Bicara Salah, Diam Salah

Bicara Salah, Diam Salah
Image by pixabay.com

Pagi ini Dru ciprat mukaku dengan sekuat tenaga. Duh aku masih butuh istirahat. Bagaimana aku bisa semangat jika semalaman saja Dru memintaku ikut terjaga.

 

“Kamu memang tidak mengantuk?”
“Tidak usah banyak bicara, ayo lekas siap-siap. Aku mau jalan-jalan pagi ini.”
“Ya jalan saja, kenapa aku harus ikut?”
“Ikut dong Laela, memang kamu tega biarkan aku cemberut sambil lari pagi?”

“Lari pagi?. Ini jam lima pagi Dru. Sudah shalat belum?”
“Wooooooooisss, sembarangan kamu ya Laela. Begini-begini shalatku tepat waktu. Punya keinginan saja maunya Allah kabulkan langsung, masa iya menunaikan kewajiban saja aku bikin lama.”

 

Hmm mulut Dru bawelnya bukan main, mata mendelik sambil senyum yang dipaksakan membuatku harus cepat-cepat bangun. Kugosok mataku, kuregangkan sebentar badanku.

 

“Lama ya Laela. Sudah cepat sana cuci mukamu, gosok gigimu dan jangan lupa siapkan segala jenis firman Allah yang kamu tahu. Aku mau dengar pagi ini.”

 

Ih bawel bener, yang mau jalan-jalan dia, yang mau tebar pesona dia, yang mau ketawa ketiwi dia, kenapa aku mesti ikutan ribet.

 

Ya inilah Dru, sosok perempuan yang aku kagumi. Tak ada seorangpun akan mengira bahwa Dru butuh perhatian. Tingkah polah Dru yang selalu riang selalu menularkan tawa dan canda untuk sekitarnya.

 

Dru paling tidak bisa melihat kawannya sedih dan menangis. Sebisa mungkin akan dia lakukan agar kawannya kembali tersenyum.

 

Sayang tak semua kawan Dru paham akan Dru, terlalu sering tengadahkan tangan hingga lupa untuk memberi. Ya, memberi perhatiannya sedikit untuk Dru.

 

Dalam hitungan detik aku sudah siap temani Dru, kuiisi energi positifku,Kulengkapi dengan beberapa Ayat yang mau Dru dengarkan pagi ini.

 

“Sudah dong Dru. Kau kuncir kuda saja, lebih seksi loh kelihatannya!”
“Masa, memang iya?. Aku tidak mau terlihat seksi Laela.”
“Kan hanya terlihat Dru. Bajumu toh tetap panjang, lagi pula jika kau urai dan hanya kau beri bando, memang tidak takut lepas saat kau lari-lari nanti?. Bukannya akan tidak nyaman jika rambutmu kau biarkan begitu?”

 

Dru rapikan rambutnya, dia beri ikatan rambut lalu dia simpan handuk kecil biru tua bertuliskan inisial B di lehernya. Dengan senyum sumringah, Dru gandeng tanganku.

 

“Yuk Laela, kita jalan sebentar nanti di ujung jalan kita mulai berlari ya!”

 

Belum sampai di ujung jalan, aku kehilangan Dru. Aku yang sedang bersemangat tertiup sisa angin malam harus hentikan sejenak kekagumanku pada alam pagi ini.

Tertunduk tanpa alasan, mata tajam Dru seolah terjemahkan sesuatu yang begitu menjengkelkan. Dengan sedikit menyipit dan menekuk dalam bibir mungilnya, aku tak paham dengan yang terjadi secara tiba-tiba.

 

Kupeluk erat Dru, kuusap-usap rambut coklatnya.

 

“Diam kau Laela!”
 

Ya Tuhan, ini bukan Dru. Ada apa ini?. Apa salahku hingga Dru tiba-tiba lepaskan pelukanku.

 

“Kenapa kau tinggalkan aku?”
“Aku tidak tinggalkan kamu Dru. Aku kira kamu sedang menikmati pemandangan makanya kau lambatkan kakimu.”
“Sok tahu kamu. Tanya saja tidak, berani sekali kau ambil kesimpulan.”
“Ya, hmmm maaf Dru, aku sungguh tidak tahu, jika langkahku yang sedikit cepat membuatmu marah. Bukannya biasanya kau kejar aku lalu kita berlomba sampai lelah?”
“Kan aku bilang kita berlari di ujung jalan, kenapa kau sudah mulai berlari?”
“Tidak Dru, aku tak lari, aku hanya ikuti embun yang bergerak dari satu daun ke daun lainnya. Itu saja. Aku kira…”
“Kau kira apa?. Jadi kau lebih perhatikan embun daripada aku?. Kau sama saja Laela.”

