Bertengkar Indah Dengan Suami, Selesai Karena Komunikasi

Komunikasi

Bertengkar Indah Dengan Suami, Selesai Karena Komunikasi
Bertengkar Indah Dengan Suami, Selesai Karena Komunikasi
Bertengkar Indah Dengan Suami, Selesai Karena Komunikasi

“Pertengkaran dan pernikahan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tidak ada yang salah dengan bumbu rumah tangga berupa pertengkaran. Namun, pilihan ada pada kita, akan bertengkar dengan buruk atau dengan indah” –Atiya Fauzan- 

 

Kita semua yang telah memiliki rumah tangga percaya, bahwa tidak ada pernikahan yang tidak dihiasi oleh perbedaan serta pertengkaran. Semua pasangan suami istri tentu pernah merasakan apa itu ribut kecil, atauh bahkan ribut besar. Karena sejatinya, perasaan romantisme itu mulai menguat karena ada komunikasi setelah pertengkaran. Pesan terindah apa yang lahir dari komunikasi? Pesan tentang permintaan maaf yang muncul pasca perselisihan. 

 

Terlihat dari luar, semua pasangan hidup nyaris seperti sejoli yang penuh bahagia 24 jam non-stop. Tapi, sesungguhnya semuanya sama saja. Dalam rentang waktu yang berbeda-beda, suami-istri akan merasakan amarah, sebal, benci, emosi, egois, hingga hasilnya meributkan sesuatu dan terjadilah pertengkaran. Namun, jika kita menjalaninya dengan waras, tidak ada yang tidak dapat diselesaikan karena semuanya bisa dikomunikasikan. Masalah terjadi karena berbedanya ekspektasi dengan realita. Namun dengan bertukar pesan dalam komunikasi, sebagai pasangan kita akan saling memahami dan mengerti bagaimana cari menjaga ekspektasi masing-masing.  

 

Seperti yang aku alami dulu, dibeberapa hari pasca akad nikah, ternyata kami sudah bertengkar. Tapi percayalah, itu adalah pertengkaran paling indah bagiku. Bagaimana tidak, aku yang bersalah, namun suami yang mengaku kalah. Aku yang emosi, suami yang diam penuh kedamaian. Lantas dengan siapa aku harus memanjangkan pertengkaran kala itu? Aku hanya berkoar-koar sendiri, penuh pembelaan. Sedangkan suami? Terdiam, menantiku untuk mengalahkan setan. Dan pada akhirnya aku turut diam, emosiku meredam, dan suami hanya tersenyum mendekapku dan seraya berkata, "Maafin abi ya mi... Jangan marah lagi, Abi sayang sama Umi..." suaranya lembut penuh kasih. Mau semarah apapun, mau sebal bagaimanapun, semuanya musnah dalam keluluhan hanya karena kata maaf.

 

Dari pertengkaran tersebut, perihal aku yang berbelanja berlebihan dan tidak suka ditegur suami, langsung meluapkan amarah. Suami tidak membiarkan semuanya larut lebih lama, dalam keadaan aku marah, suami diam dan hanya mengatakan maaf. Dan ketika aku tenang, suami mulai menjelaskan alasan mengapa ia tidak suka melihat istrinya belanja berlebihan. Dia sampaikan semua ekspektasi dia, bahwa kebiasaan sebelum dan sesudah berumah tangga sangat jauh berbeda. Ada hal-hal yang harus diprioritaskan, yakni tentang kebutuhan bukan tentang keinginan. Setelah suami menyampaikan hal demikian, aku memahami visi misinya dan berusaha membuat ekspektasinya menjadi nyata.

 

Jika saja dulu, aku dan suami tidak memilih waktu yang tepat untuk membangun sebuah komunikasi, mungkin pernikahanku hanyalah hitungan hari. Dari suami aku belajar bagaimana seharusnya menjalani sebuah pertengkaran dengan indah. Harus ada yang mengalah salah satu, jika tidak bisa, biarlah saling bertengkar dan setelah itu saling meminta maaf, selanjutnya pasti akan penejelasan-penejelasan dan alasan-alasan yang harus saling didengarkan dan disampaikan. Suami dan istri harus belajar bersama, belajar memahami dan belajar mengerti. Jika esok hari ternyata suamiku yang bertengkar dengan egonya sendiri, aku akan memeluknya dan berbisik lembut tentang kalimat yang ditakuti setan. Bergantian. Karena tidak ada rumah tangga yang tidak dihiasi oleh bumbu pemanis pernikahan berupa pertengkaran. 

 

Silahkan bertengkar dengan pasangan hidup masing-masing, namun segera selesaikan dengan komunikasi.