Belajar dan Berkembang Menjadi Manusia yang Baik Untuk Menyelesaikan Setiap Masalah Manusia Melalui Komunikasi di Era Digital

Komunikasi merupakan hal esensial bagi setiap mahluk.

Belajar dan Berkembang Menjadi Manusia yang Baik Untuk Menyelesaikan Setiap Masalah Manusia Melalui Komunikasi di Era Digital
Friends talking

      Komunikasi merupakan hal paling esensial bagi setiap mahluk. Komunikasi merupakan alat alamiah yang menyatukan ide, visi dan  gagasan untuk mencapai sebuah tujuan. Salah satu sistem komunikasi yang paling melekat pada manusia di kehidupan sehari-hari adalah bahasa. Bahasa manusia berjumlah 7000 lebih, setiap daerah dan negara memiliki bahasanya sendiri yang bersifat spesifik serta melebur dengan budaya setempat. Komunikasi pula yang membuat seorang individu memiliki kemauan untuk belajar mempelajari bahasa lain guna berkomunikasi dengan individu lain. Dari sisi paling sederhana ini, kita bisa melihat sisi altruisme manusia. Kita bisa saja melongo sekaligus bingung ketika seseorang bicara bahasa Inggris. Apa sih yang dia bicarakan atau apa sih yang ingin dia sampaikan. Nah, karena kita ingin mengerti bahasa apa yang disampaikan maka kita belajar. Komunikasi itu adalah soal belajar untuk tahu, mengerti dan berempati pada suatu topik.

    Komunikasi tidak hanya berupa bahasa atau bicara lewat mulut saja. Komunikasi menjadi dinamis seiring zaman cara dan alat berkomunikasi pun semakin beragam dan berkembang. Di masa lampau kita pernah menunggu berhari-hari dengan sabar untuk sebuah surat lalu komunikasi berkembang lagi menjadi masa saat kita mencari wartel/telepon umum terdekat untuk sekadar mengobrol. Kini kita punya alat kecil nan pintar yang mampu mengirim pesan hanya dengan waktu sepersekian detik. Teknologi zaman sekarang adalah katalis komunikasi terbaik untuk umat manusia tapi sekaligus juga tembok besar yang membuat manusia semakin terpaku dengan dunianya di balik layar lalu menjadi mahluk individualis.

    Kalau dahulu kita sengaja berkumpul untuk saling bicara di teras rumah namun kini kita bisa diam saja di rumah hanya bermodalkan laptop atau handphone untuk saling bicara meski dipisah jarak. Dengan handphone pula kita dibuat tertawa atau marah oleh hal-hal yang sedang viral. Handphone dan sosial media adalah katalis umat untuk berkomunikasi namun jangan pernah lupa membawa kebijaksanaan diri dalam bertutur di dunia internet zaman sekarang.

     Sebelum era internet se-masif sekarang, seorang kriminal dihakimi oleh gerombolan massa dengan main fisik kini massa manusia digital dikenal sebagai warganet atau netizen. Cara komunikasi yang salah akan membawa seseorang dihakimi secara massal di internet. Kelihatannya sepele toh kita tidak melihat seperti apa rupa orang yang mengata-ngatai kita namun rupanya hal tersebut lebih menyeramkan karena tidak jarang perundung melakukan hal yang disebut doxing, sesuatu yang dilakukan untuk mengungkap privasi seseorang sampai ke akar-akarnya. Konsekuensi dari perundungan secara virtual adalah segi psikologis. Rasa sakitnya memang tidak se-instan yang dirasakan saat ditampar di pipi namun karena setiap orang punya ketahanan mental yang berbeda maka perlahan rasa sakit akibat membaca celaan menyakitkan lewat kolom komentar dalam kurun waktu tertentu mampu menganggu kondisi mental seseorang yang dapat mengakibatkan ansietas dan depresi. Hal ini agak kontradiktif di tengah gencarnya anti stigma penyakit mental yang sering dikampanyekan di media sosial.

  Selain doxing sebenarnya ada banyak terminologi terkait bentuk-bentuk perundungan di internet. Salah satu perundungan lain yang sering terjadi untuk publik figur adalah cancel culture. Awalnya tujuan cancel culture mulia. Misalnya seorang pejabat melakukan pelecehan seksual terhadap bawahannya, dengan adanya cancel culture diharapkan kita bisa menghukum pejabat ini dengan hukuman sosial berupa rasa malu agar memberikan efek jera yang luar biasa karena kekuatan cancel culture mampu membuat reputasi seseorang jatuh, dipecat dari pekerjaan dan memengaruhi relasi sosial orang tersebut.

    Namun akhir-akhir ini seringkali cancel culture ini dijadikan ajang untuk menggali masa lalu seseorang tanpa alasan yang jelas sehingga menjatuhkan figur individu tersebut. Hal ini mayoritas sering dialami oleh seseorang yang namanya tengah populer dan perang antar lawan politik. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan namun manusia selalu punya kesempatan untuk berubah. Tidak jarang seseorang di masa lalu berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik namun secela titik dapat menghancurkan citra seseorang yang sedang berusaha berbenah diri. Alih-alih memberi seseorang kesempatan kita malah menjadi entitas maha benar lewat keyboard qwerty untuk menghakimi orang lain yang bahkan tidak kita kenal. Ini jelas jauh dari konsep altruisme di paragraf awal dimana kita menomor satukan keegosian kita lalu menjadi orang yang tinggi hati.