 

Ah, kalau sudah begini aku hanya bisa diamkan Dru. Bicara salah, diam juga akan tambah salah. Sementara aku tak paham dengan salahku sesungguhnya.

 

Duduh di atas rumput yang sedikit basah, kutemani Dru dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

Matahari sudah minta izin untuk tampakkan warna jingganya perlahan.

 

“Hei, cantik sekali kamu hari ini. Bukannya semalam hujan sempat datang. Kenapa kau begitu cerah?

“Hmm, seharusnya jatahku cerah jam sembilan nanti. Hanya sepertinya sahabatmu perlu aku kasih sedikit warna agar tidak terlalu kelabu. Kau berbuat salah apa, bisa-bisanya dia semuram itu.”
“Ah, kau belum bangun. Itu bukan muram. Itu Durjana.”

“Masa, coba aku perhatikan.”

 

Dru lemparkan botol minumannya. Satu dua helai daun mawar lepas dari tangkainya.

 

“Duh, maaf ya. Dia tidak sengaja. Sakit?”
“Apa menurutmu aku tidak kesakitan?”
“Aku pikir, karena kau penuh duri, lemparan Dru tidak seberapa dibandingkan dengan ketika durimu mengenai orang atau mahluk lainnya.”

“Kan aku yang punya duri, mana tahu rasanya kena duri.”

“Oiya, aku lupa. Pantas saja laki-laki itu terus melukai Dru, dia yang punya duri, tak pernah tahu rasanya menjadi Dru. Lantas di tanah tak bertuan ini, siapa yang menanammu seindah ini?”

 

Dia sibuk bereskan sisa daun yang merapuh. Menurutnya daripada memelihara daun yang sudah terluka lebih baik dia buang untuk dapatkan daun yang baru. Menunggu daun yang baru jauh lebih menyenangkan dibanding menyembuhkan daun yang hampir kering atau sudah terluka.

 

“Laelaaaaaaa….”
“Allahu Akbar, kencang kali kau berteriak Dru.”
“Kamu itu kenapa sih?. Peka sedikit bisa tidak?. Aku itu lagi kesal.”

 

Salah lagi deh, nasib kok begini amat sih.

 

“Kamu maunya apa Dru? Kenapa sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah?”
“Aku bingung ya sama kamu Laela. Bisa-bisanya aku sedang butuh teman bicara, kamu tinggal aku begitu saja. Kalau tidak kau tinggal tidur, kau tinggal aku dengan aktivitas yang lain.”

“Bukan, tidak begitu Dru kronologisnya. Ya salam, ujung jalan kok lama kali ya, aku sedang tak mau ribut dan tugasku memang tidak untuk ajak kamu ribut.”

 

Dru berlari lebih kencang dari biasanya, kuncir kuda terayun dengan kuat. Sesekali dia betulkan tali sepatu yang terlepas. Berjongkok sebentar lalu berlari lagi tinggalkan aku bersama matahari dan mawar berduri.

 

“Aku lari kejar Dru dulu ya, jangan kemana-mana. Nanti aku kembali.”

“Tidak, kami tak pergi kemana-mana. Lagipula sekuat apapun kamu pergi tinggalkan kami, jika Tuhan maunya kita bertemu pasti bertemu lagi di sini. Di jalanan ini.”

 

Aku sudah tidak muda lagi, jika dulu gelora muda penuh denga segala cinta dan kasih, perlahan mulai terkikis. Bukan mauku untuk terkikis namun tangis Dru yang semakin banyak membuat lapisan cintaku berkurang perlahan.

 

Satu hari pernah kubertanya pada semesta,  hal apa yang dapat mengembalikan energi cinta dan kasihku?. Semesta menjawab, dengan cinta dan kasih.

 

Oke, dengan cinta dan kasih. Artinya bukan aku yang menyerah pada tangisan Dru, tapi aku harus mampu membuat Dru untuk tetap menuai cinta dan kasih.

