BERMAIN OMBAK

Diatas langit masih ada langit. Adaptasi dan membentuk karakter terkadang menjadi pekerjaan yang paradoks. Tetapi hal yang mungkin bisa dilakukan.

BERMAIN OMBAK

“Pelanggan adalah Partner. Pelangganlah yang menggaji Kita, oleh karena itu utamakan pelanggan. Hanya pelanggan yang berhak menginterupsi aktifitas kalian!” Demikian arahan yang diberikan Pak Joko kepada Kami Para Widyaiswara dalam acara Coffee morning.

“Satu lagi! Jangan pernah menolak setiap panggilan dari pelanggan. Jika ada Call dari pelanggan, segera Jawab. Meskipun Kalian semua sedang sibuk dan sampaikan dengan santun, bila saat itu belum bisa mengeksekusi permintaan Pelanggan” Demikian Pak Joko mengakhiri pertemuan itu.

 

Rapat pagi ini sedikit berbeda dibanding rapat sebelumnya. Agenda utama adalah menyusun kepanitiaan Tim Building yang bertujuan untuk meningkatkan soliditas Karyawan menghadapi tantangan di Tahun depan. Undangan ini berlaku untuk semua karyawan dan itu sebabnya Aku dan Maksum merasa berkewajiban untuk hadir.

 

Rapat menghasilkan kepanitiaan yang lengkap dengan tugas dan budget yang diperlukan. Aku tidak melihat nama Maksum dianggota kepanitiaan. Padahal menurut Kami, Ia adalah orang yang paling jitu ngurusin akomodasi. Ia punya relasi dengan provider transportasi, hotel dan toko-toko keperluan doorprize.

 

Meskipun Ia sudah pindah menjadi widyaiswara, tetapi Kastamer Kami belum menyadari kondisi itu. Hal ini terlihat dari semakin intensnya komunikasi yang Ia lakukan dengan Kastamer. Memang saat di Relationship Management, Maksum telah terbiasa memberikan sharing kepada Kastamer, sehingga wajar bila Pelanggan tidak melihat ada perbedaan aktifitas dari Maksum. Ia masih melakukan sharing minimal sekali dalam seminggu dengan Pelanggan, diluar waktu visit yang biasa Ia lakukan,

 

Malah pernah terjadi dimana Workshop yang dilakukan oleh kastamer lokasinya disesuaikan dengan lokasi Maksum mengajar. Alasan Mereka supaya bisa lebih dekat dan berdiskusi lebih efektif dengan Maksum. Padahal agenda Workshop Kastamer tidak ada hubungannya dengan topik pelatihannya Maksum.

 

Sekarang Kami berada diakhir bulan September dan ini berarti waktu untuk mencapai target efekti tinggal satu triwulan lagi. Kinerja perusahaan berada di Zona Merah, karena Achievementnya baru 90%. Biasanya aktifitas bisnis mengalami titik puncak September, setelah itu akan turun melandai hingga Desember.

 

Pagi itu Bu Reni sengaja datang ke ruang Widyaiswara. Aku pikir beliau ingin berdiskusi dengan atasan Kami Bu Shanty. Karena sesama Manejer hal yang lumrah kalau Mereka sering berdiskusi dan sangat jarang berdiskusi dengan para Widyaiswara. Ternyata dugaanku meleset. Yang Ia cari justru Maksum.

 

Aku mengintip percakapan Mereka dari balik ruangan, kelihatannya sangat serius berdiskusi. Ketika Maksum menjelaskan menggunakan whiteboard, Bu Reni malah terlihat menulis dan banyak mengajukan pertanyaan. Diskusi Mereka berakhir dan Aku melihat Bu Reni keluar ruangan dengan sumringah.

 

Ketika Bu Reny menghilang, Aku menemui Maksum sekedar ingin tahu apa yang barusan Mereka perbincangkan.

 

“Tumben Bu Reny nyari. Padahal waktu Kamu pamit Ia malah kayak happy- happy aja tuh!” Seruku bernuansa kompor.

“Biasalah, Bu Reny kangen” kata Maksum bercanda.

“Ngomongin apa sih, serius banget” agak penasaran.

“Kasih tahu ga’ yaaaa” jawab Maksum.

“Eeeh, Gua serius niiiih” kataku memaksa.

“Ngomongin target dan minta bantuan” jawabnya sambil pamit lanjut mengajar.

 

Dalam kepanitiaan Tim Building, Aku kebagian seksi akomodasi dan transportasi. Aku minta ke Ketua Panitia agar Maksum dimasukkan sebagai anggotaku. Meskipun tidak ada respon Aku sudah bicarakan dengan Maksum dan Ia setuju.

 

Tim Building akan dilakukan minggu depan, tapi Aku sudah dapat laporan dari Maksum transportasi dan akomodasi sudah beres. Jadi pekerjaanku hanya tinggal mengurus proses pembayarannya saja.