  Membahas soal peliknya komunikasi di internet, tidak hanya melulu soal isu populer seperti isu iklim dan sosial politik namun isu personal yang berkaitan dengan hubungan sosial dalam bentuk pertemanan dan asmara. Komunikasi adalah modal utama dalam membangun relasi antar manusia apalagi relasi khusus, yang dalam konteks ini adalah relasi pertemanan dan relasi romantis. Salah satu contoh masalah komunikasi bagi para milennial di sosial media adalah Ghosting. Secara sempit ghosting memang berasal dari bahasa Inggris yang bermakna hantu namun istilah ghosting dalam konteks ini adalah  memutus komunikasi secara sepihak dengan mendadak menggunakan cara menghapus kontak dan memblokir sosial media lalu pura-pura tidak mengenal lagi. Ini adalah salah satu kendala komunikasi dimana satu pihak tidak memaparkan alasan jelas dari tindakannya sehingga menyebabkan pihak lain merasa kecewa karena ditinggalkan.  Ghosting merupakan suatu bentuk miskomunikasi yang berdampak pada psikologis individu untuk bersosialisasi di masa mendatang karena orang tersebut kemungkinan akan terus menyalahkan diri sendiri sehingga ada kesulitan atau trauma untuk memulai hubungan yang baru.

     Dari ketiga terminologi internet yang menyebabkan kesalapahaman komunikasi di atas dapat dijabarkan bahwa kesalahan komunikasi di era digital dapat membawa petaka bagi kehidupan satu individu. Seiring berkembangnya alat komunikasi diikuti pula dengan generasi yang makin apatis dan kurang empati terhadap manusia lain. Kita dikontrol oleh alat kecil bernama handphone dan sosial media yang seharusnya menjadi kemudahan namun perlahan memperalat kita menjadi sebuah robot tanpa emosi. Solusi terbaik untuk miskomunikasi di era digital adalah tetap mempertahankan sisi humanis dalam diri kita. Lagi-lagi komunikasi mengajak kita soal hidup yaitu belajar memanusiakan manusia lain.

    Segala jenis komunikasi sejatinya adalah solusi segala masalah tetapi yang kebanyakan orang tidak tahu adalah bagaimana kita menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan. Setiap orang berasal dari latar belakang sosio-kultural berbeda yang memengaruhi persepsi akan suatu hal. Cara untuk menyampaikan pikiran pun beragam jenisnya sehingga disesuaikan untuk setiap orang tapi secara universal ada beberapa cara yang disetujui norma masyarakat secara umum yaitu mendengarkan, menghormati, menghargai dan berpikiran terbuka saat berkomunikasi dengan lawan bicara. Keragaman bukanlah suatu ancaman tapi hal menawan yang dapat memicu keselarasan. 

     Komunikasi juga perlu diikuti dengan keluwesan dan kebijaksanaan seorang individu dalam memandang suatu masalah. Komunikasi itu ibarat setir utama kita sebagai manusia untuk mengantar kita jatuh ke jurang atau tempat rekreasi.  Semua kembali lagi ke cara kita menyetir baik atau buruk. Komunikasi pun dapat diasah dari waktu ke waktu.  Kesalahan, ketidaktahuan dan kendala akan berubah seiring dengan kemauan kita untuk belajar berkomunikasi secara efektif. Hidup manusia memang bukan melulu soal hitam dan putih karena kita berada pada warna abu-abu paling terang tapi tidak ada salahnya untuk memutuskan pilihan yang tepat untuk diri kita. Karena hidup adalah tentang selalu belajar dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Referensi*

Cambridge-Dictionary. 2020. "Definition of Doxing" Cambridge Dictionary. Tersedia pada https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/doxing. Cambridge-Dictionary. 2020. "Definition of Doxing" Cambridge Dictionary. Tersedia pada https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/doxing. Diakses 16 Desember 2020 pukul 13:00.

Merriam-Webster. 2020. "What It Means to Get 'Canceled'. Merriam-Webster. Tersedia pada https://www.merriam-webster.com/words-at-play/cancel-culture-words-were-watching diakses 16 Desember 2020 pukul 13:30

Psycom.net. 2020. "Ghosting: What It Is, Why It Hurts, and What You Can Do About It". Susan McQuillan, MS, RDN. Tersedia pada https://www.psycom.net/authors/susan-mcquillan diakses 16 Desember 2020 pukul 15:30

Gambar 1. Friends Talking. Sumber : Unsplash.com (oleh  Brusk Dede). Unsplash.com. Tersedia pada  https://unsplash.com/photos/00eZfauCMjk diakses 16 Desember 2020 pukul 15:45