 

“Dru, tunggu. Aku sudah tak kuat berlomba denganmu. Tidakkah kamu lihat, darahku sudah naik turun?”
“Apanya yang naik turun?. Darah?. Dih mana aku bisa lihat.”
“Memang tidak terasa olehmu?”
“Tidak”
“Sedihnya aku. Bukalah mata hatimu Dru. Jangan kau biarkan terus tertutup seperti itu.”
“Siapa kamu atur-atur aku. Untuk siapa aku harus buka hatiku?. Tak ada yang peduli denganku.”
“Ada Dru. Ada yang peduli denganmu.”

 

Tatapan Dru mulai melemah, akan kuhitung. Tiga…Dua…Saaaa

“Laelaaaaa…peluk aku!”

Apa aku bilang, perempuan ini dari luar begitu kuat. Hatinya telanjur berantakan. Sekuat apa Rei menyakiti Dru. Hingga perempuanku ini begitu terluka. Hingga perempuanku sulit menerima kehadiran laki-laki lain.

 

“Sayang, lihat aku. Rasakan dengan hati tulusmu!”
 

Dru menarik nafas panjang dan berat. Sesekali dia seka air matanya. Ahh cantiknya kamu Dru. Bulu mata yang sedikit basah, senyum yang perlahan kamu tarik serta lesung pipi yang begitu indah sungguh membuatku berbahagia telah menjadi penjagamu.

 

“Laela, ajari aku untuk kembali melangkah!”
“Tidak Dru, bukan aku. Kamu kuncinya.”

“Aku tak bisa, hidupku terlalu runyam untuk menikmati indahnya cinta.”
“Lihat ke atas sana. Kau tahu, Matahari membawa jingganya hanya untuk kamu. Dan kau tahu di persimpangan tadi, setangkai Mawar dengan rona merahnya begitu mempesona, dia persembahkan mekarnya hanya untukmu dan kau sama sekali tak perhatikan dia.”

“Bukannya Matahari memang tugasnya memberi hangat?. Bukannya Mawarpun memang punya tugas kuncup dan mekar?”
“Kamu tidak salah, sama sekali tidak salah. Tapi semua bukan kebetulan. Mereka hadir dengan kedua sisinya tidak sembarangan. Mereka berhak memilih waktu dan mahluk mana yang akan mereka sapa.”

 

Dru kernyitkan dahinya sekejap. Dia betulkan poninya, dan tentunya tali sepatu yang mudah sekali terlepas.

 

“Ah, aku salah pakai sepatu. Sedikit-sedikit lepas, sedikit-sedikit lepas. Bikin susah saja.”
“Besok kalau jalan-jalan lagi, akan kau pakai sepatu yang sama?”
“Tidak, aku tak mau lariku terganggu hanya gara-gara tali sepatu jelek ini.”
“Ah kau sudah mulai pintar.”
“Aku, pintar?. Jangan meledek Laela.”
“Jika kau saja bisa berganti sepatu karena ganggu lari pagimu, kenapa tak kau ganti sosok Rei dengan laki-laki lain. Bukannya Rei hanya ganggu hidupmu saja?”

 

Langit berikan tugas lain pada awan, perlahan air menjatuhkan dirinya.

Jika saja aku bisa ambil gambar. Pasti cantik sekali alam pagi ini.

 

Matahari dengan jingga yang sudah dia perlihatkan lebih awal, Mawar dengan rona merahnya lalu embun berganti gerimis.

 

“Dru, siapa B?”
“B?”
“Iya, inisial di handukmu?”
“Aku tak paham. Handuk ini maksudmu?. Ini handuk yang Bram berikan padaku saat aku kehujanan di Malang Laela. Karena warnanya aku suka, aku tak kembalikan.”

“Handuk ini melindungimu dari hujan di Malang?”
“Iya”
“Dan pagi ini?”
“Hmmm…pagi inipun Laela. Sini, dekat aku. Biar kau tahu perasaanku saat itu, ketika kepalaku berlindung di balik handuk ini.”

 

Binar mata Dru tak bisa berbohong.

Tugasku selanjutnya akan aku cari Bram. Akan kutelusuri sosok Bram. Jika dengan mengingatnya saja bisa membuat Dru tersenyum, maka dapat kupastikan cerita yang sudah Bram torehkan sungguh indah untuk seorang Dru.

 

“Bram, di mana kamu?”

 

#Bandung, 17 Oktober 2020