Bermimpi Lagi

Bermimpi Lagi
Image by pixabay.com

Kubuka jendela kamar, matahari masih malu-malu. Bersitegang dengan embun, embun masih ingin bertahan namun matahari mengancam melenyapkan.

Aku kehilangan gairah, bahkan darah sudah makin melemah. Entah marah atau sekadar latah, pertunjukkan tadi mengingatkan perdebatan yang tak kunjung padam.

 

“Besok kamu pindah kamar”

“Kenapa, apa alasanmu . Ini kamarku, atas dasar apa kamu mengusirku?.”

“Muak, muak aku lihat tingkahmu. Penungguku selalu bergembira. Baru kali ini aku temukan penunggu macam kau.”
“Tahu apa kamu soal gembira?.”

“Hei, lihat sekelilingku. Tak ada noda sedikitpun. Tak ada yang berani tumpahkan tangis di sini. Aku melarangnya.”
 

Kutinggalkan dia, kubanting pintu dengan sekuat tenaga lalu kucari udara pagi. Dia berjanji bila aku merindu, temui aku di pagi hari. Ada dia di situ.

 

Dari ujung mata ada senyum memikat menunggu aku mendekat. Segera kupacu langkahku lebih cepat.

“Ada pesan untukmu”

“Kemari, cepat berikan padaku. Atau kau bisikkan di telingaku”

 

Dia beringsut ambil posisi tepat di sampingku.

Wussssss…kencang sekali menyapu rambut uraiku.

 

“Apa maksudmu, kau biarkan aku mendekat hanya untuk mendengar bahwa dia telah siapkan luka?.”

“Iya…tak ada yang salah bukan?”

 

Heran aku sama dia, membawa pesan yang tak berkesan. Sungguh menyesal kuluangkan waktu di bangku.

“Hahahahahha…kau ini. Pesanmu tak cuma satu.”

“Ada pesan lain untukku?. Dari manusia yang sama?”

“Bukan. Dari Lelaki yang selalu kau pinta pada Tuhan”

 

Meloncat seperti tomcat, kusambar pesan bergambar. Dalam samar  ada tegar yang berujar bahwa wajar saat debar kalahkan kasar.

 

Tuhan telah meminta semesta

Semesta berbisik mesra

Maafkan aku cinta

Sayangku padamu tiada tara



#Bandung, 030420