 

Pagi ini Aku diajak Maksum berkunjung ke pelanggan untuk kangen-kangenan katanya. Kami diterima dengan ramah dan suasana santai. Aku melihat Maksum sudah menyiapkan bahan presentasi dan bersiap-siap untuk presentasi.

 

Namun Kastamer mengusulkan agar presentasinya dilakukan bareng dengan acara workshopnya Mereka Minggu depan. Tanpa pikir panjang Maksum setuju, padahal Aku sudah ingatkan bahwa acara itu bersamaan dengan acara Tim building. Tetapi Maksum tetap tenang dan dengan santai Ia menyatakan “Utamakan Pelanggan”.

 

Saat persiapan acara Tim building tiba, Maksum kulihat sibuk ngobrol dan memeriksa kelengkapan dengan perwakilan bus dan tidak ada tanda-tanda akan berangkat. Saat kutanya, Ia mengatakan akan menyusul dengan kenderaan sendiri karena ada pertemuan penting dengan Pelanggan.

 

“Pertemuan? Wuah Dia serius tidak akan ikut” Kataku dalam hati.

“Maksum! Ditunggu di lokasi yaaa!” kataku setengah berteriak mengingatkan.

“Siaaaaapp!” Jawabnya sambil memberi hormat

 

Kami tiba di lokasi Tim Building sore menjelang malam dan setelah acara makan malam diadakan pembukaan dengan sambutan-sambutan. Saat Ketua panitia melaporkan keikut sertaan Karyawan disebutkanlah ketidakhadiran Maksum di acara penting ini. Ada ekspresi kecewa dari beberapa Manejer, karena khawatir akan membuat Pak Joko murka.

 

Pak Joko memberikan sambutan tentang pencapaian yang sudah didapat, sisa yang harus sicapai dan target yang akan dicapai tahun depan. Ia menyampaikan pentingnya membentuk tim yang solid, punya komitmen dan berintegritas agar tantangan tahun depan bisa diraih.

 

Dugaanku benar. Sebelum mengakhiri sambutan ada sedikit kekecewaan manakala Ia tahu bahwa Maksum tidak ikut serta. Dengan intonasi yang meninggi, Ia menyampaikan pesan ke Bu Shanty agar Maksum melaporkan alasan tidak hadir dalam Tim Building ini pada Rapat hari Senin Pagi. Padahal info yang kudapat dari Maksum, Ia telah menelepon Pak Joko untuk minta ijin tidak bisa bergabung dengan alasan masih workshop dengan Pelanggan.

 

Senin Pagi ini Aku menunggu kedatangan Maksum dengan gelisah. Aku khawatir dan tidak ingin melihat dirinya selalu jadi kambing hitam di Kantor Kami. Saat Ia tiba Aku langsung menghampiri seraya mengajaknya ngobol dan mojok di sudut ruang Widyaiswara.

 

Aku menyampaikan apa yang terjadi selama tim Building berlangsung dan juga sumpah serapah serta ancaman sanksi yang akan dijatuhkan oleh Pak Joko.

Aku melihat Maksum menunjukkan ekspresi menahan marah bukannya takut.

 

“Aku justru sedang berupaya membantu kinerja Perusahaan Kita yang lagi terseok-seok!” sahut Maksum dengan kecewa.

“Kenapa enggak kamu sampaikan ke Pak Joko” kataku sembari memberi saran.

“Aku sudah menelepon berkali-kali, tapi tidak diangkat” Jawabnya ketus.

“Cuma itu!” Aku berusaha mengorek info lebih dalam.

“Aku juga sudah infokan ke Bu Shanty dan Bu Reni, tetapi Mereka enggak berani. Mereka tetap minta Aku yang ngomong langsung!” kata maksum menjelaskan upaya yang sudah Ia lakukan.

“Kok Kamu enggak minta tolong Aku?” kataku sambil tersenyum (Ia pasti tahulah Aku orang yang enggak begitu bisa menyakinkan orang lain).

“Sorry2, Aku lupa. Harusnya bisa minta tolong Kamu yaaa!” katanya menyesali.

“Enggaklah, mana mungkin Aku bisa meyakinkan Pak Joko. Awak ini apalah” kataku merendah.

“Kamu betul, kenapa Aku enggak ingat Kamu yaaa. Maafin Aku sobat!” katanya mengulangi.

“Terus gimana?” kataku melanjutkan.

“Aku Chat pak Joko dengan alasan panjang lebar” Katanya dengan wajah memerah.

“Dijawab enggak?” Aku bertanya dengan penasaran.

“Iya dijawab. Pak Joko bilang, Saya tidak mau tahu! Pokoknya semua Pegawai wajib hadir, termasuk Kamu!!!” katanya dengan nada tinggi.

“Apa yang Kamu lakukan” kataku berusaha meredakan amarahnya yang tertahan.

“Aku harus memilih antara kepentingan Kastamer dan kepentingan perusahaan. Apapun resikonya pilihanku sudah jelas!” kata Maksum tegas dan bangkit untuk menghadap Pak Joko.