Bersahabat dengan Corona

Lagi-lagi tentang Covid

Bersahabat dengan Corona

Saya sampai mengerutkan dahi ketika membaca berita bahwa kita diminta bersahabat dengan Corona sampai ditemukan vaksin yang efektif dan terbukti mampu mencegah corona. Dan saya tambah mengerutkan dahi ketika ada berita usia di bawah 45 tahun diperbolehkan beraktivitas seperti biasa misalkan kerja kembali, dengan catatan sehat tidak menunjukkan gejala sakit. 

Maka mau tidak mau kita akan menghadapi masa yang menentukan kita harus super hati-hati. Karena tidak ada jaminan usia dibawah 45 tahun memiliki pertahanan antibodi yang kuat. Siapa yang bisa menjamin?

Terlepas dari itu semua, kejadia wabah Corona ini benar-benar memperlihatkan siapa yang segera sadar diri, lalu mempersiapkan diri, untuk memperbanyak bekal amal. Hal ini langsung serta Merta menyorot kedalam relung kalbu kita, bahwa ternyata selama ini belum ada sama sekali bekal yang kita persiapkan untuk pulang ke kampung akhirat.

Corona ini seperti pembunuh tak terlihat kapan saja bisa menghampiri. Mungkin Allah masih memberikan kita kesempatan untuk sadar. Iya sadar agar segera taubat sebenar benarnya taubat. Mumpung masih diberi sehat, masih ada waktu.

Langkah pertama yang harus kita perbaiki dalam perbaikan bekal pulang ini adalah tata cara sholat kita. Bukan kah sholat yang pertama kali di hisab? Jika lolos dari hisab sholat, insya Allah amal lain pun lolos.

Corona dalam petik hikmahnya memang benar-benar sahabat yang mengingatkan kita untuk membuka mata, membuka hati, agar segera memperbaiki diri.

Selagi masih ada waktu.