Belajar Kehidupan dari Bercocok Tanam

Bercocok tanam bagai membesarkan dan merawat anak sendiri. Perlu dilakukan dengan kesabaran, kepekaan, kasih sayang, konsistensi dan spirit tidak pernah menyerah

Belajar Kehidupan dari Bercocok Tanam
Awal sebuah kehidupan

Tiga bulan terakhir ini telah banyak mengubah pola hidup kita. Banyak berada di rumah, bekerja dari rumah, lebih menjaga kesehatan, mengubah pola makan, dan lebih berhemat. Itulah yang saya rasakan dan saya yakin banyak dari kita merasakannya.

Namun, tentu kita percaya bahwa di setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Di balik sebuah musibah ada hikmah yang kita peroleh. Hikmah yang saya dapat dari banyak berada di rumah adalah saya dapat meluangkan waktu untuk bercocok tanam. Memang saya menyukai tanaman, tetapi sebelumnya saya lebih banyak merawat tanaman yang saya peroleh dari teman dan kerabat atau dari membeli. Itu pun belum bisa disebut merawat. Lebih cocok disebut menyirami tiap hari agar tidak mati. Nah, saya pikir inilah saatnya saya dapat belajar tentang bercocok tanam dengan lebih serius.

Informasi mutlak diperlukan

Mulailah saya mencari berbagai informasi, panduan dan tips sederhana tentang menanam, merawat dan mengembangbiakkan tanaman. Beruntunglah sekarang kita dapat menggunakan media daring untuk mendapat informasinya, lengkap dengan video-video tutorial yang memberikan penjelasan secara visual. Ternyata ada ribuan situs, blog, artikel, dan video yang dapat kita akses secara gratis dan membuat saya benar-benar merasakan dampak positif dari keberadaan media digital. Namun, sisi negatifnya adalah informasi yang tersedia begitu banyak dan beragam, baik dari segi kualitas, kedalaman, maupun dari segi metode yang direkomendasikan. Metode, panduan, dan tips yang kita peroleh dari media daring ini sangat bervariasi, bahkan seringkali saling bertolak belakang. Maka, bingunglah saya! Petunjuk mana yang harus saya ikuti?

Bercocok tanam adalah sebuah keterampilan

Akhirnya, saya putuskan dengan mencoba-coba sendiri. Saya berpendapat bahwa bercocok tanam adalah sebuah keterampilan. Tidak cukup dengan mempelajarinya lewat informasi tertulis, lisan, maupun visual. Harus dipraktekkan. Maka, mulailah saya menerapkan beberapa cara merawat tanaman-tanaman yang ada di pekarangan rumah saya yang super sempit. Kemudian, saya coba menanam tanaman baru. Saya belajar menyemai beberapa benih dan menanam berbagai biji buah-buahan. Saya mengamati, mencari referensi, mengaplikasikan, memodifikasi, dan mengevaluasi prosesnya.

Apakah semua berhasil?

Tidak semua! Ada yang berhasil menjadi tanaman yang sehat dan kuat, ada juga yang gagal total, dan ada yang sedang berjuang keras untuk hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sebuah tanaman, baik yang dalam kendali kita seperti asupan nutrisi dan penyiraman, maupun yang tidak dalam kendali kita seperti benih atau biji yang kurang sempurna dan hama yang menyerang.

Setelah sekitar tiga bulan saya berkutat mempelajari dunia bercocok tanam, walaupun hanya dalam skala yang kecil, ternyata apa yang saya peroleh jauh melampaui harapan saya. Bukan hanya tentang seluk-beluk bertanam, tetapi tentang kehidupan, pelestarian alam, proses ‘kelahiran’ tanaman, dan kebesaran serta kemurahan Tuhan.

Poin Pembelajaran

  • Iqra (bacalah)

Iqra’ adalah kata pertama dalam surah pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Maknanya sangat mendalam, yaitu membaca (situasi, fenomena) secara utuh, dan itu saya lakukan selama belajar bercocok tanam. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak.(Shibab, 1997).

  • Perhatian dan kasih sayang

Setiap makhluk diciptakanNya dengan kebutuhan yang berbeda-beda, baik itu tanaman, manusia, atau makhluk lain. Tanaman yang kita beri perhatian dan perawatan sesuai kebutuhannya dapat tumbuh subur. Begitu juga tentunya bila kita dapat memberi perhatian dan kasih sayang pada setiap orang, tetangga, teman, kerabat, sanak saudara, bahkan orang-orang lain di sekitar kita. Kita akan menciptakan bangsa yang toleran, bersatu, dan kuat.

  • Jangan menyerah

Bercocok tanam seperti membesarkan anak sendiri. Proses kita mendidik, membimbing, memandu, mengembangkan, dan membentuk anak-anak kita menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bermanfaat adalah proses yang sangat personal sifatnya. Sebagai orang tua, kitalah yang tahu betul tentang anak kita. Kita fokus pada nilai-nilai dan karakter baik dan yakin akan hasil yang terbaik. Bahwa dalam prosesnya ada hambatan-hambatan, bahkan kegagalan-kegagalan, itu merupakan hal yang biasa dan bahkan menjadi pelajaran berharga bagi kita. Begitu juga dalam bercocok tanam. Tidak ada kata menyerah. Yang ada adalah kata mencoba lagi. Bukankah kita juga tidak pernah menyerah dalam mendidik anak-anak kita?

  • Bersyukur

Mensyukuri nikmat Tuhan yang luar biasa. Kita telah diberiNya begitu banyak sumber daya dan kekayaan alam di muka bumi ini. Tak terhitung jumlahnya. Sinar matahari, tanah yang subur, hujan yang cukup, varietas tanaman yang luar biasa ragamnya. Kita tinggal merawatnya, melestarikannya, mengembangbiakkannya, dan mengambil manfaatnya untuk kemaslahatan kita semua. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman)

  • Process is everything

Hasil memang penting, tetapi proses jauh lebih penting. Kalau kita ingin mencapai suatu hasil yang baik, kita harus mulai dengan sebuah proses. Amati proses kerja kita, pelajari, cari kelemahannya, buat perubahan, perbaikan, atau modifikasi, dan coba sekali lagi prosesnya. Selama kita setia dan konsisten pada proses kita, kita akan terus berkembang, baik secara personal maupun profesional, secara intelektual maupun emosional.

  • Konsistensi

Seberapa kecil pun yang kita lakukan, bila dilakukan dengan kesungguhan hati dan konsistensi, pasti berdampak besar. Paling tidak bagi perkembangan pengetahuan, keterampilan dan kejiwaan kita sendiri.

Happy gardening! Semoga bermanfaat!