BERI KAMI KEPASTIAN

Bukan hanya kaum hawa saja yang selalu mendamba kepastian, namun ada hal yang lebih besar dan berdampak berlapis yang sangat membutuhkan kepastian.

BERI KAMI KEPASTIAN
Venue @brp_gkm by @mphotography_id

Tau tidak industri apa di Idonesia ini  yang paling  besar terkena dampak  corona dengan kerugian berlapis-lapis dari hulu ke hilir?  Kerugiannya bukan saja material dengan efek domino tapi juga non material yang berupa tekanan psikis yang sangat hebat. Saya berani mengklaim bahwa  kerugian dengan dampak seperti itu satu-satunya adalah  industri pernikahan !  Tidak ada jenis industri khususnya jasa yang rentetan sebab-akibatnya panjang dan melibatkan banyak orang seperti pernikahan. Anda  boleh saja tidak setuju dengan menyebutkan bidang lain, tapi setelah membaca tulisan ini sampai selesai ,saya yakin Anda akan sepakat dengan saya. Mari kita mulai…….

 

Sudah menjadi budaya yang melekat pada diri orang Indonesia bahwa pernikahan itu ya harus ramai dengan dihadiri banyak orang, kalo gak bisa dijulidin seumur hidup . Ada sih beberapa pasangan yang memilih hanya melangsungkan akad nikah saja, tapi itu jumlahnya sangat kecil. Tau sendiri deh yang namanya  nikah di Indonesia itu bukan hanya menyatukan 2 keluarga  besar tapi juga moment silaturahmi dan relasi dari  teman-teman orang tua, arisan,pengajian ,tetangga,  teman pengantin dari SD  -kuliah-  hingga rekan kerja. Dari survey  awal tahun 2020 yang dilakukan oleh Asosiasi Wedding Organizer @HastanaIndonesia , angka rata-rata jumlah tamu pada setiap acara pernikahan di Gedung Jakarta adalah 800-1000 tamu. Dengan banyaknya orang berkumpul pada saat acara, maka  penyelenggaraan pernikahan menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah ( pemda) sejak awal pandemic sehingga sejak minggu ke-3 bulan Maret 2020 adalah acara terakhir yang diizinkan untuk berlangsung. 

 

Dalam setiap  1 acara resepsi membutuhkan  bisa  lebih dari 200 orang ( team vendor) yang terlibat langsung dari awal yaitu :  team foto pre-wed ,venue, Fotografer, MC, Entertaiment, dekorasi,catering ,WO, penata rias & busana, team adat ( pemangku adat, penari tarian daerah), kartu undangan, souvenir,  cake pengantin , mobil pengantin hingga honeymoon. Team vendor ini terbagi lagi 3 hingga 5 layer. Layer 1 adalah karyawan di kantor ( marketing , admin, finance, team sosmed), layer 2 adalah team yang  mensupport agar acara bisa berlangsung ( supplier, rental ) , layer 3 adalah team yang diterjunkan  pada saat acara, layer 4 team yang berhubungan dengan pasca produksi.

 

Sebagai gambaran , saya berikan beberap contoh betapa panjangnya rantai kerja suatu acara pernikahan :

  1. Catering  butuh  melibatkan minimal 100 orang  yang terdiri dari : bermacam supplier daging,ikan,ayam,telur ,seefood,sayur,buah,beras,bumbu ; koki yang memasak , supplier food stall ( gubukan), rental alat catering, bunga dekorasi meja catering,petugas catering saat acara berlangsung , laundry perlengkapan ( cover kursi-meja ) , rental mobil box pengangkut catering, ini belum termasuk petani  dan peternak yang mensupply para supplier tersebut.
  2. Dekorasi bisa melibatkan sekitar 70 orang .  Ada juga team persiapan dekorasi sebelum hari-H, team dekor inti, rental lighting,  rental mini garden, rental gebyok. Ada banyak  penjual bunga segar   yang kehilangan pemasukan hingga berimbas pada para petani bunga di Puncak, Bandung dan Malang sebagai pemasok yang tidak bisa terkira besaran dampaknya. 
  3. Fotographer dan Video memperkerjakan kurang lebih sekitar 30 orang . Saat event di samping team inti, ada juga operator photobooth, rental jimmyjip/drone, team pasca produksi untuk editing hingga ujungnya pada cuci cetak foto.

 

Nah itu baru  sedikit saja gambaran rangkaian pekerja yang  terlibat untuk satu  kali acara resepsi.

#Bridestory sebagai platform  online wedding terbesar  di Indonesia  saat ini  memiliki  lebih dari 20 ribu vendor  pernikahan yang terdaftar sebagai anggotanya , jumlah tersebut   mungkin tidak sampai  30 % dari  jumlah real vendor yang  ada karena banyak juga vendor kecil seperti sanggar pengantin dan sanggar adat  yang tidak menjadi anggotanya, belum lagi vendor di daerah.

Data  yang saya kutip dari https://Jakarta.bps.go.id di  triwulan IV tahun 2018 saja tercatat 4.242 akta perkawinan yang diterbitkan di Jakarta, bila diambil angka 50 % saja yang melangsungkan acaranya dengan resepsi,maka bisa diperkirakan akan berapa banyak tenaga kerja  dari vendor pernikahan yang terserap dan  besarnya perputaran uang yang ada.

