena internet sudah menyediakan jawabannya. Mungkin sekitar 20 tahun yang lalu (entah bagaimana kondisi di luar Indonesia), jika ada kesulitan dalam belajar harus menunggu keesokan harinya untuk menanyakannya kepada guru di sekolah. Atau bisa jadi bertanya kepada teman sekolah yang dianggap kompeten di bidangnya. Namun internet telah menjawab kesusahan itu dengan segala teknologinya. Beberapa orang cerdik pun memanfaatkannya dengan membuat platform tertentu agar orang lain tetap merasakan interaksi dengan adanya video yang menjelaskan segala hal yang ingin diketahui. Semua interaksi tersebut bisa terjadi dimana saja, menembus perbedaan waktu karena semua orang bisa terhubung melalui internet.

                Lantas dengan segala kemudahan itu apakah setiap orang menjadi tidak memiliki permasalahan dengan berkomunikasi? Apakah interaksi di internet mampu menjadi solusi terbaik dalam berkomunikasi? Nyatanya dengan segala kemudahan itu, manusia masih tidak akan lepas dengan permasalahan berkomunikasi. Diantara kita pasti pernah mengalami salah paham saat berkomunikasi melalui media sosial, misalnya saja chat. Entah itu salah satu diantaranya salah ketik atau yang biasanya disebut “typo”. Atau si penerima pesan salah mengartikan chat yang dimaksud. Hal ini biasanya karna kita tidak tau bagaimana intonasi berbicara pada chat tersebut. Apakah itu marah, biasa saja, atau bahkan sangat bersemangat. Kesalahpahaman karena hal sepele tersebut bisa membuat hubungan antar manusia menjadi renggang. Bahkan beberapa case bisa berujung permusuhan. Padahal itu semua hanya karena masalah komunasi yang kurang tepat. Berbeda bila berbicara saat bertemu, satu sama lain tau bagaimana intonasinya dan juga ekspresinya sehingga pesan yang ingin disampaikan pun diterima dengan baik.

                “Lho, tapi kan sudah ada video call. Kalau memang chat tidak menyelesaikan permasalahan berkomunikasi, video call bisa jadi solusinya.” Memang instead of bertemu (apalagi di masa seperti ini) orang-orang dapat memanfaatkan teknologi video call. Tapi bukan tanpa kendala menggunakan media ini untuk berkomunikasi. Setiap orang harus memastikan koneksi internetnya sangat lancar untuk dapat berkomunikasi dengan baik melalui video call. Jika hanya salah 1 saja yang mempunyai sinyal atau jaringan yang stabil, maka komunikasi melalui video call terntunya bukan jawabannya. Ada hal yang susah dijelaskan yang membedakan cara berkomunikasi dengan media video call dengan tatap muka secara langsung. Mungkin bisa jadi karena sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang memang secara alami membutuhkan interaksi antar sesama. Yaitu dengan cara bertemu dan berbicara.

                Terlepas dari media apa pun yang digunakan untuk berkomunikasi, karena pada kenyataannya pun ada karakter dari manusia yang justru lebih suka sendiri, tertutup, dan kurang suka berinteraksi. Namun sifat dasar tidak akan bisa diabaikan begitu saja, sama seperti manusia butuh makan untuk hidup, manusia pun butuh berkomunikasi antar sesama, suka atau tidak. Banyak permasalahan terjadi karena kurangnya komunikasi. Beberapa orang lebih memilih diam ketimbang berbicara untuk menyelesaikan permasalahannya. Atau memilih diam karena dirasa itu lebih baik daripada menimbulkan permusuhan. Mungkin terdengar klise kalau “semua masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik”. Lantas bagaimana cara berkomunikasi yang baik? Back to basic, bicaralah.

                Ada beberapa case orang mengeluhkan tentang pasangannya, rekan kerja, atasan, atau bahkan keluarga sendiri. Tapi berapa banyak orang yang mau berbicara agar orang lain mengerti apa yang sebenarnya dia mau? Sebagai contoh ada pasangan dimana si perempuan tidak suka pasangannya yang selalu berantakan dirumah, bukannya berbicara ke pasangannya tapi justru emosi yang keluar. Atau ada yang tidak suka sama temennya sendiri yang terkesan terlalu menyombongkan diri, tapi bukannya diajak berbicara, malah justru menghindarinya atau mungkin sekedar memendamnya. Beberapa case di keluarga yang justru lebih penting. Memilih membahagian orang tua dengan menuruti semua keinginannya tapi apa yang diinginkan orang tua bukan apa yang diinginkannya. Padahal tidak menutup kemungkinan orang tuanya akan mengerti jika si anak membicarkan apa yang diinginkannya. Dan masih banyak lagi case tentang bagaimana besarnya dampak berbicara satu sama lain.

                Memang kadang butuh keberanian yang besar untuk sekedar berbicara pada orang lain. Beberapa orang sulit untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada orang terdekatnya. Bahkan kadang butuh keikhlasan yang cukup besar untuk menerima apa yang diungkapkan orang lain pada diri sendiri. Namun kita tidak bisa memaksa orang lain selalu paham apa yang kita inginkan tanpa berbicara. Bahkan kadang kita sudah berbicara pun masih ada kesalahpahaman, entah itu tidak mengonfirmasi pesan yang diterima, atau beda pendapat, atau hal lainnya kalau misalnya berbicara dengan media internet. Tapi percayalah tidak ada jalan keluar yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah antar manusia selain berbicara. Jika masalah itu cukup pelik untuk dibicarakan, hanya perlu 2 hal : keberanian yang sangat besar dan keikhlasan yang luar biasa atas respon yang diberikan nantinya. But again, Bicaralah, maka orang lain akan mengerti.