Berharap Senyum Sederhana yang Abadi

Malam itu dirimu datang padaku. Melihataku sedang memikirkan sesuatu. Seperti biasa dirimu memang pandai untuk membaca pikiranku lalu bertanya. "Lagi memikirkan apa dirimu sayangku?" tanyanya sambil duduk mendekatiku.

Berharap Senyum Sederhana yang Abadi
smile-alexanderkrivitsky
Malam itu dirimu datang padaku. Melihataku sedang memikirkan sesuatu. Seperti biasa dirimu memang pandai untuk membaca pikiranku lalu bertanya. 
 
"Lagi memikirkan apa dirimu sayangku?" tanyanya sambil duduk mendekatiku. 
 
Aku hanya terdiam. Memandang wajahnya yang tampak ikut khawatir. 
Sejauh masa hidupku, rasanya hanya perempuan ini yang selalu bisa membacaku dengan akurat. 
 
Itu mengapa aku tidak pernah menyesal memilihnya meski aku harus mengambil keputusan yang di luar nalar. 
 
Beberapa tahun lalu aku tidak pernah mengenalnya. Bahkan tidak ada satu pun relasi yang terhubung dengannya. Seperti milyaran orang yang kini saling terhubung di internet, aku mengenalnya lewat dunia maya. 
 
Dari interaksi sederhana menjadi interaksi perdebatan. Saling bertukar pikiran, dan saling bermain kata-kata. 
 
Menantang. 
 
Aku tidak pernah sesemangat itu sebelumnya. Aku merasa menemukan sosok yang bisa membuatku selalu terpacu dan berkembang. Jika ada orang yang bertanya, mengapa aku memilihnya, alasan ini adalah salah satunya. Meski aku tidak benar-benar tahu pasti mengapa aku mencintainya. 
 
Hanya sekejap saja aku tahu aku ingin bersamanya. Selama mungkin. 
 
Tidak ada yang pernah tahu seperti apa situasi masa depan. Pun aku juga tetap bersiap bila sesuatu terjadi. 
 
Kenangan masa lalu itu aku lupakan sejenak, saat ini aku harus terfokus pada dirinya. Senyuman sederhana yang berusaha mengubah mimik wajahku meniru dirinya. Tanpa sadar aku ikut tersenyum karenanya. 
 
Aku kemudian mulai mengucap, membalas pertanyaannya. 
 
"Aku tidak tahu apa yang kurang dari kemampuanku. Aku hanya merasa apakah kemampuanku ini memang berguna untuk orang lain," balasku dengan sedikit getaran. 
 
"Uang yang aku miliki saat ini tidak cukup untuk kita berdua, bagaimana kita bisa hidup dengan situasi ini jika aku tidak kunjung mendapat pekerjaan," ujarku menyambung kalimat. 
 
Dia hanya membalas dengan singkat, "Yakin saja pasti akan ada orang yang bisa menemukan potensi emas milikmu, cukup tunjukkan kemampuan setiap waktu."
 
Pikiranku yang kusut selalu bisa dibuatnya menjadi sesuatu yang sederhana. Ya, aku akui kalau aku memang kalah dalam hal intelektualitas dengannya. Itu mengapa diriku membebaskannya untuk melanjutkan pendidikan. Aku tahu potensinya dan aku tidak ingin membatasi dirinya. 
 
Membatasi seseorang adalah kriminal bagiku. Tidak ada yang boleh memutuskan bagaimana nasib dan takdir seseorang dengan menentukan apa yang baik dan buruk buatnya. 
 
Tentu saja firman Tuhan bisa menjadi panduannya, namun kemerdekaan berpikir adalah karunia yang tidak boleh dihilangkan oleh siapapun. 
 
Kemampuannya tersenyum di saat sulit dan getih sering membuatku jahil. Aku kerap membuatnya tertawa dan kegelian. 
 
Inilah hiburan sederhana yang aku inginkan dari rumah tangga sederhana kami. Sekadar tertawa dan bercanda di sela-sela kesibukan yang membuat kepala panas dan frustasi. 
 
Entah sampai kapan aku bisa melihat senyum sederhana itu. Ada ketakutan, ada kecemasan, namun tentu saja ini adalah tentang keimanan. Percaya bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah hasil dari kehendak. Termasuk senyum yang tersemat di wajahnya itu. 
 
Satu hal yang harus aku pasti lakukan adalah aku bersyukur karena saat ini aku mendapatinya tersenyum. Di detik ini dan di momen ini. Senyuman yang membuatku tidak sadar turut tersenyum saat menulis kalimat-kalimat ini. 
 
Terima kasih istriku.