 

Dampak penundaan acara ini juga menimbulkan tekanan psikis berat pada calon pengantin. Menunggu kepastian kapan dilamar saja sudah membuat tertekan , eh sudah siap dihalalkan malah ditunda entah sampai kapan. Jadi apakah sekarang  Anda sudah setuju dengan klaim saya di awal tulisan ini?

 

Bisnis bidang pernikahan  tidak bisa berganti model bisnis dengan mudah seperti yang lain saat pandemic ini, misalkan seperti restaurant yang biasa dine-in jadi bisa delivery, atau memasarkan lewat market place.  NO EVENT NO MONEY !  

Dalam  bisnis ini , kami memiliki   Musim Semi yaitu  moment setelah lebaran yang dimulai dari Bulan Syawal dimana biasanya acara pernikahan paling padat dilakukan , dan  Kami telah kehilangan musim semi ini .

Kami sangat memahami terhadap aturan pemerintah untuk melarang pelaksanaan acara pernikahan sebagai langkah preventif untuk penyebaran virus corona. Namun kami tidak diam pasif  hanya menunggu tanpa melakukan apapun . Maka selama 5 hari yaitu 16-20 Mei 2020  para asosiasi wedding  yang tergabung dalam Gabungan Perkumpulan Penyelenggara Pernikahan Indonesia ( GPPPI) urun rembuk dalam acara live talk show untuk merumuskan  The New Normal Pernikahan Indonesia. Talk show itu berhasil membuat Pedoman Panduan Lengkap Protokol Kesehatan dan Keamanan Pelaksanaan Acara Resepsi Pernikahan yang sangat detail dan lengkap dari setiap vendor yang terlibat dalam acara pernikahan.  Dalam protokol itu kami antara lain mengajukan bahwa venue hanya boleh terisi  maksimum 50 % dari kapasitas  sehingga social distancing tetap terjaga.Harapannya dari Pedoman yang kami buat itu dapat menjadi panduan standard seluruh penyelenggara wedding dan  pemerintah bisa melihat bahwa kami sudah sangat siap untuk dapat menyelenggarakan acara resepsi pernikahan  yang aman sehingga setelah PSBB dan diberlakukannya The new Normal, bidang industri  pernikahan juga diizinkan dibuka kembali.

Namun sedihnya ternyata saat Masa Transisi diumumkan, jasa wedding tidak termasuk dalam agenda yang akan dibuka izinnya, sedangkan Mall saja bisa dibuka tanggal 15 Juni. Padahal “Datang ke acara pernikahan jauh lebih aman daripada ke Mall.” Karena  dari standard pedoman yang telah kami buat itu  sangat comprehensive mulai dari sejak di area parkiran –  lift - vendor pengisi acara-venue hingga cleaning service.   

Pengantin nantinya wajib mengikuti ketentuan acara sesuai standard protokol termasuk jumlah tamu .  Saat acara semua tamu hanya diizinkan masuk bila mengenakan masker, menyiapkan hand sanitizer  di berbagai titik, tidak bersalaman atau cipika cipiki, mengatur jarak foto dan yang hadir juga terdata lengkap di buku tamu, hal seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan di Mall.

Rabu tanggal 10 Juni lalu, GPPPI  telah melakukan audiensi dengan Bpk.Raymond selaku Kasi usaha Parawisata Pemprov Jakarta. Alhamdulilah beliau memberikan apresiasi positif dan menyatakan bahwa protab yang telah kami buat adalah yang paling detail dan siap dibandinga asosiasi lainnya. Dari sekian lama audiensi itu, kami berharap aspirasi kami dapat diteruskan hingga ke Pak Gubernur Anies Baswedan sebagai penentu pengambil kebijakan untuk  dapat MEMBERIKAN KEPASTIAN  kapan bidang jasa wedding   bisa segera  dibuka setelah masa transisi ini berakhir.

Wedding adalah Bisnis yang sangat ketat dengan Kepastian ! Dengan diberikannya kepastian waktu ( tanggal) izin acara, maka  jantung industry ini bisa mulai berdenyut kembali , dengan kepastian itu, kami bisa mengabarkan pada calon pengantin yang selama ini terus resah  kapan mereka bisa jadi pasangan halal, dengan Kepastian itu kami bisa mulai menata  dan menegakkan kembali tiang yang kemarin sudah hampir rubuh. Meskipun tidak serta merta saat izin keluar acara langsung bisa dilaksanakan karena butuh waktu setidaknya 3 bulan buat pengantin mempersiapkan kembali acaranya, itulah bedanya  dengan mall yang bisa langsung aktif hari itu juga. 

Tak terkira besarnya kerugian yang kami alami dengan tidak adanya acara, ribuan  pekerja yang terpaksa dirumahkan tanpa gaji tak bisa lagi memberikan keluarga untuk  menghangatkan periuk nasi. Para petani yang merintih lirih karena bunga yang ditanam tak lagi dibeli.

Dengan mempertimbangkan bahwa bidang jasa wedding ini sangat padat karya yang otomatis banyak menyerap tenaga kerja, memberikan kontribusi pajak cukup besar serta kesiapan kami untuk melaksanakan protab dengan ketat; maka seharusnya  tidak ada keraguan apapun lagi  bagi pemprov untuk segera memberikan kepastian izin acara.

Datang  ke acara pernikahan jauh   lebih aman dari pada ke mall, maka please  Pak  #AniesBaswedan,beri kami KEPASTIAN. 

Najah Fauzy, CEO PT.Bahtera Ratu Persada,@brpballroom;@simpleweddingindonesia